NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Berkas yang Tersembunyi

Malam harinya, pukul sembilan malam. Restoran Restu Ibu sudah gelap. Suasana di gang sempit belakang restoran sangat sunyi.

Mobil Rayven agak jauh. Rhea, Rayven dan Zora berjalan memutari dinding luar restoran menuju pintu besi belakang dapur.

"Aduh, Rhe... pelan-pelan dong jalan lu. Gue merinding parah ini," bisik Zora ketakutan, tangannya meremas kencang ujung kemeja Rhea.

"Berisik Zora. Tahan suara lu," tegur Rhea berbisik.

"Ya gimana gak berisik tempatnya aja horor begini. Nanti kalau kita dikira maling sungguhan  gimana?" omel Zora pelan sambil celingukan ke kanan kiri.

"Gak ada orang, Zora. Lampu dapur udah padam," bisik Rayven sambil memeriksa gagang pintu besi yang sedikit renggang.

Namun, tepat saat Rayven hendak mendorong pintu tersebut.

SRAAAKK! 

Langkah kaki berat terdengar memotong kegelapan dari arah belakang mereka. Suhu udara di gang sempit itu mendadak anjlok disertai aroma darah amis dan rempah gosong yang menyengat.

Di ujung gang yang remang, berdiri Rudi si juru masak bertato memegang pisau pemotong daging berukuran besar yang mengkilat tertimpa cahaya bulan. Dan tepat di belakang tubuh Rudi, melayang sosok arwah Pak Bambang.

"Kalian..." suara Rudi bergaung rendah dan parai di gang gelap itu, "mau coba-coba ikut campur urusan tempat ini?"

Rhea dan Rayven berbalik cepat.

Rudi melangkah satu tapak maju, memutar pisau dagingnya di udara.

"Mas Rayven kamu bisa silat kan?" Zora meneguk ludahnya kasar.

Rayven tidak menjawab. Dia menggeser tubuhnya sedikit ke depan, melindungi Rhea dan Zora di belakang punggungnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah pisau daging berukuran besar di genggaman Rudi.

"Kalian salah jalan kalau mau cari masalah di sini," ketua Rudi dengan suara rendah yang parau.

Di belakang tubuh Rudi, sosok arwah Pak Bambang melayang makin rendah. Matanya menatap Rhea, lalu tangannya melambai mendesak ke arah pintu besi dapur yang sedikit renggang itu.

"Apa? Dia meminta kami masuk? Apa mungkin bukti itu ada di dalam?" batin Rhea.

"Rayven,kita harus masuk ke dalam. Sekarang," bisik Rhea cepat.

"Zora, dorong pintunya," perintah Rayven dingin.

"Hah! Gue?" jerit Zora tertahan

Belum sempat Zora mencerna perintah itu, Rudi mendadak menrjanh maju sambil mengangkat pisau dagingnya tinggi-tinggi.

Rayven dengan refleks cepat menarik tongkat besi pemutar ban dari dalam lipatan jasnya yang sempat dia amankan dari bagasi mobilnya tadi dan menangkis tebasan pisau Rudi.

TRANGGG! 

Bunga api memercik di udara malam gang sempit itu. Benturan logam yang nyaring bergema kencang. Hantaman kuat Rudi membuat lengan Rayven agak terdorong, namun Rayven menggunakan celah itu untuk menendang kencang lutut Rudi dengan sepatu pantofelnya.

Rudi tersungkur satu lutut ke aspal basah.

"Masuk sekarang," teriak Rayven pantang.

Tanpa membuang waktu, Rhea menyambar lengan Zora yang masih melongo, lalu mendorong kuat pintu besi belakang dapur. Mereka bertiga melesat masuk ke dalam area dapur yang gelap gulita dan langsung membanting pintu besi itu rapat-rapat.

Rayven dengan gesit menggeser grendel besi pintu dari dalam, menguncinya tepat saat Rudi menghantam pintu itu dari luar.

"Buka pintunya," raung Rudi gila-gilaan dari balik pintu besi.

"Sialan! Itu orang kesurupan apa gimana sih. Jantung gue mau copot, Rhe," teriak Zora sambil memegangi dadanya.

"Tahan napas lu, Ra. Kita gak punya banyak waktu sebelum dia nyari jalan masuk lain," potong Rhea tajam.

