NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekuatan Suci

“Apa maksudmu?”

Ledian bertanya terus-menerus, seolah ingin mengorek alasan sebenarnya. Violet menjawab dengan tenang, “Karena aku percaya pada Kak Ledian.”

“Kau percaya padaku?”

Ada sedikit nada mengejek di balik senyumnya, tetapi Violet tidak menyadarinya. Ia hanya menatap Ledian dengan polos.

“Karena Ledian adalah kakakku yang berharga. Aku hanya punya Kak Ledian.”

Senyum di wajah Ledian seketika menghilang. Ekspresinya berubah dingin dan sulit dibaca. Untuk pertama kalinya, Violet melihat sisi Ledian yang selama ini hanya ia lihat dari kakak dan ayahnya—sikap dingin yang menjadi ciri khas keluarga Rivera.

Setelah beberapa saat, Ledian kembali tersenyum lebar.

“Ya. Aku juga hanya punya kamu.”

Violet tersenyum tanpa menyadari makna menyedihkan di balik perkataan Ledian.

“Ya, begitu rupanya.”

Ia mengulanginya seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Ledian membungkuk, lalu merentangkan tangan dan memeluk Violet.

Violet terkejut dan tubuhnya sempat menegang ketika Ledian tiba-tiba memeluknya. Namun, entah mengapa, ia merasa suasana hati Ledian sudah sedikit membaik.

Kalau dipikir-pikir, Ledian memang selalu tampak sedikit terasing di kediaman ini. Mungkin karena ia satu-satunya anggota keluarga Rivera yang memiliki rambut pirang, sementara sebagian besar anggota keluarganya memiliki rambut biru gelap.

Violet merasa hati Ledian pasti terluka karena hal itu. Ia pun merentangkan tangan dan memeluk pinggangnya.

Seperti yang pernah dilakukan ibunya ketika ia masih kecil.

Ledian kemudian memeluknya lebih erat.

“Kakak, aku sesak nafas.”

"Biarkan aku memelukmu sebentar lagi.”

Mendengar ucapan lembutnya, Violet tetap diam dalam pelukannya.

Ia hanya berharap hati Ledian bisa sedikit lebih tenang.

......................

Sejak marah karena masalah Ledian, Marquis tidak terlihat di kediaman selama beberapa hari. Selama itu, kehidupan Violet tidak banyak berubah. Ia tetap mengikuti pelajaran, membaca buku, dan menambah pengetahuannya.

Violet masih belum begitu memahami tulisan, tetapi akhir-akhir ini Ledian sering menunda belajarnya sendiri untuk datang dan membantunya. Berkat itu, belajar pun tidak lagi terasa membosankan.

Marquis baru kembali sekitar sepuluh hari kemudian.

Saat datang, ia memberikan sebuah kotak yang dihiasi pita kepada Violet. Ketika dibuka, di dalamnya terdapat sebuah boneka yang begitu cantik, hampir menyerupai manusia sungguhan.

Violet menerima hadiah itu dengan bingung.

Ia berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis.

Ia ingin mengucapkan terima kasih, tetapi begitu melihat wajah Marquis yang kaku, keberaniannya menghilang. Violet hanya berdiri dengan canggung sambil memainkan rambut boneka itu dengan jarinya.

“Apakah Anda menyukainya?”

“Ya, saya sangat menyukainya.”

Meski menjawab demikian, Violet masih sesekali melirik Marquis.

Entah mengapa, ia merasa sedikit cemas. Marquis tiba-tiba memberinya boneka, sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan kesan dirinya selama ini.

“Saya membelinya karena berpikir Saintess akan menyukainya.”

Violet memandangi boneka itu, lalu mengalihkan pandangan kepada Marquis.

Selama ini, Violet menganggap Marquis sebagai orang yang buruk dan membuatnya tidak nyaman. Namun, barusan pria itu mengatakan bahwa ia membeli boneka tersebut karena berpikir Violet akan menyukainya.

Itu jelas merupakan sesuatu yang dilakukannya demi Violet.

Mungkin… dia juga orang baik?

“Terima kasih.”

Violet mengucapkannya dengan hati-hati sambil memeluk boneka itu.

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Marquis yang biasanya kaku tampak sedikit terangkat.

