Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik Status
Masa sekolah Ezra Pratama sudah selesai dan hari ini, dia akan menerima kenaikan pangkatnya menjadi kolonel. Calista pagi - pagi sudah sibuk di dapur menyiapkan makan pagi. Semalam dia menghubungi kedua anak laki - lakinya, Calista meminta ijin dari oma dan opanya juga papa mereka untuk hadir bersama dia dalam upacara itu.
Bunyi klakson mobil. Tama ke depan, ternyata Tian mengantar kedua anaknya untuk menghadiri acara yang dimaksud, Calista juga melihat mereka membawa masing - masing satu kantong paperback ukuran sedang.
"Selamat pagi Tama."
"Selamat pagi kak Tian."
"Aku antar Daniel dan Liam, agar bisa menemani mami mereka dalam acara pelantikan papi mereka juga."
"Terima kasih ya kak Tian. Ini kebahagian sekali bagi saya."
"Selamat Tama, aku pribadi beserta papa dan mamaku berbahagia atas prestasi kamu. Kami bahagia buat pencapaian kamu."
"Sekali lagi terima kasih kak. Terima kasih. Nanti aku dan mami mereka yang akan mengantar mereka pulang." Daniel dan Liam, sudah ada di dalam rumah karena mereka sangat rindu dengan baby Eliana adik bungsu mereka. Tadi mereka berdua sudah pelukan dengan papa mereka.
Baby Eliana tidak mau pisah dari kedua kakaknya. Lengket sekali.
"Mami lihat, sepertinya adek ini saingan mami deh."
"Mami cemburu sama adek."
"Iya, kalian belum mencium mami sudah main sama adek. Sama seperti papi, pulang dari kegiatan apa saja, yang di cari adek." Daniel tanpa banyak bicara langsung memeluk maminya dan mencium kening maminya sangat lama.
"Harus sehat ya mami. I love you."
"Love you more."
"Kakak ayo gedong adek. Liam takut di kutuk seperti Malin Kundang. Takut jadi anak durhaka." Daniel langsung mengendong adeknya. Dan Liam memeluk maminya sangat erat. Tama yang melihatnya langsung menghampiri istrinya dan dicium bibir istrinya, kemudian dia memeluk ketiga anaknya bersama Calista istrinya.
"Papi sayang kalian semua. Hanya mami, Daniel, Liam dan Elina keluarga papi. Jangan tinggalin papi ya."
"No, papi tetap di hati." Daniel mencium pipi papinya.
Lapangan apel di markas besar angkatan darat sudah dipenuhi oleh banyak orang. Kolonel dokter Ezra Pratama spesialis onkologi sudah berbaris. Upacara dimulai sampai akhir, Daniel tetap mengabadikan moment ini dengan kamera kecilnya yang baru dia beli di luar negeri hadiah dari papanya. Daniel beserta Liam baru pulang liburan dari Korea bersama papa, opa, oma dan tante mereka.
Kolonel dokter Ezra Pratama sangat terharu waktu melihat istri dengan ketiga anaknya datang membawa bunga dan hadiah mereka. Sedangkan Calista juga membawa bunga dan hadiah bagi istrinya. Selesai memasang pangkat yang baru mereka foto bersama. Daniel dan Liam membeli hadiah bunga, sepatu dan stetoskop kepada papi mereka.
Calista melihat perubahan raut wajah suaminya waktu menerima hadiah itu. Daniel, Liam dan Eliana mencium papi mereka. Selesai upacara mereka kesebuah restoran yang sudah dibooking oleh Tama. Lima menit setelah mereka tiba, Tian bersama orangtuanya dan juga kakak perempuannya juga hadir.
"Papa....Oma.....opa.....tante...." Liam langsung memeluk mereka di ikuti oleh Daniel.
"Terima kasih papa. Sudah bergabung bersama kebahagiaan kami." Christian Wijaya sangat bahagia. Dia merasakan bagaimana Daniel memperlakukan dia seperti ini.
"Papa, bersama tante ,oma dan opa juga keluarga papi Tama kan."
