Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Whooop!!!
Setelah mendapatkan bukti tali pramuka yang ia temukan di bilik gudang, Emma berencana untuk langsung menyerahkan ke pihak forensik sore itu juga. Namun masih ada kendala yang harus ia lalui, yaitu dia bukan polisi yang sedang aktif. Selain itu, Emma juga butuh DNA pembanding.
Kalau hanya masalah dirinya yang berstatus non aktif, Emma masih bisa meminta tolong kepada rekannya, Tejo. Namun DNA pembanding? Dia harus berusaha lebih untuk mendekati pihak keluarga.
"Lagi-lagi, apakah aku terlalu memaksa? Mendekati ibu Dion bukan perkara mudah. Ck!"
Berulang kali Emma membenturkan kepalanya di meja kamarnya.
"Andaikan saja dulu aku nggak terlalu impulsif, aku bisa mengumpulkan DNA secara diam-diam."
"Apakah sampai disini saja? Sebentar lagi skors ku habis. Sudah waktunya kembali ke markas. Dan tubuhku ini sudah tidak mau menurutiku lagi."
Lalu terbesit ingatan tentang ibu Dion yang meraung-raung dihadapannya. Dia tahu betul rasanya kehilangan keluarga yang disayangi, seperti kakaknya yang juga meninggalkannya waktu itu.
Dadanya mendadak sesak, air mata yang biasanya tersimpan rapi kini mengalir begitu saja tanpa kendalinya.
"Apa sih? Cengeng banget," protesnya pada dirinya.
"Ah... Apa waktuku sebentar lagi makanya aku jadi sensitif seperti ini?"
.
.
.
Sementara itu Levi yang baru saja keluar dari kamar mandi, duduk termenung di sisi kanan ranjangnya. Pandangan matanya terkunci pada layar HP yang menunjukkan nama Emina disana.
Rasa penasarannya membuncah hingga ia ingin sekali menemui Ema langsung untuk menanyainya tentang apa yang disaksikannya di gudang itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan mi?" Gumamnya masih menatap lurus layar HP.
Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan tentang sosok Emma yang berkilah pagi itu. Levi kembali mengingat tentang tindak tanduk Emma yang mencurigakan itu dan jawabannya ketika ia menanyakan siapa dia sebenarnya.
"Tentu saja aku guru Bahasa Inggris"
Jawaban Emma berulang kali terngiang di telinganya seolah ter-replay otomatis. Lalu cara Emma melarikan diri dari situasi janggal itu dengan senyuman canggung itu juga menghantui rasa penasaran Levi.
"Seperti dejavu," bisiknya.
"Waktu itu dia juga seperti ini."
Levi kembali menayangkan ingatan tentang waktu pertama kali ia bertemu Emma.
"Dia seenaknya saja memfoto tubuh Dion dan berdebat dengan petugas polisi."
Levi menekan kepalanya keras dan kembali berbicara sendiri, "Lalu seminggu kemudian dia melamar pekerjaan menjadi guru. Bagaimana kalau itu bukan kebetulan? Pertemuan pertama bisa saja memang kebetulan. Tapi pertemuan kedua?"
Lalu entah mengapa dia malah melempar HP yang menampilkan wajah Emma tersenyum.
"Terus apa peduliku? Dia sudah punya pacar!"
Komentar itu terdengar sangat aneh, bahkan Levi sendiri bergidik dengan kelakuannya sendiri yang seperti anak ABG itu.
Sepertinya pikiran Levi sudah dibutakan dengan perasaannya terhadap Emma, yang entah perasaan apa itu. Levi si pemilik rasa bahkan kurang mampu mendefinisikannya.
Apakah dia marah? Untuk apa dia marah? Karena Emma punya pacar? Lalu mengapa Emma yang punya pacar menjadi alasan dia marah?
"Aku hanya mengagumi caranya berempati pada Ibu Dion. Itu saja...." Desahnya. Ia kembali merebahkan badannya di ranjang dan mengulung selimutnya sehingga dirinya tampak seperti kepompong berwarna hijau.
.
.
.
Di keesokan harinya, Emma kembali berangkat bekerja seperti biasa. Hanya saja kali ini ia berharap tidak bertemu dengan Levi. Ia sangat tidak mau mencari alasan untuk pertanyaan yang terakhir kali Levi lontarkan. Kalau ujung-ujungnya dia akan berkata bohong, mending sekalian tidak bertemu saja.
Sepertinya langit tidak mendengarkan doanya. Baru saja ia memasuki gerbang sekolah, ia sudah melihat Levi yang sedang membaca mading di lobi.
"Haishhh!"
Emma berusaha berjalan cepat kearah pintu samping dengan kepala tertunduk.
Dan Emma berhasil melarikan diri dari Levi, paling tidak untuk saat ini.
