NovelToon NovelToon
Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Mata Dewa: Dari Batu ke Tahta

Status: tamat
Genre:Balas dendam. / Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.

Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.

Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015: CV Prasetyo Berdiri

"Kalau mata kamu bisa melihat nilai, perusahaan harus bisa menahan risiko."

Budi Santoso mengucapkannya sebelum berjabat tangan.

Ia datang ke kantor notaris dengan kemeja putih tanpa logo, tas laptop hitam, dan map pertanyaan yang lebih tebal daripada akta mereka. Tubuhnya masih agak kurus seperti masa kuliah, sementara tatapannya tenang dan teliti sampai ke cara orang menuang teh.

Hendra menatap map itu dengan ngeri.

"Bud, koen pulang dari luar negeri bawa kamus atau bawa audit?"

"Audit membuat orang tidur nyenyak," jawab Budi.

"Aku justru jadi tidak bisa tidur."

Rizal tertawa kecil. Bayu hanya menggeser kursi.

Di ruang notaris Surabaya itu, hari ke-16 menjadi batas baru. Sedikit lebih dari dua minggu sebelumnya, Bayu keluar dari kantor lama dengan pesangon yang tidak cukup untuk menutup malu. Sekarang di depannya ada akta pendirian badan usaha, daftar kegiatan perdagangan batu permata dan barang seni, serta rencana rekening usaha atas nama CV Prasetyo.

Notaris Lestari, perempuan lima puluhan dengan suara rapi, mengetuk lembar akta.

"Saya ulang supaya semua jelas. Bentuknya CV. Jadi, tidak ada saham seperti dalam perseroan terbatas. Yang diatur di sini adalah sekutu, porsi modal, hak laba, tanggung jawab, dan siapa yang berwenang mewakili usaha."

Bayu mengangguk. "Saya sekutu pengurus utama."

"Betul. Saudara Rizal juga sekutu pengurus untuk operasional internal dan dokumen. Saudara Hendra dan Saudara Budi masuk dalam perjanjian kerja sama dan porsi laba terbatas sesuai lampiran. Untuk Budi, lima persen porsi ekonomi dicatat sebagai penyertaan dan hak laba, tetapi kewenangan tanda tangan keluar tetap mengikuti mandat tertulis."

Budi mengangkat jari. "Saya ingin setiap pembelian di atas Rp100 juta wajib ada dua persetujuan dan foto barang sebelum uang keluar."

Hendra langsung menoleh ke Bayu.

"Yu, baru masuk sudah bikin rem."

"Rem itu mahal," kata Bayu. "Tapi tabrakan lebih mahal."

Notaris Lestari tersenyum tipis. "Kalimat itu sebaiknya masuk budaya perusahaan."

Mereka menandatangani satu per satu. Setelah akta selesai, proses administratif masih panjang: pendaftaran, akses AHU, pengurusan NIB lewat OSS, NPWP, dan pembukaan rekening usaha. Semua membutuhkan waktu dan dokumen. Tetapi hari itu, nama CV Prasetyo resmi mulai hidup di atas kertas.

Nama itu kini mewakili Bayu dan seluruh timnya.

Sore harinya, mereka berdiri di depan ruko dua lantai di jalan kecil yang tidak jauh dari jalur pedagang batu. Catnya belum baru. Lantai bawah cocok untuk ruang transaksi dan meja pemeriksaan. Lantai atas bisa menjadi kantor, gudang kecil, dan tempat Rizal menyimpan dokumen.

Hendra menepuk rolling door.

"Tidak mewah, tapi kalau ada AC satu biji, aku sudah merasa jadi direktur."

"Kamu bagian lapangan," kata Rizal.

"Direktur lapangan."

Budi membuka catatan. "Sewa dibayar enam bulan dulu. Deposit, renovasi ringan, brankas, kamera, asuransi barang, software akuntansi. Jangan beli sofa mahal."

Hendra memegang dadanya. "Sofa juga kena audit."