Melihat senyum tipis itu, rasa waspada dan permusuhan yang selama ini Violet arahkan kepadanya perlahan mereda.

“Apakah Anda masih merasa tidak enak badan?”

Violet sempat bertanya-tanya mengapa Marquis tiba-tiba menanyakan keadaan tubuhnya. Namun, ia kemudian teringat bahwa sepuluh hari lalu, saat pesta ulang tahunnya, ia berpura-pura sakit.

Violet pun menundukkan kepala.

“Ah, sudah tidak sakit.”

Melihat sikap Violet, Marquis berdeham kecil sebelum berkata, “Anak itu, Carlise, sudah saya beri pelajaran.”

“Apa?”

Violet menatap Marquis dengan terkejut.

“Berani-beraninya dia mengendong Saintess seperti itu. Itu pelanggaran yang sangat besar.”

“Ah… begitu.”

Violet mengangguk pelan. Namun, sulit baginya membayangkan Carlise benar-benar dimarahi oleh Marquis.

“Mulai sekarang, hal seperti itu tidak akan terjadi lagi.”

“Baik.”

Violet menjawab dengan patuh.

Saat itu, ia melihat tangan Marquis terulur ke arahnya.

Violet sontak terkejut. Sambil memeluk erat boneka di dadanya, ia memejamkan mata dan meringkuk.

Tangan Marquis pun terhenti di udara. Sesaat, ia tampak ragu.

“Saintess, untuk sementara waktu, tinggallah di wilayah keluarga.”

Violet membuka mata dan menatap Marquis. Namun, wajah pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun.

Violet mulai bertanya-tanya apakah dirinya telah melakukan kesalahan.

“Bukankah Anda akan merasa bosan jika terus berada di kediaman ini?”

Mendengar ucapan Marquis, hati Violet seketika terasa berat. Entah mengapa, perkataan itu membuatnya merasa tidak nyaman.

-

“Jangan lupa berkirim surat, ya?”

Ledian bertanya dengan lembut, dan Violet mengangguk.

Atas perintah Marquis, segala persiapannya untuk pergi ke wilayah kekuasaan keluarga telah selesai. Kini, ia berdiri di depan kereta, menerima salam perpisahan dari Ledian.

Violet sudah mulai terbiasa tinggal di tempat ini. Namun, kini ia harus pergi lagi ke tempat yang sama sekali berbeda. Entah mengapa, jantungnya berdebar gelisah.

Melihat wajah Violet, Ledian berkata dengan lembut, “Tidak apa-apa. Orang-orang di sana semuanya baik.”

Itu hanya berlaku untukmu, Ledian.

Violet ingin mengatakan hal itu, tetapi ia mengurungkan niatnya.

Cedric yang berdiri di sampingnya tiba-tiba berkata, “Hei, aku tidak perlu suratmu. Lagipula, tata bahasamu pasti berantakan, jadi aku juga tidak akan bisa membacanya.”

“Memangnya aku pernah bilang akan mengirim surat untukmu?”

Balasan Violet membuat Cedric mengernyit dan mendengus. Ledian tertawa melihat tingkahnya. Namun, Cedric tetap tidak menyerah.

“Hmph! Kalau kau benar-benar mengirimkannya, setidaknya aku akan mengajarimu tata bahasa satu per satu dengan sabar.”

“Cedric, tata bahasamu sendiri juga tidak terlalu bagus. Memangnya kau yakin bisa memahami surat yang ditulis Violet?”

Wajah Cedric langsung memerah mendengar ucapan Ledian.

Meirra pun ikut mendukung Ledian.

“Benar sekali. Tuan Muda sendiri masih perlu banyak belajar.”

“Ah, sungguh!”

Begitu Cedric mulai kesal, mereka pun tertawa cekikikan. Violet kemudian memandang Carlisle yang berdiri di dekat pintu kereta. Ia sempat mengira Carlisle tidak akan datang, tetapi ternyata pria itu tetap keluar untuk mengantarnya.

Carlisle tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperhatikan Violet dalam diam. Entah mengapa, sikap itu terasa seperti menyuruhnya segera pergi.

Kalau begitu, untuk apa repot-repot datang?

Violet menggerutu dalam hati.

Sebelum naik ke kereta, Violet menoleh dan memandangi kediaman keluarga Marquis.

Apa aku masih bisa kembali?

