NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015: Hukum Menghampiri

“Ardi, sudah saatnya kita selesaikan urusan dengan keluarga Pradana. Saya sudah siapkan tim pengacara.”

Suara Hartono di ujung telepon tidak keras, tetapi membuat koridor IGD yang masih berantakan terasa berubah.

Map pasien masih tercecer. Satu meja triase miring. Noda ludah di jas dokter Ardi belum sempat dibersihkan.

Namun untuk pertama kalinya sejak Rangga Pradana masuk ke hidupnya lagi, Ardi tidak hanya memegang kemarahan.

Ia memegang bukti.

Video ponsel. Rekaman CCTV. Kesaksian satpam. Kesaksian perawat. Laporan polisi. Dan yang paling penting, satu nama yang akhirnya keluar dari mulut pelaku bayaran.

Pradana.

“Saya tidak ingin main kotor, Pak Hartono,” kata Ardi.

“Justru karena itu kita pakai hukum,” jawab Hartono. “Orang seperti mereka selalu merasa uang bisa menutup pintu. Kita buka pintu itu dengan prosedur yang benar.”

Pagi harinya, Kantor Hukum Prabowo & Rekan datang ke RSUD Soetomo.

Mereka tidak datang dengan suara besar. Tiga pengacara masuk membawa map tebal, surat kuasa, dan daftar bukti yang disusun seperti pisau bedah. Setiap video diberi nomor. Setiap saksi dicatat. Setiap menit kerusuhan dipetakan.

Di ruang rapat kecil rumah sakit, Direktur Hendra duduk bersama Dokter Fajar, bagian hukum RSUD, dan perwakilan Polres Surabaya. Ardi duduk di ujung meja, masih memakai jas dokter bersih yang dipinjam dari ruang staf.

Pengacara utama, Pak Prabowo, membuka berkas.

“Ada tiga jalur yang akan kami dorong,” katanya. “Pidana untuk penghasutan dan gangguan pelayanan kesehatan, gugatan perdata atas kerugian pelayanan dan trauma pasien, serta laporan etik internal terhadap pegawai rumah sakit yang lalai saat insiden terjadi.”

Hendro yang duduk di sisi lain meja langsung mengangkat kepala.

“Maksud Anda siapa yang lalai?”

Pak Prabowo menoleh tanpa emosi. “Siapa pun yang seharusnya bertugas tetapi meninggalkan pos tanpa alasan sah saat IGD diserang.”

Wajah Hendro menegang.

Fajar meletakkan satu lembar print-out di meja. “Ini rekaman pintu samping. Dokter Hendro keluar dua puluh menit sebelum massa masuk. Tidak ada catatan izin di sistem jaga.”

“Saya ada urusan pribadi sebentar,” kata Hendro cepat.

“Saat Anda penanggung jawab shift?” suara Direktur Hendra turun.

Hendro membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ardi tidak ikut bicara. Ia tahu, ada saat ketika diam lebih tajam daripada tuduhan.

Sore itu, Polres Surabaya resmi meningkatkan perkara.

Nama Rangga Pradana masuk dalam berita acara pemeriksaan sebagai pihak yang diduga mengatur dan mendanai aksi. Dua pelaku mengakui menerima uang tunai melalui perantara. Satu lagi menunjukkan pesan singkat dari orang yang memakai instruksi: bikin dokter itu mukul duluan.

Kalimat itu menjadi titik balik.

Rangga tidak lagi bisa bersembunyi di balik kata simpati keluarga korban.

Ketika polisi memanggilnya, ia datang dengan dua pengacara mahal dan wajah yang masih mencoba tersenyum.

Di ruang tunggu Polres, Rangga melihat Ardi berdiri bersama Pak Prabowo.

“Kamu puas?” bisiknya saat melewati Ardi.

Ardi menatapnya datar. “Belum.”

Senyum Rangga hilang.

Beberapa jam kemudian, dari kantor PT Surya Perkasa Group, tekanan mulai turun seperti hujan batu.

Ada telepon ke direksi rumah sakit. Ada tawaran donasi alat kesehatan. Ada pesan lewat orang ketiga bahwa masalah ini “lebih baik diselesaikan baik-baik demi nama besar institusi”.

Surya Pradana tidak datang langsung.

Orang sebesar itu tidak perlu muncul untuk membuat orang kecil gemetar. Ia cukup mengirim pengacara senior dengan suara licin dan proposal sumbangan senilai miliaran rupiah.

Pengacara itu duduk di depan Direktur Hendra dan berkata, “Pak Surya sangat menghormati RSUD Soetomo. Beliau bersedia membantu pengadaan alat medis. Sebagai gantinya, kita bisa menutup perkara ini sebagai kesalahpahaman massa.”

Direktur Hendra menutup proposal itu tanpa membaca halaman kedua.

“Rumah sakit ini menerima donasi untuk pasien,” katanya. “Bukan untuk menghapus gangguan terhadap pelayanan medis.”

Pengacara itu masih tersenyum. “Direktur, Anda paham siapa Pak Surya.”

“Saya paham,” jawab Direktur Hendra. “Karena itu saya ingin semua tertulis resmi. Kalau ada tekanan, biar tercatat.”

Di luar ruangan, Fajar mendengar kabar itu dan hanya berkata kepada Ardi, “Hari ini saya mulai percaya rumah sakit ini masih punya tulang punggung.”

Kasus bergerak cepat karena bukti terlalu bersih.

Dua minggu berikutnya menjadi rentetan pintu yang terbuka dan tertutup: Polres, kejaksaan, Pengadilan Negeri Surabaya, ruang tunggu dengan kursi plastik, lorong berbau kertas lama, dan kamera wartawan lokal yang menunggu potongan kalimat.

