NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15-Dinda Menghilang

Malam telah menyelimuti seluruh kawasan Sekolah Hantage School Academy dan asramanya. Langit tampak gelap pekat tanpa bintang, hanya diterangi oleh sinar bulan yang samar dan lampu-lampu taman yang memancarkan cahaya kekuningan yang redup. Suasana di asrama terasa jauh lebih hening dan mencekam dari biasanya. Kabar tentang kebakaran hebat yang melanda perpustakaan siang tadi masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan seluruh murid, namun bagi Elara dan Keisha, kekhawatiran mereka jauh melampaui rasa sedih atas bangunan yang hangus terbakar.

Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih tiga puluh menit. Dinda belum juga pulang.

Elara duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling bertautan erat di depan dada. Matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, berharap sewaktu-waktu pintu itu akan terbuka dan menampakkan wajah.

Di seberang sana, Keisha mondar-mandir dengan gelisah di dekat jendela. Wajahnya terlihat pucat, matanya sembab dan merah karena sudah berkali-kali meneteskan air mata. Tangannya tak lepas dari genggaman ponselnya, jari-jarinya bergerak otomatis menekan tombol panggil ke nomor yang sama—nomor milik Dinda. Sudah belasan kali ia melakukannya sejak sore tadi, namun hasilnya tetap sama, tak ada perubahan sedikit pun.

"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara rekapan operator itu kembali terdengar dari pengeras suara ponsel, lalu mati begitu saja. Keisha menghentakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi, lalu menjatuhkan dirinya ke kursi belajar dengan lemas.

"Tetap sama, El... Masih nggak aktif juga," keluh Keisha dengan suara parau dan bergetar. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Udah berapa ratus kali aku telepon, udah berapa kali aku kirim pesan, tapi nggak ada balasan sama sekali. Dia ke mana sih? Dinda itu kan anaknya pendiam, nggak mungkin dia pergi jauh-jauh tanpa bilang siapa-siapa, apalagi malam-malam begini."

Elara menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati sahabatnya itu. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Keisha, berusaha memberi kekuatan meski hatinya sendiri sedang berkecamuk rasa takut yang luar biasa.

"Aku juga udah coba telepon pakai nomorku, Kei. Hasilnya sama persis. Nggak ada jawaban," jawab Elara pelan. Matanya menatap kosong ke arah meja belajar Dinda yang masih tertata rapi, seolah pemiliknya baru saja akan kembali duduk di sana. "Sudah hampir lima jam berlalu. Pak Herman bilang kalau sampai malam dia belum balik, kita harus lapor lagi... dan sekarang ini sudah malam, Kei. Dinda belum pulang. Dia hilang beneran."

Keisha mengangkat wajahnya, air mata kembali menetes di pipinya. Tatapannya penuh ketakutan. "El... aku takut. Aku jadi ingat ucapan Celio siang tadi, kalau perpustakaan udah kosong dan dikunci lama sebelum api muncul dan gak lama kemudian, Perpustakaan Sekolah. Jangan-jangan... jangan-jangan ada hubungannya?"

Elara terdiam. Ia sendiri sudah berpikir hal itu sejak tadi. semuanya berputar kacau di kepalanya. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran buruk itu namun gagal.

"Aku juga merasa ini ada hubungannya sama kejadian Perpustakaan yang terbakar. Tapi kita nggak punya bukti apa-apa. Dan sekarang yang paling penting adalah nyari Dinda, cari tahu di mana dia dan apa yang terjadi sama dia," ucap Elara tegas. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Keisha dengan pandangan yang sudah bulat. "Kita nggak bisa diam di sini lagi nungguin kabar yang nggak bakal datang. Pak Herman bilang kalau sampai malam dia belum balik, kita harus lapor lagi ke pihak sekolah, dan baru nanti polisi dilibatkan. Sekarang waktunya sudah habis, Kei. Kita harus pergi ke ruang kepala sekolah sekarang juga."

Keisha langsung menyeka sisa air matanya dengan kasar, lalu bangkit berdiri dengan penuh tekad. "Kamu bener, El. Kita harus lapor lagi. Kita harus bilang semuanya, kalau ini bukan sekadar terlambat pulang, tapi ini hilang secara misterius. Kita harus minta Pak Herman buat nyari dia sampai ketemu, atau panggil polisi sekarang juga."

