Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Ini hari Minggu dan seperti janjinya pada Antares, mereka akan mencoba sepatu roda baru miliknya bersama. Sebenarnya Aruna tidak begitu semangat soal ini, tapi karena ia sudah membuat janji dengan Antares maka ia tak bisa membatalkannya.
Aruna berjalan dari kamar menuju depan rumah di mana kakak ketiganya itu sedang menunggunya. Ia mendekati anak itu yang sedang berdendang sendiri sembari memakai earphone.
"Kak," panggil Aruna.
Antares menoleh dan tersenyum lebar, melepas earphone dan menyimpannya.
"Kau siap?" tanya Antares.
"Ya, tapi bukankah kita berencana pergi saat sore?"
"Lebih cepat lebih baik! Ayo!" ucapnya dan akan masuk ke dalam mobil sebelum suara Aruna terdengar lagi.
"Lalu bagaimana dengan Ayah dan Kak Abi?"
"Ayah dan kak Abi akan menyusul, aku sudah mengirimi mereka pesan tadi. Ayo," katanya lagi lalu masuk kedalam mobil diikuti Aruna yang merasa heran sendiri.
Baru saja mobil akan jalan, sosok Abi tiba-tiba saja muncul dan mencegat mobil dengan cepat.
"Astaga! Kak Abi?!" pekik Aruna kaget.
Abi masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian depan, ia menoleh ke belakang sembari menatap Antares tajam.
"Beraninya pergi tanpaku!"
Antares hanya mendengus cuek, "Kan kakak sibuk dengan tugas kuliah."
"Setidaknya kirim aku pesan!" ucapnya kesal.
Sebelah alis Aruna naik, "Loh, bukannya kak Ares sudah mengirimi pesan?"
"Sejak kapan?" ungkap Abi tak terima, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Aruna sebagai bukti bahwa tak ada pesan dari Antares sama sekali.
Aruna sampai menatap Antares meminta penjelasan, "Kak Ares?"
Anak lelaki disebelahnya itu berdehem kaku, "Mungkin aku lupa. Tapi aku benar-benar sudah mengirimi Ayah pesan, kok!"
Sekarang Aruna paham kenapa Antares terus merongrongnya sejak pagi untuk segera bersiap padahal rencana mereka itu sore. Ternyata ada alasannya yaitu untuk menghindari Abi juga ayah mereka, licik sekali. Aruna tidak benar-benar perduli sebenarnya, tapi ia tak ingin ada masalah hanya karena membatalkan janji dengan salah satu dari mereka.
"Sebaiknya itu benar," ucap Aruna lagi.
Mobil mereka meninggalkan pekarangan rumah mewah itu dengan segera. Mereka menuju salah satu taman yang biasa di gunakan untuk olahraga, jalan-jalan sore, atau bahkan tempat berkumpulnya sebuah keluarga untuk menghabiskan waktu. Sebenarnya mereka bisa memakai taman belakang rumah Adijaya, tapi Aruna takut merasa tidak nyaman atau canggung jika hanya berdua saja dengan Antares atau dengan anggota keluarganya yang lain. Setidaknya di tempat ramai, ia bisa memiliki alasan untuk tidak merasa canggung atau kaku.
Taman yang mereka tuju terlihat cukup ramai karena memang ini hari minggu, hari di mana para keluarga berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Antares melihat ke arah Aruna dengan ragu.
"Kau yakin tak apa di sini?" tanya Antares.
Aruma mengangguk, "Ya, kenapa tidak?"
"Kau akan baik-baik saja? Kelihatannya ada banyak orang," sambung Abimanyu dari kursi depan.
"Benar, Aruna. Aku bisa menyuruh mereka semua pergi jika kau mau," kata Antares.
Gadis kecil itu kaget dan langsung menatap Antares, "Kak Ares, tak perlu begitu. Lagipula ini taman umum, semua orang berhak berada di tempat ini."
"Sebenarnya kurang tepat, sih," celetuk Abi cepat.
Sebelah alis Aruna naik dan menatap pria itu tak mengerti, "Maksud kakak?"
"Taman ini masih termasuk dalam bagian tanah milik keluarga Adijaya, tapi Ayah membiarkan kota merubahnya menjadi taman seperti ini. Jadi sebenarnya tak masalah jika kita ingin menyuruh orang-orang itu pergi," jelas Abi.