Bayu melihat ruangan kosong itu. Mata Dewa tidak menyala. Tidak ada benda bernilai untuk dilihat. Tetapi entah kenapa, ruangan tanpa isi itu justru terasa paling mahal.

Karena untuk pertama kalinya, masa depannya punya alamat.

Kesempatan pertama datang lebih cepat daripada bau cat mengering.

Pada pagi hari ke-18, Pak Gunawan menelepon dengan suara rendah.

"Mas Bayu, ada wholesaler Kalimantan yang butuh likuiditas. Stok rough stone campur. Banyak yang biasa, beberapa mungkin bagus. Dia mau jual paket karena harus bayar pengiriman dan hutang pemasok. Saya tidak bisa ambil semua. Modal saya sedang terkunci."

"Berapa paketnya?"

"Delapan ratus juta untuk seluruh lot. Kalau dipilih satu-satu, dia tidak mau. Risiko besar."

Budi, yang duduk di meja lipat, langsung menulis angka.

"Kas CV belum penuh. Kalau ambil Rp800 juta, likuiditas pribadi Mas Bayu turun keras. Biaya sortir, potong, sertifikasi, dan pajak jangan dilupakan."

Bayu bertanya kepada Gunawan, "Barang bisa diperiksa terbuka?"

"Bisa. Tapi waktu hanya sampai sore. Ada pembeli Jakarta yang juga melihat."

Mereka berangkat ke gudang kecil di pinggir Surabaya. Karung-karung batu diletakkan di atas terpal. Debu sungai masih menempel pada kulit batu. Wholesaler bernama Pak Rusman tampak letih, tetapi matanya tajam.

"Saya jual satu lot utuh," katanya. "Kalau Mas cuma mau pilih yang bagus, selesai."

"Saya paham," jawab Bayu. "Saya akan menilai seluruh paket. Harga tetap paket."

Mata Dewa menyala pelan.

Bayu tidak memakainya seperti lampu yang dibuka penuh. Ia berjalan dari satu karung ke karung lain, mengangkat batu seperlunya, mengamati kulit, retak, berat, dan pantulan lembap di celah. Di balik batu-batu biasa, tiga puluh persen memancarkan cahaya emas yang cukup kuat. Tidak semua kelas tinggi. Tetapi cukup untuk mengubah lot campuran menjadi peluang.

Beberapa bongkah menunjukkan hijau dalam yang bersih. Ada yang hanya garis tipis, tetapi posisinya membuat potongan kecil tetap bernilai. Yang paling penting, hampir separuh batu jelek terlihat jelas dari luar dan bisa dijual sebagai bahan latihan atau dekorasi tanpa janji berlebihan.

Bayu menutup Mata Dewa sebelum kepalanya berat.

"Saya ambil, dengan tiga syarat. Timbang ulang di sini. Foto setiap karung. Pembayaran wajib lewat rekening."

Pak Rusman menatapnya lama. "Mas tidak mau tawar?"

"Kalau saya menawar, Bapak akan menawarkan ke Jakarta. Harga ini juga membayar kecepatan transaksi."

Gunawan tersenyum di belakang.

Budi tidak tersenyum. Ia sibuk menyiapkan bukti transfer, perjanjian sederhana, dan daftar barang masuk. Hendra merekam timbangan. Rizal mencatat nomor karung dan saksi gudang.

Uang keluar Rp800 juta.

Untuk sesaat, angka itu membuat ruang dada Hendra sepi.

"Yu," bisiknya, "aku tadi merasa miskin kembali."

"Kita membeli barang," jawab Bayu.

"Aku tahu. Tapi rekeningku ikut sakit padahal bukan rekeningku."

Tiga hari berikutnya, ruko kecil itu tidak pernah benar-benar sunyi. Pak Gunawan membantu memanggil dua pembeli lama untuk batu hijau bersih. Sebagian lot dipotong kecil untuk menunjukkan isi. Budi memisahkan biaya potong, pengiriman, sertifikasi awal, dan pajak. Bayu menolak dua pembeli yang meminta label berlebihan.

