NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Distrik Selatan ibukota Kerajaan Shenghua adalah kebalikan total dari kemegahan Istana Utara.

Di sini, jalan-jalan berbatu tidak rata, dipenuhi genangan air hujan dan lumpur. Bangunan-bangunannya rendah, terbuat dari kayu tua yang lapuk, dan udaranya penuh dengan aroma rempah-rempah tajam, ikan asin, dan keringat manusia kelas bawah.

Ini adalah tempat di mana hukum kekaisaran sering kali hanya menjadi saran, bukan aturan. Dan itu adalah tempat yang sempurna untuk perangkap.

Putri Li Yuexin menyamar sebagai seorang pedagang barang antik wanita, mengenakan jubah cokelat sederhana dengan tudung kepala yang menutupi sebagian besar wajahnya.

Sedangkan Qingyu, menyamar sebagai pembantunya, membawa sebuah peti kayu kecil yang dikunci rapat. Di dalam peti itu, tidak ada dokumen rahasia Selir Liu. Isinya hanyalah tumpukan kertas kosong dan beberapa batu bata untuk memberikan bobot.

Mereka duduk di sebuah kedai teh kumuh di persimpangan jalan utama Distrik Selatan. Kedai ini dipilih karena lokasinya strategis, satu-satunya jalan keluar menuju pasar gelap, dan memiliki pandangan luas ke arah lorong-lorong sempit di sekitarnya.

"Nona," bisik Qingyu, matanya terus-menerus memindai kerumunan. "Apakah umpan ini akan berhasil? Pangeran Jianyu adalah orang penting. Apakah dia benar-benar akan datang sendiri ke tempat kotor seperti ini?"

"Dia tidak akan datang sendiri," jawab Putri Li Yuexin pelan, menyesap teh pahit yang disajikan pelayan kedai. "Dia akan mengirim agen terbaiknya. Orang yang bisa bergerak tanpa jejak. Dan ketika agen itu mengambil 'dokumen' palsu ini, kita akan mengikutinya. Jejak itu akan membawa kita langsung ke sarang Pangeran Jianyu, atau setidaknya ke kontak rahasianya."

Ini adalah strategi honey pot klasik. Memancing musuh dengan informasi yang mereka inginkan, lalu melacak siapa yang mengambilnya.

Satu jam berlalu.

Dua jam berlalu.

Kerumunan mulai menipis saat senja mendekat. Putri Li Yuexin mulai merasa cemas. Apakah Pangeran Jianyu terlalu cerdas untuk terjebak? Atau apakah dia sudah tahu bahwa ini adalah jebakan?

Tiba-tiba, suasana di kedai berubah. Para pelanggan yang tadinya ribut tiba-tiba diam. Seorang pria tinggi besar memasuki kedai. Dia mengenakan jubah hitam polos, topi bambu lebar menutupi wajahnya, dan tangan kanannya selalu berada dekat gagang pedang di pinggangnya.

Dia tidak duduk. Dia langsung berjalan menuju meja Putri Li Yuexin.

"Peti itu," kata pria itu. Suaranya dalam dan datar, tanpa emosi.

Putri Li Yuexin tidak menoleh. Dia tetap menatap cawan tehnya. "Barang ini bukan untuk dijual sembarangan. Pembeli harus menunjukkan bukti kemampuan membayar."

Pria itu melemparkan sebuah kantong kain ke atas meja. Bunyi logam berat terdengar. Emas murni. Jumlah yang cukup untuk membeli seluruh kedai ini.

"Buka petinya," perintah pria itu.

Putri Li Yuexin tersenyum tipis di balik tudungnya. Dia memberi isyarat pada Qingyu. Qingyu dengan tangan gemetar membuka kunci peti kayu itu. Dia membukanya sedikit, memperlihatkan tumpukan gulungan kertas di dalamnya, lalu segera menutupnya kembali.

"Dokumen asli ada di dalam," kata Putri Li Yuexin. "Tapi transaksi selesai di tempat lain. Tempat yang lebih aman."

Pria itu mengangguk. "Ikuti aku."

Dia berbalik dan berjalan keluar kedai, masuk ke sebuah lorong sempit di belakang bangunan yang dipenuhi tumpukan bambu kuning kering.

Putri Li Yuexin dan Qingyu segera berdiri, meninggalkan beberapa koin perak di meja, dan mengikuti pria itu dari jarak aman.

Lorong itu gelap dan berliku, dinding bambu di kedua sisi menciptakan labirin alami yang membingungkan. Pria hitam itu berjalan dengan cepat, namun langkahnya ringan, seolah-olah dia mengenal setiap belokan.

Setelah sepuluh menit berjalan, mereka mencapai sebuah halaman kecil tertutup di tengah tumpukan bambu. Di sana, tidak ada rumah. Hanya sebuah sumur tua yang ditutupi papan kayu.

Pria hitam itu berhenti di depan sumur. Dia menoleh, memastikan Putri Li Yuexin dan Qingyu masih mengikutinya.

"Serahkan petinya," katanya.

Putri Li Yuexin menyerahkan peti itu. Pria itu membukanya, memeriksa isinya sekilas, lalu tertawa kecil. Suara tawanya dingin dan meremehkan.

"Kertas kosong," gumamnya. "Seperti yang diduga oleh Pangeran."

Jantung Putri Li Yuexin berhenti berdetak sesaat. Tuan Muda? Apakah dia tahu?

