Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - Di Koridor
Sheyra berjalan menelusuri koridor kampusnya. Saatnya kembali ke kelas setelah menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Hari ini ia ke kantin sendirian karena Keisha sedang sibuk mengerjakan tugas mata kuliah selanjutnya di kelas. Sedangkan Anne memilih untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan.
Sheyra menenteng kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang ia bawakan untuk Keisha. Ia yakin Keisha pasti sedang menunggu kedatangannya.
Sheyra menghentikan langkahnya ketika sedang berpapasan dengan Alvaro dari arah berlawanan. Alvaro melewatinya begitu saja tanpa menoleh ke arahnya. Tidak ada sapaan, yang ada hanya seperti dua sosok yang tidak saling mengenal. Asing.
Sheyra menghela nafas. Ia mencoba untuk tidak peduli dan melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin memikirkan tentang suami orang karena itu salah. Memang sebaiknya harus begini. Interaksi kemarin dengan Alvaro hanyalah sebatas interaksi antara pengasuh dan orang tua anak yang ia jaga. Tidak lebih.
Sheyra memasuki ruang kelasnya. Matanya menyusuri ruangan untuk menemukan Keisha. Senyum tercetak di bibir Sheyra saat ia mendapati Keisha yang sedang terfokus dengan buku-buku di depannya.
“Kei, makan dulu gih.” kata Sheyra sembari meletakkan makanan yang ia bawa di depan Keisha.
Keisha tetap serius menulis dan tidak menghentikan aktivitasnya. Ia bahkan tidak sekalipun melihat kedatangan Sheyra. “Bentar Shey, gue selesaikan ini dulu ya. Tinggal dikit nih.” ujar Keisha sambil terburu-buru karena dikejar waktu. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya sebelum mata kuliah selanjutnya di mulai.
Menit demi menit berlalu. Keisha masih fokus dengan tugasnya sedangkan Sheyra melamun sambil melihat ke arah luar pintu kelas.
“Akhirnya selesai juga!” seru Keisha riang sembari menutup bukunya. Lalu ia meraih makanan yang dibawakan oleh Sheyra dan langsung memakannya.
“Makasih ya Shey buat makanannya.” ujar Keisha dengan mulut penuh.
Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban dari Sheyra. Keisha menoleh ke arah Sheyra dengan tatapan heran. Terlihat Sheyra masih fokus dalam lamunannya.
Menyadari hal tersebut, Keisha menepuk pundak Sheyra dengan pelan. “Lo gapapa Shey? Lagi ada masalah?” tanyanya khawatir.
Sheyra sedikit terkejut. Ia langsung menggeleng cepat untuk menghilangkan kekhawatiran sahabatnya. “Engga kok. Gue gak kenapa-napa.”
“Yang bener? Belakangan ini gue perhatiin lo kelihatan kayak lagi banyak pikiran gitu.” tanya Keisha curiga. Ia tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Sheyra. Tidak biasanya Sheyra melamun seperti ini. Walaupun belakangan ini Sheyra selalu terlihat ceria, namun keceriaan itu terlihat seperti palsu. Seperti ada yang sedang Sheyra sembunyikan. Tapi apa?
Sheyra menghela nafas pelan, “gue beneran gapapa Kei. Please jangan khawatirin soal gue ya?” kata Sheyra dengan penekanan. Ia tidak ingin orang di sekitarnya khawatir tentangnya. Ia yakin bahwa ia bisa menghadapi masalah ini sendirian tanpa melibatkan siapapun.
Keisha akhirnya menyerah, gadis itu akhirnya mengangguk pasrah. Dalam hati ia berharap semoga kekhawatirannya salah. Semoga Sheyra tidak sedang dalam masalah. Kalaupun sedang dalam masalah, semoga Sheyra bisa segera menyelesaikan masalahnya. Ia paham betul, tidak semua hal bisa dibagikan kepada orang lain. Oleh karena itu Keisha tidak ingin memaksa Sheyra untuk bercerita.
Sheyra mencoba tersenyum untuk meyakinkan Keisha bahwa ia sedang baik-baik saja. Sebenarnya Sheyra sedang membohongi Keisha dan dirinya sendiri. Ia tidak baik-baik saja seperti ucapannya. Ternyata mengetahui fakta bahwa Alvaro sudah memiliki istri masih mengusik pikirannya dan menyakiti hatinya. Bahkan ia pun terlambat menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Alvaro. Jatuh cinta kepada pria yang sudah beristri itu.
