Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Mereka Mulai Mengincar Naya
Sore hari di kediaman keluarga Wijaya terasa jauh lebih hangat dibandingkan biasanya.
Setelah memastikan ibunya beristirahat dengan nyaman di kamar khusus yang telah disiapkan Adrian, Naya berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya.
Hatinya dipenuhi rasa syukur.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa sendirian.
Ibunya mendapatkan perawatan terbaik.
Biaya pengobatan tidak lagi menjadi beban.
Dan yang paling penting, ada seseorang yang berdiri di sisinya.
Seseorang yang bersedia melindunginya.
Saat tiba di depan ruang kerja, Naya mengetuk pintu pelan.
Tok... tok...
"Masuk."
Suara Adrian terdengar dari dalam.
Naya membuka pintu perlahan.
Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti.
Adrian sedang duduk di balik meja kerjanya sambil memeriksa beberapa dokumen perusahaan.
Sinar matahari senja yang masuk melalui jendela besar membuat sosok pria itu terlihat semakin berwibawa.
Tanpa sadar, Naya terpaku.
Sementara Adrian yang mengangkat kepala langsung menangkap tatapan itu.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Kenapa berdiri di sana?"
Naya tersentak.
"M-maaf."
"Masuklah."
Wajah Naya langsung memerah.
Ia berjalan masuk dengan jantung yang berdetak tidak menentu.
Sejak hubungan mereka membaik, dirinya justru semakin sulit bersikap biasa di depan Adrian.
Pria itu terlalu perhatian.
Terlalu baik.
Dan itu membuat pertahanan hatinya perlahan runtuh.
"Kamu habis dari kamar Ibu?" tanya Adrian.
Naya mengangguk.
"Ibu sudah tidur."
"Bagus."
Keheningan singkat terjadi.
Kemudian Naya memberanikan diri berbicara.
"Saya ingin berterima kasih."
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Lagi?"
Naya menunduk malu.
"Karena Mas Adrian sudah membantu Ibu."
Pria itu menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
"Naya."
"Iya?"
"Aku tidak ingin mendengar ucapan terima kasih untuk hal-hal seperti itu."
Naya mengerutkan dahi bingung.
"Kenapa?"
Karena keluargamu sekarang adalah keluargaku.
Kalimat itu hampir keluar dari mulut Adrian.
Namun ia memilih menahannya.
Sebagai gantinya, ia berkata,
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang suami."
Jantung Naya kembali berdebar.
Entah mengapa setiap kalimat sederhana dari Adrian selalu mampu membuat wajahnya memanas.
Namun suasana hangat itu tiba-tiba terputus.
Ponsel Adrian bergetar.
Nama Dimas muncul di layar.
Ekspresi Adrian langsung berubah serius.
"Ya."
Suara Dimas terdengar dari seberang telepon.
"Tuan Adrian, orang kita berhasil mendapatkan foto pertemuan Ketrin sore ini."
"Mereka bertemu siapa?"
"Seorang pria bernama Riko Mahendra."
Adrian mengernyit.
Nama itu tidak asing.
Riko Mahendra dikenal sebagai orang yang sering menangani pekerjaan kotor untuk para pengusaha dan politikus.
"Apa tujuan pertemuan mereka?"
Dimas terdiam sesaat.
Kemudian menjawab,
"Kemungkinan besar mereka sedang merencanakan sesuatu untuk Nyonya Naya."
Rahang Adrian langsung mengeras.
Tatapannya berubah dingin.
"Apa buktinya?"
"Foto-foto yang mereka lihat adalah foto Nyonya Naya dan ibunya."
Jantung Adrian langsung berdebar keras.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, kemarahan mulai muncul kembali.
Namun kali ini bukan untuk dirinya.
Melainkan untuk Naya.
"Terus awasi mereka."
"Baik, Tuan."
"Jangan sampai mereka bergerak lebih dulu."
"Siap."
Telepon berakhir.
Suasana ruangan berubah hening.
Naya yang sejak tadi memperhatikan wajah Adrian mulai merasa cemas.
"Ada masalah?"
Adrian menatapnya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia mengangguk.
"Ketrin."
Wajah Naya langsung menegang.
"Dia lagi?"
Adrian menghela napas panjang.
"Kali ini dia tidak bergerak sendirian."
"Apa maksudnya?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Dia tidak ingin membuat Naya takut.
Namun dia juga tidak ingin menyembunyikan kebenaran.
"Kemungkinan mereka akan mencoba menyakitimu."
Naya langsung membeku.
"Atau keluargamu."
Kalimat itu membuat wajah Naya pucat seketika.
"Ibu?"
Tatapan Adrian melembut.
Namun nada suaranya tetap tegas.
"Dengarkan aku."
Naya mengangguk pelan.
"Mulai hari ini, jangan pergi ke mana pun sendirian."
"Baik."
"Jika ada nomor asing menghubungimu, jangan diangkat."
"Baik."
"Dan jika terjadi sesuatu..."
Adrian berhenti sejenak.
Kemudian menatap mata Naya lekat-lekat.
"Hubungi aku lebih dulu."
Perlahan mata Naya mulai memanas.
Ada ketulusan dalam tatapan Adrian.
Ketulusan yang sulit dipalsukan.
"Aku akan melindungimu."
Suara Adrian terdengar rendah.
Namun begitu tegas.
Kalimat sederhana itu membuat hati Naya bergetar.
Sementara itu, di tempat lain.
Riko Mahendra sedang duduk santai di sebuah apartemen mewah.
Di tangannya terdapat amplop berisi uang miliaran rupiah yang diberikan Ketrin.
Pria itu tersenyum tipis.
Lalu mengambil sebuah foto.
Foto Naya.
"Kasihan sekali."
Ia mengelus permukaan foto itu pelan.
"Kalau saja kamu tidak bertemu Adrian Wijaya."
Senyuman licik perlahan muncul di bibirnya.
"Permainan ini pasti jauh lebih mudah."
Di luar jendela, langit malam mulai berubah gelap.
Dan tanpa disadari siapa pun...
Badai besar perlahan mulai mendekat ke kehidupan Naya.
Bersambung...