Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepungan di Batas Malam
Suara sirine mobil kepolisian berderu semakin kencang.
Bisingnya memecah kesunyian malam di perkampungan padat itu.
Cahaya lampu strobo berwarna merah dan biru berputar liar.
Cahaya itu memantul di dinding-dinding seng dan kaca jendela warung yang sudah retak.
Andra berdiri tegak dengan tatapan mata yang tajam.
Tangan kanannya masih menggenggam erat remote pengendali bahan peledak.
Ia sama sekali tidak menyangka dengan situasi buruk ini.
Rian, mantan tangan kanannya yang licik, ternyata menyiapkan lapis pengaman lain.
Hal itu benar-benar di luar perhitungan awalnya.
Di lantai keramik yang dingin, Rian terbatuk kecil.
Ia mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya.
Namun, seringai kemenangan justru semakin lebar terukir di wajah pria itu.
"Kau memang hebat dalam membaca strategi di atas kertas, Tuan Besar..." gerutu Rian dengan suara parau.
Ia memaksakan diri untuk setengah bangkit dari posisinya.
"Tapi kau lupa satu hal... dunia korporasi dan hukum tidak pernah berjalan sendiri."
"Selalu ada aparat yang bisa dibeli dengan harga tinggi."
Mendengar ucapan itu, rahang Andra mengeras seketika.
Insting militernya langsung bergejolak membaca situasi buruk di depan mata.
Puluhan anak buah Rian yang tadinya berlutut kini mulai kembali berdiri.
Senyum mengejek kembali terukir di wajah para preman bayaran itu.
Kehadiran sirine polisi di ujung gang sempit itu ternyata bukan untuk menolong.
Itu adalah bala bantuan resmi yang sengaja dipanggil oleh jaringan busuk Rian.
Di dalam ruangan belakang, Kirana mendengar suara gaduh dari luar.
Dadanya kembali merasakan sesak oleh ketakutan yang luar biasa.
Wanita itu melangkah pelan keluar dari balik tirai.
Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram lengan baju Andra dari belakang.
"Mas... suara sirine apa itu? Polisi datang?" bisik Kirana dengan suara bergetar nyaris tak terdengar.
Andra menoleh sekilas ke arah istrinya.
Ia membawa tangan Kirana untuk digenggamnya erat.
Cara itu ia lakukan untuk menyalurkan ketenangan di tengah badai.
"Jangan takut, Kir. Tetaplah berada di belakangku apapun yang terjadi," jawab Andra.
Nadanya terdengar sangat tegas namun penuh dengan kelembutan.
Tidak lama kemudian, suara derap sepatu lars hitam terdengar bergemeretuk.
Suara itu datang dalam jumlah banyak mendekati halaman depan warung.
Beberapa pria berseragam taktis lengkap dengan rompi anti peluru bermunculan.
Mereka membawa senapan laras panjang yang memenuhi jalanan setapak sempit.
Mereka bergerak dengan formasi penyergapan yang sangat profesional.
Gerakan itu jauh lebih tertib dibandingkan preman bayaran biasa.
Pemimpin pasukan berseragam itu melangkah maju membelah kerumunan.
Ia menyorotkan senter terang tepat ke arah wajah Andra.
"Letakkan senjata kalian! Angkat tangan dan jangan melakukan perlawanan!" bentak sang komandan pasukan.
Suara menggelegar itu memecah malam yang dingin.
Suasana di lorong itu mendadak berubah menjadi arena konfrontasi skala besar.
Situasi tersebut terasa sangat mencekam dan berbahaya.
Rian yang melihat kedatangan pasukan berseragam itu langsung tertawa lepas.
Ia melupakan rasa sakit di rahangnya akibat hantaman Andra tadi.
"Tangkap dia! Pria itu membawa bahan peledak berbahaya!" teriak Rian memutarbalikkan fakta.
"Dia juga menyandera warga sipil di dalam warung!"
Pasukan taktis tersebut langsung merespons cepat perintah itu.
Mereka mengarahkan moncong senapan mereka tepat ke arah dada Andra.
Puluhan titik lampu laser merah menempel di jaket usang milik Andra.
Satu gerakan salah saja dari Andra bisa memicu hujan peluru.
Hujan peluru itu pasti akan menghancurkan seisi ruangan dalam sekejap mata.
Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air matanya tumpah seketika melihat suaminya dikepung senjata mematikan.
"Jangan tembak suamiku! Dia tidak bersalah!" jerit Kirana histeris dari balik punggung Andra.
Andra mengangkat sebelah tangannya sedikit.
Ia memberi isyarat agar Kirana tidak maju lebih jauh ke depan.
Mata tajam Andra menatap lekat-lekat pemimpin pasukan taktis di hadapannya.
Ia mencoba mencari celah atau mengenali lencana di seragam mereka.
"Kalian bekerja untuk siapa? Komandan satuan mana yang berani masuk ke sini tanpa surat tugas?" tanya Andra.
Suaranya terdengar berat dan penuh wibawa mutlak.
Komandan pasukan itu mendengus dingin di balik penutup wajahnya.
"Kau tidak perlu tahu kami bekerja untuk siapa, Tuan Andra."
"Anda sudah dinyatakan buron atas tuduhan terorisme dan percobaan pembunuhan berencana."
Mendengar tuduhan palsu yang sangat kotor itu, kemarahan Andra hampir memuncak.
Rian benar-benar menggunakan kekuasaan birokrasi korup.
Ia memakai jabatan untuk membalikkan posisi mereka dalam semalam.