Sebelum Putri Li Yuexin bisa bereaksi, empat sosok lain muncul dari balik tumpukan bambu di sekeliling halaman. Mereka semua mengenakan pakaian hitam serupa, memegang pedang pendek yang berkilau di cahaya remang-remang.

Pengepungan.

Pria pemimpin itu melempar peti kosong ke tanah. "Putri Li Yuexin. Atau haruskah aku menyebutmu 'Phoenix Licik'? Pangeran Jianyu mengucapkan terima kasih atas usahamu memancing kami keluar. Tapi sayangnya, Pangeran lebih pintar daripada yang kau kira."

Putri Li Yuexin mundur selangkah, tangannya secara refleks meraih pisau belati kecil yang disembunyikan di balik lengan bajunya. Qingyu juga siap bertarung, meski wajahnya pucat.

"Jadi, ini jebakan ganda?" tanya Putri Li Yuexin tenang, meski adrenalin membanjiri darahnya. "Kalian tahu aku akan memasang umpan, jadi kalian memasang umpan palsu untuk menangkapku?"

"Tepat sekali," kata pemimpin itu. "Pangeran ingin bertemu denganmu. Secara pribadi dan dia tidak suka tamu yang datang tanpa undangan."

Dia memberi isyarat. Keempat anak buah lainnya maju, membentuk lingkaran ketat di sekitar Putri Li Yuexin dan Qingyu.

Putri Li Yuexin menilai situasi, lima lawan bersenjata. Dia dan Qingyu hanya memiliki pisau kecil. Pelarian hampir mustahil. Tapi menyerah berarti dibawa ke hadapan Pangeran Jianyu, yang mungkin akan membunuhnya di tempat sepi tanpa saksi.

Dia harus menciptakan kekacauan.

"Qingyu," bisik Putri Li Yuexin tajam. "Asap."

Qingyu segera melemparkan sebuah bola kecil ke tanah.

Puff!

Asap putih tebal dan berbau menyengat meledak, memenuhi halaman kecil itu dalam hitungan detik.

"Bunuh mereka!" teriak pemimpin itu, suaranya teredam oleh asap.

Pedang berdesing di udara. Putri Li Yuexin menarik Qingyu, menerobos ke arah kiri, di mana dia ingat ada celah di tumpukan bambu saat mereka masuk. Dia menggunakan pisau belatinya untuk menebas tali pengikat bambu yang menghalangi jalan.

Bam!

Sebuah batang bambu besar runtuh, menciptakan penghalang sementara antara mereka dan para pembunuh.

"Lari!" seru Putri Li Yuexin.

Mereka berlari menyusuri lorong-lorong sempit Distrik Selatan, mendengar teriakan marah para pembunuh di belakang mereka. Jantung Putri Li Yuexin berdegup kencang, napasnya tersengal-sengal. Ini bukan lagi permainan catur. Ini adalah pertarungan hidup dan mati.

Mereka berbelok ke kanan, lalu kiri, mencoba menghilangkan jejak. Akhirnya, mereka menemukan sebuah pintu belakang toko kelontong yang terbuka. Putri Li Yuexin menyeret Qingyu masuk, menutup pintu, dan menguncinya dari dalam.

Di dalam toko yang gelap dan berdebu, mereka berdiam diri, mendengarkan langkah kaki para pembunuh yang berlari lewat di luar.

Setelah lima menit hening, Putri Li Yuexin menghela napas panjang. Tangannya masih gemetar, tapi bukan karena takut. Karena marah.

Pangeran Jianyu tahu, dia tahu rencananya. Dan dia sengaja membiarkan Putri Li Yuexin merasa menang sebelum menjebaknya.

"Nona..." Qingyu menangis pelan, tubuhnya menggigil. "Kita hampir mati."

Putri Li Yuexin memeluk bahu Qingyu, menenangkannya. "Kita selamat, Qingyu. Dan kita belajar sesuatu yang sangat berharga malam ini."

"Apa itu, Nona?"

Putri Li Yuexin menatap kegelapan toko, matanya berkilat dingin.

"Pangeran Jianyu tidak hanya licik, dia punya jaringan mata-mata yang sangat efisien di Distrik Selatan dan dia tidak main-main. Jika dia bisa memprediksi langkahku hari ini, berarti ada kebocoran informasi di dalam istana. Atau... ada seseorang di sisiku yang berbicara padanya."

Kecurigaan itu menusuk hati Putri Li Yuexin lebih tajam daripada pedang mana pun. Pengkhianatan dari dalam.

Siapa?

Qingyu? Tidak mungkin. Dia telah bersama Putri Li Yuexin sejak kecil.

Kasim Zhou? Dia membantu, tapi motifnya masih misterius.

Atau... seseorang yang baru saja masuk ke lingkaran kepercayaan Putri Li Yuexin?

Putri Li Yuexin mengepalkan tinjunya. Perang ini semakin kotor dan dia harus menemukan tikus itu sebelum tikus itu menggigit lehernya.

"Kita pulang melalui jalur sungai," perintah Putri Li Yuexin. "Jangan kembali ke Istana Bulan Giok lewat gerbang utama. Kita akan masuk melalui saluran pembuangan lama di taman belakang. Malam ini, aku ingin memeriksa daftar pengunjung perpustakaan selama seminggu terakhir. Ada nama yang harus aku coret."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!