NovelToon NovelToon
Setelah Menikah, Aku Jadi Ratu Gosip!

Setelah Menikah, Aku Jadi Ratu Gosip!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Live/Variety Show
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ly-Ra?

Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.

Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.

Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!

Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.

【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】

【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】

Mata Nara berbinar.

"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"

Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.

Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.

Let's Start The Story!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Pembunuhan 100 juta Lyr

Ethan Hale melempar ponselnya ke atas ranjang dengan wajah muram.

Sejak siaran langsung Nara Aeris berakhir, hidupnya seolah berubah menjadi lelucon yang dinikmati banyak orang. Setiap kali membuka media sosial, selalu ada berita tentang perselingkuhannya dengan Vivian Monet, perceraian dengan Lydia Ardent, atau uang tiga puluh milliar Lyr yang dipermasalahkan.

Bahkan ketika ia mencoba mengabaikan semua itu, notifikasi berita terus bermunculan.

Ethan mengusap wajahnya kasar.

Sialan!

Seharusnya masalah rumah tangganya tidak sampai menjadi konsumsi publik. Ia sudah berusaha menjaga semuanya agar tetap terkendali. Namun, gara-gara Nara, setiap orang kini merasa berhak menghakiminya.

Dia mengambil botol minuman di atas meja, menuangkan isinya ke gelas, lalu meneguknya hingga setengah habis.

Panasnya minuman itu mengalir melewati tenggorokannya, tetapi tidak sedikit pun meredakan amarah yang menumpuk di dadanya.

Yang paling membuatnya kesal bukanlah komentar orang-orang di internet. Ia sudah terbiasa menghadapi penilaian orang lain.

Masalah sebenarnya, adalah dampak dari skandal ini terhadap bisnisnya.

Perusahaan yang ia bangun sendiri masih berjalan. Beberapa proyek bahkan menunjukkan perkembangan yang cukup menjanjikan. Dengan kemampuan dan koneksi yang dimilikinya, Ethan yakin ia masih bisa membawa perusahaan itu berkembang lebih jauh.

Namun, situasinya sekarang berbeda.

Crane Group, Aeris Group dan Ardent Group telah memutuskan hubungan bisnis dengannya. Keputusan tiga perusahaan besar itu tentu akan memengaruhi pandangan mitra lain terhadap dirinya. Belum lagi reputasinya yang tercoreng, akibat skandal perselingkuhan dan perselisihan aset bersama.

Jika kepercayaan para mitra ikut goyah, beberapa proyek yang sedang berjalan bisa menghadapi masalah.

Ethan mengepalkan tangan.

Semua ini gara-gara Nara Aeris!

Kalau perempuan itu tidak ikut campur, dia masih bisa menangani Lydia dan keluarga Ardent secara diam-diam. Tidak akan ada siaran langsung, tidak akan ada orang yang membicarakan uang tiga puluh miliar Lyr, dan tidak akan ada begitu banyak pihak yang memperhatikan urusan pribadinya.

Nara telah menghancurkan ketenangan yang susah ia bangun.

Lebih buruk lagi, perempuan itu melakukannya dengan wajah polos seolah tidak bersalah sedikitpun.

Memikirkannya saja sudah membuatnya marah.

"Berani sekali dia mempermalukanku!"

Matanya memerah karena marah.

Dia tidak bisa membalas Nara melalui jalur bisnis. Crane Group dan Aeris Group bukan lawan yang bisa ia hadapi dengan mudah. Bahkan jika ia memiliki cukup keberanian untuk melawan, ia tetap harus mempertimbangkan kondisi perusahaannya sendiri.

Namun, bukan berarti ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Sebuah pikiran gelap perlahan muncul di benaknya.

Ethan terdiam beberapa saat, sebelum mengambil laptop yang tergeletak di meja. Ia membuka peramban, mengetikkan serangkaian alamat yang sebelumnya ia simpan, lalu masuk ke sebuah situs tersembunyi.

Tampilannya sederhana, nyaris tidak berbeda dari halaman biasa. Tidak ada nama organisasi yang terpampang secara terang-terangan. Hanya terdapat beberapa pilihan layanan dan kolom untuk mengajukan permintaan.

Bagi orang awam, situs itu mungkin tampak seperti halaman kosong yang tidak berguna.

Namun, Ethan tahu apa yang ada di baliknya.

Dark Shadow.