Rangga mencoba segala cara.

Ia bilang tidak mengenal para pelaku. Bukti transfer muncul.

Ia bilang uang itu untuk kegiatan sosial. Pesan instruksi muncul.

Ia bilang tidak menyuruh kekerasan. Video menunjukkan pelaku memancing Ardi agar memukul, lengkap dengan nama Ardi disebut berulang.

Di persidangan, jaksa berdiri dan membacakan kronologi dengan suara keras.

“Terdakwa tidak hanya menyebabkan keributan. Terdakwa mengganggu akses pasien gawat darurat, membahayakan tenaga kesehatan, dan mencoba menciptakan bukti palsu untuk menyerang reputasi dokter.”

Rangga duduk di kursi terdakwa dengan rahang mengeras. Jasnya mahal, rambutnya rapi, tetapi matanya tidak lagi setinggi saat di ballroom hotel.

Di bangku pengunjung, Ardi duduk di samping Fajar dan Hartono.

Rangga sempat menoleh.

Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.

Dulu Rangga menatap Ardi seperti melihat bekas narapidana yang bisa diinjak kapan saja.

Hari ini, di bawah lambang pengadilan, Rangga yang harus mendengar kesalahannya dibacakan satu per satu.

Putusan dibacakan menjelang siang.

“Menjatuhkan pidana penjara selama tiga tahun dengan masa percobaan dua tahun, serta denda dan ganti rugi kepada pihak terdampak. PT Surya Perkasa Group sebagai pihak yang terbukti terkait pendanaan kegiatan dikenakan kewajiban kompensasi sebesar Rp4,2 miliar.”

Ruang sidang meledak dalam bisik tertahan.

Rangga berdiri dengan wajah pucat. Pengacaranya segera berbisik tentang banding, tentang upaya hukum, tentang menjaga media.

Tetapi kerusakan sudah terjadi.

Namanya masuk catatan pengadilan. Nama Pradana tidak lagi hanya beredar sebagai bisikan gelap di belakang Ardi. Nama itu sekarang menempel pada perkara hukum.

Hartono mencondongkan tubuh sedikit ke arah Ardi. “Ini belum akhir. Tapi mulai hari ini, mereka tahu kamu tidak sendirian.”

Ardi mengangguk.

Di RSUD Soetomo, palu kedua jatuh pada sore yang sama.

Direktur Hendra memanggil Hendro ke ruangannya. Fajar hadir sebagai pelapor. Ardi tidak dipanggil, tetapi saat ia melewati koridor administrasi, pintu ruangan terbuka dan suara Direktur terdengar jelas.

“Dokter Hendro, Anda tidak lagi bertugas di IGD. Mulai besok, Anda dipindahkan ke bagian rekam medis sambil menunggu evaluasi lanjutan.”

“Pak Direktur, ini tidak adil!” suara Hendro pecah. “Saya hanya keluar sebentar!”

“Sebentar yang membuat IGD tanpa salah satu penanggung jawab saat diserang massa.”

Beberapa menit kemudian, Hendro keluar.

Matanya merah. Tangannya menggenggam surat keputusan sampai kertas itu terlipat.

Ia melihat Ardi di koridor.

“Kamu pikir sudah menang?” desisnya.

Ardi menatap papan nama ruang rekam medis di ujung lorong, lalu kembali ke Hendro.

“Saya pikir pasien IGD lebih aman mulai besok.”

Wajah Hendro berubah seperti ditampar.

Ia ingin membalas, tetapi tidak ada jabatan, tidak ada ruangan, tidak ada massa bayaran yang bisa ia pakai saat itu. Yang tersisa hanya kebencian.

Panel biru muncul di depan mata Ardi.

[Milestone tercapai.]

[Perlindungan institusi medis berhasil.]

[Kemenangan hukum pertama atas jaringan Pradana.]

[Hadiah: 50 PM.]

[Saldo PM: 110.]

Ardi menutup mata sekejap.

Kemenangan itu tidak menghapus tahun yang hilang. Tidak mengembalikan malam-malam di sel. Tidak langsung membawanya kepada Gatra dan Sari.

Tetapi untuk pertama kalinya, sistem, hukum, dan orang-orang yang berdiri di sisinya bergerak ke arah yang sama.

Ketika ia kembali ke ruang dokter, sebuah paket kecil sudah menunggu di meja.

Pengirimnya dari Jakarta.

Profesor Sri Mulyani Hartono.

Di dalamnya ada surat resmi berkop IDI: undangan menghadiri Forum Tahunan Bedah Jantung dan Pembuluh Darah di Jakarta. Di bawah surat itu, terselip selembar kartu putih dengan tulisan tangan rapi.

Saya mendengar kabar tentang kasus Anda. Keberanian butuh panggung yang lebih besar. Datanglah ke Jakarta.

Ardi belum sempat melipat kembali kartu itu ketika panel sistem menyala lebih terang dari biasanya.

+--------------------------------------+

| Misi Berantai Terdeteksi! |

| Tahap 1/5: Menemukan Kebenaran |

| Petunjuk: Obat "Bronkosol" |

| memiliki efek samping tersembunyi |

| yang belum dilaporkan. |

| Hadiah Tahap 1: 100 PM |

+--------------------------------------+

Di bawah panel itu muncul satu baris tambahan.

[Sumber kebenaran berada lebih dekat dari yang Anda kira.]

Ardi menatap kata Bronkosol.

Nama obat itu terasa asing, tetapi rasa dingin yang naik di tengkuknya tidak asing.

Ini bukan sekadar tugas baru.

Ini bau kasus lama.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!