azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh satu
"Mas Kian" seru Azalea dengan nafas tertahan, ia hendak berdiri, namun tangan kekar Yohan menahan lengannya untuk tetap duduk.
Alis Kiano berkerut kesal, melihat Yohan yang begitu posesif. Sudut mata pria itu tajam menatap Yohan yang terlihat menantang.
"Kalian sedang apa?" mata Kiano mengernyit tak suka melihat Yohan yang masih menahan lengan Azalea.
"Seperti yang kamu lihat!" Yohan, pria itu yang menjawab.
"Kamu kencan makan siang kah, bareng sekretarismu?"
Kiano tersentak sadar, dengan cepat melepaskan lengannya dari pelukan Sarah.
"Kami hanya makan siang, kebetulan ada janji ketemu klien.., kamu tinggalin Rara, Za?" Kiano mengalihkan tatapannya pada Azalea yang rikuh dan gelisah.
"Rara di rumah dengan mbak Asti, Mas. Aku ada urusan sedikit.."
"Berkencan.." sahut Kiano bergumam lirih, nyaris tak terdengar.
Azalea menaikkan alisnya sebelah, walau dia tidak mendengar sahutan Kiano, tapi melihat wajah pria itu, Azalea tahu isi hati Kiano.
"Sudah lewat Ashar, Za. Kamu belum pulang juga?" Kiano melirik arlojinya, dengan ekor matanya meminta Azalea untuk pulang.
Azalea juga melirik layar ponselnya yang diketuknya 2 kali, benar sudah pukul 4 ternyata, waktu solat ashar juga sudah terlewat.
Azalea berdiri, Yohan yang berada di sisinya sedikit terganggu. Bagaimana bisa gadis ini begitu patuh pada Kiano, dan jujur saja Yohan tidak menyukai itu.
"Aku anterin kamu pulang, Za" Yohan juga berdiri, namun Kiano mengibaskan tangan ke arahnya.
"Nggak usah, Azalea pulang denganku saja"
Azalea memandangi kedua pria itu bergantian, di sisi Kiano ada Sarah yang menatapnya dengan sorot penuh permusuhan, Azalea enggan rasanya kalau harus semobil dengan Kiano dan wanita itu.
"Aku pulang bareng mas Yohan aja, Mas" tolak Azalea, sembari menggamit lengan Yohan mengajaknya berjalan. Yohan, pria itu tersenyum penuh kemenangan.
Sementara Kiano, raut wajahnya sesaat berubah tadi. Ia tidak menduga sama sekali Azalea akan menolaknya tanpa berpikir sama sekali.
Ada rasa aneh menjalari hatinya, melihat Azalea yang berlalu meninggalkannya tanpa pamit. Apalagi gadis itu memegangi lengan baju Yohan, seakan meminta perlindungan.
Mengapa ada yang membara dalam hatinya, mengapa rasanya Kiano tak menyukai kedekatan itu, padahal dia sendiri yang sesumbar mengatakan kalau dirinya mendukung Azalea dan Yohan.
Matanya masih mengikuti langkah kaki Azalea yang semakin menjauh, kalau saja Sarah tak menegurnya, mungkin Kiano masih berdiri mematung di sana dengan pikirannya yang semrawut dan membingungkan.
"Kita nggak jadi makan, Mas Kian?"
Kiano tersentak dari lamunannya, menoleh sekilas ke arah wanita itu yang menatapnya penuh harap.
"Hhhhhhhhh" desahnya berat, "Kamu pulang naik taksi saja, yah Sar, aku dulu—"
"Mas Kian.." sambar Sarah cepat mencekal lengan pria itu. Mata Sarah terlihat marah.
"Mas mau mengejar Azalea?Mas Kian, kamu menyukai gadis itu?"
Kiano menggeleng cepat, "Dia adik iparku Sar. Azalea tanggung jawabku, selama dia di sini, Azalea adalah tanggung jawabku"
"Cihhh" Sarah mendecih kasar, "Kamu pikir aku bodoh mas, aku bukan bocah kemarin sore"
"Terserah" sahut Kiano cepat, dia kembali hendak melangkahkan kakinya, namun tangan Sarah kembali menahan langkahnya.
"Kalau mas Kian mengejar Azalea sekarang, mas akan membuktikan kalau mas Kian ternyata sudah berpaling dari mbak Naima"
Alis Kiano berkerut, menyatu saling tertaut. Rasa kesal menyerangnya, ucapan Sarah terasa menyindirnya.
"Mas Kian selalu sesumbar kalau cinta mas Kian habis di mbak Naima, baru juga setahun lebih, mas sudah move on, dan parahnya lagi, dengan adiknya mbak Naima"
"Cukup Sarah" sergah Kiano cepat, suaranya terasa semakin berat.
Ucapan penuh provokasi Sarah memenuhi kepalanya, dan entah mengapa mempengaruhi moodnya. Kiano akhirnya menghempaskan tubuhnya di kursi tempat Azalea dan Yohan tadi duduk, Sarah yang menyadari ucapannya berhasil mempengaruhi Kiano tersenyum puas, wanita itu juga duduk dengan manis di depan Kiano yang wajahnya berubah datar.
********
Azalea baru saja menghempaskan tubuhnya yang terasa lelah ke atas ranjang queen sizenya. Pashmina yang Azalea kenakan juga masih belum dibuka, tiba-tiba suara Kiano terdengar memanggilnya di depan pintu kamar.