Alvaro memasuki ruang kelas. Mata Sheyra tidak sengaja menangkap sosok Alvaro. Untuk beberapa detik mata mereka bertemu. Namun Sheyra segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Hati Sheyra masih terasa sakit karena kecewa. Ia merasa teramat galau. Kemudian Sheyra menenggelamkan wajahnya di meja. Ia mencoba melawan hatinya sendiri. Ia berusaha menempatkan logika di posisi paling atas. “Gadis bodoh. Kalaupun Alvaro belum menikah, dia gak mungkin suka lo. Jangan jadi gadis rendahan dengan menyukai pria yang sudah beristri.” kata Sheyra dalam hati berharap kata-kata itu bisa menampar perasaannya dan menghapus rasa sukanya. Namun ia sadar bahwa hatinya terlalu lemah dan bodoh. Ia benci perasaan ini.
***
Alvaro hendak pergi ke toilet untuk buang air kecil. Ia berjalan dengan cepat menelusuri koridor kampus. Untungnya waktu istirahat masih panjang sehingga ia tidak perlu khawatir akan ketinggalan mata kuliah selanjutnya. Alvaro fokus dengan jalanan di depannya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Dalam pikirannya hanyalah, ia harus segera sampai di toilet karena ia lumayan kebelet.
Dalam langkahnya, Alvaro berpapasan dengan seorang gadis dan melewatinya begitu saja. Aroma parfum yang tidak asing di hidungnya. Jarak beberapa meter, Alvaro menghentikan langkahnya dan menoleh. Ia tampak mencoba mengingat nama gadis di depannya. Ia tersenyum ketika berhasil mengingatnya. Sheyra, nama gadis itu adalah Sheyra. Gadis itu sedang berjalan menjauh ambil membelakanginya.
Alvaro menepuk jidatnya, “Ah, lupa gak nyapa.” Ia menyesal karena melewatkan Sheyra begitu saja. Ia ingin menyapa namun sudah telat karena jarak gadis itu sudah jauh darinya. Alvaro berpikir sepertinya ia harus lebih ramah dengan Sheyra karena bagaimana pun Sheyra adalah seseorang yang menjaga Lyra di daycare. Alvaro ingin banyak berterima kasih kepada Sheyra karena berkatnya kini Lyra lebih ceria.
Alvaro juga menyesali sikapnya dulu kepada Sheyra. Ia pernah bertindak menyebalkan, kasar dan seenaknya sendiri. Alvaro berpikir ia harus meminta maaf karena hal itu. Saat itu Alvaro sedang pusing karena masalah Lyra yang tidak betah di daycare setelah masuk beberapa hari di sana. Alvaro ingin menjaga Lyra namun ia tidak bisa dikarenakan sibuk kuliah dan bekerja. Ia hampir tidak punya waktu untuk dirinya sendiri atau bahkan untuk ikut kerja kelompok. Sehingga saat Sheyra memaksanya untuk ikut kerja kelompok, entah mengapa ia malah melampiaskan kefrustrasiannya kepada gadis yang tidak tahu apa-apa itu.
Alvaro sama sekali tidak membenarkan kelakuannya dulu. Benar-benar buruk hingga ia terus menyesalinya. Oleh karena itu Alvaro bertekad untuk segera meminta maaf kepada Sheyra.
Bukan hanya kepada Lyra, tapi ia juga bersikap dingin kepada teman-teman yang lain. Sejak awal sebenarnya ia memang tidak ingin berteman dengan siapapun. Baginya punya teman akan membuat dirinya repot dan fokusnya akan terpecah. Ia hanya ingin fokus untuk belajar saja, tanpa ada kegiatan tidak bermanfaat lainnya. Baginya hari-harinya sudah sangat sibuk dengan pekerjaan rumah, bekerja, kuliah dan mengurus Lyra. Semua itu sudah sangat melelahkan baginya. Sehingga berinteraksi dengan orang lain akan cepat membuatnya lelah. Oleh karena itu ia berusaha menghindarinya. Tapi cara menghindari orang lain yang ia lakukan salah.
Sehingga Alvaro berpikir bahwa sepertinya ia juga harus meminta maaf kepada beberapa orang yang telah ia sakiti. Setelah meminta maaf, ia akan kembali menjalani harinya dengan tenang tanpa rasa bersalah lagi.
Setelah buang air kecil di toilet, Alvaro memutuskan untuk langsung kembali ke kelas. Di sana matanya menangkap sosok Sheyra yang sedang duduk di tempatnya. Alvaro hendak tersenyum namun belum sempat ia melakukannya, gadis itu sudah memalingkan wajahnya. Alvaro menjadi kikuk, ia bertanya dalam hati. Apa ia sudah melakukan kesalahan?
^^^Bersambung… ^^^