hidup dibayang-bayang kekuasaan dan perebutan warisan membuat gadis mungil harus bertahan bersikap arogan dan sombong ini bukan kemauan tapi menjaga diri dari saudara kandung dari ayahnya yang ingin merebut hak milik gadis itu, tapi semuanya sia-sia karena perjanjian hak waris yang ditulis oleh sang kakek bahwa warisan itu berada ditangan seorang pria yang cukup memiliki kekuasaan, dan perjanjian yang mengharuskan sang gadis menikahi nya.
apakah pernikahan yang dijodohkan akan bahagia atau malah membawanya kelubang luka yang dalam.
yuk mulai baca biar gak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khotimah04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01.Permintaan hak waris
Delisa artatama gadis yang saat ini duduk diam menunduk mendengar berdebat sengit antara ayah dan juga pamannya.
" seharusnya aku yang mendapatkan hak waris itu, karena aku anak pertama bukan malah delisa yang menerima ini semua dia hanya cucunya,harusnya papa bisa paham soal ini " ucap marah Handoyo paman delisa,
" aku juga tidak tau mas kenapa papa mewariskan semua perusahaan dan beberapa properti kepada putri ku " ucap papa delisa Gerland artatama,
" Halah pasti kamu menghasut papa kan biar semua perusahaan di wariskan ke putrimu " ucap bibi sinta istri dari paman delisa.
" maaf mbak kami benar-benar tidak tau soal masalah ini, ini udah jadi keputusan papa sebelum pergi" ucap Rania ibu kandung delisa,
mereka masih berdebat tanpa tau saat ini delisa benar-benar bingung,isi pikiran nya hanya kenapa kakeknya menyerahkan sebagian asetnya kepadanya bahkan ada beberapa villa,apartemen,dan juga rumah utama yang ikut adil diwarisan itu.
Sebenarnya apa tujuan kakeknya dan mengapa di wasiat itu tertulis bahwa sebagian harta nya di serahkan kepada salah satu sahabat mendiang kakek artatama,
Dan tidak lama kemudian ketukan pintu mengagetkan mereka semua yang awalnya berisik dan masih adu argumen tiba-tiba diam mematung memandang kearah luar yang memang sejak awal pintu itu tidak di tutup dan terbuka lebar, di depan pintu menampilkan seseorang lelaki tua di dampingi sepasang pria dan wanita paruh baya,serta di belakang mereka ada seorang lelaki gagah rupawan bertampang tegas berwibawa.
" tuan Adipati " sambut papa Gerland dengan senyuman yang dipaksakan, " sil_ahkan masuk tuan " papa Gerland mempersilahkan keempat tamunya masuk kedalam rumah dan menyuruh mereka duduk di sofa Ruang tamu,
paman serta bibi yang sejak awal marah tiba-tiba menciut seperti orang ketakutan entah apa yang terjadi tapi di mata delisa ada yang disembunyikan oleh kedua orang itu.
" hmm terimakasih atas sambutanya nak Gerland" ucap tuan Adipati dengan suara dingin menunjukan bahwa dia orang yang sangat amat dihormati,
" aku kesini ingin menagih janji papa mu yaitu, putrimu dan juga separuh warisan milik artatama " ucap tuan Adipati tanpa basa basi,
" apa maksudnya tuan kami tidak mengerti" ucap mama Rania bingung dengan ucapan tuan Adipati,
" iya tuan kenapa harus meminta putri saya, soal warisan kami sudah paham tapi kalau soal putri saya kami kedua orang tuanya tidak mengerti" papa Gerland memperjelas yang dimaksud istrinya
Tuan Adipati menghela nafas seperti nya kedua orang tua delisa belum di beri tahu soal perjanjian tuan Adipati dan tuan Artatama waktu masih muda.
