NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekaman

Suasana Verion Group masih tidak seperti biasanya.

Beberapa karyawan membicarakan Tisha yang tiba-tiba pingsan di koridor kantor kemarin.

Zevanna datang ke kantor dengan wajah masih khawatir.

Ia langsung menuju meja Tisha.

Meja itu kosong.

Zevanna melihat kursi sahabatnya. "Semoga lo nggak kenapa-napa, Tis." Gumamnya.

Zevanna menghela napas panjang lalu berjalan menuju meja kerjanya.

Kemudian Ravenzo datang ke meja Zevanna.

"Zevanna, gimana keadaan Tisha?" Tanya Ravenzo langsung to the point.

Zevanna menatapnya dan menggeleng. "Nggak tau, Pak. Saya belum dapat banyak informasi. Kata orang tuanya, dia belum sadar, Pak."

"Kamu jangan mencari masalah sendiri." Kata Ravenzo membuat Zevanna terdiam.

"Saya bukan cari masalah, Pak. Masalahnya yang kayaknya nyari saya. Orang saya diam aja, Pak." Jawab Zevanna menggebu.

Ravenzo hanya menatap datar.

"Pak, gimana sama Tisha. Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Zevanna pelan.

"Arvin masih memeriksa rekaman dan aktivitas orang-orang di perusahaan." Balas Ravenzo dingin, ia tidak menyebut empat nama yang ia temukan secara detail kepada Zevanna.

"Kalau ada perkembangan, saya akan kasih tahu." Lanjut Ravenzo.

Zevanna mengangguk. "Iya, Pak."

Lalu Ravenzo melangkah kembali ke ruangannya.

Zevanna kembali ke pekerjaannya. Saat fokus mendata, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Tisha is calling...

Zevanna menoleh dan menekan tombol hijau.

"Halo, gimana keadaan lo? Lo nggak kenapa-napa kan?" Tanya Zevanna.

"Kondisi gue udah lumayan baik, tapi gue harus banyak istirahat." Jawab Tisha pelan.

"Makanya jangan sok kuat lo!" Omel Zevanna.

"Yang ngomong jangan sok kuat tuh lo, bukan gue." Balas Tisha tak mau kalah.

Zevanna terdiam sejenak dan berdecak. "Dih, lo sakit masih sempet nyolot. Nggak tau terima kasih udah dibantuin juga!"

Tisha terkekeh kecil. "Iya, makasih udah bantuin gue ya."

"Ya udah, gue mau lanjut kerja dulu ini." Kata Zevanna.

"Eh, tunggu dulu, Zev."

"Kenapa?"

Tisha terdiam, ia mengingat kembali kejadian sebelum dirinya pingsan.

"Woi, kenapa lo diem? Ada apa sih?" Tanya Zevanna sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

Tisha mengembuskan napas. "Zev, gue inget sebelum gue pingsan kemarin."

"Apaan?"

"Jadi gini... Kemarin gue sebelum pergi ke toilet, gue sempet liat beberapa orang di sekitar pantry. Tapi gue nggak yakin siapa aja soalnya gue lagi sibuk makan."

Zevanna mengerutkan kening. "Lo inget jamnya?"

"Seinget gue jam makan siang." Jawabnya.

Zevanna mendecih kecil. "Ya gue tau jam makan siang, maksud gue waktu sebelum lo ke toilet."

"Kan tadi gue udah bilang, gue sibuk makan. Nggak sempet liat jam berapa orang lewat di sana." Balas Tisha.

"Ya udah lah, ngomong sama lo emang susah!" Kesal Zevanna.

"Lah? Kenapa lo jadi kesel sih?"

"Udah, lo istirahat aja. Gue mau kerja, jangan ganggu lo!" Kata Zevanna membuat Tisha berdehem.

"Hm, iya. Semangat kerjanya bestie."

Tisha mematikan teleponnya.

Zevanna mendengus kecil. "Dih, sok manis banget nih orang. Kayaknya gara-gara sakit terus lupa minum obat."

Setelah telepon ditutup, Zevanna menatap layar komputernya.

Ia teringat Arvin mengatakan CCTV akan diperiksa.

Kalau gue cuma nunggu hasil dari mereka, gue nggak bakal tahu apa-apa.

