Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana untuk Bintang
“Dia... seangkatan saya di kampus dulu.” Sahut Arumi. “Dan dia menggoda suami saya.” Wanita itu menunjukkan screen shot WA dari Bintang. “Mereka bertemu kembali saat reuni kampus. Mas Ary memang tidak pernah membalas pesan-pesan semacam ini, dan seharusnya saya sudah terbiasa. Tapi, khusus untuk Bintang, akan saya tanggapi dengan serius. Kalau perlu saya perpanjang masalahnya.”
“Wih, kayaknya dendam kesumat ini.” Desis Tony.
"Bintang tidak pernah berubah," suara Arumi terdengar rendah namun sarat akan kebencian. "Dulu di kampus, dia pernah menduplikat tesis saya mentah-mentah. Dia kumpulkan lebih dulu, dan saat giliran saya, Mas Ary menolak skripsi saya karena dianggap plagiat. Saya harus mengulang dari nol sementara dia tertawa di atas penderitaan saya."
Arumi mengepalkan serbet di tangannya. "Setiap hari di koridor kampus, dia mengatai saya lonte. Dia menyebar fitnah kalau saya menggoda dosen demi nilai, padahal dia sendiri yang mengejar-ngejar Mas Ary sampai ke ruang kerjanya. Dia benar-benar membuat hidup saya seperti neraka."
Denny menyandarkan punggungnya, menatap Arumi dengan senyum sarkas khasnya yang mematikan.
“Hm, takdir kadang-kadang lucu ya. Hal ini membuktikan kalau dunia ini sempit. Saking sempitnya takdir sampai berkelakar karena bosan.”
Rangga mengernyit menatap Denny, “Kesambet nih orang, ada setan filsafat yang masuk. Tobat lu Den.”
“Kalau saya tobat, yang bantu mengatasi kelicikan Pak Rangga siapa? Coldman Prancis?”
“Masih ada Atta Hasibapak.” Balas Rangga.
“Lebih elit lagi, ada Yusnyata Dihza Pahendra.” Kata Tony.
Denny mencibir sebal, lalu buang muka. “Mau denger rencana saya yang ala-ala Short Drama China nggak? Lebih ‘nendang’ daripada nyelipin petasan di kantong semar.”
Rangga berdecak, “Gue tahu nih larinya kemana. Lo mau ngusulin kalo gue harus pamer calon bini kan?! Gak bisa! Wanita macam Bintang itu kalau sudah kalah, mainnya ke dukun! Yang ada bisa keganggu hidupnya Mbak Arumi!”
“Tapi kok saya jadi tertarik ya... Dukun kamu bisa lebih kuat nggak dari dukunnya Bintang? Perang santet gitu?” Arumi jadi malah terpengaruh.
“Katanya Om Rangga dapat Khodam dari Amangkurat II.” Sembur Rian.
Rangga mengibaskan tangannya, “Saya aja nggak percaya, kok kamu percaya omongan leluhur saya? Lagipula ngapain sih main gitu-gituan, depresiasinya tinggi.” Gerutu Rangga. “Dapet duit kagak, capek doang, mana musyrik pula!”
“Rangga, kapan lagi saya bisa balas dendam sama Bintang? 10 tahun loh saya ditekannya, sampai malas keluar rumah! Semua anak kampus tahunya saya pelakornya Mas Ary, dan Mbak Rani meninggal gara-gara mergokin kami berselingkuh, dia meninggal karena sakit hati. Gitu gosipnya Rangga! Saya mau konfirmasi tapi follower saya sedikit.”
“Tuh dengerin bini lo.” Desis Denny.
“Waw, makin seru nih!” sahut Tony sambil mulai scroll ponselnya. “Harus siap-siap baju branded, cincin berlian, sepatu dari eropa, biar gaya Mbak Arumi nggak kayak emak-emak jemput anak maen bola.”
“Tapi Mbak!”
“Kalo gitu saya yang akan muncul sendiri di kantor kamu untuk berantem sama Bintang. Modal berantem saya sudah cukup. Duit kamu, dan pesan WA hasil screenshot.”
“Dan saya, jangan lupa.” Sahut Denny malah ngompor-ngompori. “Saya bersedia membantu.”
Mata bulat Arumi membesar menatap Denny, “Waah, baru kali ini saya anggap kamu orang baik. Ternyata kalau jadi teman, kamu banyak menguntungkannya. Kalau jadi rival, Rian hampir saja nonjok hidung kamu biar melesak ke dalam loh. Anak seumuran dia kan nggak takut dipidana.”
Denny mencebik sambil menatap Rangga. Rian itu mirip mereka dulu. Namanya di sekolah laki-laki, ya hari-hari yang mereka jalani nggak jauh-jauh dari berantem. Sebelum orang tua Denny meninggal, dia juga termasuk anak yang tak gentar terhadap rintangan apa pun.
“Hem... Denny bersedia membantu orang lain?” Rangga tersenyum licik. “Ooooh, saya mengerti.” Nada suaranya jadi berubah, kembali ke mode resmi. “Kamu ingin Bintang...”
