Mariana dijodohkan dengan Raka, pemuda pilihan orang tua nya . Tanpa sepengetahuan Mariana , Raka ternyata punya hubungan dengan Meli yang merupakan sahabat Mariana . Karena ketidakterbukaan Meli , akhirnya membuat kesalahpahaman . Persahabatan mereka pun Retak .
Suatu hari Mariana tersesat di hutan saat mengikuti kegiatan mapala . Namun dia tidak sendiri. Ada Revan bersamanya . Revan yang diam-diam menyukai Mariana dari dulu , akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya . Dan ternyata Mariana juga mempunyai perasaan yang sama .
Cinta mereka terhalang restu orang tua dari Mariana . Akankah mereka bersatu ? bagaimana perjuangan Revan untuk mengambil hati kedua orang tua Mariana ? akankah persahabatan antara Mariana dan Meli kembali terjalin ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiraz Dincer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di rumah kontrakan yang sangat sederhana , Revan di sambut haru oleh ibunya , orang tua satu-satunya yang ia punya kini.
"Alfin mana bu?" tanya Revan mencari bocah berambut keriting setelah puas melepas rindu dengan sang ibu.
"Adik kamu sudah tidur , tiap hari dia selalu menanyakan kabar kamu . Ibu tak tega bilang yang sebenarnya sama dia kalau kakaknya hilang , tapi syukur lah Van kamu selamat" urai ibu ira kembali sedih mengingat nasib yang menimpa putranya .
"Revan mau lihat Alfin dulu bu"
Pemuda jangkung itu melangkah pelan memasuki kamar adiknya . Senyumnya menyungging lirih menatap bocah 9 tahun tertidur lelap dan damai . Tangannya dengan penuh kerinduan mengacak rambut keriting sang adik . Tubuh Alfin menggeliat karenanya dan matanya terbuka tiba-tiba.
"Kak Revan " seru bocah itu menggosok matanya.
"Iya Fin , ini kakak " katanya meyakinkan bocah polos itu.
"Alfin ngga mimpi kan kalau kak Revan pulang?" tanyanya.
"tentu ngga " Revan kembali mengacak rambut adiknya dengan gemas.
"Horeeeee...kak Revan udah pulang" teriak Alfin kesenangan dan melompat bahagia di atas kasur .
"Horeeee kak Revan pulang, Alfin bisa main bola bareng kak Revan lagi" teriaknya lagi . Revan yang menyaksikan tersenyum haru dan segera memeluk bocah tersebut menuntaskan kerinduannya pada keluarga kecil sederhana ini.
~~
Semua mahasiswa kembali pada rutinitas mereka biasanya , kembali pada tujuan utama mereka jadi mahasiswa.
Dari sekian mahasiswa yang lalu lalang hanya satu yang di nanti Revan ,sang pujaan hati yaitu Mariana . Hatinya sudah di kepung rindu mendalam . Sudah dua hari sejak malam itu dia tidak bertemu dng ana . Hanya sesekali Komunikasi lewat pesan singkat , untuk telpon pun tidak bisa berlama-lama.
Dari gelagat yang dia tangkap keluarga ana tidak menyukai kedekatannya dengan putri semata wayang mereka . Menurut Revan itu sangat wajar karena status keluargannya berbeda . Tapi apa boleh di kata , cintanya tak mengenal istilah aneh ini itu , yang dia tahu hanya cinta dan tak lebih.
Kampus jadi harapannya saat ini pun berakhir kecewa , Ana sama sekali tidak masuk hari ini. Kekecewaan tersebut jadi bahan ledekan Raka cs yang lewat.
"Weitssss..ada yang lagi galau ni " sindir Raka memulai genderang perang .
"Maklum aja deh , kan mau di tinggal kawin ama yayang tercinta" ujar Yuda si plontos ikut memanasi.
"Apa maksud ucapan lu" Revan penasaran dengan kata-kata Yuda barusan.
"Jadi lu belum tahu? apa Ana tidak cerita sama lu kalau pertunangan kami di percepat dan kami akan segera menikah secepatnya"
Bagai di sambar petir di siang hari , tubuh Revan lemas tak bertulang , dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya . Ana sudah janji akan membicarakan rencana penolakannya akan perjodohannya dengan Raka , tapi mengapa berita yang dia dapat justru berbanding terbalik dan sangat menyakitkan di bayangkan kebenarannya.
"Lu ngga akan bisa merebut ana dari gw" tekan Raka kuat meninggalkan Revan dengan senyum kemenangan.
"Apa semua itu benar ana?" gumamnya perih.