Orang-orang berdasi di kursi kekuasaan tertinggi ternyata masih terus berusaha melenyapkannya.
Mereka ingin menutupi kejahatan masa lalu dengan cara apa pun.
Namun, Andra bukanlah pria yang akan menyerah begitu saja.
Jari jempolnya perlahan meraba tombol kecil remote peledak di saku jaket.
Jika mereka bernasib mati, benteng pertahanan ini akan runtuh bersama seluruh rahasia musuh.
"Anda punya waktu tiga detik untuk menyerah, atau kami tembak di tempat!" ancam sang komandan.
Ia menarik pelatuk senapannya bersiap melepaskan tembakan.
Andra menunduk sejenak.
Ia menatap wajah Kirana yang pucat pasi penuh air mata.
Tatapan itu penuh dengan cinta dan rasa penat karena menyeret sang istri ke bahaya.
"Maafkan aku, Kir... sepertinya kita harus melalui jalan ini bersama-sama," bisik Andra sangat pelan.
Kirana menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Ia memeluk pinggang suaminya semakin erat tanpa mau lepas.
"Aku tidak takut mati, Mas... asal kita tetap bersama," balas Kirana tulus.
Ketulusan itu membuat hati Andra bergetar hebat di ujung maut.
Tepat saat hitungan ketiga hampir dimulai, sebuah suara menggelegar terdengar.
Suara ledakan keras tiba-tiba meledak dari arah ujung jalan raya utama.
Duar!
Cahaya terang benderang meluncur ke langit malam.
Ledakan itu disusul suara kekacauan dan sirine mobil pemadam kebakaran.
Semua pasukan taktis dan Rian sontak terkejut.
Mereka menoleh serentak ke arah sumber ledakan di luar gang.
Andra memanfaatkan kelengahan sepersekian detik itu dengan sigap.
Ia menarik tubuh Kirana merunduk di balik meja kasir yang kokoh.
Tanpa ragu lagi, ia menekan tombol penuh pada remote di tangannya.
Bummmm...!
Suara ledakan hebat mengguncang tanah di bawah kaki mereka.
Getaran dasyat itu merambat lewat fondasi beton dan dinding kayu warung yang sudah rapuh.
Debu tebal seketika mengepul memenuhi udara, menghalangi pandangan siapa pun di dalam ruangan.
Pasukan taktis yang tadinya siaga penuh langsung kocar-kacir akibat kejutan tersebut.
Teriakan panik dan umpatan keras bersahutan di luar gang sempit.
Andra tidak menyia-nyiakan detik-detik berharga itu untuk berdiam diri.
Ia langsung menarik tangan Kirana erat-erat di tengah kepulan asap pekat.
"Ikut aku, Kir! Jangan lepaskan tangan!" seru Andra dengan suara tegas.
Mereka berdua bergerak merunduk melewati reruntuhan papan kayu di bagian belakang.
Jalur pelarian rahasia itu sudah dipersiapkan Andra jauh-jauh hari sebelum malam ini terjadi.
Di balik dinding dapur, terdapat sebuah pintu jebakan kecil menuju selokan besar yang sudah kering.
Tanpa pikir panjang, Andra membuka pintu besi berkarat itu dengan sekali sentakan kuat.
Kriet...!
Bau lembap langsung menyergap indra penciuman mereka.
Namun, itu adalah satu-satunya jalan keluar tersisa untuk lolos dari kepungan maut.
"Masuk duluan, Kir!" perintah Andra sambil mendorong istrinya perlahan ke dalam lubang gelap.
Kirana mengangguk cepat meski air mata masih membasahi pipinya karena ketakutan.
Wanita itu merangkak masuk ke lorong bawah tanah tanpa banyak protes.
Andra menyusul tepat di belakang setelah memastikan tidak ada yang melihat pergerakan mereka.
Ia menutup kembali pintu besi itu dari bawah, menyamarkannya dengan tumpukan kardus bekas.
Di permukaan atas, ledakan pancingan yang dibuat Andra di ujung jalan utama berhasil memecah konsentrasi pasukan musuh.
Rian yang masih terkapar di lantai meronta marah karena kehilangan jejak targetnya.
"Sialan! Cari mereka sampai dapat! Jangan biarkan mereka kabur!" teriak Rian histeris kepada anak buahnya.
Namun, semuanya sudah terlambat bagi komplotan pengkhianat itu.
Andra dan Kirana kini telah menyusup masuk ke dalam labirin saluran air tua di bawah perkampungan.
Suara langkah sepatu tentara taktis di atas sana mulai terdengar menjauh.
Mereka menyusuri lorong beton yang gelap gulita hanya berbekal cahaya dari ponsel Andra.
Udara di dalam saluran terasa pengap dan dingin menusuk tulang.
Namun, genggaman tangan Andra pada jemari Kirana terasa begitu hangat dan menenangkan.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Kirana dengan suara berbisik pelan di tengah kegelapan.
Andra menoleh sekilas, memberikan senyuman tipis untuk menguatkan istrinya.
"Kita keluar dari kota ini, Kir... dan mencari tempat aman di mana tidak ada lagi orang yang bisa mengganggu kita," jawab Andra mantap.
Mereka terus melangkah cepat menembus kegelapan lorong bawah tanah.
Di luar sana, malam masih panjang dan badai pengejaran belum sepenuhnya berakhir.
Namun, tekad Andra untuk melindungi wanita di sampingnya jauh lebih kuat daripada rasa takut apa pun.