"Iya dong. Terima kasih papa." Liam yang merespon pertanyaan papanya. Sementara Calista hanya bisa meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka, bahwa dua keluarga ini akan baik - baik saja, setelah hampir empat belas tahun dia sangat membenci mantan suaminya ini. Tama memegang tangan istrinya sangat erat.
"Are you oke honey??" dan Tama langsung menanyakan keadaan istrinya. Direspon dengan senyuman manisnya Calista dan anggukan kepala. Tama bahagia setelah direspon seperti itu oleh istrinya dan dia tahu bahwa Calista Gunawan istrinya sedang baik - baik saja.
Makan siang pun terjadi sangat hangat dan kekeluargaan. Christian Wijaya mengakui sungguh bahwa kedua anak laki - lakinya bersama Calista Gunawan adalah pembawa sukacita bagi keluarga ini. Kami tidak canggung. Dan satu lagi, Daniel dan Liam tidak perna malu mengakui bahwa mereka mempunya dua papa yang hebat. Papa kandungan mereka Christian Wijaya seorang CEO Wijaya Grup perusahaan besar dan papi sambung mereka Kolonel dokter Ezra Pratama spesialis onkologi, dokter tentara hebat.
"Ta, karena anak - anak masih libur, mama ijinkan mereka bersama kamu."
"Iya papa juga ijinkan."
"Ita sih mau ma, pa. Tetapi tergantung mereka dan papa mereka."
"Papa please... Liam mau bobo sama mami."
"Boleh. Tetapi tidak boleh buat papi atau mami repot ya."
"Horeeeeeee..... Elina senang ada kakak, papi dirumah. Terima kasih papa." Elina yang baru berumur empat tahun ini merasa bahagia. Meskipun dia belum mengerti masalah orangtuanya. Tetapi dia bahagia. Karena kakak - kakaknya memanggil Tian papa, maka dia pun ikutan.
"Sama - sama Elina sayang."
"Terima kasih oma, opa. Elina sudah dapat ole - ole dari Korea."
"Iya sayang."
Karena liburan anak - anak masih seminggu, Tama mengajak mereka berlibur ke Thailand.
"Mas... Serius??!!"
"Iya sayang."
Besok harinya mereka berangkat liburan ke Thailand. Semalam bibi di rumah keluarga Wijaya sudah menyiapkan koper Liam dan Daniel. Untuk liburan ke Thailand. Pagi - pagi, papanya yang mengantar koper itu langsung.
"Ingat Daniel, jangan buat papi dan mami repot ya."
"Siap papa." Tian memberikan kartu kredit kepada anaknya. Karena Daniel sudah besar dan bertanggung jawab, maka di percayakan oleh Tian untuk memegang kartu itu. Sebenarnya kartu ini sudah disiapkan Tian sangat lama. Dia menabung buat anak ini. Dan waktu liburan di Korea dia belum memberikan karena mereka bersama. Dan sekarang saatnya dia berikan.
Semalam Tian sudah memohon ijin kepada Tama dan menjelaskan semua. Dan Tama paham.
"Aku pamit dek."
"Terima kasih ya kak Tian. Aku akan jaga mereka seperti aku menjaga Elina."
"Aku tahu itu, kamu itu papi sayang hebat. Aku titip mereka lagi ya."
"Siap kak."
"Daniel, Liam ingat bantu papi, jaga Adek bersama mami. Selamat liburan lagi jagoan papa."
Kembali kebahagian dirasakan oleh Calista Gunawan mami dari anak - anak hebat itu. Meskipun Tama lebih setahun dari dia. Namun Tama orang yang dewasa, suami yang hebat. Yang dari pacaran dia sudah meratukan Calista dan menerima kekurangan Calista yang saat itu sedang hamil dan sudah bercerai dengan Christian Wijaya.
Penerbangan tiga jam lebih dilalui oleh keluarga ini. Kali ini mereka memilih penerbangan langsung tanpa transit. Dan mereka tiba di bandara udara Don Mueang di kota Bangkok. Karena tadi penerbangan jam delapan pagi dari Jakarta maka mereka tiba jam sepuluh pagi dan langsung menuju penginapan yang sudah Tama booking sehari sebelum mereka berangkat.