"Tulis sesuai hasil," katanya. "Kalau kualitas B, jangan dijual sebagai A."

Pada siang hari ke-20, transfer terakhir masuk ke rekening usaha.

Budi membacakan dari layar laptop.

"Penjualan kotor Rp1,72 miliar. Harga beli Rp800 juta. Biaya sortir, potong, transportasi, komisi Gunawan, dan pajak dicadangkan Rp120 juta. Laba bersih sementara Rp800 juta."

Hendra memegang rolling door seperti orang takut lantai bergerak.

"Delapan ratus juta bersih?"

"Bersih sementara," koreksi Budi. "Kalau dokumen pajak final berubah, kita sesuaikan."

"Tetap saja, Bud. Itu angka yang dulu cuma lewat di brosur motor."

Rizal menatap Bayu. "Sekarang kita punya napas."

Bayu melihat rekening usaha, lalu rekening pribadinya. Kas pribadinya memang turun karena modal awal dan pembelian lot, tetapi CV sudah punya laba pertama. Jika digabung kas pribadi, kas usaha, dan stok tersisa yang dinilai konservatif, posisi mereka jauh lebih kuat daripada saat keluar dari Balai Pusaka.

Namun ia tidak ingin mabuk angka.

"Pisahkan uang usaha dan uang pribadi," katanya. "Mulai hari ini, tidak ada transaksi tanpa dokumen."

Budi mengangguk puas. "Akhirnya ada kalimat yang membuat saya bahagia."

Malam itu, Sinta menelepon lewat video.

Wajah adiknya muncul dengan mata merah dan senyum yang ditahan-tahan. Di belakangnya ada dinding kos dan tumpukan buku.

"Mas, beasiswa sudah masuk. Uang kuliah juga aman. Aku sudah cek ke bagian administrasi."

"Bagus. Fokus kuliah."

"Teman-teman masih tidak percaya. Mereka bilang belum sebulan lalu aku masih hitung uang makan dan kamu masih makan Indomie di kamar kos."

Bayu tertawa pelan. "Mereka tidak salah."

"Mas dapat uang halal, kan?"

Pertanyaan itu lebih tajam daripada semua tawaran pasar.

Bayu menatap layar. "Halal, tercatat, dan ada pajaknya. Nanti kalau pulang, aku jelaskan ke Bapak dan Ibu."

Sinta menghela napas lega. "Bapak memang mau bicara itu. Di desa sudah ada orang bilang kamu kaya mendadak karena kerja tidak benar. Ada yang bilang ikut judi batu. Ada yang bilang jadi makelar barang curian."

Hendra, yang mendengar dari samping, langsung panas.

"Lho, kok mulut orang desa lebih cepat dari transfer bank, rek."

Sinta melirik. "Mas Hendra ada?"

"Ada. Aku saksi resmi bahwa kakakmu sekarang punya Budi, jadi dosa pun harus lewat formulir."

Budi, dari meja belakang, mengangkat kacamata. "Itu bukan definisi compliance."

Sinta tertawa, lalu suaranya melembut.

"Bapak bilang pulanglah saat Lebaran untuk bicara baik-baik dengan keluarga. Ibu juga kangen. Urusan pamer tidak penting."

Setelah panggilan berakhir, ruko itu hening sebentar. Di luar, lampu jalan menyala di kaca etalase kosong.

Hendra mendekat sambil membawa dua gelas kopi sachet.

"Pulang kampung, bro? Sekalian tunjukkan siapa Bayu Prasetyo sekarang."

Bayu menerima gelas itu dan tersenyum.

"Aku pulang untuk bicara dengan keluarga. Urusan menunjukkan kekayaan tidak penting."

"Terus?"

Ia melihat akta CV di atas meja, kuitansi sewa ruko, daftar pajak Budi, dan foto batu-batu Kalimantan yang baru saja mengubah nasib mereka.

"Untuk menjawab."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!