Organisasi pembunuh bayaran yang namanya beredar di kalangan tertentu, menurut rumor yang beredar markas mereka berada di Kota A, tidak jauh dari negara Lyrantara sendiri.

Mereka tidak menerima permintaan dari sembarang orang, tetapi bagi orang yang mengetahui jalur masuknya, dan sanggup membayar harga yang diminta, selalu ada kemungkinan untuk membuat permintaan mereka dipertimbangkan.

Ethan pernah mendengar tentang organisasi itu, melalui seseorang yang dikenalnya beberapa tahun lalu. Saat itu, ia tidak terlalu mempedulikannya.

Sekarang, ia justru membutuhkan mereka.

Pria itu menatap layar laptop cukup lama. Jemarinya sempat berhenti di atas papan ketik, tetapi bayangan wajah Nara yang tersenyum di hadapan kamera kembali muncul dalam ingatannya.

Amarahnya segera mengalahkan keraguan.

Ethan mengisi formulir yang tersedia, memasukkan identitas target, lalu menentukan jumlah uang yang bersedia ia bayarkan.

Target: Nara Aeris.

Bayaran: 100 juta Lyr.

Setelah memastikan semua informasi yang diperlukan telah terisi, ia menekan tombol pengiriman.

Beberapa detik kemudian, sebuah pesan muncul di layar.

Permintaan Anda telah diterima untuk ditinjau.

Ethan Hale menyandarkan punggungnya ke kursi.

Permintaannya belum tentu langsung diterima. Dia memahami hal itu. Namun, setidaknya ia sudah mengambil langkah pertama.

Ethan mengangkat gelasnya dan meneguk minuman sekali lagi.

"Nara Aeris, kamu pikir kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan hanya karena punya nama besar?"

Senyum dingin muncul di sudut bibirnya.

"Sebentar lagi, kamu akan tahu akibatnya."

Ethan menutup laptopnya dengan perasaan puas, dia sudah membayangkan kalau Nara Aeris akan mati menyedihkan, dan seluruh dunia akan menangis untuknya. Sedangkan dia? Hanya bisa tertawa.

Ponsel di atas meja bergetar.

Ethan melirik layar. Nama Vivian Monet muncul di sana.

Ia mengernyit.

Sejak skandal perselingkuhan mereka tersebar luas, Vivian jarang menghubunginya. Perempuan itu bahkan sempat menghilang selama beberapa hari, seolah ingin menjauhkan diri dari masalah yang mereka timbulkan bersama.

Ethan sempat mengira Vivian akan meninggalkannya begitu saja, setelah situasinya memburuk.

Dia membiarkan panggilan itu berdering beberapa saat, sebelum akhirnya mengangkatnya.

"Halo?"

"Ethan, akhirnya kamu mengangkat teleponku."

Suara Vivian terdengar lembut. Ada sedikit kelegaan di dalamnya, seolah ia benar-benar mengkhawatirkan pria itu.

"Ada apa?" tanya Ethan datar.

"Kamu terdengar tidak baik-baik saja." Vivian berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku melihat berita tentangmu. Aku tahu beberapa hari ini pasti berat bagimu."

Ethan tidak menjawab.

Vivian menggigit bibirnya di seberang telepon. Ia sebenarnya ingin mengeluh bahwa hidupnya tidak baik-baik saja selama ini. Tapi, dia tahu kalau Ethan sedang berada dalam situasi buruk. Jika dia mengeluh, pria itu mungkin akan semakin menjauh.

"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," katanya lagi. "Kamu sudah makan? Jangan terus-terusan minum, hanya karena sedang banyak pikiran."

Ethan melirik botol di atas meja.

Perhatian Vivian terdengar menyenangkan, terutama setelah beberapa hari terakhir ia hanya menerima hinaan dan sindiran. Namun, ia juga tidak sebodoh itu untuk langsung mempercayai ketulusan perempuan tersebut.

"Ethan," panggil Vivian ketika pria itu terus diam.

"Hmm?"

"Uang tiga puluh miliar Lyr itu... " Vivian terdengar ragu. "Apakah kamu masih memilikinya?"

Wajah Ethan langsung berubah.

Jadi, pada akhirnya. Perempuan ini juga ingin tahu soal uang itu?

Dia tertawa kecil tanpa kehangatan.

"Kenapa? Kamu tertarik pada uangku?"