Dia melihat ke belakang berulang kali sambil berjalan lurus untuk memastikan Levi tidak mengikutinya. Sampai tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Ehem!"
Suara itu berasal dari seorang laki-laki paruh baya yang berambut botak tengah dan berperut bundar.
"Aren...eh.. Pak Surya!" Gagap Emma.
"Bu Emina!!!! Ke kantor saya sekarang juga!" Bentak Pak Surya di depan hidung Emma, sampai ia bisa mencium bau sarapan Pak Surya.
"Anda ini sudah tidak mau bekerja disini ya?"
Pak Surya duduk di singgah sananya sedangkan Emma berdiri di depan meja kepala sekolah berpura-pura introspeksi.
"Anda ini baru saja bekerja satu minggu tapi sudah berani bolos bekerja. Bukankah kelas anda cuma dua? Tapi anda malah mangkir dan seenaknya saja pulang tanpa ijin?"
Semua yang dikatakan Aren Gentong itu benar sih, tapi itu juga karena Levi yang hampir saja membuat penyamarannya terungkap.
"Maafkan saya Pak, saya tidak akan melakukannya lagi," ucap Emma.
"Ha...." Pak Surya menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah, saya sudah mengutus Pak Levi untuk mengawasimu sementara waktu. Kalau Pak Levi sampai melaporkan anda melakukan kesalahan, maka anda tamat!" Ancam Pak Surya.
"Pak Levi? Tapi Pak... Jangan Pak Levi... Mending Pak Martin," usul Emma.
"Siapa Kepala Sekolahnya disini? Anda?" Sarkas Pak Surya.
"Bukan Pak."
"Lalu?"
"Lalu apa Pak?"
"Lalu, Bu Emina harus kembali bekerja. Sekarang!" Bentaknya membuat Emma langsung melarikan diri.
"Oh ya, ada perubahan jadwal. Sekarang anda mendapat kelas tambahan. Silahkan cek di Wakakurikulum," tambah Pak Surya.
"Baik Pak," lalu Emma meneruskan pelarian dirinya.
.
.
"Kenapa harus Levi? Why? Why?"
Emma menghentakkan kakinya begitu keluar dari ruang Kepala Sekolah.
"Fokus Emma! Yang penting untuk saat ini kamu tidak boleh bertemu Levi dulu sampai dia lupa tentang kemarin," gumamnya.
Baru saja ia berniat untuk menemui Wakakurikulum berkaitan dengan jadwal mengajarnya, tapi di seberang lorong ia melihat Levi yang berjalan santai.
Whooop!!
Emma langsung berbalik arah dan memilih jalan memutar.
"Fyuh hampir saja!"
Emma pikir kebetulan itu berakhir saat itu. Tapi dalam kenyataannya, ia berulang kali hampir berpapasan dengan Levi.
Saat ia ingin masuk kelas, dia hampir bertatapan dengan Levi sehingga ia harus kembali berbalik arah kembali. Lalu saat di kantin, dia juga hampir bertemu dengan Levi. Jadi ia mengurungkan niatnya untuk makan meskipun monster dalam perutnya sudah meraung.
Kejadian itu juga hampir terulang saat ia ingin ke toilet. Dan lagi-lagi ia harus berjalan memutar kembali.
Entah berapa kali hari ini ia harus berjalan memutar hingga kakinya pegal.
"Oke aku disini saja!" Emma menggerutu dan memilih berdiam diri di ruang guru.
Sepetinya idenya cukup berhasil. Dia ruang guru, dia hanya sendirian sampai hampir mendekati jam pulang.
"Hoam!!! Ngantuk banget deh!"
Rasa kantuk mendadak menguasai tubuhnya. Dengan kesadaran penuh, ia meletakkan kepalanya di meja dan mulai menutup matanya.
"Capek banget...." Katanya sebelum matanya benar-benar terpejam.
Ada mungkin setengah jam Emma tertidur di ruang guru itu, sampai ia merasakan sentuhan di kepalanya.
Sentuhan itu sangat lembut hingga Emma merasa bahwa orang itu sedang menghitung satu persatu rambutnya.
"Ngggh..." Emma perlahan membuka matanya.
Betapa terkejutnya bahwa orang yang sedang membelainya adalah Levi.
"Levi?"
Emma terperanjat dan langsung berdiri.
"Maaf aku harus pulang!" Tegasnya ketika Levi hampir menyentuh tangannya.
Namun sekali lagi, tubuhnya ini susah sekali dikendalikan. Alih-alih meneruskan langkahnya, Emma malah terjatuh lemas di pelukan Levi yang ada di belakangnya.
Ia tersungkur dengan kesadarannya yang semakin menurun, membuat Levi berulangkali memanggil nama Emina untuk membangunkannya. Namun Emma akhirnya terkulai tak sadarkan diri.