INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***bab 15 Gertakan kompetitor
🌸🌸🌸🌸
Ruang rapat megah di lantai paling atas gedung PT Cakrawala Capital terasa begitu tenang namun dipenuhi aura kepemimpinan yang dominan. Di balik meja kayu mahoni besar, Nadia duduk memantau pergerakan pasar saham melalui monitor di hadapannya.
Di sampingnya, Bimo meletakkan sebuah map perak berlogo Vanguard Group.
"Nadia, Aris Wijaya baru saja melayangkan surat penawaran akuisisi parsial," ujar Bimo dengan raut wajah tegang. "Dia memanfaatkan isu persidangan Reno yang mulai tercium media untuk menekan nilai saham Apex Media di pasar sekunder. Dia menawar harga tiga puluh persen di bawah harga pasar."
Nadia menyandarkan punggungnya, menatap lembaran penawaran itu tanpa keterkejutan sedikit pun.
"Aris mengira Apex Media sedang dalam posisi lemah karena kepemimpinan Reno tumbang," sahut Nadia dingin. "Dia tidak tahu bahwa yang memotong Reno adalah pemilik sah perusahaan ini sendiri."
"Bukan cuma itu," lanjut Bimo. "Aris sengaja menggelar konferensi pers sore ini di Hotel Mulia. Katanya, dia ingin 'memberi tanggapan atas ketidakstabilan industri media akibat skandal internal Apex Media'."
Nadia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. "Konferensi pers? Aris sedang berusaha menciptakan kepanikan publik agar para investor kecil kita melepaskan saham mereka. Permainan klasik yang terlalu transparan."
Nadia berdiri, merapikan blazer berwarna merah marun yang membalut tubuhnya dengan sangat anggun.
"Siapkan mobil, Bimo. Kita akan menghadiri konferensi pers Aris Wijaya."
Ballroom Hotel Mulia dipadati oleh puluhan wartawan dari media bisnis, keuangan, dan hiburan. Kilatan lampu kilat kamera memenuhi ruangan saat Aris Wijaya—pria berusia tiga puluhan akhir dengan setelan jas abu-abu mahal—duduk di panggung utama.
Aris tersenyum jumawa di depan mikrofon, menikmati perhatian penuh dari media.
"Kami dari Vanguard Group sangat prihatin atas skandal penggelapan dana yang menimpa mantan CEO Apex Media, Saudara Reno Pratama," ujar Aris dengan nada sok empati yang dibuat-buat. "Ketidakjelasan struktur kepemimpinan di Apex Media saat ini tentu membahayakan dana para mitra. Oleh karena itu, Vanguard Group siap mengambil alih dan menyelamatkan Apex Media agar tidak hancur."
Seorang wartawan mengacungkan tangan. "Pak Aris, bagaimana dengan kabar bahwa pemegang saham mayoritas Apex Media sebenarnya adalah PT Cakrawala Capital yang dipimpin oleh mantan istri Reno sendiri?"
Aris tertawa kecil, suara tawanya bergema di seluruh ballroom.
"Mantan istri yang tidak pernah muncul di publik?" ejek Aris dengan pandangan meremehkan. "Mari kita realistis. Seorang wanita yang selama bertahun-tahun hanya bersembunyi di balik nama besar suaminya tentu tidak memiliki kapasitas untuk memimpin perusahaan media sebesar Apex di tengah krisis hukum seperti ini. Dia hanya figur formalitas."
Gumam riuh penonton dan wartawan memenuhi ruangan.
Namun, sebelum Aris sempat melanjutkan kalimatnya, pintu ganda ballroom terbuka lebar.
Langkah kaki berhak tinggi yang konstan dan tegas bergema membelah ruang. Seluruh wartawan refleks menoleh ke arah pintu masuk.
Nadia melangkah masuk dengan kepala ditegakkan tinggi. Kehadirannya begitu memukau, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi yang membuat beberapa wartawan langsung berdiri dan mengarahkan kamera ke arahnya. Kilatan lampu kamera mendadak mengarah sepenuhnya kepada Nadia.
Pak Hendra dan Bimo mengiringi di belakangnya bagai pengawal setia.
Aris Wijaya yang berada di atas panggung mendadak terhenti dari bicaranya. Wajah jumawanya sedikit kaku saat melihat sosok wanita yang berjalan mendekati panggung utama dengan ketenangan luar biasa.
Nadia berhenti tepat di depan panggung, menatap Aris lurus dari bawah.