Tanpa membuang waktu lagi, keduanya segera merapikan penampilan seadanya, lalu bergegas keluar dari kamar. Lorong-lorong asrama yang tadinya terasa akrab dan aman, kini terasa panjang, gelap, dan mengerikan. Langkah mereka berdua terasa berat namun cepat, menyusuri jalan setapak menuju gedung utama sekolah yang masih terang benderang karena masih ada beberapa staf yang bekerja lembur menangani urusan pasca kebakaran.

Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka berbicara, namun pikiran mereka sama saja: Semoga belum terlambat. Semoga Dinda masih selamat di suatu tempat.

Sesampainya di depan ruangan Kepala Sekolah, pintunya masih sedikit terbuka. Terdengar suara percakapan dari dalam sana. Elara dan Keisha saling pandang sejenak, menguatkan hati satu sama lain, lalu Elara mengetuk pintu itu pelan.

"Permisi..." panggil Elara dengan suara yang masih terdengar gemetar namun jelas.

"Masuk," jawab suara berat Pak Herman dari dalam.

Mereka berdua pun melangkah masuk. Di dalam ruangan itu, Pak Herman sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar dan berantakan, dikelilingi oleh berkas-berkas laporan. Ia tampak sangat lelah, namun saat melihat wajah pucat dan mata sembab kedua muridnya itu, Pak Herman segera menyadari apa maksud kedatangan mereka. Ia meletakkan pulpen di tangannya, lalu bersandar di kursi sambil menatap mereka dengan serius.

"Elara... Keisha..." ucap Pak Herman pelan. Ia melirik jam di dinding ruangannya. "Kalian datang ke sini berarti... Dinda belum pulang juga, ya?"

Keisha mengangguk cepat, air mata yang baru saja ia tahan kembali mengalir deras. Ia maju selangkah ke depan meja, suaranya terdengar penuh keputusasaan.

"Belum, Pak... Dia belum balik sama sekali. Sudah jam sembilan malam, Pak. Dia nggak mungkin begadang di luar tanpa bilang apa-apa. Teleponnya mati terus. Dinda... Dinda beneran hilang, Pak. Kami mohon, tolong cariin dia. Kami takut ada hal buruk yang menimpa dia, apalagi setelah kejadian kebakaran mengerikan tadi."

Elara ikut maju, menahan isak tangisnya agar bisa bicara dengan tenang. "Pak Herman, kami rasa ini bukan sekadar anak yang tersesat atau terlambat pulang. Ada yang aneh di sini. Dinda pamit mau ke perpustakaan, tapi perpustakaan sudah kosong dan dikunci. Terus setelah itu dia lenyap ditelan bumi. Dan... dan ada hal lain yang membuat kami curiga, Pak... tapi kami nggak berani menuduh tanpa bukti. Tapi tolong, Pak... kami mohon, segera cari bantuan pihak berwenang. Dinda itu anak baik, dia nggak punya siapa-siapa selain kami dan sekolah ini."

Pak Herman tampak sangat terbebani. Ia bangkit berdiri, berjalan pelan mendekati jendela ruangannya yang menghadap ke arah puing-puing perpustakaan yang masih dijaga petugas keamanan. Wajahnya tampak serius dan penuh kekhawatiran yang mendalam.

"Baiklah... Kalian sudah memberi tahu saya apa yang harus saya ketahui. Kalian sudah bertindak benar dengan datang melapor kembali," ucap Pak Herman dengan nada tegas namun tenang, berusaha menenangkan kedua gadis itu. Ia berbalik menghadap mereka kembali. "Kasus ini sudah masuk kategori hilang secara misterius. Saya tidak bisa menunda lagi. Sebentar lagi saya akan menghubungi kantor kepolisian setempat dan melaporkan kejadian ini. Saya juga akan mengerahkan seluruh staf keamanan sekolah untuk melakukan pencarian besar-besaran ke seluruh penjuru lingkungan sekolah, asrama, dan kawasan sekitarnya malam ini juga."

"Tapi, Pak..." sela Elara ragu-ragu, hatinya berdebar kencang saat hendak mengemukakan kecurigaannya. "Apakah mungkin... hilangnya Dinda ada hubungannya sama kebakaran tadi? Atau ada orang yang sengaja ngelakuin ini karena ada dendam atau niat jahat?"

