Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Antara Kecepatan Cahaya dan Sinyal Lemah 1
Karya Vian's
Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, namun di depan pintu kedai sudah berdiri sosok pemuda dengan setelan yang terlalu rapi untuk ukuran seorang karyawan magang. Arka berdiri tegak sambil melakukan pemanasan lari di tempat, lengkap dengan tas ransel yang bergoyang-goyang di punggungnya.
Ketika Farel datang dengan motornya, ia hampir saja menginjak rem mendadak karena kaget melihat seseorang sudah nangkring di depan pintu.
"Bang Farel! Selamat pagi dunia! Selamat pagi senior!" seru Arka dengan suara yang menggelegar, memecah kesunyian jalanan pagi itu.
Farel turun dari motor sambil memijat pelipisnya, melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 06.45. "Arka... kita baru buka jam delapan. Kamu ngapain di sini dari tadi? Mau ikut bantuin petugas kebersihan nyapu jalanan?"
"Oh, tentu tidak, Bang! Sebagai calon karyawan teladan, saya harus datang sebelum debu-debu di kedai ini bangun tidur!" jawab Arka sambil nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Farel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah absurd rekan kerja barunya ini. "Bautnya beneran lepas satu kayaknya," gumam Farel pelan sambil membuka kunci pintu kedai.
Baru saja pintu terbuka sedikit, Arka sudah melesat masuk seperti kilat. "Bang Farel, mesin kopinya mana? Biar saya ajak kenalan dulu! Siapa tahu dia baper kalau saya yang pegang!"
"Jangan disentuh dulu, Arka! Nanti malah meledak!" teriak Farel panik sambil mengejar Arka ke balik bar.
Belum reda kehebohan Arka, di ambang pintu muncul sosok Mika yang berdiri mematung. Ia hanya menatap Farel dan Arka yang sedang kejar-kejaran di balik bar dengan ekspresi datar.
Satu detik... dua detik... lima detik...
"Saya... sudah... mandi," ucap Mika pelan, menjawab perintah Sila dari hari kemarin yang baru ia laksanakan pagi ini.
Farel menghentikan langkahnya, menatap Mika, lalu menatap Arka yang sedang mencoba memeluk mesin espresso. Ia menarik napas panjang dan bergumam pada diri sendiri, "Mbak Savya... kayaknya hari ini aku butuh cuti lebih awal."
Farel baru saja berhasil menjauhkan tangan Arka dari tuas mesin espresso ketika pintu kedai berdenting. Sila melangkah masuk dengan wajah yang masih mengantuk, memegang botol air mineral seolah itu adalah nyawanya pagi ini. Namun, langkahnya langsung terhenti di depan kasir.
Ia melihat Arka sedang mencoba melakukan gerakan push-up dengan satu tangan di depan meja bar sambil menghitung keras-keras, "Sembilan puluh sembilan... seratus! Pagi Kak Sila yang cantik! Saya sudah siap membakar semangat kedai hari ini!"
Sila mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia lalu menoleh ke arah sudut pintu dan hampir saja melompat karena kaget. Di sana, Mika masih berdiri diam di posisi yang sama, menatap vas bunga tanpa berkedip.
"Mika? Kamu ngapain berdiri di situ kayak patung selamat datang?" tanya Sila dengan suara serak khas bangun tidur.
Mika menoleh perlahan. Sangat perlahan. "Nunggu... instruksi... Kak."
"Instruksinya itu masuk, taruh tas, pakai apron! Jangan malah cosplay jadi pajangan toko!" seru Sila mulai gemas. Ia menoleh ke arah Farel yang wajahnya sudah tampak kusam. "Rel, ini baru jam tujuh lewat sepuluh. Kenapa tensi darahku sudah naik, ya?"
"Jangan tanya aku, Sil. Aku baru sampai, Arka sudah nanya mesin kopinya punya perasaan atau enggak," jawab Farel lemas.
"Bang Farel! Mesin itu harus diajak bicara biar hasil ekstraksinya pakai hati!" sahut Arka sambil melompat berdiri, lalu tanpa sengaja menyenggol tumpukan serbet bersih hingga berhamburan ke lantai. "Aduh! Maaf, Kak Sila! Serbetnya tadi mau kenalan sama lantai!"