Gue harus cari tau sendiri batinnya.

Zevanna membawa beberapa dokumen dan berjalan menuju area keamanan.

Ravenzo melihatnya dari kejauhan.

Arvin yang berdiri di dekat Ravenzo ikut memperhatikan Zevanna.

"Dia mau ke mana?" Tanya Arvin bingung.

Ravenzo menggeleng kecil. "Gue juga nggak tahu."

Arvin mengangkat bahu. "Mungkin ada urusan kerja."

Ravenzo tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan Zevanna yang semakin menjauh.

Namun entah kenapa, ia merasa Zevanna sedang menuju sesuatu yang lain.

"Arvin."

"Iya?"

"Kalau urusan Tisha sudah ada perkembangan, segera laporin ke gue."

Arvin mengangguk. "Siap."

Keduanya kemudian kembali ke pekerjaan masing-masing.

Zevanna sampai di ruang CCTV perusahaan.

"Permisi, Pak. Saya mau lihat rekaman sekitar waktu Tisha mengalami kejadian kemarin." Kata Zevanna.

Petugas awalnya ragu karena rekaman CCTV bukan sesuatu yang bebas diakses.

Namun karena kasus tersebut sedang diselidiki oleh perusahaan.

Petugas tersebut mengangguk. "Baik, Mbak."

Zevanna langsung merekah, lalu ia masuk ke dalam ruangan.

Petugas itu menatap layar komputernya yang memperlihatkan beberapa orang yang berlalu-lalang.

Zevanna menatap rekaman dengan fokus.

"Pak, di area pantry coba."

Petugas tersebut menurut.

Tisha terlihat masuk pantry.

Tidak lama kemudian beberapa orang terlihat berada di area tersebut.

Zevanna memperhatikan layar. Ia tidak melihat siapa pun melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Tisha selesai makan. Lalu pergi ke toilet.

Beberapa menit kemudian ia keluar dari toilet dan tiba-tiba pingsan.

Zevanna mengerutkan kening. "Nggak ada yang nyentuh makanan dia."

Zevanna menoleh ke petugas. "Pak, coba dimundurkan rekamannya."

Ia ingin melihat apakah ada seseorang yang masuk pantry sebelum Tisha.

Petugas memundurkan rekaman.

Ada beberapa orang keluar-masuk.

Tetapi tidak ada sesuatu yang bisa membuktikan siapa pun melakukan kejahatan ke Tisha.

Zevanna mendengus dan merasa kecewa. "Jadi belum ada apa-apa." Katanya, rahangnya mengeras.

"Ya udah, Pak. Makasih banyak."

"Iya, Mbak."

Saat hendak pergi, Zevanna tiba-tiba berpikir.

Kalau kejadian nggak kelihatan... Gimana sama kejadian gue?

Ia kembali menghampiri petugas itu.

"Pak, saya mau lihat CCTV lagi saat kejadian saya." Ujar Zevanna cepat.

Petugas tersebut mengangguk dan mencari tanggal dan waktunya.

Rekaman memperlihatkan aktivitas normal di area kerja Zevanna.

Andrew terlihat memberikan makanan kepadanya.

Gista memang sempat berada di sekitar area tersebut.

Zevanna memperhatikan dengan serius.

Namun, tidak ada rekaman yang memperhatikan Andrew melakukan sesuatu terhadap makanan.

Begitu pula Gista.

Zevanna terdiam dan semakin ragu.

Kalau mereka benar-benar pelakunya, kenapa nggak ada satu pun rekaman yang menunjukkan mereka ngapa-ngapain?

Petugas pun berpindah ke kamera lain.

Zevanna melihat timeline.

Ada bagian rekaman yang tidak tersedia selama beberapa menit.

Zevanna langsung menunjuk layar. "Pak, itu kenapa?"

Petugas memeriksa timeline beberapa saat. "Aneh... bagian ini nggak bisa diputar."

"Kenapa?"

"Saya kurang tahu, Mbak. Datanya seperti nggak bisa diakses. Harus dicek teknisi dulu.”

Zevanna mengangguk pelan. "Oh gitu, Pak. Ya sudah kalau begitu. Pak, saya pergi dulu. Makasih ya, Pak."