Pak Herman menatap Elara tajam, seolah paham ke mana arah pembicaraan gadis itu. "Itulah yang akan kita selidiki semuanya. Baik penyebab kebakaran, maupun penyebab hilangnya teman kalian. Segala kemungkinan akan kita telusuri. Sekarang, tugas kalian berdua adalah kembali ke kamar, tenangkan diri, dan tunggu kabar dari saya. Jangan pergi ke mana-mana lagi, karena keadaan sekarang sedang tidak aman."

Elara dan Keisha saling pandang. Meskipun rasa khawatir belum hilang sepenuhnya, setidaknya hati mereka sedikit lega karena pihak sekolah akhirnya mengambil tindakan nyata.

"Terima kasih, Pak... Tolong cariin Dinda ya, Pak," ucap Keisha lirih sambil menundukkan kepala tanda hormat.

"Kami berjanji akan berusaha sekuat tenaga," jawab Pak Herman tegas. "Sekarang kalian kembali ke asrama. Biarkan kami yang bekerja malam ini."

Mereka berdua pun akhirnya beranjak keluar dari ruangan itu. Saat pintu ditutup kembali, Elara menatap lorong yang gelap di depannya. Di dalam hatinya, sebuah tekad bulat tumbuh semakin kuat: ia tidak akan berhenti sampai ia tahu kebenarannya. Dinda menghilang, dan Elara yakin, kunci jawabannya tersembunyi jauh di dalam rahasia kelam Sekolah mereka.

***

Jam dinding di kamar asrama terus berdetak pelan, menandai berlalunya waktu hingga akhirnya jarum panjang dan pendek itu sama-sama menunjuk ke angka dua belas. Tengah malam telah tiba. Suasana di luar kamar sunyi senyap, hanya sesekali terdengar suara angin malam yang berdesir pelan menerpa dinding bangunan tua itu. Di dalam kamar, lampu sudah dimatikan, menyisakan cahaya remang dari sinar bulan yang masuk lewat celah jendela.

Keisha sudah terlelap di tempat tidurnya, lelah menangis dan menahan cemas sepanjang hari. Napasnya terdengar teratur, namun wajahnya masih tampak berkerut seolah kegelisahan itu terbawa hingga ke dalam mimpinya. Sementara itu, Elara berbaring diam menatap langit-langit kamar yang gelap. Matanya terasa berat dan perih, namun hatinya begitu penuh dengan kekhawatiran akan nasib Dinda hingga sulit sekali untuk memejamkan mata sepenuhnya. Lama-kelamaan, rasa lelah fisik mengalahkan segalanya, dan perlahan kesadaran Elara pun melayang masuk ke dalam alam mimpi.

Namun malam itu, tidurnya bukanlah istirahat yang damai. Sekali lagi, mimpi buruk itu datang menjemputnya.

Elara tersentak sadar di dalam mimpinya. Ia mendapati dirinya berdiri sendirian di sebuah ruangan yang sangat gelap dan luas. Udara di sini terasa dingin, lembap, dan pengap, persis seperti hawa yang selalu ia rasakan saat berada di lorong-lorong terlarang sekolah itu. Tidak ada jendela, tidak ada pintu keluar, hanya kegelapan pekat yang menyelimuti segala arah, dan lantai batu yang dingin menembus telapak kakinya.

Tiba-tiba, di tengah keheningan yang mencekam itu, kabut tipis berwarna putih keabu-abuan mulai mengepul dan bergerak perlahan di udara. Dari balik kabut itu, muncul sesosok bayangan tinggi yang perlahan mengambil bentuk. Jantung Elara seketika berdegup kencang, rasa ngeri yang akrab kembali menjalar ke seluruh tubuhnya.

Di hadapannya kini berdiri sosok wanita yang sangat menyeramkan namun memiliki wujud yang anggun yang selama ini menghantuinya.

Elara terpaku di tempatnya, kakinya terasa berat seolah tertanam ke tanah. Ia ingin berteriak, ingin lari, namun suaranya tercekat dan tubuhnya tak bisa bergerak sedikit pun. Rasa takut yang luar biasa menyergapnya, napasnya tertahan melihat sosok itu bergerak perlahan mendekat, melayang di atas lantai tanpa menyentuh tanah.

Namun, alih-alih melakukan hal buruk, sosok Hantu wanita itu berhenti beberapa langkah di depannya. Ia menatap tepat ke arah mata Elara, dan suara lirih, berat, namun penuh keputusasaan terdengar menggema di seluruh ruangan gelap itu, seolah datang dari segala arah sekaligus.