Wajahnya tampak cemas.

Anak tangga menuju kereta cukup tinggi, sehingga Carlise menghampiri dan menggandeng tangan Violet untuk membantunya naik.

Sebelum pintu kereta ditutup, Carlisle kembali menatapnya.

“Waktu yang kau habiskan sendirian tidak akan lama.”

Violet memiringkan kepala, bingung mendengar perkataan itu.

Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti ini?

Sebelum sempat bertanya, pintu kereta sudah tertutup.

Mendengar langkah Carlise menjauh, Violet kembali memikirkan ucapannya.

"Waktu yang kau habiskan sendirian tidak akan lama…"

Apa maksudnya?

Bahkan setelah Meirra naik ke kereta, Violet masih memikirkan perkataan Carlise. Ia belum juga mengerti maksudnya.

Perjalanan menuju wilayah keluarga Rivera ternyata tidak sulit. Violet hanya perlu duduk dan membiarkan kereta membawanya pergi.

Meirra memandangnya dengan cemas.

Jika melihat suasana hati Violet, sebenarnya pikirannya dipenuhi lebih banyak kecemasan daripada hal-hal yang menyenangkan.

Marquis mengirim Violet ke wilayah kekuasaannya sendiri.

Mengapa Marquis tiba-tiba memintaku pergi ke sana...?

Apa Marquis tidak mau menjagaku lagi? Atau dia tidak membutuhkanku lagi?

“Apa Anda merasa sedih, Nona?”

Mendengar pertanyaan Meirra, Violet tidak bisa mengangguk ataupun menyangkal.

Marquis mengatakan bahwa ia mengirim Violet ke wilayah keluarga karena khawatir Violet akan merasa bosan jika terus berada di kediaman.

“Tuan mengirim Nona ke sana karena beliau mengkhawatirkan Nona. Ini bahkan sudah yang kedua kalinya.”

Meirra menghela napas.

“Apa maksudmu dengan yang kedua kalinya?”

“Nanti, setelah Anda dewasa, Anda akan memahami semuanya. Kalau saya mengatakannya sekarang, saya pasti akan dimarahi.”

Mendengar ucapan Meirra, Violet langsung terdiam.

Setiap kali Violet ingin tahu sesuatu, mereka selalu menutup-nutupi hal yang sebenarnya ingin ia ketahui. Padahal, sesulit apa pun kenyataannya, ia tetap ingin tahu tentang dirinya sendiri. Namun, keinginannya untuk mengetahui semua itu seolah selalu dikesampingkan.

“Ini hanya sementara. Anda akan tinggal di sini sekitar dua bulan.”

“Benarkah?”

Mendengar pertanyaan Violet, Meirra tersenyum lembut dan mengangguk.

Ia kemudian membuka jendela kereta.

Pemandangan asing mulai terlihat di luar. Tanpa terasa, salju telah turun. Mereka sedang menuju wilayah utara.

Setelah melewati beberapa jalan yang cukup kasar dan beristirahat beberapa kali, akhirnya mereka tiba di wilayah keluarga Rivera.

Violet merasakan kereta melambat dan berguncang pelan. Tak lama kemudian, terdengar suara berat dari gerbang yang terbuka.

Mereka telah memasuki kota benteng milik Marquis.

Suara orang-orang yang berbisik mulai terdengar dari luar.

Rombongan keluarga Marquis tentu menarik perhatian. Kereta dengan lambang keluarga terpampang jelas itu dikelilingi para prajurit yang mengawal perjalanan mereka.

Tak heran jika orang-orang terkejut melihat rombongan sebesar itu. Jumlahnya bahkan hampir menyamai iring-iringan saat sang Marquis kembali ke wilayahnya.

Violet membuka jendela sedikit dan memandangi orang-orang di luar.

Belum lama ini, ia juga pernah berdiri di antara mereka.

Tentu saja, jika bertemu anak-anak yang jahil, asal-usulnya sebagai gadis dari Flower Street akan segera terbongkar dan ia akan menjadi bahan ejekan.

Para wanita di sana juga pernah memarahinya karena dianggap tidak tahu diri. Mereka mengatakan bahwa Violet seharusnya tidak berani berdiri di depan saat para bangsawan lewat.

