Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Hari mulai terang saat Angel sudah selesai bersiap untuk pergi ke sekolah. Hari ini hari pertama ujian, ia tidak ingin terlambat karena terjebak macet. Demi keamanan, William memintanya untuk tidak menggunakan mobil, melainkan akan diantar dan dijemput olehnya sendiri. Awalnya Angel merasa keberatan, selain akan sangat merepotkan ia juga tak ingin gosip tentangnya muncul lagi.
Angel tersenyum saat melihat mobil William sudah ada di depan rumahnya dan William berdiri di samping pintu dengan setelan jasnya.
"Selamat pagi, Tuan putri," sambutnya hangat, tangannya terlentang siap menerima pelukan.
Angel mempercepat langkahnya, senyumnya mengembang memeluk William. "Bapak sudah lama menunggu?"
William balas memeluk erat, ia mencium bibir Angel sekilas. "Apapun untuk wanita cantik," godanya. William membuka pintu mobil mempersilahkan Angel masuk, tangannya berada di atas kepala melindungi dari kemungkinan benturan kecil bingkai atap mobil.
Suasana di mobil cukup tenang, Angel tidak banyak bicara hanya beberapa deheman untuk menjawab pertanyaan William. Angel mengambil buku kecil, membuka bagian yang telah diberi tanda, lalu mencoba mengulangnya dengan tanpa suara. Hal tersebut dilakukan hingga mobil mendekati area sekolah.
"Kita hampir sampai, Angel," ucap William menginterupsi.
Angel mengangkat wajahnya dari buku. "Sebaiknya kita berhenti di sini, Pak," pinta Angel membuat William menepikan mobilnya.
"Kau yakin? Sebentar lagi kita sampai."
"Justru itu, aku tidak ingin anak-anak tahu aku diantar oleh bapak."
"Kenapa? Kamu malu?"
Angel menggeleng. "Hanya saja aku sedikit kurang nyaman, dengan kedekatan kita beberapa waktu terakhir dan kalau publik mengetahuinya itu sama artinya membenarkan gosip kemarin."
"Aku tidak masalah dengan itu Angel."
"Kita tidak memiliki hubungan apapun pak dan itu akan membuat citraku semakin buruk. Intinya, kita belum bisa terang-terangan menunjukkan kebersamaan kita. Dan lebih baik besok bapak tidak perlu menjemputku," tegasnya pelan, Angel menghembuskan nafas, tatapannya melunak. "Bisakah bapak memahami posisiku?"
William mengangguk. "Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku akan menahan diri untuk tidak menemuimu."
"Tidak masalah jika bapak datangnya di rumah dan malam hari." Angel tersenyum, "seperti biasa menemaniku belajar, bagaimana?" tanyanya yang diangguki William. "Terima kasih. Aku berangkat!" Angel memajukan kepalanya, mencium pipi William, lalu keluar dari mobil.
Baiklah, William akan mencoba bersabar hingga ujian berakhir. Lagipula, sebentar lagi Angel berulang tahun. Dia berencana memberikan kejutan pada gadis itu.
***
Suasana lebih tenang daripada biasanya, tidak ada siswa laki-laki yang bermain futsal, ataupun teriakan-teriakan siswa perempuan yang menonton idolanya. Hal ini karena, selama ujian berlangsung siswa kelas X dan XI diliburkan agar keadaan lebih tertib dan jauh dari kebisingan untuk menjaga konsentrasi peserta ujian.
Angel duduk di bangku nomor 2 baris paling ujung, di depannya Albert yang menjadi langganan duduk di depan setiap ujian berlangsung. Dalam hal ini Angel bersyukur, karena duduk di depan cukup memberikan tekanan karena sangat dekat dengan guru atau pengawas.
Angel mengeluarkan Macbook-nya, membukanya, lalu menghidupkannya. Ia mulai menyeting Macbooknya ke Exam Mode dan login untuk memulai ujian. Mata pelajaran pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia, Angel cukup menyukai pelajaran ini. Pada dasarnya ia memang suka membaca khususnya novel. Ia berharap soal-soal yang muncul tidak jauh berbeda dengan materi-materi yang sudah ia pelajari sebelumnya.
Beberapa menit sebelum ujian dimulai, pihak IT sekolah masuk ke kelas dan menanyakan apakah terdapat kendala untuk login, syukurlah tidak ada yang memiliki kendala sehingga ujian dapat dimulai.
***
Angel berdiri di depan kelas, menunggu Avy yang tengah merapikan buku dan laptopnya. Beberapa teman menyapanya yang ia tanggapi dengan senyum dan anggukan. Ia melihat Darren berjalan melewati pintu.