"Iya, sama-sama. Mbak."

Zevanna keluar dari ruang CCTV.

Ia sebenarnya ingin menghubungi Ravenzo. Namun ia mengurungkan niatnya.

Kalau gue bilang sekarang, pasti Pak Ravenzo nyuruh gue berhenti ikut campur.

Ia memutuskan mencari informasi lain terlebih dahulu.

Di meja kerjanya, Zevanna mendapat tugas mengambil beberapa dokumen lama.

Dokumen tersebut ternyata harus diambil dari ruangan gudang lama.

Zevanna mengingat bahwa gudang tersebut dulunya merupakan area kerja Zoyya.

Ia sedikit terdiam.

Dulu Kak Zoyya kerja di sana...

Zevanna berjalan menuju gudang di lantai empat. Lalu ia masuk ke dalam.

Ruangan tersebut sudah berbeda dibandingkan masa ketika Zoyya bekerja di sana.

Rak-rak dipenuhi dokumen lama dan barang perusahaan.

Zevanna mengambil dokumen yang diperlukan.

Saat mencari dokumen, Zevanna melihat sebuah area penyimpanan barang pribadi karyawan lama.

Ada beberapa barang yang belum dipindahkan.

Ia awalnya tidak peduli. Namun, ketika hendak pergi, matanya menangkap sebuah ponsel lama.

Zevanna berhenti.

Bukan karena bentuknya aneh.

Tapi karena ada sesuatu yang membuatnya merasa familiar.

Zevanna meraih ponsel tersebut. "Ini hp siapa ya?"

Layarnya sudah mati.

Ia mencoba menyalakannya.

Tidak langsung berhasil.

Kemudian ia melihat bagian belakang ponsel itu.

Zevanna mengenal stiker kecil yang dulu sering dipakai Zoyya,

Matanya membesar. "Ini kan..."

Ia teringat bahwa Zoyya pernah menggunakan ponsel tersebut.

Zevanna semakin yakin setelah melihat foto kecil yang masih terlihat pada bagian lock screen ketika perangkat menyala.

Zevanna langsung melihat sekeliling.

Ia sadar kalau HP ini mungkin sudah lama berada di gudang.

Kenapa HP kak Zoyya ada disini?

Kenapa nggak pernah ada yang bilang? Apa jangan-jangan ada seseorang yang menyembunyikan HP kak Zoyya disini? Tapi siapa?

Zevanna menggenggam ponsel itu erat.

Ia ingin langsung membawanya kepada Ravenzo.

Namun pesan anonim yang selama ini diterimanya kembali terlintas di kepalanya.

Jangan percaya semua orang di Verion Group.

Zevanna menelan ludah. "Kalau gue kasih tahu sekarang... siapa yang bisa jamin orang yang tahu tentang HP ini bukan orang yang sama?"

Ia akhirnya memasukkan ponsel tersebut ke sakunya. "Gue cari tahu sendiri dulu.”

Lengan Zevanna sedikit terangkat.

Jam tangan pemberian dari Zoyya.

Zevanna menatap jam tersebut sebentar. "Kak... Sebenarnya apa yang terjadi sama lo? Kenapa gue nemuin banyak keanehan di sini."

Dari celah pintu gudang. Seseorang yang kebetulan lewat melihat jam tangan tersebut. Orang itu berhenti sesaat.

Tatapannya tertuju pada jam tangan Zevanna.

Lalu ia pergi tanpa Zevanna tahu.

Zevanna menghela napas. "Gue harus cari bukti secepatnya, sebelum ada yang tau gue!"

Zevanna mengambil Dokumen dan keluar dari gudang.

Orang itu masuk beberapa saat setelah Zevanna pergi.

Tatapannya menyapu area penyimpanan. Ia berhenti di depan tempat penyimpanan barang-barang lama.

Sesuatu tampak berubah.

Orang itu terdiam. Tanpa berkata apa-apa, ia keluar dari ruangan tersebut.

***

Angin malam berembus kencang di tirai kamar apartemen.

Di dinding terdapat beberapa foto.

Salah satunya adalah foto Zevanna bersama Zoyya.

Orang tersebut berdiri cukup lama di depan foto itu.

