Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Kedekatan dengan Ray
Suasana di kelas X-2 semakin hari semakin menyesakkan bagi Yasmin. Kebencian yang dipupuk oleh rasa iri teman-temannya kini mulai menampakkan wujud yang lebih kasar dan terang-terangan.
Pagi itu, Yasmin perlahan membuka buku catatan yang baru saja dikembalikan oleh temannya. Begitu halaman pertama terbuka, napasnya tertahan. Buku yang tadinya bersih itu kini penuh dengan coretan tinta yang berantakan, berisi makian dan gambar-gambar yang sangat merendahkan.
"Vio, kenapa bukuku dicoret-coret begini?" tanya Yasmin, suaranya terdengar lirih namun menuntut penjelasan.
Vio menoleh perlahan, memasang wajah polos yang dibuat-buat. "Oh, ya? Memangnya siapa yang melakukannya?"
"Orang yang punya pulpen dengan warna dan jenis seperti ini," jawab Yasmin sambil menunjukkan bekas goresan yang masih baru.
Belum sempat Vio menjawab, Reka dengan kasar merebut buku itu dari tangan Yasmin. "Coba gue lihat. Siapa tahu gue kenal corak tulisannya."
Reka mulai membacanya keras-keras dengan nada menghina, sengaja agar seluruh telinga di kelas itu mendengar.
"Cewek genit! Gak berotak! Tukang ngerayu cowok! Wah, lihat gambarnya! Duitnya dulu dong kalau mau cium!" Reka menggeleng-gelengkan kepala dengan tawa mengejek di matanya. "Ini keterlaluan! Teman-teman, ada yang keberatan sama tulisan ini?"
Anak-anak yang mengerumuni mereka serempak menggelengkan kepala, diiringi tawa sinis yang tertahan.
"Gue keberatan!" seru Atikah tiba-tiba. Ia menyambar buku itu dari tangan Reka. "Buku dengan tulisan sampah begini terlalu menjijikkan untuk ada di kelas kita!"
Tanpa ragu, Atikah merobek halaman-halaman buku itu hingga hancur. "Lebih baik kita musnahkan saja!" Ia terus merobek dan meremas kertas-kertas itu menjadi bola-bola sampah, lalu dengan gerakan meremehkan, ia melemparkannya ke arah tempat sampah di dekat pintu.
Namun, lemparan itu meleset. Gumpalan kertas itu justru mengenai dada seseorang yang baru saja muncul di ambang pintu.
"Eh...!" Atikah memekik kaget. Wajahnya seketika pucat saat melihat sosok tinggi yang berdiri di sana. "Kak Ray! Maaf... nggak sengaja."
Ray tidak menyahut. Matanya yang tajam menunduk, menatap gumpalan kertas yang jatuh di kakinya. Ia memungutnya, membukanya perlahan, dan membaca sekilas makian yang tertulis di sana. Ray menghela napas panjang, lalu membuang kertas itu ke tempat sampah dengan gerakan dingin.
"Yasmin, ayo kita keluar. Di sini udaranya terlalu panas," ucap Ray, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
"Ray...!" Yasmin masih duduk di kursinya, tubuhnya tampak lemas dan matanya berkaca-kaca.
Ray segera menghampiri meja Yasmin, raut wajahnya berubah khawatir. "Nanti kita beli buku baru, oke? Aku kenal anak kelas satu yang catatannya rapi. Aku bantu tulis ulang semuanya buat kamu, gimana?"
Yasmin tersenyum tipis, mencoba menghargai kebaikan Ray. "Nggak apa-apa, Ray. Aku bisa bikin catatan sendiri, kok. Kalau menyalin sendiri kan bisa sekalian menghafal, ya kan?"
Ray akhirnya ikut tersenyum, lega melihat Yasmin masih bisa berpikir positif di tengah tekanan seperti ini. Ia lalu mengulurkan tangannya. "Ayo...!"
"Kak Ray!" Vio berseru, tidak tahan melihat adegan itu. "Kenapa Kak Ray sampai harus menjemput dia ke kelas segala? Apa Kak Ray belum tahu kalau dia itu suka merayu cowok mana saja? Dia bahkan berani merebut pacar orang!"
Ray menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah Vio dengan tatapan yang sangat dingin, membuat nyali gadis itu sedikit menciut. "Kalau sekali lagi gue dengar ada orang yang menjelek-jelekkan Yasmin, gue nggak akan tinggal diam, sekalipun pelakunya cewek."
Seisi kelas terperanjat. Selama ini, Ray dikenal sebagai murid pindahan yang santai dan tidak pernah bermain kasar. Ancaman yang keluar dari mulutnya terasa asing dan menakutkan. Namun, Vio yang sudah dibutakan oleh rasa suka pada Ray, memberanikan diri bicara lagi.