Revan tidak bisa membiarkan dirinya di ombang-ambing tak pasti . Revan mencoba menelpon Ana, tapi nomor telpon Ana tidak bisa dihubungi . Bagaimana pun caranya dia harus bisa menemui kekasihnya menjelaskan semuanya . Dia tidak ingin ada kesalah pahaman yang akan meruntuhkan pondasi cinta mereka.
~~
"Ana tidak mencintai Raka ma,pa . Ana tidak mau menikah dng Raka , tidak mau ma" tolak Ana berkali-kali bersama tangisnya yang tak terbendung.
Berulang kali gadis itu coba meluluhkan juga meminta pengertian dari kedua orang tuanya , sekeras ia mencoba, sekeras itu juga mama papanya memegang teguh pendirian mereka bahkan lebih.
"Mama dan papa juga orang tua Raka sudah memutuskan pernikahan kalian akan berlangsung akhir tahun ini" pak Yudi membuat keputusan di luar perkiraan putrinya.
"Apa pa??" sentak Ana kaget.
"Ma, tolongin Ana ma, Ana tidak mau di jodohkan seperti ini , Ana tidak mencintai Raka ma " tangis ana begitu pilu menyayat keibuan bu nadya.
"Ana , ini semua demi kebaikan kamu, kamu jangan membantah seperti ini" ujar bu nadya tak bisa membantu putrinya.
"Raka lebih pantas buat kamu di banding teman kamu malam itu . Raka berasal dari keluarga terpandang , sederajat dengan kita . Beda dengan Revan yang tidak jelas asal usulnya . Dia hanya pemuda miskin tak layak bersanding dengan kamu" kata-kata papanya keluar bagai halilintar yang menyambar hatinya.
"Ann mencintai Revan apa adanya pa . Tidak terbesit dalam pikiran ana menjatuhkan syarat mutlak untuk menerima cinta Revan . Ana tidak peduli seburuk apa pun Revan di mata orang lain , Ana tidak akan pernah bisa berteriak mengatakan kalau ana sangat mencintai Revan " tutur Ana dalam.
Gadis itu berlari menuju kamarnya sebab tak kuasa mendengar makian orang tuanya untuk sang kekasih.
Sampai di kamar , Ana menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan tangisnya makin menjadi.
"Van , kamu dimana?aku butuh kamu,aku kangen sama kamu" gumam gadis itu terbenam dalam tangisnya. Ana juga tidak bisa menghubungi Revan melalui telpon nya, karena Bu nadiya melarang dan membawa handphonenya .
~~
Di bantu ucok sahabatnya , Revan menyelinap masuk ke pekarangan yang luas se lagi ucok mengalihkan perhatian satpam yang berjaga ketat.
Dengan mahir dan tanpa kesulitan apa pun Revan berhasil merayap manjat menuju balkon kamar kekasihnya . Di dorong rasa rindu mendalam, Revan dengan mantap mengetok jendela kamar dan memanggil pelan nama sang kekasih .
"Van.." tebah ana pasti . Dia kenal sekali suara serak itu, suara yang di rindukannya beberapa hari ini . Tak mau membuang waktu , Ana bergegas menuju jendela dan menyibak tirai yang menutupi pandangannya.
Dua pasang mata langsung beradu sendu merindu . Tak ingin ada penghalang bagi keduanya , Ana bergerak cepat membuka jendala kamarnya.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu" kata pertama meluncur syahdu dari bibir Revan , hatinya tak bisa diam untuk tidak memeluk gadisnya.
"Aku juga kangen banget sama kamu van " balas ana mendekap erat tubuh kekar sang pujaannya .
"Van , mama sama papa aku.." ana tak sanggup melanjutkan kata-katanya , dia tak ingin merusak pertemuan mereka dengan hal lain.
"Aku tahu ana .Aku sudah mendengar semuanya dari Raka " ujar Revan pelan tanpa mau melepas pelukannya.
"Raka ?"ulang ana . Nada suaranya meninggi mengingat nama itu.
"Ana ,kamu ikut aku sebentar . Aku ingin membicarakan hubungan kita . kamu mau kan?" pinta Revan penuh harap sambil menangkup wajah kekasihnya.
Ana mengangguk tanpa ragu . Keduanya turun dari balkon secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang tua sang gadis.
Salam dari
"KEKUATAN ASISTEN DIREKTUR"
Jangan lupa feedback nya dan bantu
LIKE, VOTE, RATE dan KOMEN.
Terima kasih🤗
Salam dari
"KEKUATAN ASISTEN DIREKTUR"
Jangan lupa feedback nya dan bantu
LIKE, VOTE, RATE dan KOMEN.
Terima kasih🤗