Arsen coline harus menelan pil pahit dalam hidupnya, Marlen Lee istri yang baru saja ia nikahi harus ternodai karena ulah seseorang yang memperkosa istrinya dimalam pertama.
Cinta Arsen yang begitu besar pada Marlen Lee. Harus berkhir dengan kekecewaan.
"Jangan pernah kau sentuh diriku! bagi ku kau hanyalah kotoran debu yang berserakan, rasanya kau tak pantas untuk ku sentuh! Hardiik Arsen.
Seorang Jendral muda bernama Alan Smith, datang sebagai perisai dan pelindung bagi Marlen. Ia sanggup menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Akan kah Arsen akan menerima kembali Marlena sebagai istrinya? atau sebuah perceraian yang terjadi?"
Mampu kah Alan mengembalikan kepercayaan Marlen padanya...?
@Ada unsur Dewasa 21 + tolong bijaklah dalam membaca.
Yuk ikuti terus kisahnya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta (Part 1)
Malam itu Marlen sudah mengenakan gaun pesta yang diberikan Arsen, wajah cantiknya hanya memakai makeup natural, dengan fostur tubuh tinggi semampai, body bagaikan gitar spanyol, gaun merah maroon berbalut sutra indah sudah melekat ditubuh Marlena yang sexy, belahan gaun samping hingga pangkal paha menambah pesona dan daya tarik Marlen sebagai seorang model internasional, gaun panjang yang dikenakan Marlen hingga menjuntai kelantai. Sepatu highheels hitam satu paket dengan tas tangan branded.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, Marlen berjalan ke arah pintu dan sudah berdiri asisten Hans di ambang pintu.
"Nyonya Marlen, Tuan arsen sudah menunggu di bawah"
"Aku sudah siap"
"Mari nyonya" kata Hans berjalan mendahului Marlen
Mereka masuk kedalam lift, saat berada dilantai bawah Marlen terus mengikuti langkah Asisten Hans menuju sebuah mobil, Hans membukakan pintu untuk Marlen, didalam mobil sudah berada Arsen sedang duduk manis sambil memainkan ponsel, mereka duduk bersama dalam satu mobil tapi saling menjaga jarak, mobilpun berjalan meninggalkan mansion menuju sebuah pesta malam, tidak ada percakapan dari keduanya, tatapan Marlen tertuju pada jendela mobil menikmati indahnya kota Paris di malam hari. sementara Arsen masih sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba tangan Arsen melempar sebuah kotak ceper berwarna merah kepangkuan Marlen.
"Pakai lah! ucap Arsen dingin.
"Apa ini? tanya Marlen sedikit terkejut tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jangan pura-pura bodoh, sudah tau itu perhiasan, masih juga bertanya?
"Kalau aku sudah tahu ini perhiasan, lalu untuk apa kau lempar padaku?!
"Untuk ku pinjamkan padamu, pakailah! serunya cetus.
"Heh! Meylin tergelak "Aku tidak membutuhkan perhiasan itu lagi, berikanlah pada wanita mu?! sindiran Marlen membuat Arsen emosi.
"Kau selalu saja membantah! aku tidak ingin kau kelihatan murahan di depan para tamu undangan, banyak pejabat dan orang penting disana, Aku masih ingin kau terlihat berkelas tidak membuat malu nama klurga besar Collins. karena dimata mereka kau masih supermodel terkenal dan berkelas! Arsen mengambil kotak perhiasan itu dan membukanya, seperangkat berlian bertahtakan batu Ruby, Arsen menarik kasar tangan Marlen dan memasukkan gelang berlian itu ketangan nya, Marlen sempat berontak dan menolak memakai gelang mahal itu, yang ditaksir seharga satu rumah mewah.
"Sudah lepaskan, tidak perlu memaksa ku! ujar Marlen kesal menarik tangannya, gelang berlian itu sudah berada di pergelangan tangannya.
"Pakai kalung ini! melempar kotak itu pada Marlen "jangan buat malu aku, ingat jangan sampai rusak apalagi sampai hilang batu ruby itu, bila tidak akan semakin banyak hutangmu padaku!"
Marlen sangat geram dengan ucapan Arsen yang membuatnya sakit hati, ia menatap sinis wajah Arsen "Sudah aku bilang dari awal aku tidak membutuhkan perhiasan ini! untuk apa kau masih pakaikan aku perhiasan, kalau aku tidak sengaja merusaknya aku juga yang harus menggantinya, dasar licik!"
"Itu resikomu, aku hanya meminjamkan nya padamu, seharusnya kau senang tidak dipandang murahan oleh para tamu dan pejabat yang hadir, perlu kau ingat, perhiasan itu adalah milik keluarga besarku, jangan sampai rusak apalagi hilang! ancam Arsen begitu sombong.
Marlen hanya menarik nafas dalam dan dihembuskannya kasar, ia sudah malas berdebat dengan pria Arogan yang tidak punya hati.
Mobil Arsen masuk kedalam hotel berbintang Lima, Arsen turun dari mobil diikuti Marlen setelah asistennya membukakan pintu mobil, sebelum masuk kedalam Hotel Hans membantu marlen memakaikan kalung berlian itu.
Saat mereka sudah didepan lobby hotel, Arsen menarik tangan Marlen dan mengkaitkan ke tangannya.
"Bersandiwaralah didepan mereka, ku ingin kau terlihat bahagia." bisiknya sambil terus berjalan kedalam rooms. Marlen menoleh dengan tatapan sinis dan benci.
