NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dua Pria

Setelah malam itu di atas rumah pohon, Zehar tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Ia sadar, masalah ini tidak akan selesai hanya dengan diam dan berharap keadaan berubah sendiri.

Sebagai laki‑laki yang bertanggung jawab, dan sebagai seorang perwira yang terbiasa menghadapi konflik dengan kepala dingin, ia memutuskan untuk mengambil langkah langsung.

Ia memutuskan untuk bertemu dengan Erhan, berbicara dari hati ke hati, dan menyampaikan posisinya secara jantan dan terhormat.

Melalui perantara yang bijaksana, Zehar mengirimkan pesan singkat kepada Erhan, meminta waktu bertemu empat mata di sebuah kafe yang tenang, tidak terlalu ramai, dan berada di lokasi netral. Tidak ada ancaman, tidak ada nada menantang, hanya keinginan untuk berbicara secara terbuka.

Erhan yang juga penasaran dan merasa ada hal yang belum jelas selama ini, menyetujui permintaan itu tanpa banyak ragu.

Pertemuan dijadwalkan pada sore hari, saat sinar matahari mulai meredup dan suasana di dalam kafe terasa hangat namun tetap tenang.

Begitu Zehar melangkah masuk, ia melihat Erhan sudah duduk menunggu di sudut ruangan yang paling sepi.

Erhan mengenakan pakaian santai namun rapi, raut wajahnya tenang namun terlihat waspada, seolah sudah menduga topik apa yang akan dibahas.

Zehar berjalan mendekat dengan langkah mantap, tidak tergesa‑gesa dan tidak juga terlihat gugup.

 Ia mengulurkan tangan kanannya dengan sikap hormat.

“Selamat sore. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu, Mas Erhan,” ucapnya dengan nada sopan namun tegas.

Erhan berdiri dan menyambut jabat tangan itu dengan kuat, menatap lurus ke mata Zehar.

 “Selamat sore. Aku penasaran, apa yang membuat Pak Zehar ingin bertemu denganku secara pribadi? Sejauh yang aku tahu, kita tidak memiliki urusan resmi apa pun.”

Keduanya duduk kembali, memesan minuman masing‑masing, dan selama beberapa detik tercipta suasana hening yang terasa berat.

Zehar menarik napas panjang, lalu membuka pembicaraan dengan terus terang tanpa berbelit‑belit.

“Baiklah, aku akan bicara langsung tanpa menyembunyikan apa pun. Aku Zehar, dan aku adalah kekasih Alesha. Kami sudah menjalin hubungan jauh sebelum kesepakatan antara keluargamu dan keluarganya dibuat, dan cinta itu tetap ada meski selama bertahun‑tahun kami harus terpisah karena keadaan.”

Mendengar pengakuan itu, raut wajah Erhan berubah sedikit.

Ia menegakkan punggungnya, matanya menyipit seolah menahan rasa terkejut dan juga ketidaksetujuan.

Setelah beberapa detik, ia mengangguk perlahan, lalu menjawab dengan nada yang tenang namun tegas.

“Aku sudah menduga ada hal seperti ini, tapi mendengarnya secara langsung tetap terasa berbeda. Baiklah, sekarang aku mengerti mengapa Alesha tidak pernah membuka hatinya untukku selama ini. Tapi dengarkan aku juga, Zehar. Selama tujuh tahun terakhir, saat dia terpuruk, saat dia bekerja keras siang malam, saat dia merasa kesepian dan tertekan, siapa yang ada di sampingnya? Bukan kamu. Kamu seolah menghilang begitu saja, meninggalkannya tanpa penjelasan yang jelas.”

Erhan menatap lurus ke arah Zehar, suaranya semakin mantap seolah menyampaikan kebenaran yang ia yakini.

“Aku yang selalu ada. Aku yang menemaninya saat dia lelah, yang mendengarkan keluh kesahnya, yang berusaha membuatnya tersenyum meski hanya sedikit. Aku mencintainya dengan tulus, bukan karena kewajiban semata. Aku melihat perjuangannya, aku melihat pengorbanannya, dan aku merasa akulah yang pantas berdiri di sampingnya sekarang, karena akulah yang tidak pernah pergi meski dia terlihat dingin dan tertutup.”

Kata‑kata itu terasa tajam, namun Zehar tidak membalas dengan emosi atau amarah.

Ia hanya mendengarkan dengan tenang, sesekali mengangguk seolah mengakui kebenaran dari apa yang dikatakan Erhan.

Sebagai seorang laki‑laki, ia memahami perasaan itu, rasa memiliki, rasa berhak karena telah hadir dan berkorban selama masa‑masa sulit.

Ia tidak bisa menyangkal fakta bahwa Erhan memang ada di sana saat ia tidak bisa mendekat.

“Aku mengerti apa yang kamu rasakan, Mas Erhan,” jawab Zehar perlahan, suaranya tetap rendah namun penuh keyakinan.

“Jika aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan berpikir hal yang sama. Aku tidak akan menyangkal kebaikanmu, kesabaranmu, atau kehadiranmu selama ini. Kamu telah menjadi sosok yang baik untuknya, dan aku menghargai itu dengan tulus.”

Ia berhenti sejenak, menyesap minumannya sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya dengan lebih dalam.

“Tapi izinkan aku juga menjelaskan posisiku saat itu, agar kamu tidak hanya melihat satu sisi cerita saja. Saat hubungan kami harus terputus mendadak, aku tidak pergi karena tidak cinta atau karena aku lelah. Justru sebaliknya, aku pergi karena aku sangat mencintainya, aku menghargai keputusannya saat itu sehingga aku tidak ingin dia terjebak dalam situasi yang lebih buruk.”