"Tapi Kak Ray... apa Kak Ray nggak tahu kalau cowok yang mendekati Yasmin itu bakal dibenci semua cewek di sekolah ini?"
"Dibenci sama cewek-cewek kayak kalian semua? Gue sama sekali nggak keberatan," jawab Ray datar. Ia lalu beralih pada Yasmin dan meraih tangannya. "Ayo, Yasmin. Kita pergi."
Ray menarik lembut tangan Yasmin, membawa gadis itu keluar dari atmosfer beracun di kelas X-2.
Di koridor, Dean yang hendak menuju kelasnya sendiri tertegun melihat Ray menggandeng Yasmin pergi. Ia terpaku sejenak, lalu melirik ke dalam kelas X-2 yang kini riuh dengan suara isak tangis dan makian.
"Dia... dia ngomong kayak gitu sama aku!" keluh Vio sesenggukan. Tubuhnya bergetar hebat.
"Vio, sudah. Kak Ray memang bicara begitu pada kita semua," hibur salah satu temannya.
"Tapi dia benci gue...!"
"Cowok memang sama saja," geram Cecil, matanya menyipit penuh dendam. "Kita buat saja semua orang membenci Ray juga."
"Jangan, jangan Ray," potong Reka dengan amarah yang meluap-luap. "Ini semua salah si Bodoh itu! Jangan menyerah, Vio. Hapus air matamu. Kita akan buat Yasmin kapok. Di kelas ini nggak ada yang bisa melindunginya! Kita semua harus bersatu!"
"Setuju! Kita buat dia nggak betah!" sahut yang lain serempak.
"Apa yang sebenarnya mau kalian lakukan?" tanya seorang cowok dari pojok kelas, merasa ngeri melihat kebencian yang mulai mendarah daging itu.
"Awas ya! Cowok kalau nggak mau bantu, mending jangan ikut campur!" ancam Cecil tajam.
Dean, yang masih berdiri di luar, melanjutkan langkahnya dengan perasaan cemas yang luar biasa. Genggaman tangannya pada tali tasnya mengerat.
Memang benar. Di kelas tidak ada yang melindungi Yasmin. Yasmin dalam bahaya besar sekarang, batin Dean kacau. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Tuhan, kenapa Kak Ray bertindak sefrontal itu? Itu justru memancing api...
Dean terdiam sejenak di depan pintu kelasnya. Sebuah kilatan ide muncul di matanya.
Oh ya, aku tahu. Aku tahu harus bagaimana. Aku akan melindungimu, Yasmin. Dengan caraku sendiri, aku akan menjagamu dari jauh. Tenanglah, Yasmin... aku nggak akan membiarkan mereka menyentuhmu lebih jauh lagi.
...****************...
Di kebun belakang sekolah, udara terasa jauh lebih ringan. Yasmin memeluk buku tulis yang baru dibelinya dari koperasi.
"Di sini udaranya lebih segar, kan?" tanya Ray, melirik Yasmin yang nampak lebih tenang.
"Iya. Dulu kalau sedih, aku suka lari ke sini," Yasmin bergumam, matanya menerawang teringat momen-momen awal ia mengenal Vyan di sudut ini.
"Bahkan, pertama kali aku bertemu Kak Vyan di sini. Kak Vyan lagi ada di gudang itu," ucap Yasmin menunjuk gudang di depan mereka.
Ray cemberut. Enggan mendengarkan cerita tentang Vyan.
"Kak Vyan... "
Ray segera memotong. "Eh, Yasmin. Pokoknya kalau ada apa-apa lagi cari aku aja. Aku pasti bela kamu."
Yasmin tersenyum tipis. "Aku rasa aku akan baik-baik saja, Ray."
"Jangan sok kuat. Beneran nggak mau dibantu tulis ulang catatannya?"
"Aku memang malas, tapi Kak Vyan bilang aku harus rajin," jawab Yasmin tidak sadar menyebut nama Vyan lagi.
Ray langsung cemberut. Lagi-lagi nama itu. "Kak Vyan, Kak Vyan terus... emang dia bisa ngurusin masalah kamu di kelas?"
Yasmin termenung. Ada gurat kesedihan di wajahnya. Vyan memang tampaknya sibuk, tapi Yasmin maklum. Dia ketua OSIS, lagipula memang dia siapanya?
Ray mendengus, lalu mendongak melihat ke atas pohon besar di depan mereka. "Eh, lihat! Ada sarang burung," ucapnya mengalihkan perhatian Yasmin.
"Mana? Oh itu! Iya!" Yasmin berjinjit, antusias. "Pasti anak burungnya lucu-lucu."
"Mau lihat?"
