Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Kemenangan
Tiga bulan telah berlalu sejak Da Xie terakhir kali bertemu dengan Panglima Sun. Semakin lama, keresahan dalam diri Da Xie semakin menjadi-jadi. Bayang-bayang dirinya akan dieksekusi oleh Putri dari kekaisaran Han membuatnya panik berkelanjutan.
Da Xie tidak tahu harus berbuat apa. Setiap satu hari yang ia lewati terasa seperti penghitung mundur menuju kematian.
Dirinya tak mendapatkan informasi apapun tentang peperangan yang terjadi. Hal ini malah membuatnya semakin panik sembari menerka-nerka apa yang terjadi.
"Dewa rambut pink. Berikanlah kemenangan kekaisaran Zhang. Jadi aku tidak mati muda. Kasihan dirimu, sudah memberikan kesempatan kedua bagiku, tapi aku malah mati dengan cepat."
Da Xie setiap hari berdoa kepada Dewa. Ia tak peduli kalau para dayang membuat gosip yang tidak-tidak tentang dirinya. Yang penting dirinya harus selamat.
"Ya ampun, Maharani Agung kenapa sih?"
"Sepertinya ini karena perbuatan sales aliran sesat yang datang minggu kemarin."
Tetapi walau begitu, ada sisi positif yang bisa diambil. Sejak hari itu, Da Xie jadi lebih rajin bekerja. Ia bekerja dengan sangat keras agar bisa melupakan tentang kematian yang ada didepan matanya.
Seperti sekarang, hari sudah larut tetapi Da Xie masih lembur mengerjakan dokumennya.
"Maharani Agung, ayo pergi kekamar anda dan berisitirahat walau sebentar." Dayang Ya berkata lirih.
"Tidak mau. No no!!"
Da Xie tetap berkutat dengan pekerjaannya. Percuma saja dirinya mencoba untuk tidur. Toh, ketika dirinya sudah membaringkan diri dikasur, bukannya tidur yang ada malah Da Xie over thinking gajelas dan berakhir tidak tidur.
Jadi, lebih baik dirinya ketiduran ketika bekerja saja.
Dayang Ya menghela nafas, Maharani Agung sudah sangat lelah dan meracau tidak jelas lagi. Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya terhadap makhluk keras kepala itu.
"Baiklah, setidaknya minumlah teh ini agar tubuh Maharani Agung menjadi hangat."
"Makasih."
Da Xie meminum teh yang diberikan Dayang Ra. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya dengan Dayang Ya yang setia menemani.
Brak!!
"Maharani Agung!!" Dayang Ra mendobrak pintu ruang kerja dengan sangat kencang.
"Ayo Maharani Agung, kita harus pergi sekarang."
Tanpa permisi, Dayang Ra langsung menarik Da Xie dari tempat duduknya. Hal ini tentu membuat Da Xie dan Dayang Ya kebingungan.
Sebelum Dayang Ra sempat melangkahkan kakinya keluar dengan Da Xie yang ditariknya, Dayang Ya langsung menghadang didepan pintu keluar.
"Ra! Apa yang kau lakukan? Maharani Agung tidak boleh banyak bergerak. Dia butuh istirahat!"
Dayang Ya memutar bola matanya malas. Padahal dirinya yang kakak, tetapi kenapa malah Dayang Ya berlagak seperti lebih dewasa daripada Dayang Ra.
Dayang Ra akhirnya menarik Dayang Ya kearahnya dan membisikkan sesuatu tepat ditelinga Dayang Ya.
Da Xie yang melihat itu hanya bisa menguap. Ia tidak berniat menguping pembicaraan mereka. Toh, nanti juga dirinya tahu sendiri.
"Oh!!" Setelah Dayang Ra membisikkan sesuatu padanya, Dayang Ya segera ikut serta menarik Da Xie.
"Hey!! Hey!! Pelan-pelan dongg!" Protes Da Xie.
———————
Tuk!! Tak!! Tuk!! Tak!!,
Suara sepatu kuda bergema ditelinga Da Xie. Wanita itu menguap ngantuk. Dirinya tadi tiba-tiba dibawa masuk kedalam sebuah kereta kuda oleh Dayang Ra dan Ya, tidak tahu sebenarnya ini mau dibawa kemana.
"Hm... Sebenarnya mau kemana sih."
Da Xie membuka tirai kereta kuda untuk melihat keluar. Sekelilingnya hanya ada pepohonan, membuat Da Xie bingung ada dimana dirinya sekarang. Tetapi, entah mengapa Da Xie merasa tidak familier.