"Darren!" panggilnya ragu. Darren mendekat, senyum terpatri di wajahnya. "Kau pulang bersama Bimala?"
Darren mengangguk. "Kau mau bergabung untuk belajar bersama?"
"Aku rasa tidak. Aku tahu kau sedang mendekatinya," bisiknya ringan, Angel tersenyum getir. "Aku tidak akan mengganggu kalian. Perempuan tidak suka menunggu terlalu lama Darren," ucap Angel mengingatkan karena proses pendekatan Darren dan Bimala sudah berlangsung cukup lama.
"Aku sedang menyiapkan kejutan untuknya." Darren berujar sambil berlalu meninggalkan Angel.
Ada rasa ngilu yang hadir semenjak kedekatan Darren dan Bimala semakin intens yang ia sembunyikan dibalik senyum getirnya. Namun rasa itu teralihkan dengan ujian sekolah dan persiapannya untuk masuk ke perguruan tinggi. Serta kehadiran William di hidupnya yang sedikit banyak memberikan sensasi kupu-kupu berterbangan membawanya memasuki dunia fantasi yang selama ini menjadi khayalannya.
"Angel!" Avy menepuk pundaknya menyadarkannya dari lamunan. "Kau baik-baik saja?" Jemari Avy memegang dahinya memastikan. "Tidak panas, berarti kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja Avy, kau tak perlu cemas."
"Wajar jika aku cemas Angel, kau hidup sendirian. Tidak ada yang menjagamu. Bagaimana dengan pamanmu yang menjadi wali?'
"Paman sesekali datang menjengukku bersama bibi dan membawakanku beberapa makanan yang tahan lama. Tapi itupun hanya sekedar memastikan aku hidup dengan baik dan makanan yang di kulkas habis," jelas Angel. Mereka berjalan menuju parkiran. "Kau bawa mobil kan?"
"Aku diantar oleh Jack. Kenapa? Kau tidak bawa mobil?"
"Seharusnya kau katakan sejak tadi, aku berencana memintamu mengantarku sekaligus aku ingin bercerita beberapa hal."
"Oh sayang, bisakah kau tunda dulu? Jack sudah menungguku, kau tahu rutinitas kami bukan? Lagipula ujian baru saja dimulai, sebaiknya cerita yang membuat emosi disingkirkan." Avy berlalu setelah memeluk Angel, ia masuk ke mobil Jack.
Dari luar Angel dapat melihat mereka berciuman. Angel bergidik ngeri membayangkannya. Ya meskipun Jack sangat tampan tetapi ia tidak rela sahabatnya menjadi salah satu mainan laki-laki brengsek itu. Namun Avy terlihat sangat bahagia dan ia tidak ingin merusaknya.
Angel mengambil ponselnya, menggulir layar yang menampilkan salah satu aplikasi transportasi online. Tidak ada pilihan lain, ia akan memesan taksi online saja.
***
Angel tidak langsung pulang ke rumah, ada gerai minuman kesukaannya yang baru buka. Karena searah dengan rumahnya ia memutuskan untuk mampir dan melihat-lihat apakah tempat tersebut cocok untuk menghabiskan waktu sambil membaca novel.
Angel turun dari taksinya, di depannya beberapa motor dan mobil sudah terparkir. Suasana cukup ramai. Wajar saja, merek ini memakai seorang aktris terkenal terutama di kalangan remaja untuk dijadikan BA. Sehingga saat ini tak hanya dirinya yang memakai seragam dan mengantri, sebagian besar konsumennya adalah remaja. Meskipun beberapa orang dewasa juga mengantri. Salah satunya adalah orang di depannya ini.
Karena cuaca cukup panas, terdengar beberapa kali keluhan dan tangannya yang tak berhenti mengipas-ngipas. Angel merasa familiar dengan suara orang tersebut. Ia lalu menepuk pundak gadis di depannya.
"Bu Sandra?" Angel yang cukup terkejut dengan orang di depannya yang sekejap ia ganti dengan senyum hormat. "Ibu juga suka minuman ini?"
Melihat Angel mengingatkannya pada luka yang ditorehkan William, karena anak ini ia juga dipecat dari pekerjaannya. "Angel, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sandra bernada sinis.
Tidak memahami ekspresi memusuhi yang ditampilkan Sandra, Angel menjawab dengan nada senang. "Saya suka minuman ini, bu. Sudah lama tidak melihat ibu di sekolah. Ibu apa kabar?"
"Tidak perlu berpura-pura baik, Angel. Sebaiknya kamu juga bersiap-siap agar jika nanti William meninggalkanmu, kau tidak terlalu merasakan sakit," bisiknya di telinga Angel lalu pergi.
Angel mengerutkan dahinya tak mengerti, apa hubungannya minuman ini dengan William?
***