Semua rasa yang ada telah pergi, yang tersisa hanya luka tak terlihat. Luka yang ia dapat di waktu yang sama dengan orang yang berbeda.
*
Apa yang telah terjadi akan sulit untuk dilupakan.
Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi di masa depan termasuk dirinya.
*
Rasa sakit, bahagia, dan kecewa akan menuntun apa yang sudah menjadi takdirnya.
Begitu juga dengan kisah seorang wanita yang bernama "AISYAH NURAHMA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi hari dimeja makan, Aisyah mengatakan kepada ke-tiga anaknya bahwa ia berencana akan berlibur ke tempat kakek dan nenek mereka yang ada di pulau seberang, mereka terlihat senang. Zakiya terlihat sangat antusias karena akan berliburan, sedangkan kedua kakaknya sibuk memikirkan sekolah mereka.
“Bu, apa kami tidak apa-apa libur lagi? Kemarin kami sudah libur juga Bu.” ucap Azzam yang sependapat dengan Azzim.
“Kita akan berbicara terlebih dahulu kepada pihak sekolah kalian. Ibu juga tidak bermaksud untuk libur lama, karena pekerjaan ibu masih belum diselaikan.”
“Baik lah Bu, kami akan ikut ibu saja.”
“Emangnya kakak gak mau ke kampung halaman Ibu dan bertemu kakek dan nenek.”
“Bukan begitu Bu, Kakak mau kok Bu.”
“Besok ibu akan mendatangi sekolah kakak dan adek untuk mengurus semuanya.” ucap Aisyah karena hari ini sekolah diliburkan oleh pihak sekolah.
Selesai makan, Aisyah berpamitan kepada Azzam, Azzim, dan Zakiya. Aisyah meminta mereka untuk tetap dirumah hari ini dan jangan membuat ninik Asih kerepotan sebab Azzim dan Zakiya terkadang memiliki permintaan yang membuat ninik Asih repot atau mereka akan bertengkar tanpa ada yang mengalah sedangkan untuk Azzam hanya akan menjadi penonton saja atau ia juga akan menjadi makanan buas kedua saudaranya itu.
“Ibu berangkat kerja dulu ya Kak, Dek. Ingat apa yang Ibu katakan” ucap Aisyah sambil menerima uluran tangan anak-anaknya.
“Baik bu.”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati Bu.”
Yang dibalas anggukan kepala oleh Aisyah sambil berjalan menuju mobilnya. Aisyah berpikir akan mengajak Intan untuk ikut dengannya dan sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukkan masing-masing.
Tidak terasa kini sudah sore dan Aisyah bermaksud untuk pulang, namun sebelum pulang Aisyah akan bertemu dengan Intan disebuah Kafe dan membicarakan rencananya itu. Aisyah sudah tiba di Kafe, Intan sudah berada disana terlebih dahulu.
“Assalmu’alaikum Intan. Udah lama?”
“Wa’laikumsalam Syah. Gak, gue juga baru sampai. Minumannya udah gue pesan duluan, loe tinggal duduk aja."
“Makasih Tan. Gue mau ngomong sesuatu.”
“Sama-sama. Ya udah ngomong aja kali Syah. Udah dari tadi juga loe ngomong”
Aisyah tersenyum pepsoden.
“Gue berencana pulang kampung, apa loe mau ikut?”
“Boleh tuh, kapan loe berangkat. Gue bakal urus surat cuti dulu.”
“Lusa kita berangkat, soalnya gue belum minta izin ke sekolah anak-anak.”
“Ok. Kita janjian di Bandara aja”
Yang diangguki oleh Aisyah, kemudian mereka bercerita tentang hal lainnya. Tidak terasa sudah 2 jam mereka duduk di Kafe. Aisyah berpamitan kepada Intan untuk pulang terlebih dahulu sedangkan Intan masih berkeinginan untuk duduk di Kafe tersebut.
*
Aisyah sampai dirumah tepat saat azan magrib* berkumandang. Aisyah masuk kedalam rumah tetapi tidak mendapati anak-anak serta ninik Asih. Kemudian Aisyah menuju ke kamar anak-anak dan Aisyah melihat anak-anak dan ninik Asih bersiap-siap untuk melakukan ibadah solat magrib.
Aisyah menutup pelan-pelan pintu kamar tersebut, kemudian berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan melaksanakan solat magrib juga. Selesai solat maagrib Aisyah menuju ruang makan dan melihat anak-anak sudah duduk.