Namun sekarang, Violet justru duduk di dalam kereta dan memandangi orang-orang yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Ketika Violet melirik ke samping, Meirra ternyata sedang memperhatikannya seolah pemandangan seperti ini sudah biasa baginya.

Meirra tersenyum kecil.

Entah mengapa, Violet merasa malu. Ia pun segera menutup jendela.

“Begitu sampai di kediaman, Anda akan jauh lebih bebas daripada sebelumnya. Coba pikirkan. Tuan Muda Cedric tidak ada di sana, begitu pula Tuan Muda Carlise yang tidak Anda sukai. Selain itu, pelajaran tata krama juga akan dihentikan untuk sementara. Bukankah menyenangkan?”

Mendengar ucapan Meirra, Violet mulai berpikir bahwa tinggal di sana mungkin tidak seburuk yang ia bayangkan.

Di sana tidak ada Marquis yang menakutkan maupun Tuan Muda Carlisle. Ia memang sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu Ledian, tetapi Ledian sendiri sebenarnya sangat sibuk sehingga mereka jarang bertemu. Cedric yang sesekali suka mencari gara-gara dengannya juga tidak ada.

Bagi Violet, tempat ini seharusnya jauh lebih nyaman.

Melihat Violet mulai tenang, Meirra menghela napas lega.

Suara ringkikan kuda terdengar sebelum kereta berhenti. Dari luar terdengar suara orang-orang yang sibuk menurunkan barang bawaan. Tak lama kemudian, pintu kereta terbuka.

Langit musim dingin yang biru cerah langsung terlihat.

Di hadapannya berdiri sebuah kastel besar. Memang tidak semewah kediaman keluarga Marquis atau istana kerajaan, tetapi ukurannya bahkan lebih besar daripada kediaman Marquis tempat Violet sebelumnya tinggal.

Beberapa pelayan segera menghampiri.

Baron Celestin, yang bertugas mengelola wilayah kekuasaan Marquis, turut datang untuk menyambut Violet.

Menerima salam dari seorang bangsawan masih terasa canggung baginya, tetapi kali ini Violet sudah jauh lebih terbiasa membalasnya.

Ia tidak menyadari bahwa Meirra yang berdiri di belakangnya diam-diam merasa bangga, mengingat ajaran dari Countess Loraine ternyata membuahkan hasil.

Begitu memasuki kastel, kesan gersang yang diberikan dinding bata berwarna abu-abu dari luar ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan di dalam.

Di sepanjang jalan masuk yang sempit, terdapat beberapa hamparan bunga.

Meski yang terlihat sekarang hanyalah ranting-ranting tanpa daun, Violet yakin tempat itu akan dipenuhi bunga-bunga indah ketika musim semi tiba.

Setelah melihat-lihat sekeliling, Violet masuk ke kamar yang telah disiapkan untuknya. Ia langsung menyukai kamar itu dan duduk di sofa empuk dengan wajah ceria, lalu menatap Meirra.

“Lalu, aku harus melakukan apa di sini?”

“Entahlah. Bukankah Nona sendiri yang harus mencari tahu?”

Hampir setahun lalu, Violet hanya bisa bersembunyi setiap kali merasa takut. Kini, ia sudah mulai terbiasa menunjukkan perasaannya dengan lebih terbuka. Kepribadian Meirra yang santai dan apa adanya banyak memengaruhinya.

Di antara semua orang, Violet paling mempercayai Meirra.

“Nona, apakah Anda menyukai tempat ini?”

“Ya.”

Violet mengangguk sambil tersenyum cerah. Entah mengapa, kota ini terasa cukup familiar baginya.

“Meirra, di sini ada perpustakaan juga?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, aku akan membaca buku dan menulis surat untuk Kak Ledian.”

Belakangan ini, sejak mulai belajar membaca, Violet juga semakin tertarik pada buku, sama seperti Ledian.

Mungkin itu pula yang membuat mereka begitu cocok. Seorang anak laki-laki yang gemar membaca dan seorang gadis yang baru saja menemukan kesenangan dalam membaca ternyata merupakan perpaduan yang sangat baik.

Violet memang memiliki sifat yang sensitif dan peka, tetapi bagaimanapun juga, ia masih seorang anak. Begitu menemukan sesuatu yang disukainya, ia langsung menyukainya sepenuh hati.

