"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
koma
Menikahlah denganku
Di kantin rumah sakit yang terlihat sepi, lantaran Anugraha meminta beberapa staf untuk mengosongkan kantin itu untuk sementara, sampai ia dan putranya selesai berbicara berdua.
"Apa tujuan mu menikahi gadis itu, Arkanza?"
"Aku hanya ingin memenuhi permintaan ayah dan ibu, yang terus memaksaku menikah." Jawab Arkanza dengan serius saat mendapatkan pertanyaan sang ayah. Terlihat dari sorot mata tajam Anugraha, kalau pria paruh baya itu sedang mengintrogasi nya.
"Ayah mengenal mu, Arkanza. Kamu tidak akan mau menikah karena kamu masih terjebak dengan masalalu mu." Ucap Anugraha tentu tidak percaya dengan perkataan Arkanza.
Anugraha sangat yakin kalau pernikahan putra hanya sebagai penutup permintaan mereka. Atau lebih tepatnya ada sebuah permainan di baliknya dan Anugraha tidak tau apa yang putranya akan lakukan pada Azkia.
Anugerah hanya takut, Arkanza akan menyakiti gadis itu dengan cara menjeratnya dalam pernikahan. Walaupun Anugraha belum tau apa tujuan keduanya menikah.
"Apa tujuan mu menikahi nya, Arkanza. Jangan membawanya pada masalahmu, yang gadis itu tidak tau." Tekan Anugraha dengan tegas saat melihat putranya itu hanya diam tidak berniat untuk menjawab pertanyaan nya.
"Aku sengaja membawanya masuk. Karena dia yang memintanya terlebih dahulu. Dia sering ikut campur dalam urusan ku, makanya aku menjebaknya." Jawab Arkanza tersenyum miring menatap sang ayah dengan berani, seakan tidak takut dengan tatapan tajam pria di depannya."Aku hanya membawa nya masuk kedalam kehidupan ku dan melihat seberapa kuat gadis itu melawan ku seperti sebelumnya." Lanjut Arkanza lagi dengan tertawa Kecil.
Anugraha yang melihat itu tentu tidak terima, karena gadis baik seperti Azkia harus terjebak dengan putranya yang memiliki seribu topeng kebohongan dan Anugraha takut, dari salah satu topeng itu akan menyakiti Azkia. Banyak orang menganggap Arkanza adalah pria hebat dengan seribu kepintaran jika menyelesaikan masalah para klien nya. Tapi mereka tidak tau dari balik kehebatan pria itu, tersimpan ribuan misteri untuk memenangkan kasusnya.
Dalam hukum Arkanza bisa menjadi kawan atau lawan, tergantung berapa banyak dana yang diberikan.
"Lepaskan dia Arkanza, jika kamu hanya ingin mempermainkan nya!" Tegas Anugraha yang mendapatkan tawa maniak dari Arkanza.
"Aku tidak akan melupakannya, karena kami sudah terikat kesepakatan. Apapun yang aku lakukan untuk nya itu adalah wajar. He's part of my good toy. I can't wait to play with him." Jawab Arkanza tersenyum miring."Ayah jangan ikut campur dengan urusan ku, karena aku bisa saja melakukan sesuatu yang mengejutkan untuk ayah. Doesn't dad like surprises?"
Azkia menatap Zayn lewat kaca yang menghubungkan ruangan di mana papa nya sedang di rawat.
Dari penjelasan dokter tidak ada tanda-tanda perubahan untuk beberapa jam terakhir setelah Zayn di operasi. Jika sampai dua puluh empat jam Zayn belum ada tanda-tanda untuk sadar, dokter akan menyatakan kalau Zayn koma.
Pandangan Azkia memang tertuju pada tubuh sang papa. Tapi ingatannya berputar saat ia sedang berbicara dengan ibu mertuanya, Zafina.
"Azkia, ibu tidak tau pernikahan kalian terjadi tanpa cinta. Tapi ibu mau, kamu mempertahankan pernikahan ini. Ibu sangat yakin kamu bisa mempertahankan nya, karena kamu gadis yang baik untuk Arkanza dan juga kedua anaknya. Ibu tau kamu bisa membuat Arkanza mencintaimu. Jika suatu saat ada masalah, ibu minta tolong untuk selalu ada untuk putra ibu."
Perkataan ibu mertuanya seakan berputar dalam pikirannya, hingga membuat Azkia tidak mengerti akan perkataan Zafina.
Mereka juga tidak banyak berbicara, karena Azkia masih canggung jika berdekatan dengan wanita paruh baya yang dulu sering di panggil nyonya, tapi sekarang malah ia malah memanggil nya dengan panggilan ibu.