Zehar menatap lurus ke mata Erhan, menyampaikan setiap kata dengan jujur.

“Saat itu, aku benar-benar tidak tahu kalau keluarganya sedang berada di titik terendah. Utang menumpuk, ibunya sakit parah, dan satu‑satunya jalan yang mereka miliki adalah menerima bantuan dari keluargamu dengan syarat perjanjian sepuluh tahun. Jika saat itu aku tetap memaksakan diri untuk bersamanya, itu hanya akan memperburuk keadaan. Dia bisa dianggap melanggar janji, bantuan yang sudah diberikan bisa ditarik kembali, dan keluarganya bisa hancur lagi. Aku memilih menjauh, bukan karena berhenti mencintai, tapi aku memilih mengikuti apa katanya, membuktikan diriku, memantaskan diriku, sampai di saat aku pulang dengan posisi yang sudah bisa ia banggakan.”

Suara Zehar semakin lembut namun terasa dalam, mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.

“Selama bertahun‑tahun, aku juga tidak hidup dengan tenang. Aku bekerja keras, membangun karierku, dan menunggu di kejauhan, berharap suatu hari nanti waktu akan membebaskannya. Cintaku tidak pernah pudar, meski jarak dan waktu memisahkan kami. Setiap langkah yang aku ambil, setiap keberhasilan yang aku raih, semuanya selalu mengingatkanku padanya, wanita yang telah menempati hatiku sejak kami masih muda.”

Ia melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, namun tetap menjaga sikap hormat.

“Jadi, aku mengerti bahwa kamu merasa menjadi orang yang pantas, karena kamu ada di sisinya secara fisik. Tapi izinkan aku juga berharap kamu mengerti, meski aku terlihat menghilang, perasaanku tidak pernah pergi. Aku berjuang dengan caraku sendiri, dengan penderitaanku sendiri, hanya untuk menjaga kepercayaannya dari jauh.”

Keheningan kembali menyelimuti meja mereka setelah Zehar selesai berbicara.

Erhan terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela kaca di sampingnya, seolah sedang mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya.

Di dalam hatinya, ia merasa ada kebenaran yang selama ini belum ia ketahui. Ia melihat sisi lain dari cerita yang membuatnya menyadari bahwa apa yang terlihat di permukaan belum tentu mewakili kenyataan yang sebenarnya.

Setelah beberapa menit hening, Erhan akhirnya menoleh kembali ke arah Zehar, raut wajahnya terlihat lebih tenang dan tidak lagi penuh pertahanan.

“Jadi maksudmu, selama ini kamu juga menderita dan menunggu, sama seperti dia?” tanyanya pelan.

“Benar,” jawab Zehar mantap.

“Kami berdua hanya memilih jalan pengorbanan yang berbeda, demi menjaga satu sama lain. Dan sekarang, saat kami akhirnya bisa bertemu kembali, kami tidak ingin kehilangan kesempatan itu lagi.”

Erhan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.

“Aku mengerti maksudmu sekarang. Selama ini aku hanya melihat apa yang terlihat di depan mataku, dan aku merasa menjadi pihak yang paling berhak karena kehadiranku. Tapi mendengar penjelasanmu, aku mulai paham bahwa masalah ini lebih rumit dari sekadar siapa yang ada dan siapa yang pergi.”

Ia menatap Zehar dengan pandangan yang lebih jernih.

“Terima kasih sudah berbicara dengan jantan dan terus terang. Aku menghargai keberanianmu datang ke sini untuk menyampaikan semuanya, bukan diam‑diam atau menimbulkan keributan. Ini membantuku melihat situasi dengan pandangan yang lebih luas.”

Pertemuan itu berlanjut dengan pembicaraan yang lebih tenang, tanpa pertengkaran atau saling menyalahkan.

Keduanya mulai memahami posisi masing‑masing sebagai laki‑laki yang sama‑sama memiliki perasaan dan prinsip.

Zehar tidak meminta untuk menang dengan paksa, dan Erhan tidak lagi merasa bahwa haknya telah dirampas secara tidak adil.

Mereka menyadari bahwa inti dari masalah ini bukanlah persaingan di antara mereka, melainkan bagaimana menemukan jalan keluar yang adil bagi semua pihak, terutama bagi kebahagiaan Alesha.

Sore itu, sebelum berpisah, Erhan mengulurkan tangannya sekali lagi, kali ini dengan rasa hormat yang lebih besar.

“Kita mungkin memiliki pandangan yang berbeda, tapi aku menghargai kejujuranmu. Mari kita lihat bagaimana semuanya akan berjalan, dan semoga kita bisa menyelesaikannya dengan cara yang terhormat, tanpa merusak hubungan baik yang sudah terjalin ini.”

Zehar menyambut jabatan tangan itu dengan kuat, mengangguk setuju.

“Terima kasih atas pengertiannya, Mas Erhan. Itu juga yang aku harapkan, sebuah jalan keluar yang adil, jujur, dan tidak merugikan siapa pun.”

Saat keduanya melangkah keluar dari kafe, suasana terasa berbeda dari saat mereka masuk.

Persaingan yang sempat terasa memanas kini berubah menjadi pengertian yang lebih dewasa.

Zehar merasa langkah ini telah membuka jalan untuk langkah‑langkah selanjutnya, dan ia semakin yakin bahwa dengan kejujuran dan kesabaran, mereka akan menemukan solusi terbaik untuk semua masalah yang sedang dihadapi.

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!