Melihat wajah Violet yang begitu gembira, Meirra pun ikut tersenyum senang.

“Selagi Nona berada di sini, mungkin ada baiknya Anda juga berlatih menggunakan kekuatan suci. Karena ini masih wilayah keluarga, tidak akan ada kabar yang tersebar ke luar.”

“Kekuatan suci?”

Violet mengernyit mendengar perkataan Meirra.

Bagaimana sebenarnya cara menggunakan kekuatan itu?

“Lagipula, nanti seorang pendeta akan mengajari Anda cara menggunakan kekuatan suci.”

“Pendeta?”

Nada suara Violet seketika berubah lirih...

“Ya. Nona adalah Saintess, jadi Anda harus belajar menggunakan kekuatan suci. Sepertinya itu yang diinginkan Tuan. Urusan keimanan dipelajari dari ahli teologi, sedangkan cara mengendalikan kekuatan suci dipelajari dari seorang pendeta.”

Violet terdiam.

Kekuatan suci, ya...

Ia mengangkat tangan dan menggerakkan jemarinya pelan. Sejujurnya, ia bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan itu. Selama ini, kekuatan suci yang pernah muncul darinya hanya ketika menyembuhkan tubuhnya yang penuh luka akibat dipukuli saat pertama kali datang ke tempat ini, menyembuhkan luka akibat cambuk milik istri Viscount tanpa sadar, dan membuat seluruh bunga di kediaman keluarga Marquis bermekaran hanya dengan air matanya.

“Aku tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka atau penyakit dengan kekuatan suci.”

Violet mengatakannya lirih. Entah mengapa, pembicaraan tentang kekuatan suci yang tiba-tiba muncul membuatnya merasa bersalah, seolah-olah ia sedang mengabaikan sesuatu yang seharusnya ia lakukan.

Melihat wajah Violet yang mendadak serius, Meirra menyadari bahwa dirinya telah salah bicara.

Bahkan saat ingin tidur, Violet masih tampak cemas. Tatapannya terus bergerak gelisah ke sana kemari.

Kekuatan suci... Kalau aku tidak bisa menggunakannya, mungkin aku akan dihukum.

Semua perlakuan mewah yang selama ini diterimanya mungkin saja berubah menjadi tatapan dingin dan pukulan.

Memikirkan hal itu, Violet tiba-tiba merasa takut.

......................

“Halo, anakku.”

Mendengar suara yang lembut itu, Violet menoleh ke sekeliling.

Di hadapan Violet terbentang padang rumput hijau dan langit biru cerah. Selama musim dingin, pemandangan seperti ini tak pernah ia lihat.

Awan putih bergerak perlahan di langit.

Angin berembus melewati padang rumput, membuat rerumputan bergoyang, lalu kembali tegak. Gesekan batang-batang rumput yang tertiup angin menghasilkan suara lembut. Bagi Violet, suara itu terdengar seperti nyanyian angin, atau mungkin tawa kecil dari rerumputan yang bergoyang.

Ketika memandang ke depan, Violet melihat seorang wanita berdiri mengenakan pakaian serba putih.

Violet pun menghampirinya. Semakin dekat, semakin jelas aroma manis dan segar yang tercium. Namun sesekali, bau tak sedap yang terbawa angin membuat langkahnya terhenti sejenak.

Wanita yang berdiri tegak di tengah padang rumput itu memiliki paras yang sangat cantik. Bulu matanya yang panjang tampak begitu jelas meski matanya terpejam, sementara rambut hitamnya yang lebat tergerai indah tertiup angin.

“Halo.”

Meski matanya masih terpejam, wanita itu tersenyum tepat ke arah Violet, seolah dapat melihat dengan jelas di mana ia berdiri.

“Sepertinya kekuatanmu sudah jauh lebih kuat. Sekarang, kau sudah bisa melihatku, bukan?”

“Ya.”

Violet mengangguk pelan.

“Di mana ini?”

“Menurutmu, ini di mana? Hmm... anggap saja kita sedang berada di dalam mimpi kita.”

Wanita itu tersenyum lembut. Entah mengapa, senyum itu tiba-tiba membuat Violet ingin menangis.

Ada kesedihan yang tak dapat ia jelaskan setiap kali memandang wanita tersebut.