Rangga menjeda kalimatnya, Denny pun mencondongkan tubuhnya ke arah Rangga sambil tersenyum penuh arti.
“... lepas kendali saat melihat Mbak Arumi menggandeng saya, harapannya akan berbuat hal diluar batas, sehingga memudahkan kita untuk memecatnya tanpa pesangon.”
“Cerdas!” Denny menampilkan jempolnya ke depan hidung Rangga. “Cara licik begini hanya suhu yang bisa menebaknya.”
“Sialan lu ya!” Rangga menuding Denny tapi sambil menyeringai puas.
Denny menambahkan, “Lebih enak kalau dia langsung jambak-jambakan sama calon istri Boss. Usahakan dia yang mulai duluan ya Bu, biar Bu Arumi bisa langsung laporkan kasus penganiayaan. Ibu hanya ’membela diri’. Ibu bisa balas dengan menjambaknya sekuat tenaga, keluarkan saja kebencian selama 10 tahun ini Bu!”
“Maksudnya ‘enaknya’ tuh apa...” Arumi mulai begidik melihat cara Rangga dan Denny berpikir.
Sementara Tony nambah nasi karena lapar lagi. “Saya tidak cocok jadi Direktur, baru dengar strategi saja langsung lapar, apalagi kalau disuruh merancang? Langsung pingsan mungkin.”
**
Arumi melirik Rian dan Aryo.
Rencana mereka untuk membuat Rangga mengurungkan pernikahan, masih bisa dijalankan. Dan kini adalah kesempatan emas.
Mulai taktik ‘gold diger’.
Dan karena Arumi kini tahu trauma Rangga adalah Wanita Seksi, maka Arumi akan menjadi ‘Wanita’ itu.
“Bintang adalah... orang yang glamor.” Kata Arumi sambil tersenyum. “Egonya setinggi langit. Dia sebenarnya cerdas kalau otaknya disuruh kerja. Dia bisa jadi wanita sukses. Tapi ya begitulah, karena daya saingnya tinggi, dia akan melakukan segala cara untuk menang. Terutama soal... harta dan Pria. Dan saya sekarang punya keduanya. Benar?”
Tiga Pria di depannya ini, semuanya mapan, tampan dan masih muda. Semua memiliki keunggulannya sendiri-sendiri.
Rangga sebagai puncak piramida, predator yang memiliki segalanya namun kelemahannya juga tak kalah merepotkan.
Denny ketajaman lidah hukumnya yang sanggup meruntuhkan mental lawan, namun terlalu licik dan taktis untuk hidup nyaman.
Sementara Tony yang presisi serta serba bisa sebagai motor penggerak, namun terlalu pasif dan tanpa ambisi untuk naik level.
Ketiganya berbeda tapi ada satu kesamaan.
Mereka bertiga adalah Pembenci Wanita Penggoda.
Kini mereka bertiga terpaku menatap Arumi yang sedang mengeluarkan Aura ‘Ibu Ratu’ nya secara massive. Sesuatu yang selama ini Arumi sembunyikan karena memang tak perlu dikeluarkan. Ia mengeluarkannya sekali, saat ia bersaing dengan Bintang untuk mendapatkan Ary. Ary pernah diserangnya dengan jurus ‘manja bin manis’. Membuat tawa terakhir Mbak Rani timbul karena akhirnya Ary luluh juga dengan Arumi. Membuat Mbak Rani akhirnya dengan tenang meninggalkan dunia fana.
Kini, karena keadaan terdesak, Arumi akan mengeluarkan jurus memikatnya. Tujuannya, membuat Rangga takut, membuat Denny luluh, dan membuat Tony insecure.
"Rangga," panggil Arumi, sengaja menurunkan nada suaranya menjadi sedikit mendayu—sebuah nada yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Rangga lurus-lurus dengan tatapan yang sengaja dibuat memikat. "Kalau saya mau mengalahkan Bintang di kandangnya sendiri, daster batik ini jelas harus pensiun. Saya butuh amunisi yang sepadan dengan status baru saya sebagai... calon istri kamu."
Rangga yang tadinya mulai santai, mendadak kaku. Saraf kepalanya yang trauma terhadap gerak-gerik wanita seksi langsung mendeteksi sinyal bahaya. Ia berdehem pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "M-maksud Mbak?"
"Saya mau berlian satu karat di jari manis saya. Anggap saja itu tanda pengikat transaksi bisnis kita," ujar Arumi lempeng, mulai meluncurkan taktik untuk menguji urat saraf Rangga. "Lalu saya butuh gaun paling mahal yang bisa memperlihatkan lekuk tubuh saya dengan sopan tapi tetap menantang, tas desainer dari Eropa yang harganya bisa buat beli rumah subsidi, dan sepatu hitam dengan sol merah menyala itu. Biar mata Bintang melotot sampai keluar. Gimana? Katanya uang kamu banyak? Jangan bilang kamu mau mundur sekarang hanya karena budget outfit saya?"
Arumi mengira Rangga akan panik atau menunjukkan gelagat mual karena trauma wanita seksi. Namun, ia salah besar.