"Bukankah kau jijik padaku, kenapa kita harus bersandiwara?"
"Ingat jangan membangkang, bila tidak Ibumu akan semakin gila, aku masih peduli dengan ibumu, bila kau turuti kemauan ku besok aku akan menemui ibumu!"
Karena mengatas namakan ibunya, Marlen mengikuti langkah Arsen dengan mengaitkan satu tangannya kesiku Arsen. Tanpa banyak berdebat lagi mereka terus masuk kedalam, dua orang penjaga membuka pintu rooms sambil membungkuk memberi hormat, mereka berdua masuk kesebuah rooms yang sangat Luas dan mewah, hamparan karpet merah memenuhi ruangan, para wartawan berdatangan dan mendekati mereka berdua. Mereka langsung di serang wartawan dengan berbagai pertanyaan. tentu saja Marlen sudah memainkan sandiwaranya, ia tersenyum sumringah seakan bahagia hidup bersama Arsen, beberapa kata kluar dari bibir Arsen untuk menjawab pertanyaan para wartawan, para bodyguard datang untuk menghalangi para wartawan agar tidak terus mengikutinya.
Pintu khusus para tamu berkelas terbuka lebar, Marlen dan Arsen terus berjalan melangkah, semua mata tertuju pada Mereka berdua yang terlihat serasi, Marlen yang seksi dan cantik, Arsen yang tampan berbalut texsudo, para pria tidak lepas memandang wajah cantik Marlen, Aura super model berkelas terlihat jelas. Musik terus terdengar irama melodi mengalun merdu, sepasang mata tajam terus menatap kedatangan mereka berdua.
"Selamat datang Mr dan Mrs Collins!" sapa seorang pria paruh baya "Aku begitu Senang tuan dan Nyonya Collins bisa hadir dipestaku malam ini"
"Sungguh ini suatu kehormatan Tuan Robert?! ujar Arsen, mereka saling berjabat tangan. pandangan Arsen jatuh pada sosok pria tampan disamping Robert.
"Senang bisa bertemu kembali Tuan Smith?! sapa Arsen ramah mengangguk memberi hormat.
"Tentu saja Tuan Collins, aku pun senang"
"Hallo Nyonya Collins, sungguh anda sangat cantik malam ini" puji Alan ramah, menarik jemari Marlen lalu menciumnya lembut.
"Terima kasih atas pujiannya Tuan Smith" Meylin menggangguk kan kepala memberi hormat.
"Sungguh aku sangat iri melihat kemesraan kalian berdua, pengantin baru yang sangat berbahagia." ucap Robert terkekeh.
Marlen tersenyum canggung, lalu memalingkan wajahnya, ia menarik nafas dalam untuk menetralkan perasaannya, Alan Smith menatap dalam wajah cantik Marlen, sungguh ia sangat terpesona dengan kecantikan dan penampilan Marlen malam ini.
Seorang pelayan datang membawakan nampan berisi minuman beralkohol pada para tamu yang sedang berbincang bincang, Marlen menolak dengan halus ia lebih memilih gelas yang berisi air putih, pembicaraan para pembisnis dan pejabat pun terus berlanjut.
"Nyonya Collins apa anda sudah hamil? tanya Robert spontan, sambil meneguk wine ditangannya
"Uhuk, uhuk, uhuk," Marlen yang sedang meminum langsung terbatuk.
"Sayang, kenapa kau tidak hati hati" ucap Arsen lembut, mata itu saling bersitatap, Marlen menatap benci pada Arsen.
"Maaf Tuan Robert, mungkin istriku kaget anda bertanya seputar kehamilan, ya akupun berharap secepatnya istri ku hamil. bukan begitu sayang?" tersenyum tipis.
"Tidak usah terburu-buru Tuan Collins, baru saja kalian menikah tiga bulan, masih bnyak kesempatn untuk memiliki baby" kata Wiliam seorang pembisnis menimpali.
"Nikmatilah dulu bulan madu kalian, jangan terburu buru, pelan pelan saja" mereka semua tertawa terbahak
Wajah Alan seketika memerah menahan kekesalan pada mereka semua "Nyonya Collins ambil lah ini" Alan memberikan tissue pada Marlen.
"Terima kasih Mr Smith"
"Permisi tuan tuan, aku mau berkeliling dulu" Marlen terlihat kikuk.
"Silahkan Nyonya Collins, dan Nikmati semua hidangan yang berada di ruangan ini" kata Robert tersenyum sumringah.
Marlen melangkah pergi meninggalkan perbincangan mereka, Alan menatap kepergian Marlen sambil meneguk wine ditangannya.
'
'
'
'
'
@BERSAMBUNG
@Maaf ya para Readers,, kalau up gak bisa setiap hari, karena Author punya kesibukan di Real, dan juga harus kejar up dua novel yang lain, jngn berkomentar pedas, buat novel yang alurnya berbeda dari novel laen gak gampang, harus mikir tiap hari, hargai lah karya orang laen, kalian kan tinggal baca ajah, buat cerita harus sesuai dengan judul itu agak sulit, dan
penulis bukan ingin membuat peran utamanya menderita terus, ceritanya juga baru dimulai, baru berapa episode, bersabar lah, dan maaf Komenlah yang membuat penulisnya semngat
@JANGAN LUPA UNTUK LIKE SETELH MEMBACA, BERI AUTHOR HADIAH DAN KOMENTAR NYA.
tapi mmg itu skenario nya Thor 🤭🤭