Da Xie mencoba menggali ingatannya, berharap menemukan sesuatu yang berharga. Ia akhirnya ingat akan sesuatu.
"Ah... Ini kan jalan menuju ibukota kekaisaran. Kenapa kesini?"
Tepat seperti apa yang Da Xie katakan, ini adalah jalan menuju ibukota. Walaupun dirinya sudah lama tidka pergi ke ibukota sejak liburan terakhirnya, tetapi Da Xie tetap mengingat jalanan tersebut.
Waa!! Waa!!
Suara hiruk-pikuk keramaian terdengar. Da Xie merasa seperti sedang berada disebuah pasar. Dirinya kembali melongok keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata, sama seperti dahulu ketika dirinya berkunjung ke ibukota kekaisaran, banyak sekali rakyat biasa yang berkerumun di kanan kiri jalanan. Bahkan rasanya, kerumunan ini lebih riuh dari yang dulu.
Kereta kuda berhenti didepan sebuah podium yang tidak terlalu besar ditengah-tengah perempatan jalan ibukota. Da Xie turun dari kereta dibantu salah satu prajurit. Ia lalu dituntun untuk naik ke podium.
"Ada apa ini?" Tanya Da Xie kepada Adipati Yan yang berada tepat disisi kanannya.
"Tunggu saja Maharani Agung."
Da Xie hanya mengangguk samar. Ia menoleh kesana-kemari berharap menemukan jawaban atas pertanyaannya. Disamping kiri Da Xie berdiri seorang menteri yang Da Xie tidak tahu namanya.
Setelah menunggu sekitar 30 menit yang samai membuat Da Xie hampir ketiduran akibat terlalu lama, akhirnya penantian Da Xie berbuah hasil. Didepan jalan yang berhadapan dengan podium, dari jauh terlihat segerombolan manusia yang menunggangi kuda dan mengarah kesini.
Sorak sorai para rakyat semakin menjadi-jadi, Da Xie tidak tahu apa yang terjadi, ia berusaha menebak-nebak namun malah menjadi over thinking sendiri.
'Tunggu, jangan-jangan itu pasukan dari kekaisaran Han yang datang kemari untuk menginvasi kekaisaran Zhang. Dan mereka membuat podium ini agar kematian ku jadi lebih memalukan dan dikenang banyak orang. Waduh...'
Da Xie mulai membaca potongan demi potongan doa yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya.
"Dewa yang perkasa, maharaja, luar biasa. Tolong ampunilah nyawaku. Aku bahkan belum menikmati kehidupan keduaku ini." Gumam Da Xie sembari mengepalkan kedua tangan dan menutup matanya.
Begitu suara langkah kuda semakin mendekat. Da Xie menutup matanya dengan tegang dan semakin mengeratkan kepalan tangannya serta mulutnya terus komat-kamit bagaikan membaca mantra sihir.
"Maharani Agung. Kami pulang membawa kemenangan—" Suara berat seorang pria terdengar, tetapi Da Xie langung memotong ucapannya.
"Maafkan aku!! Itu salahku!! Aku memang bodoh!! Aku tak akan menghina kekaisaran Han lagi!! Tolong ampuni aku tuan putri yang agung!!" Teriak Da Xie.
Suara riuh rakyat kekaisaran berhenti ketika mendengar ucapan Da Xie. Jalanan tersebut kini menjadi hening.
Da Xie kebingungan, kenapa tidak ada yang menjawabnya, ia akhirnya membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi, "...Eh? Panglima?"
"Maharani Agung, apa maksud perkataan anda?" Adipati Yan kebingungan.
"Kalau anda mencari Putri Han Li Ya dan keluarga kekaisaran Han. Mereka ada disana." Panglima Sun menunjuk tiga orang yang diikat tali dan disumpal mulutnya.
"L–loh? Bukannya kekaisaran Zhang kalah perang?"
"Hahaha!! Awalnya saya juga mengira begitu. Tetapi berkat anak muda ini, keadaan menjadi berbalik."
Panglima Sun menepuk punggung Ni Xao dengan bersahabat.
"Tunggu... Jadi maksudnya, kekaisaran Zhang menang?"
"Benar!!"
Wajah Da Xie berubah dari yang awalnya panik dan resah menjadi lega dan gembira. Ia menghela nafas dan berkata, "syukurlah..."
Bruk!!
Tiba-tiba Da Xie pingsan mendadak, dengan senyuman lega menghiasi wajahnya serta tubuh yang rileks. Kini Da Xie bisa beristirahat dengan tenang setelah sekian lama mengalami keresahan dihatinya.
"Ya ampun!! Maharani Agung!!!"