Rangga tidak berkedip. Mata tajamnya yang terbiasa "mengaudit" sifat asli manusia justru menatap Arumi dengan binar yang semakin bersemangat. Di mata Rangga, se-seksi atau se-glamor apa pun Arumi mencoba berakting, esensi yang ia lihat tetaplah Arumi yang cantik, wanita tangguh yang sedang memasang pertahanan demi bertahan hidup.
"Tony," panggil Rangga, suaranya terdengar sangat lempeng namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Telepon jaringan personal shopper terbaik kita di Plaza Indonesia. Kirim semua yang Mbak Arumi minta ke rumah ini dalam waktu dua jam. Pastikan berliannya punya sertifikat GIA paling murni."
Tony yang mulutnya masih penuh dengan nasi semur jengkol langsung mengacungkan jempolnya. Untuk pertama kalinya, Tony menatap Arumi dengan tatapan terkesima yang sangat takzim. Sebagai asisten yang biasa melihat wanita sosialita yang haus harta, Tony sadar bahwa Arumi meminta semua ini bukan karena matre, melainkan sebagai modal berperang. Aura Arumi benar-benar mengintimidasi sekaligus mengagumkan di mata Tony.
"Saya butuh waktu sejam untuk dandan," ujar Arumi akhirnya, berdiri dari kursi dengan daster batiknya yang masih anggun. “Kalau baju dan sepatunya sudah datang, tolong antarkan ke kamar saya.”
**
Arumi masuk ke kamarnya dan kini di meja makan, ketiga pria itu saling lihat-lihatan sambil berpikir.
“Pak Rangga, harus hati-hati sama Bu Arumi.” Desis Denny.
“Sepertinya kini terlihat sifat aslinya.” Tony menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bukan itu yang saya khawatirkan sekarang. Saya kenal Arumi. Kalau tujuannya harta, dia tidak akan bertahan di rumah ini. Dan dia pasti sudah meninggalkan anak-anak dari kemarin.” Kata Rangga.
“Hm...”
Lalu mereka berdiam lagi.
“Sial... saya benar-benar yakin kalau dalang di balik semua ini adalah seseorang yang kita kenali. Pikiran saya itu selalu mengarah ke Bintang!” Rangga meraup wajahnya sendiri.
“Bintang tidak ada di lokasi saat itu, Pak. Mungkin Pak Rangga tersugesti oleh masa lalu. Bintang adalah selingkuhan Pak Agung dan kini dia menggoda Pak Ary. Bukti keduanya jelas. Dia juga Kepala Corsec, jadi punya wewenang untuk mengatur jadwal. Makanya karena track recordnya buruk, Pak Rangga jadi mencurigainya sebagai tersangka.” Kata Tony.
“Siapa lagi yang bisa saya tuduh selain dia? Selama ini yang gencar menggoda saya adalah dia.”
“Ya tapi kalau mau nuduh orang pakai dasar yang jelas dong!” sahut Denny.
“Gimana kalau...” Rangga mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Kita serang titik terlemah mereka. Kelima sekretaris junior itu sekarang lagi panik karena usutan Cybercrime. Gue bakal turun tangan langsung. Gue bakal kasih aja reward berlebih ke salah satu dari mereka biar yang lain terpancing? Gimana kalau Sasa aja yang kelihatannya gampang panikan?"
Denny dan Tony langsung melongo, bahkan Rian dan Aryo sampai menghentikan aktivitasnya.
"Pak Rangga, Anda sudah gila? Bapak kan alergi sama cewek begitu?" tanya Denis heran.
"Saya bakal tahan demi urusan ini," jawab Rangga dingin. "Saya akan kasih ‘perhatian lebih’ ke Sasa di kantor. Mungkin janji-janji palsu? Begitu sekretaris junior yang lain atau bahkan Bintang melihat Sasa mulai dapet posisi aman, mereka bakal panik. Mereka bakal mikir Sasa mau menyelamatkan dirinya sendiri dan menjual nama mereka ke polisi. Biarkan mereka saling serang, saling tuding karena cemburu dan ketakutan. Begitu mereka pecah kongsi, mereka sendiri yang bakal teriak kalau semua kekacauan ini adalah ide busuk dari dalang yang kita tidak ketahui."
Denny perlahan menurunkan cangkir kopinya, lalu bertepuk tangan pelan dengan binar mata yang sangat puas. "Sialan. Strategi adu domba yang cantik."
“Om Rangga nggak takut mamah bakalan cemburu?” goda Rian.
“Mamah kamu nggak bakalan cemburu. Mamah kamu bucin ke ayah kamu.”
Tapi Aryo ternyata tidak berpikir demikian. Baginya urusan orang dewasa ini sangat rumit. Dia melirik ke arah Denny yang sedang menatapnya juga.
Dalam satu adegan, mereka berdua seakan merasa kalau realita yang akan terjadi tidak akan semulus rencananya.
“Jadi kelima sekretaris itu jangan kita pecat dulu? Biarkan mereka bertanya-tanya dengan tidak tenang? Efek psikologisnya akan keluar karena merasa canggung.” Kata Tony sambil mengutak-atik ponselnya untuk memberi tahu rencana ke Kepala HRD.
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