Tanpa sadar, air mata menggenang di matanya. Violet terkejut, lalu buru-buru mengusapnya dengan lengan baju.

“Mengapa kamu menghapus air matamu begitu cepat?”

Meski matanya terpejam, wanita itu seolah dapat melihat semuanya. Ia bertanya dengan wajah heran.

Violet menggeleng pelan.

“Kalau aku menangis, rerumputan ini akan tumbuh lagi.”

“Kenapa tidak kau biarkan saja tumbuh? Rerumputan itu pasti juga menginginkannya.”

“Tapi ada seorang pendeta yang mengatakan sesuatu kepadaku.”

“Begitu? Apa yang dikatakannya?”

“Katanya, kalau aku membuat tanaman tumbuh, tanaman yang seharusnya baru terbangun di musim semi akan bangun lebih cepat dan harus bertahan menghadapi musim dingin. Itu akan membuat mereka semakin menderita.”

Mendengar penjelasan itu, wanita tersebut tersenyum lembut.

“Dia orang yang baik hati.”

Senyum itu terasa begitu akrab, seolah mengingatkan Violet pada seseorang. Ketika wanita itu tersenyum, sekeliling mereka seakan ikut terang seperti matahari yang baru terbit. Bahkan dalam mimpi sekalipun, Violet hampir kehilangan kesadaran karena keindahannya.

“Begitu, lalu apa yang terjadi?”

“Pendeta itu membuat semua bunga kembali layu.”

“Begitu rupanya.”

“Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana cara membuat bunga bermekaran ataupun layu. Aku masih belum bisa melakukan apa-apa. Sebenarnya... aku takut. Mungkin Tuhan telah salah memilihku sebagai Saintess. Atau mungkin Marquis dan Yang Mulia Raja hanya salah mengira...”

“Ya ampun. Kau jelas-jelas anakku, tapi kau masih berpikir seperti itu. Ibu jadi sedih mendengarnya.”

Melihat kesedihan di wajah wanita itu, Violet merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar.

Wanita itu kemudian tersenyum dan berkata, “Kalau kau benar-benar meragukan kekuatanmu, coba ulurkan tanganmu.”

Violet mengikuti perkataannya dan mengulurkan tangan.

Wanita itu kemudian menggenggam tangannya.

“Pejamkan mata dan pusatkan pikiranmu pada kekuatan itu.”

“Aku tidak bisa merasakan apa pun. Bagaimana caranya berkonsentrasi?”

Wanita itu tersenyum hangat mendengar pertanyaannya.

“Pertama, pejamkan matamu.”

Violet pun memejamkan mata. Sesaat kemudian, kehangatan mengalir mendekatinya. Tubuhnya refleks menegang karena merasakan energi asing itu.

“Inilah kekuatanmu. Inilah sumber kekuatan suci yang bisa kau gunakan.”

Violet tetap memejamkan mata dan memusatkan seluruh perhatiannya pada energi yang terasa begitu asing itu. Namun, semakin ia merasakannya, semakin ia menyadari bahwa energi tersebut sebenarnya sangat familiar.

Itu adalah energi yang selalu ia rasakan ketika menangis.

“Nah, lihat. Inilah kekuatan suci yang kau miliki. Sekarang kau mengerti?”

Ketika Violet membuka mata, cahaya keperakan berpendar di hadapannya. Cahayanya begitu terang hingga memenuhi seluruh pandangannya.

Violet menatapnya cukup lama. Ketika ia mengangkat wajah, wanita itu tengah tersenyum penuh kasih kepadanya.

“Kau bilang kau merasa kasihan pada bunga-bunga itu?”

"...."

“Pendeta itu memang orang yang baik, tetapi ia masih memandang segala sesuatu dari sudut pandang manusia.”

“Apa?”

Wanita itu mengulurkan tangannya. Seketika, rerumputan di sekitar mereka mulai tumbuh dan bunga-bunga liar bermekaran.

Violet mengenali bunga-bunga liar itu. Di kediaman Marquis, bunga-bunga seperti ini mungkin akan dianggap hama dan langsung dicabut.

Wanita itu mengangkat tangan, lalu memetik salah satu bunga.

“Ah!”

Violet seketika merasakan rasa sakit yang dirasakan bunga itu.

Ketika menatap wanita tersebut, ia hanya mendapati senyum lembut di wajahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!