"Apa?" Vivian buru-buru menyangkal. "Bukan begitu! Aku hanya khawatir. Aku tahu Nona Lydia sedang berusaha mengambil kembali uang itu. Aku takut Kamu akan kehilangan semuanya."

"Kalau begitu, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."

"Tapi, Ethan—"

"Aku tidak sedang ingin membicarakan uang."

Nada suaranya membuat Vivian terdiam.

Dia sadar telah menyinggung topik yang salah. Jika ingin kembali mendekati Ethan, ia harus lebih berhati-hati. Pria itu mungkin sedang berada dalam kesulitan, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki harga diri.

Vivian menghela napas pelan. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal."

Ethan tidak menjawab.

"Aku hanya..." Vivian menggantungkan kalimatnya sejenak. "Aku tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini."

Kalimat itu membuat Ethan Hale sedikit terdiam.

Hubungan mereka memang sudah menjadi bahan pembicaraan publik. Vivian kehilangan sebagian citra baiknya, sedangkan Ethan harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan tuntutan dari Lydia. Dalam keadaan seperti ini, tidak ada jaminan hubungan mereka akan bertahan.

Namun, dia tidak ingin merasa ditinggalkan oleh semua orang sekaligus.

Mata Ethan menjadi jauh lebih redup, dia akan menyeret orang lain.

"Kalau begitu, datanglah ke hotelku," kata Ethan tiba-tiba.

Vivian tertegun, "Apa?"

"Kamu bilang tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini, bukan?" Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi, dan tersenyum sinis. "Kalau begitu, datanglah. Kita bicara langsung."

Jantung Vivian berdebar lebih cepat.

Ia sempat mengira Ethan akan mengusirnya, dia tidak menyangka pria itu masih bersedia menemuinya.

Apakah ini berarti Ethan masih memiliki perasaan kepadanya?

Memikirkan kemungkinan itu, membuat suasana hati Vivian membaik.

"Baiklah. Aku akan datang."

Setelah panggilan berakhir, Vivian segera bangkit dari tempat duduknya.

Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambut, lalu mengganti pakaiannya dengan gaun yang lebih menarik. Ia tidak ingin terlihat berantakan ketika bertemu Ethan. Jika pria itu masih bersedia memberinya kesempatan, ia harus memanfaatkannya dengan baik.

Vivian mengambil tas dan meninggalkan apartemennya.

...----------------...

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Nurlaila Hidayah
tak kira mau diambil itu uang'a🤔
Ly-Ra?: uangnya memang diambil sayang~
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
novel yg menghibur, semoga up tiap hari sampai tamat ya kak
tetap sehat dan semangat Thor
Ly-Ra?: 😍 Terimakasih sudah doain Lyra, kamu juga sehat² ya
total 1 replies
Nurlaila Hidayah
waaaah jangan sampai yah thor persahabatan mereka brantakan gra2 misi, klo bisa dibalik nanti thor
Ly-Ra?: 🤭 Kenapa gak boleh berantakan, bagus tau~
total 1 replies
Nurlaila Hidayah
jeaaaah dmna2 polisi pasti dtg klo udh beres🤦🤭
Nurlaila Hidayah: iya ka, skrg mah kya'a ngikutin polisi indo🤣🤣🤣
total 2 replies
Nurlaila Hidayah
lanjut thor
Ly-Ra?: pasti 💪
total 1 replies
Nurlaila Hidayah
tmben lama amat thor up'a🤔
Nurlaila Hidayah: oke siap, maacih /Kiss/
total 2 replies
Nurlaila Hidayah
mntap, itu baru 3 yg dsbutin nama marga yg sdah mlai menolak blom yg lain'aa yg ga dsbutin, mampus kau ethan laga'a kau bilg cinta vivian. bilg aja kau emg kata keranjang ga tau diri sx kau udh dbntu Mlah menggigit😡😡😡
Nurlaila Hidayah
Waaah habis kau klrga hale gra2 1org smua kna dmpak'a, lnjut lgi thor
Nurlaila Hidayah
mau nabung smpai end eh ga bsa krna pnasaran klnjutan'a sperti apa jdi weee dibuka dah bab slnjut'a🤭
Ly-Ra?: Hahaha, gapapa 🤭 author jadi senang kalau ada yg baca
total 1 replies
Nurlaila Hidayah
lanjut thor dtggu smpe end soalnya ga enak klo spotong2 baca'a
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!