"Ingin sih, tapi aku pakai rok." Tiba-tiba wajah Yasmin memerah. Ia teringat kejadian di pohon belimbing rumah Vyan, saat Vyan mungkin melihat ke dalam roknya, membuat dia jatuh dengan cara tidak elegan. Untung posisinya saat itu sudah di bawah.
Ray menyadari perubahan warna di pipi Yasmin. "Kenapa mukamu merah? Mikirin apa?"
"Nggak! Bukan apa-apa!" seru Yasmin cepat.
"Ya sudah, biar aku yang naik." Ray dengan lincah memanjat pohon itu tanpa menunggu persetujuan. Tak lama, ia berseru dari atas, "Iya! Ada tiga ekor! Jelek-jelek, bulunya belum tumbuh."
"Jangan diambil, Ray! Nanti ibunya sedih!"
Tapi Ray tetap turun dengan sarang itu di tangannya. Ia ingin Yasmin melihatnya dari dekat. "Lihat, mereka menangis kelaparan. Jelek, kan?"
Yasmin mendekat, matanya berbinar menatap makhluk-makhluk mungil itu. "Ih, lucu sekali! Ray, kembalikan mereka. Coba dengar, bayi-bayi ini memanggil ibunya. Ibunya pasti sedih kalau tahu anaknya hilang."
Ray terpaku melihat betapa tulusnya Yasmin. Ia merasa dadanya menghangat. "Mereka akan kembali kalau kamu sudah puas melihatnya. Aku naik lagi ya?"
"Kamu naik lagi? Bisa?"
"Kulempar saja ya?" kelakar Ray sambil mengayunkan tangan ke atas.
"Eh, jangan! Mati dong!" Yasmin panik, reflek memegang lengan Ray untuk menahannya.
Ray terkekeh, menikmati kepanikan Yasmin. "Tentu tidak, Yasmin. Aku naik lagi."
Ray segera menyimpan kembali sarang itu. "Baik-baik ya, anak burung jelek! Yasmin bilang kalian lucu, jadi tumbuhlah yang cantik," bisiknya pelan di atas dahan.
"Ray, kamu pinter manjat kayak temenku, Kiki," seru Yasmin dari bawah.
"Kiki siapa? Saingan baru lagi?" tanya Ray sambil mulai turun.
"Dulu aku punya Kiki, tapi dia diambil Paman soalnya Paman suka monyet."
"Hah? Maksudmu... Kiki itu monyet?!" Ray kaget luar biasa hingga tumpuannya meleset.
Gubrak!
Ray mendarat dengan posisi yang sangat tidak estetik. "Aduuh!"
"Ray!" Yasmin berlari menghampirinya. "Padahal Kiki tidak pernah jatuh kalau manjat..."
"Jangan samain gue sama monyet, Yas!" keluh Ray sambil memegangi pergelangan kakinya.
"Sakit ya?" Yasmin membungkuk, wajahnya sangat dekat dengan wajah Ray, menatapnya dengan mata bulat yang penuh kecemasan.
Ray terpaku. Jarak mereka hanya beberapa senti. Ia bisa mencium aroma sabun bayi dari kulit Yasmin. Wajah Ray seketika berubah merah padam, lebih merah dari pipi Yasmin tadi.
"Ng... nggak... nggak apa-apa."
Yasmin malah berlutut, mencoba menyentuh pergelangan kaki Ray. "Beneran? Kayaknya bengkak..."
Teeeeeet! Bel masuk berbunyi .
"Iya, nggak apa-apa. Tuh, sudah masuk. Kamu masuk duluan saja," ucap Ray gugup, mencoba menjauhkan kakinya agar tidak disentuh Yasmin—ia takut Yasmin bisa mendengar detak jantungnya yang menggila.
"Ayo bareng!" Yasmin berdiri, tapi Ray tetap duduk bersandar di pohon.
"Nggak, aku mau bolos saja. Pelajaran berikutnya membosankan. Aku mau tidur di sini." Ray berpura-pura menguap lebar. "Sana pergi, jangan ganggu orang mau tidur."
Yasmin ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Sampai ketemu nanti, Ray. Makasih ya soal burungnya."
"Dadah..." Ray melambaikan tangan sampai Yasmin menghilang di balik belokan koridor.
Begitu Yasmin benar-benar pergi, wajah Ray langsung berubah ringkih. Ia memegangi kakinya dan mengaduh tertahan. "Sialan! Malu-maluin banget jatuh gara-gara monyet..."
Ray mencoba berdiri, meringis kesakitan, dan berjalan tertatih-tatih. Ia menatap ke arah Yasmin pergi sambil tersenyum tipis. "Sial... kenapa dia harus seimut itu sih kalau lagi cemas?"