“Ibu, kapan pulang?” tanya Zakiya
“Saat azan magrib ibu tiba dirumah.” Yang di angguki oleh ke-tiga anaknya. Tak lama setelah
itu Zakiya kembali bertanya.
“Ibu, apa kita jadi pergi ke tempat kakek dan nenek.”
“Insyaallah ya dek. Besok ibu akan datang ke sekolah dan meminta izin untuk kakak dan adek selama 1 minggu.”
“Yey… Liburan”
“Sudah-sudah dek, gak usah lompat-lompat lagi. Yuk kita mulai makan malamnya.”
Mereka makan malam dengan tenang. Saat ini anak-anak tengah duduk untuk menonton diruang tamu sedangkan Aisyah tengah berbicara dengan ninik Asih dan meminta wanita paruh baya itu untuk ikut dengan mereka ke kampung. Ninik Asih sempat menolak namun karena paksaan dari Aisyah akhirnya ninik asih mengiyakan ajakan
Aisyah.
Selesai berbicara dengan ninik Asih, Aisyah pergi menemui anak-anaknya dan ikut menonoton serial TV yang sedang tayang. tidak lama kemudian azan isya' terdengar, mereka solat berjama’ah lalu Aisyah meminta anak-anaknya untuk segera tidur karena besok mereka sekolah.
**
Pagi harinya, Aisyah dan anak-anak bersiap untuk ke sekolah. Aisyah akan meminta izin anak-anak pagi ini, setelah itu baru lah Aisyah ke kantor. Mereka pamit pada ninik Aish dan berlalu meninggalkan rumah.
Sesampainya Aisyah disekolah anak-anak, Aisyah langsung menuju ke kantor kepala sekolah. Aisyah bertegur sapa layaknya orang tua murid dengan kepala sekolah, setelah itu Aisyah menyampaikan maksud dan tujuannya datang menemui kepala sekolah hari ini dan tentu kepala sekolah memberikan izin.
hari itu berlalu begitu saja untuk keluarga kecil Aisyah. Malam hari nya Aisyah dan anak-anak mempersiapkan baju-baju untuk dibawa dan oleh-oleh yang akan diberikan Azzam, Azzim, dan Zakiya kepada kakek dan nenek mereka.
**
Hari keberangkatan, keluarga kecil Aisyah dan ninik Asih sedang berada diperjalanan menuju Bandara. Sedangkan di Bandara Intan sudah berada disana dari 15 menit lalu. Sesampainya di Bandara, Aisyah langsung menuju ke tempat Intan. Zakiya yang melihat Intan langsung berlari dan memeluk Intan sedangkan Azzam dan Azzim hanya bersalaman.
“Kita akan berangkat 10 menit lagi” ucap intan, yang diangguki Aisyah."
“Anak-anak tetap disamping ibu.”
“Baik Bu.”
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kini mereka semua sudah berada didalam pesawat. Perjalan dengan pesawat memakan waktu selama 1 jam 45 menit ke kota P.
Kini keluarga kecil Aisyah, Intan dan ninik Asih sudah tiba di Bandara yang ada di kota P, mereka melanjutkan perjalan menuju kampung halaman Aisyah menggunakan mobil yang sudah Aisyah sewa sebelumnya selama berada dikota itu. Lama perjalan dari kota P ke kota kecil PP adalah 2 jam. Mereka berhenti sebentar di sebuah air terjun di tepi jalan saat menuju ke kota PP.
“Ibu, udara disini sangat sejuk. Kami suka Bu.”
“Nanti kakak dan adek akan lebih suka lagi dengan kampung ibu. Disana banyak sawah dan udaranya juga bagus.”
“Kami sudah tidak sabar Bu.”
“Sebentar lagi kita akan sampai. dirumah kakek dan nenek.”
Kini mobil yang Aisyah bawa sudah memasuki pekarangan rumah orang tua Aisyah. Aisyah minta kepada Intan dan ninik Asih beserta anak-anak untuk duduk didalam mobil sebentar.
tok…tok
“Assalamu’alaikum mak, pak” ucap Aisyah sedikit berteriak. Terdengar oleh Aisyah seseorang menjawab salamnya dari dalam rumah dan pintu terbuka.
“Wa’laikumussalam”
“Aisyah….” ucap ibu Aminah, Ia kaget melihat anak satu-satunya berda didepan rumahnya. “Apakah ini mimpi”
“Mak… Maaf kan Aisyah selama ini tidak pulang untuk melihat mak dan bapak” ucap Aisyah sambil memeluk ibu Aminah.