Sila memejamkan mata erat-erat, memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. "Arka, ambil serbetnya. Pelan-pelan! Jangan pakai jurus nangkring di atas meja! Dan Mika... tolong, bergeraklah ke dapur. Jalan kaki, Mika, jangan merayap!"
Mika mengangguk. Ia mulai berjalan menuju dapur dengan langkah yang sangat anggun dan lambat, seolah-olah sedang berjalan di atas karpet merah dalam film slow-motion.
"Mbak Savya mana, Rel?" tanya Sila frustrasi, sambil meletakkan kepalanya di atas meja bar. "Aku butuh beliau sekarang juga sebelum aku mutusin buat resign dan jadi peternak lele saja. Ini beneran sirkus, bukan kedai kopi!"
Sila dan Farel menatap ke luar jendela dengan penuh harap. Di seberang jalan, sebuah bis kota berhenti dan menurunkan beberapa penumpang. Tak lama kemudian, sosok Mbak Savya muncul, berjalan dengan tenang menuju kedai.
"Itu dia, Rel! Penyelamat kita!" seru Sila dengan wajah paling melas yang pernah ada.
Begitu pintu kedai berdenting terbuka, Sila langsung menghambur ke arah Mbak Savya. "Mbak Savya! Tolong aku! Aku nggak sanggup kalau harus nunggu satu jam lagi. Tensi darahku udah nggak sinkron sama jam segini!"
Mbak Savya yang baru saja melepas tasnya hanya bisa mengerutkan kening. "Lho, ada apa, Sil? Kok mukanya sudah kayak belum makan tiga hari?"
Belum sempat Sila menjawab, sebuah teriakan menggelegar dari arah bar.
"SIAP GRAK! HORMAT PADA KOMANDAN KEDAI!"
Arka tiba-tiba muncul dari balik bar dengan posisi hormat yang sangat tegak, namun karena terlalu bersemangat, sikunya justru menyenggol tumpukan nampan plastik di dekatnya.
PRANG! BRAK!
Nampan-nampan itu jatuh berhamburan, dan satu di antaranya meluncur di lantai hingga berhenti tepat di depan kaki Mbak Savya. Arka bukannya malu, malah langsung meloncat dan berlutut di depan nampan itu seolah-olah sedang mempersembahkan sesuatu.
"Selamat pagi, Mbak Bos Savya yang luar biasa! Nampan ini tadi mau menyambut Mbak, tapi dia terlalu terharu jadi langsung sujud syukur di bawah kaki Mbak!" ucap Arka dengan cengiran lebarnya.
Savya hanya bisa mematung, menatap Arka yang masih berlutut, lalu beralih menatap ke sudut ruangan. Di sana, Mika sedang mencoba memakai apron, namun karena "kelemotannya", ia justru terlihat seperti sedang bergulat dengan kain. Kepalanya terjepit di lubang leher apron dan ia hanya diam, menunggu bantuan datang.
"Mika... kamu nggak apa-apa?" tanya Savya dengan nada khawatir sekaligus menahan tawa.
Satu detik... dua detik...
"Kepala... saya... hilang," gumam Mika dari balik kain apron yang menutupi wajahnya.
Sila langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tuh kan, Mbak! Yang satu terlalu 'gas pol', yang satu lagi 'rem blong'! Aku beneran berasa lagi jaga PAUD, bukan kedai kopi!"
Savya akhirnya tidak tahan lagi. Tawa yang sedari tadi ia tahan pun meledak. Ia melihat Arka yang masih sibuk merapikan nampan sambil berceloteh tentang "energi semesta," dan Mika yang akhirnya berhasil mengeluarkan kepalanya dari apron dengan tatapan kosong yang polos.
"Sudah, sudah. Sila, Farel, sabar ya. Ini yang namanya dinamika tim," ucap Savya sambil menepuk bahu Sila. "Ayo, kita mulai hari ini dengan... yah, sedikit kekacauan ini."
..."Story by Vian's."...