Mendengar penjelasan Abi membuat Aruna melotot syok, ia tak menyangka keluarga Adijaya akan sekaya ini dan memiliki tanah di mana-mana. Tapi membiarkan pemerintah kota merubah tempat ini bukankah seperti mengibahkannya? Jika begitu seharunya keluarga Adijaya sudah tak memiliki hak apa pun lagi atas tanah tersebut, iya, kan?
Ternyata kemanapun ia pergi, ia pasti akan tetap bertemu dengan sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Adijaya.
Itu artinya tak ada jalan keluar sama sekali.
Sial!
"Tak perlu seperti itu, kak. Aku tak masalah, kok," kata Aruna cepat. Jangan sampai mereka benar-benar mengusir orang-orang yang tengah bermain dan bersantai di hari minggu ini. Aruna cukup sadar diri untuk tidak menyusahkan orang lain demi kepentingannya sendiri.
"Baiklah. Jika kau mulai merasa tak nyaman, katakan saja," lanjut Antares yang keluar dari mobil diikuti Abimanyu. Sementara Aruna tersenyum saja seolah ia mengerti dengan ucapan Antares barusan. Padahal didalam hatinya ia takkan pernah melakukan hal itu sama sekali.
"Aruna, apa yang kau tunggu? Ayo keluar," panggil Abi dari luar mobil.
Aruna langsung bergegas keluar sebelum mereka berfikir yang aneh-aneh dan merencanakan kegilaan lainnya lagi. Apa semua pemikiran keluarga konglomerat akan seperti mereka?
Mereka berjalan menuju tempat dengan spot yang bagus untuk berlatih sepatu rodanya, Aruna memakai sepatu miliknya di bantu oleh Abi yang sedang mengikat tali sepatunya. Sebenarnya bisa melakukannya sendiri tapi Abi memksa untuk melakukanya.
"Oke. Kau bisa berdiri?" tanya Abi.
"Aku coba," jawab Aruna yang mencoba berdiri tapi ternyata sulit. Ia bahkan hampir jatuh jika saja Abi tidak menahan lengannya cepat. Bahkan Antares langsung menghampirinya dengan separu roda di kakinya.
"Pelan-pelan," kata Antares yang memegang tangan Aruna lainnya. Padahal mereka berdua sudah memakai sepatu rodanya tapi mereka tetap bisa membimbingnya dengan lincah tanpa hambatan begini.
"Kami akan memegangmu sampai kau bisa sendiri," ucap Abi.
"O-oke," Aruna menjawab gugup karena ia takut untuk jatuh. Pasti sakit dan malu sekali jika sampai benar-benar itu terjadi. Mana di tempat ini ada banyak orang pula, apa ia harus menyetujui ide kedua kakaknya untuk mengosongkan tempat ini?
Tidak. Astaga! Bisa-bisanya ia ikut memikirkan hal tersebut.
Aruna kau mulai gila!
"Jangan takut. Kami takkan melepas tanganmu," Abimanyu berucap dengan suara menenangkan khas miliknya. Mencoba meyakinkan Aruna bahwa ia bisa percaya padanya dan tak perlu memikirkan apa pun.
"Benar, ada kami," sambung Antares yakin.
Aruna tersenyum dan menggenggam kedua tangan mereka dan mulai bergerak maju dengan yakin. Ia sedang mencoba menjaga keseimbangannya disini karena itu adalah kuncinya.
"Iya begitu. Bagus, Aruna!" pekik Antares semangat.
Senyuman Aruna baru saja akan mengembang sebelum mereka mendengar sebuah suara aneh dan berisik yang mendekat ke arah mereka perlahan-lahan dari udara.
Jangan bilang itu suara...
Benar saja! Tak lama angin berhembus terlampau kencang bahkan hingga membuat beberapa orang berteriak panik dan takut. Aruna sendiri tak bisa melihat apa pun karena debu yang berterbangan di udara dan membuatnya harus menutup kedua matanya. Abi dan Antares sampai harus melindungi tubuh kecilnya agar tidak terlalu terganggu dengan anginnya. Kemudian perlahan-lahan sebuah helikopter turun di tengah-tengah taman dan membuat kegemparan warga sekitar.
"Astaga! Pria tua itu!" Abimanyu menggeram jengkel ketika ia tahu itu ulah siapa.
"Tch! Kekanak-kanakkan sekali," gerutu Antares juga.
Sementara Aruna yang tidak mengerti, mengintip dari balik tubuh tinggi Abimanyu untuk melihat apa yang terjadi. Dan ia melotot kaget ketika melihat Elvio turun dengan setelan kasualnya juga kacamata hitam.