"Aza, keluar! Aku ingin bicara"
Azalea bangun dengan malas, belakangan ini, jika mereka bicara selalu diakhiri dengan pertengkaran.
Padahal Azalea tidak pernah protes, apapun keputusan Kiano, Azalea menyetujuinya.
Saat pria itu mencari pengasuh untuk Rania, Azalea hanya bisa pasrah. Sekarang Kiano juga lebih sering makan di luar.
Azalea tahu kalau Kiano sengaja menjaga jarak darinya. Azalea membuka pintu, wajah Kiano di balik pintu terlihat datar.
"Aku ingin bicara, Za"
"Bicarain apa lagi, Mas?" tanya Azalea dengan raut wajah malas.
"Menurutku tak ada lagi yang bisa kita bicarain"
Terdengar dengus nafas Kiano sebelum pria itu berbalik, "Ikut aku"
Azalea dengan malas menyeret langkahnya, mengikuti pria itu ke arah ruang kerjanya. Di ruang keluarga ada Asti sang pengasuh yang sedang menina bobokan Rania.
Gadis muda itu menatap ke arah mereka dengan tatapan penuh selidik. Mungkin benak gadis itu sedikit heran, melihat Azalea dan Kiano, sepasang suami istri yang tidur terpisah.
Sudah sebulan Asti tinggal di rumah itu, namun entah mengapa, dia merasa sedikit aneh melihat rumah tangga majikannya itu.
"Duduk Za!" perintah Kiano begitu Azalea menutup pintu ruang kerja Kiano.
Azalea duduk dengan patuh tanpa menjawab, matanya menatap lekat Kiano yang berdiri di dekat meja kerjanya.
"Apakah hubunganmu dengan Yohan serius?"
Azalea mengernyitkan keningnya, ia hendak menggeleng, namun tatapan Kiano membuatnya mengurungkan niat.
"Kalau kamu serius dengan Yohan, aku bisa menceraikanmu lebih cepat dari waktu yang kita tentukan, kamu menyukai Yohan?" tatap mata keabu-abuan itu penuh selidik.
Azalea menghela nafasnya, sorot mata gadis itu terlihat lelah.
"Mas Kian segitu pengennya cerai denganku yah"
Kiano bersidekap, bersandar di meja, menatap wajah Azalea yang sendu.
"Kalau Mas Kian sudah memutuskan seperti itu, apa mas butuh pendapatku?"
Azalea berdiri dari duduknya, kelihatan jelas gadis itu lelah, nada suaranya juga sendu.
"Dan menurutku Mas Kian nggak perlu membawa nama Mas Yohan dalam urusan ini, Mas Yohan nggak ada urusannya dengan kita"
"Ada.." sahut Kiano cepat, pria itu seakan ingin menahan Azalea yang hendak beranjak pergi. Dan berhasil, Azalea berhenti, kembali memutar tubuhnya menghadap Kiano.
"Yohan ada hubungannya dengan perceraian kita Za, aku nggak mau menahanmu di sisiku. Kalau kalian saling menyukai, aku tak boleh egois"
Azalea mengangguk lemah, "Terserah Mas Kian deh, aku pasrah saja"
"Zaa!" panggil Kiano, tangannya mencekal pergelangan tangan Azalea.
"Apalagi Mas?"
"Suruh Yohan menemuiku, bagaimana pun saat ini kamu adalah tanggung jawabku"
Azalea menatap mata abu-abu itu, mencari sesuatu di mata indah yang sedang melihatnya. Ia tidak menemukan apa yang ia cari, mata pria itu, raut wajahnya terlalu serius. Azalea masih berharap kalau Kiano tidak serius, hatinya masih berharap kiano memiliki sedikit rasa untuknya. Namun sepertinya sia-sia saja, Kiano menunggu jawaban dari mulutnya.
"Mas Kian serius?"
Kiano mengangguk mantap, masih belum melepaskan cekalannya di tangan Azalea.
"Mas Kian beneran nggak punya perasaan apapun untukku?"
Kiano, pria itu sedikit kaget. Tubuhnya tersentak, dengan sorot matanya yang tadi datar, sedikit berubah.
"Aku hanya ingin hidup bersama kalian mas, jadikan aku istrim—"
"Za..kamu!"
"Gila?bebal?" mata Azalea menelisik tajam, Kiano mulai gelisah, pria itu berdiri tak tenang.
"Aku nggak minta kamu lupain mbak Na, Mas. Tapi ijinkan aku menjadi ibu bagi Rara dan istrimu seutuhnya"
"Kita udah pernah bicarain ini Za.." Kiano hendak berlalu, kakinya sudah melangkah.
"Dan aku juga sudah jelas-jelas ngomong ke kamu, kalau itu tidak akan pernah terjadi"
Kiano membuka pintu ruang kerjanya, memgangi daun pintu, seakan meminta Azalea untuk keluar.
"Kamu itu adik Naima, dan kamu sendiri tahu, seberapa besar cintaku padanya"
Ujung mata Azalea berembun, entah sudah keberapa kalinya Kiano menolak perasaannya. Sejujurnya Azalea lelah, lelah secara lahir dan batin.
"Jangan lupa minta Yohan menemuiku"
Azalea menoleh, namun pintu ruang kerja pria itu sudah menutup.
Bersambung...
.