“Mak, Aisyah membawa sahabat, anak dan pengasuh anak-anak Aisyah. Nanti akan Aisyah ceritakan kepada mak dan bapak”
“Bawa dulu tamunya, nanti kita bicarakan perihal itu bersama bapak.” Walau pun kaget dengan penuturan Aisyah, Ibu Aminah tidak ingin tamu yang dibawa oleh anaknya menunggu terlalu lama diluar.
**
Malam hari nya mereka makan bersama dengan lesehan, karena meja makan dirumah itu tidak cukup untuk mereka semua. Mereka makan dengan tenang. Selesai makan Intan dan ninik Asih membawa anak-anak ke kamar untuk beristirahat. Dan keduanya mengetahui suasana yang tercipta saat makan malam, begitu juga dengan ke-tiga anak Aisyah.
“Ninik, apa kakek dn nenek tidak menyukai kami” ucap Zakiya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Gak kok, pasti kakek dan nenek menyukai kakak dan adek. Kita tidur duluan ya”
Mereka menuruti ucapan ninik Asih dan segera tidur, mungkin karena lelah mereka tertidur dengan tenang dan lelap.
Diruang tamu sauasa tengah tegang antara Aisyah dan kedua orang tuanya. Aisyah meminta ayahnya untuk tidak marah-marah lagi karena Aisyah takut mempengaruhi kesehatannya.
“Mak, Pak. Tenang dulu ya. Biar Aisyah ceritakan dari awal sampai saat ini”
Mulai lah Aisyah bercerita kejadian 5 tahun lalu kepada kedua orang tuanya. Keduanya tampak terkejut dengan musibah yang sudah di menimpa anak semata wayangnya dirantau. Mereka menyesali tidak menemani Aisyah disaat-saat seperti itu. Bagaimana pun kini nasi sudah menjadi bubur tidak perlu disesali lagi. Mereka bersyukur Aisyah diberikan pertolongan melalui teman-temannya.
“Aisyah minta maaf atas semua yang sudah terjadi Mak, Pak”
“Kami juga minta maaf Ais” mereka saling berpelukkan. Walau masih ada kekecewaan dihati keduanya namun mereka harus ikhlas. Lalu bapak bertanya kepada Aisyah mengenai siapa ayah dari cucu-cucunya.
“Aisyah, apa kamu mengetahui siapa laki-laki itu”
Aisyah mengangguk. Melihat Aisyah tidak ingin membahas pria itu bapak hanya bisa menghembuskan nafasnya dan meminta Aisyah beristirahat.
**
Anak-anak tampak bahagia bertemu dengan teman-teman baru. Mereka sangat menyukai kampung halaman Aisyah. Tidak terasa mereka sudah 4 hari berada disana. Mereka pergi ketempat wisata yang ada di kota itu.
Bahagia yang Aisyah rasakan tidak akan bisa dilupakan olehnya. Bertemu kedua orang tuanya seolah beban yang dulu dipikulnya kini sudah hilang.
Saat ini Aisyah sedang memperhatikan anak-anaknya. Lalu Ibu Aminah duduk disamping Aisyah.
“Nak, apa kamu tidak bisa tinggal disini saja?”
“Belum bisa mak, Aisyah juga menginginkan hal yang sama dengan mak. Namun kerjaan Aisyah masih banyak di kota J mak. Atau Mak dan bapak saja yang ikut Aisyah”
“Bapak mu, yang tidak mau meninggalkan kampung ini Ais”
Yang bisa Aisyah lakukan hanyalah meminta maaf kepada ibu Aminah karena belum bisa mewujudkan keinginan kedua orang tuanya.
Banyak warga yang datang kerumah hanya sekedar bertamu, sebab mereka sudah lama tak melihat Aisyah dan juga warga-warga di dekat rumah Aisyah adalah orang-orang yang tidak suka menghabiskan waktu mereka untuk membicarakan orang lain. Disana mereka hidup dengan tenang tanpa ada ketegangan diantara sesama warga. Karena hal itu lah, Aisyah sangat menyukai kampungnya itu
dia bisa hapus data diri supaya ga terlacak sebelum berangkat ke luar negeri.
sekarang ketemu dan Leo juga mau tanggung jawab tapi Aisyah abaikan Leo
jadi geram maunya apa sih
Leo juga mau bertanggung jawab
tapi suka sih sama laki yang alergi sama perempuan jadi ga suka celup disembarang tempat