Apa pria itu gila?!
Turun di tengah-tengah taman kota menggunakan helikopter?!
Aruna tak habis pikir dengan kelakuan pria itu.
Elvio mendekati mereka sembari melepas kacamatanya, ia tersenyum ke arah Aruna tapi melotot tajam ke arah Antares juga Abimanyu.
"Berani-beraninya kalian mengeploitasi Aruna sendirian," desis Elvio.
"Loh, bukankah kak Ares sudah mengirim Ayah pesan?" tanya Aruna bingung.
Sebelah alis Elvio naik, "Pesan? Aku tidak menerima pesan apa pun. Jadi, Antares pesan apa yang di maksud adikmu, hm?" tanya Elvio dengan nada mengintimidasi. Antares sampai memalingkan wajah agar tidak menatap mata pria itu.
"Mungkin tidak terkirim," gumam Antares.
Tidak terkirim my ass! Mau bilang tidak ada pulsa atau paketan data begitu? Siapa yang akan percaya hal seperti itu? Apa Antares lupa sekaya apa keluarganya?
Oke, Aruna paham. Ternyata Antares berbohong soal itu karena ia tidak memberitahu perubahan jadwal mereka pada Elvio sama sekali. Tapi tetap saja tidak membenarkan tingkah Elvio yang membuat kehebohan dengan helikopter begini. Apa ia tak takut jika reputasinya jadi buruk karena melakukan hal seenaknya?
Abimanyu sendiri menggelengkan kepalanya pelan, bahkan dirinya pun hampir tertipu dengan Antares juga jika ia tak cepat menyadarinya.
"Bukankah Ayah harus ke Barcelona hari ini?" tanya Abi.
"Aku mundurkan jadi minggu depan."
Sebelah alis Abi naik, "Kenapa? Bukankah ini pertemuan penting?"
"Lebih penting puteriku," jawab Elvio tegas. Ia mendekati mereka dan langsung mengangkat tubuh kecil Aruna pada gendongannya. Bahkan anak itu tak sempat bereaksi sama sekali.
"Ayah! Apa yang kau lakukan? Turunkan Aruna! Ia sedang berlatih bersama kami!" protes Antares.
"Sudah, kan? Sekarang giliran Ayah. Ayo, Nak," ucap Elvio dan langsung berbalik berjalan menuju helikopter kembali mengabaikan protesan Antares yang tidak terima dengan perlakuan Elvio. Sedangkan Abi sendiri tak bisa melakukan apa pun, Elvio merupakan kepala keluarga jadi ia lebih memiliki wewenang di banding mereka.
Aruna sendiri mengerjap kaget ketika ia di dudukkan di pangkuan Elvio dan menatap Antares beserta Abimanyu dari dalam helikopter. Ini pertama kalinya ia akan menaiki benda ini dan jujur saja Aruna agak takut. Jadi ia meremas lengan Elvio tanpa sadar dan hal itu membuat sang Ayah langsung menatap ke arahnya.
"Kau takut?"
"Se-sedikit. Ini pertama kalinya aku naik helikopter," jujurnya.
Elvio terkekeh pelan, "Tenang saja. Tidak akan terjadi apa pun."
"Aku tahu. Tapi kita mau kemana, Ayah?" tanya Aruna.
"Ketempat di mana kau bisa berlatih sepatu roda sepuasmu tanpa ada yang mengganggu. Bahkan sudah ayah siapkan pelatih profesional untukmu. Lebih baik ketimbang kedua kakakmu itu, kan?" Katanya bangga.
Aruna speechless.
Ia tak tahu harus mengatakan apa mendengar ucapan Elvio. Kenapa sampai bisa melibatkan pemain profesional padahal Aruna hanya ingin bermain dengan sepatu roda saja, bukan mengikuti kejuaraan Internasional.
Anak itu pikir Elvio bercanda dengan ucapannya, ketika mereka tiba di sebuah tempat yang ternyata adalah sebuah gymnasium raksasa, Aruna hanya bisa diam seperti orang bodoh. Di sana sudah berdiri tiga orang wanita yang ia tebak pasti adalah pelatih profesional untuknya.
Siapa pun tolong dirinya, rasanya Aruna ingin kabur dari tempat ini secepatnya.
Ia hanya ingin bermain sepatu roda, Ya Tuhan!
Kenapa berlebihan sekali!