Entah takdir apa yang Tuhan buat untuk nya, hingga ia terjebak dalam keluarga itu. Keluarga yang disegani oleh orang-orang yang mengenalnya.
Di tengah lamunannya. Azkia disadarkan oleh ponselnya yang bergetar di tangan nya. Gadis itu membuka ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Naila
"Azkia kamu di mana sekarang? Aku dan Ailsie ingin menemui mu."
Azkia menatap pesan dari sahabatnya, tanpa berniat untuk menjawab nya. Seakan jari nya sangat berat saat akan mengetik jawaban untuk kedua sahabatnya itu. Rasanya ia ingin bercerita dan memberitahukan apa yang terjadi pada dirinya sekarang, tapi Azkia tidak ingin melibatkan masalah nya pada kedua sahabatnya.
Naila
"Azkia, kenapa ngga di balas? Padahal kamu lagi online?
"Azkia, kalau ada masalah coba cerita sama kami, jangan pendam sendirian. Kami tau kamu lagi ada masalah kan?"
Ailsie."Azkia. Jawab cepat, sebelum kami mendatangi rumah mu."
Azkia menghembuskan nafasnya, sebelum jarinya mengetik jawaban untuk kedua sahabatnya itu. Jika dia tidak menjawab maka keduanya akan mendatangi rumahnya dan rahasia satu bulan terakhir akan mereka ketahui.
"Maaf Naila, Ailsie. Aku sedang ada urusan penting dan tidak sempat untuk membalas pesan kalian."
Ailsie.
"Urusan apa? Kenapa kami tidak tau? Apa jangan-jangan kamu sedang berbohong."
Naila
"Benar La. Sepertinya Azkia sedang berbohong."
"Sungguh aku tidak berbohong. Aku sedang berada di rumah ayahku, karena ayahku akan menikah."
Azkia sengaja berbohong karena tidak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir jika ia menceritakan masalah sebenarnya.
Naila
"Benarkah, Azkia?"
Ailsie
"Kenapa kami baru tau? Kenapa kamu tidak memberitahukan kami dari awal?"
"Maaf Naila, Ailsie. Aku terlalu senang saat bertemu dengan ayahku sampai lupa mengabari kalian."
Ailsie
"Oh pantesan."
Naila
"Baiklah selamat menikmati waktu mu, Azkia. Kami senang mendengar kamu sudah baikan dengan ayahmu."
Ailsie
"Iya, Azkia. Semoga kamu terus bahagia bersama dengan ayahmu."
"Terimakasih, Naila, Ailsie. Maaf sebelumnya aku tidak memberikan kalian kabar kemana aku pergi."
Naila
"Nggak apa-apa Azkia. Yang penting kamu bahagia."
Ailsie
"Iya, Azkia. Yang penting kamu bahagia."
"Ailsie, Naila. Aku di panggil sama ayah. Kita udahan dulu ya."
Ailsie, Naila
"Iya Az."
Azkia mematikan ponselnya setelah memberikan emot tersenyum. Azkia sengaja berbohong, agar kedua sahabatnya tidak curiga padanya. Tapi berjalannya waktu kebohongannya ini akan terungkap juga.
"Ya Tuhan kenapa berat sekali rasanya." Lirih Azkia terduduk di depan ruangan rawat sang papa. Rasanya dadanya sangat sesak. Ingin rasanya dia berteriak, tapi terasa tertahan."Kamu harus kuat Azkia, demi papa mu." Gumamnya menyemangati dirinya sendiri walaupun begitu air matanya masih saja berjatuhan.
"Ditengah-tengah Azkia berusaha untuk tegar. Dokter keluar dari ruangan rawat Zayn dan melangkah mendekati gadis itu.
"Dengan keluarga Zayn."
"Iya saya sendiri. Ada apa yang dokter?" Tanya Azkia cemas menatap dokter itu.
"Begini nona, kondisi Pak Zayn sudah stabil hanya saja dia belum sadar. Kami menyatakan kalau Pak Zayn koma. Kami akan terus mengawasinya untuk mengecek kondisinya lebih lanjut." Jelas dokter berhasil membuat tubuh Azkia lemas seketika.
"Koma. Ya Tuhan papa." Lirih Azkia menangis kembali setelah pergi nya dokter. Dengan linglung melangkah mendekati kaca dan menatap sang papa di sana."Papa, papa capek ya sampai Memilih tidur. Jangan lama-lama ya, Azkia disini selalu menunggu papa untuk cepat bangun.”
Bersambung….