Tatapannya sulit dibaca.

Ia menyentuh foto tersebut. "Kenapa kamu kembali mencari tahu tentang dia?"

Lalu ia melihat foto tersebut lagi. Ia terkekeh kecil.

"Kamu seharusnya nggak ikut campur, Zevanna.” Gumamnya.

"Semakin kamu mencari tahu tentang Zoyya, semakin dekat kamu dengan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.” Ia tersenyum miring menatap foto-foto Zevanna dan Zoyya.

***

Zevanna berada di kamarnya.

HP Zoyya diletakkan di atas meja.

Ia mencoba menyalakannya kembali.

Berhasil.

Zevanna belum membuka isinya. Ia hanya menatap layar.

Kemudian muncul pikiran.

Kalau HP ini emang punya kak Zoyya... Mungkin ada sesuatu di dalamnya.

Ia menoleh, menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Zevanna berdecak. "Ck, udah jam dua belas malam aja." Ia menguap lebar.

"Ngantuk banget tapi gue mager tidur." Zevanna menggaruk kepalanya hingga rambutnya sedikit berantakan.

"Nonton drachin dulu lah bentar," katanya. Ia mengambil laptopnya untuk menonton drachin kesukaannya.

Setelah beberapa episode, Zevanna akhirnya tertidur tanpa sadar.

***

Cahaya matahari menembus celah-celah jendela Verion Group.

Ravenzo menghampiri Zevanna di mejanya.

Ia melihat Zevanna tampak mengantuk. "Kamu tidur?"

Zevanna mendongak pelan. "Tidur, Pak."

Ravenzo menatapnya datar. "Bohong."

Zevanna langsung defensif. "Bapak paranormal, ya?"

Ravenzo hampir tersenyum. "Kelihatan dari wajah kamu."

Zevanna mendengus kecil.

"Kamu jangan memaksakan diri, apalagi sampai kurang tidur. Nanti sakit lagi." Kata Ravenzo dingin.

Zevanna mengangguk. "Iya, Pak. Cuma sekali doang."

"Sekali tapi berkali-kali." sindir Ravenzo pelan.

Zevanna tersenyum dan cengengesan.

Ravenzo berdehem pelan. "Kalau kamu ngantuk, kamu bisa ke ruangan peristirahatan karyawan."

"Iya, Pak. Makasih udah perhatian sama saya." Kata Zevanna tersenyum manis.

Ravenzo menatapnya datar. "Hm, lanjutkan kerjanya."

"Baik, Pak CEO."

Kemudian Ravenzo pergi meninggalkan Zevanna. Namun ia menoleh sekilas.

Dasar keras kepala.

Lalu ia kembali melangkah menuju ke ruangannya.

Di ujung koridor kantor, seseorang memperhatikan Zevanna yang sedang bekerja. Ia memotretnya diam-diam, lalu ia pergi dengan cepat.

***

Ceklek.

Zevanna membuka pintu setelah mandi dan duduk di atas kasur king size.

Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.

Zevanna kembali melihat HP tersebut di atas nakas.

Ia menekan tombol power—Layar menyala.

Wallpaper lama Zoyya muncul.

Zevanna membeku.

Kemudian muncul notifikasi lama yang belum pernah ia lihat.

Bukan pesan baru, tetapi sebuah notifikasi yang tersimpan dari masa lalu.

Zevanna membaca notifikasi tersebut. Wajahnya perlahan berubah.

"Kak Zoyya..."

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Tangannya menggenggam ponsel lebih erat.

"Siapa yang ngirim ini?”

Bersambung…

1
PengGeng EN SifHa
Baru sehari bambaaaaannnng
udah nanye kpn pulang bae sampean iku...hadeeeeehhhhh🤣🤣🤣🤣🤣
lannn_019: yah biasa Ravenzo udh mulai kangen itu🤭
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
masa depan lebih penting drpd ego egeeee
PengGeng EN SifHa: semangat untuk berkarya thooorrr✊️✊️✊️✊️
total 2 replies
lannn_019
/Smile/
PengGeng EN SifHa
zoyya kah
PengGeng EN SifHa
bener² misterius
lannn_019: makasih sudah membaca😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!