"Terima kasih atas keprihatinan Anda yang sangat berlebihan, Tuan Aris Wijaya," suara Nadia mengalun bening, jernih, dan begitu berwibawa melalui mikrofon cadangan yang diserahkan Bimo.
Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Wartawan menahan napas, menyadari bahwa momen penguasa bisnis yang sesungguhnya telah tiba.
"Siapa..." Aris berdeham, berusaha mempertahankan keangkuhannya di depan kamera. "Siapa Anda?"
"Saya Nadia Kirana," jawab Nadia tegas. "Pemilik tunggal PT Cakrawala Capital sekaligus Pemegang Saham Mayoritas Mutlak PT Apex Media Nusantara."
Kamera-kamera kembali membidik wajah Nadia tanpa henti.
Nadia melangkah satu tapak naik ke tepi panggung, menatap Aris dengan pandangan menilai yang begitu dingin.
"Saya mendengar Anda menyebut saya sebagai 'figur formalitas' yang tidak memiliki kapasitas," lanjut Nadia seraya menyunggingkan senyum mematikan. "Dan Anda menawarkan untuk 'menyelamatkan' perusahaan saya dengan harga tiga puluh persen di bawah harga pasar?"
Aris tertawa canggung, mencoba menguasai panggung. "Nyonya Nadia, ini bisnis realitas. Perusahaan Anda sedang terseret skandal pidana mantan CEO Anda. Nilai saham Anda turun, dan para investor panik. Vanguard Group hanya menawarkan jalan keluar rasional sebelum perusahaan Anda bangkrut."
"Bangkrut?" Nadia tertawa pelan—sebuah tawa elegan yang seketika meruntuhkan wibawa Aris.
Nadia menoleh ke arah para wartawan dan kamera media.
"Hari ini, saya umumkan secara resmi kepada seluruh publik dan investor:" kata Nadia dengan intonasi yang tajam dan menggelegar. "Skandal penggelapan kas yang dilakukan Reno Pratama adalah tindakan personal yang sudah diselesaikan secara tegas melalui hukum. Kas operasional Apex Media telah disuntikkan modal segar sebesar lima puluh miliar rupiah langsung dari dana cadangan PT Cakrawala Capital pagi ini."
Para wartawan terkaget-kaget, jemari mereka menari cepat di atas keyboard laptop.
"Selain itu," lanjut Nadia seraya kembali menatap Aris yang mendadak pucat, "mengenai Vanguard Group... Saya menyarankan Tuan Aris untuk lebih mengkhawatirkan kesehatan finansial perusahaan Anda sendiri."
Dahi Aris berkerut tajam, kepanikannya mulai menyala. "Apa maksud Anda?!"
Nadia memberi isyarat kepada Pak Hendra. Pengacara senior itu melangkah maju dan membentangkan sebuah dokumen konsolidasi utang di hadapan media.
"Tiga puluh menit lalu," ujar Nadia tenang, "PT Cakrawala Capital telah memborong empat puluh persen surat utang jangka pendek Vanguard Group yang jatuh tempo bulan depan dari pasar obligasi."
DEGG.
Wajah Aris Wijaya berubah drastis dari abu-abu menjadi pucat pasi bagai mayat. Matanya membelalak menatap dokumen yang dipegang Pak Hendra.
"Artinya, Tuan Aris..." bisik Nadia pelan, suaranya terdengar sangat jelas di seluruh ballroom, "Cakrawala Capital kini adalah pemegang piutang terbesar perusahaan Anda. Jika dalam waktu tiga puluh hari Vanguard Group tidak sanggup melunasi utang tersebut... saya yang akan mengorganisir akuisisi paksa atas perusahaan Anda."
Aris cengang, tubuhnya bergetar di atas kursi panggung. Ia bermaksud melontarkan gertakan untuk mencaplok perusahaan Nadia, namun dalam hitungan menit, Nadia justru telah memasang jerat hukum yang siap mencekik seluruh bisnisnya.
Nadia merapikan posisi peniti di kerah bajunya, menatap Aris yang kini tak sanggup lagi berkata-kata di depan kamera para wartawan.
"Jangan pernah mengukur kekuatan Cakrawala Capital dengan standar mantan CEO saya yang amatir, Tuan Aris," ujar Nadia penuh penekanan.
Nadia membalikkan badannya dengan anggun, berjalan meninggalkan panggung konferensi pers diiringi riuh kilatan kamera dan kehebohan para wartawan yang berebut mengambil gambar sang Ratu Bisnis baru.
Aris Wijaya terduduk lemas di panggung, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan raksasa yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
🌸🌸🌸🌸