" saya akan menjelaskan kenapa harus mengambil putrimu,ini sudah menjadi hak kontrak waktu itu dan juga sudah bertandatangan dia atas kertas hitam dan putih, saat itu papamu artatama ingin menjodohkan anak atau cucu nya kepada keluarga Adipati, karena istriku dan mendiang ibu mu sama-sama melahirkan putra jadi kami menundanya hingga dimana kamu menikah dan istri mu melahirkan anak perempuan, dan juga menantuku melahirkan anak laki-laki jadi kami sepakat untuk melanjutkan perjodohan itu dan setengah hak waris jatuh ke tangan cucu ku sesuai kesepakatan siapa yang duluan meninggal dia harus rela menyerahkan itu semua termasuk amanat perjodohan,karena papa mu dulu yang pergi maka kalian harus melaksanakan permintaan terakhirnya termasuk pernikahan" ucap tuan Adipati pajang lebar serta mengingat momen dimana perjanjian itu dibuat,
" apa!!! delisa tidak mau pah mah " ucap delisa berdiri dengan mata berkaca-kaca, syok tentu siapa yang tidak syok tiba-tiba dia harus dijodohkan ini seakan Sambaran petir yang sangat mendadak disiang bolong,
" satu hal lagi warisan itu hanya akan terbuka ketika cucu ku dan juga delisa sudah resmi menikah dan juga memiliki anak " ucap tuan Adipati membuat paman dan bibi lemas seketika itu artinya meraka tidak akan bisa merebut hak waris milik delisa,
" apalagi ini,aku tidak butuh itu semua Lisa hanya ingin menikah dengan lelaki yang delisa cinta " teriak delisa sembari terisak dengan tangisannya,
" maaf cucu mantu tapi ini sudah disepakati kalau tidak keluarga kalian akan hancur " ucap tuan Adipati tegas delisa terduduk lemas mendengar penuturan tuan Adipati.
' tuhan kenapa harus aku ' batin delisa, mamahnya hanya menunduk menangis dalam diam dia tidak rela putrinya menderita.
" baiklah ini sudah cukup Minggu depan delisa dan cucu ku akan bertunangan jadi bersiaplah " ucap tuan Adipati segera berdiri di bantu putra dan menantunya dia melangkah keluar rumah tanpa berpamitan.
Saat ini lelaki yang sejak tadi diam serta sorot mata yang tajam seakan memindai setiap orang yang berada disana, dia menghela nafas berat lalu memandang papa Gerland serius.
" maaf om saya mewakili kakek kalau membuat anda tertekan dengan permintaan nya dan juga soal isi wasiat itu " ucap Alvaro Adipati cucu dari tuan Adipati serta calon suami delisa,
" tidak apa nak kalau memang ini sudah menjadi keputusan kakek delisa om tidak bisa membantah saya harap kamu bisa bersikap baik pada putriku itu saja sudah cukup " ucap papa Gerland tampak pasrah dengan ini semua, kenapa papa Gerland bisa tau kalau didepannya adalah calon menantu nya karena setaun nya tuan Adipati hanya memiliki satu cucu lelaki dan ya dialah Alvaro .
" saya akan usahakan yang terbaik untuk putri om, dan maaf bolehkah saya berbicara berdua dengan putri anda " ucap Alvaro sopan tapi tegas,
" boleh nak silahkan " ucap papa Gerland memandang putrinya yang tampak sedih dan terluka iya tersenyum mengangguk kepada delisa agar mau berbicara dengan Alvaro.
Tanpa banyak bicara delisa berdiri lalu berjalan kearah belakang dimana ada kolam renang disana dan Alvaro mengikuti langkah gadis mungil yang tampak takada semangat dia tersenyum kecil melihat tingkah lucu dari calon istrinya ya walaupun dia tau kalau delisa belum bisa menerimanya.
" silahkan duduk om " ucap delisa mempersilahkan Alvaro duduk di kursi yang memang disediakan kalau-kalau ingin bersantai,
" apa saya setua itu hingga kamu memanggil ku dengan sebutan om " ucap Alvaro dingin
" lalu aku harus memanggil mu apa???, sayang gitu " ucap delisa sebal,
" boleh " ucap Alvaro tanpa dosa
" dih itu sih mau nya om aja " ucap delisa Tambah sebal,
" panggil saya mas atau kakak, saya tidak suka di panggil om " ucap Alvaro tanpa bantahan,
" mas?" ucap delisa menoleh kearah Alvaro yang nyatanya juga menatapnya,dan dipikiran delisa saat memandang wajah Alvaro satu kata yang terucap dihatinya " tampan ".
Alvaro segera menoleh kearah kolam sungguh ini tidak aman bagi jantung nya melihat wajah imut serta cantik didepannya membuatnya terpesona,begitupun delisa segera mengalihkan pandangannya kedepan.
" delisa bagaimana menurut mu soal permintaan kakek??" ucap Alvaro memecahkan keheningan yang 5 menit terjadi tadi.