Rhea menyalakan senter kecil dari ponselnya, mengarahkan pendar cahayanya menyusuri kegelapan dapur restoran Restu Ibu yang hening.

"Lantai dua ada di mana?" tanya Rayven dengan napas yang masih terengah-engah.

"Lewat lorong samping kasir," sahut Rhea.

Mereka bertiga melangkah beriringan, mengendap-endap menembus area makan utama yang dipenuhi bayang-bayang meja dan kursi kayu yang tertata rapi.

"Rhe... lu rasain gak sih? Hawa disini kok dingin?" bisik Zora rapat-rapat.

Rhea tidak menjawab, tapi dadanya berdenyut kencang. Setiap langkah yang dia ambil mendekati tangga menuju lantai dua membuat penglihatannya makin buram oleh bayangan ghaib.

Arwah Pak Bambang berdiri kaku di anak tangga teratas, menunjuk ke arah pintu kantor utama yang terkunci rapat.

Mereka menaiki tangga satu per satu hingga tiba di depan pintu kayu jati.

Rayven mendekati pintu tersebut dan mencoba memutar gagangnya. "Terkunci rapat."

"Mundur sebentar, Ven," ujar Rhea.

Rhea melangkah mendekat, lalu perlahan menempelkan telapak tangannya ke permukaan pintu kayu yang dingin membeku itu.

"Aku tahu dimana lokasinya," bisik Rhea, ia menatap Rayven. "Di balik lukisan dinding belakang meja kerja, ada brankas besi hijau. Dokumen asli Pak Bambang ada di dalam sana."

Rayven menatap pintu jati itu tajam. Tanpa ragu dia mengambil jarak dua langkah mundur, lalu menghantamkan sudut tongkat besi di tangannya tepat ke celah kuncian pintu.

Gagang kuncian itu jebol dan terlepas di lantai. Rayven mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

"Ayo, cepat cari lukisannya," kata Rayven tegas.

Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan. Rayven langsung mendatangi dinding belakang meja kerja dan menyingkap sebuah lukisan pemandangan besar.

"Ada brankasnya. Tapi pintunya terkunci begini. Gimana cara bukanya?" seru Zora setengah berbisik.

Rhea mengabaikan brankas itu. Matanya bergerak cepat menyapu meja kerja kayu milik Pak Bambang, hingga pandangannya terpaku pada sebuah patung kayu ukuran burung rajawali di sudut meja.

Rhea mendekati patung itu, memutarnya perlahan. KLIK!. Bagian alas patung itu terlepas, dan sebuah kunci kecil berbahan kuningan tua jatuh ke telapak tangan Rhea.

"Kuncinya ada di sini," ujar Rhea lega.

Namun, tepat saat Rhea berbalik menuju brankas. Pintu kantor dihantam terbuka secara kasar. Rudi berdiri di ambang pintu dengan deru napas memburu dan pisau daging berdarah di tangannya. Amarahnya memuncak saat melihat brankas rahasia itu terbuka sedikit.

"Kalian gak bakal bisa keluar dari sini," raung Rudi.

"Rhea, amankan berkasnya. Cepat!" teriak Rayven pantang.

Rayven langsung pasang badan, menerjang tubuh kekar Rudi di tengah ruangan. Pertarungan sengit tak terhindarkan. Rudi mengagumkan pisaunya secara liar, merobek bagian jas Rayven. Namun Rayven yang ternyata menguasai bela diri bergerak cepat menghindar, memelintir pergelangan tangan Rudi hingga pisau daging itu terlepas dan jatuh melenting ke bawah meja. 

"Zora, tahan pintunya," jerit Rhea. 

Rhea dengan tangan gemetaran memasukkan kunci ke lubang brankas. KLIKK! pintu brankas terbuka. Di dalamnya tersimpan bundelan berkas tebal bersampul cokelat dan sertifikat tanah asli Restoran Restu Ibu. Rhea menyambar seluruh dokumen itu dan memasukkannya ke dalam tas. 

Sementara itu, pertarungan Rayven dan Rudi makin memanas. Rudi yang murka memiting leher Rayven dari belakang. Rayven meringis, matanya melirik vas bunga keramik tebal diatas meja. Dengan sisa tenaganya, Rayven meraih vas itu lalu menghempaskan kencang ke belakang, tepat menghantam kepala Rudi. 

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!