"Hanya kamu... hanya kamu satu-satunya yang bisa melakukannya, Elara..." bisik sosok itu, suaranya bergetar penuh kesedihan. "Kamulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan Sekolah ini... Hantage School Academy... sebelum lebih banyak nyawa yang melayang dan menjadi korban dari dendam lama yang tak pernah padam ini. Waktunya semakin sedikit... bahaya semakin dekat... kamu harus bertindak sebelum semuanya hancur lebur tidak tersisa."

Kalimat itu. Kalimat yang sama persis selalu diucapkan sosok ini setiap kali mereka bertemu, baik dalam mimpi maupun di dunia nyata.

Anehnya, rasa takut Elara perlahan mulai mereda, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa. Berkali-kali ia mendengar hal yang sama, namun tak ada satu pun yang mau menjelaskan maknanya. Di dalam mimpi itu, keberanian aneh tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Elara menatap balik mata kosong itu, mengerutkan keningnya, dan berbicara dengan suara yang sedikit bergetar namun jelas.

"Kenapa? Kenapa cuma aku?!" seru Elara, pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya akhirnya terlontar. "Kenapa kamu selalu bilang cuma aku yang bisa menyelamatkan sekolah ini? Aku cuma murid baru! Aku nggak tahu apa-apa soal sejarah tempat ini, aku nggak tahu rahasia apa yang disembunyikan di sini! Aku cuma anak biasa, masuk pakai beasiswa, nggak punya kekuatan apa-apa. Kenapa harus aku?!"

Elara menarik napas panjang, lalu melanjutkan pertanyaan yang paling ingin ia ketahui jawabannya. "Dan siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu selalu muncul di depan aku? Apa hubungan kamu sama sekolah ini?"

Sosok wanita berpakaian kuno itu diam sejenak. Wajah pucatnya tampak semakin sedih, matanya berkaca-kaca meski tak ada air mata yang jatuh. Ia membuka mulutnya seolah ingin menjawab, ingin memberi penjelasan yang ditunggu-tunggu itu. Namun sebelum satu kata pun terucap...

Sret...

Sosok itu tiba-tiba berubah menjadi asap putih tipis, lalu lenyap seketika ditelan kegelapan. Ruangan itu kembali kosong melompong, menyisakan Elara yang berdiri sendiri dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab.

"Eh, tunggu! Jangan pergi! Jawab aku!" teriak Elara berusaha mengejar, namun kakinya seolah terikat kuat.

Dalam sekejap, pemandangan ruangan gelap itu berputar kacau, lalu digantikan oleh rasa segar yang tiba-tiba. Elara tersentak hebat, matanya terbuka lebar, dan napasnya tersengal berat saat ia kembali sadar.

Ia kembali berada di kamarnya, di atas kasurnya sendiri. Cahaya bulan masih sama masuk lewat celah jendela, dan Keisha masih tidur pulas di sebelahnya. Hening. Sunyi.

Elara duduk bersila di atas kasurnya, tangannya memegang dada yang terasa berdebar kencang sekali. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya sedikit basah dan berantakan karena keringat akibat mimpi buruk itu. Ia menatap ke arah jendela yang gelap, bayangan wajah wanita itu masih terbayang jelas di ingatannya, begitu pula dengan kata-kata penuh teka-teki yang diucapkannya.

"Hanya kamu yang bisa menyelamatkan..." gumam Elara pelan, menirukan bisikan itu dengan suara lirih. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih sedikit gemetar. "Apa maksudnya? Kenapa aku? Apa hubungan aku sama sekolah tua ini? Aku kan baru masuk..."

Pikiran Elara kembali melayang ke segala kejadian belakangan ini: simbol aneh yang ia foto di gudang terlarang, jejak darah di lorong asrama, kebakaran Perpustakaan , hingga hilangnya Dinda. Semuanya terjadi sejak ia menginjakkan kaki di sekolah ini. Dan sosok wanita itu selalu ada, selalu mengawasi, selalu memberi peringatan.

Elara menunduk menatap selimut yang menutupi kakinya. Rasa bingung, takut, dan rasa penasaran bercampur menjadi satu. Ia teringat ucapan terakhir sosok itu: sebelum banyak korban berjatuhan. Dinda sudah hilang. Apakah Dinda adalah korban pertama? Apakah semua orang di sekolah ini termasuk Keisha, Arkan, atau bahkan dirinya sendiri akan menjadi korban berikutnya jika ia diam saja?

"Aku harus tahu..." bisik Elara dengan tekad yang mulai tumbuh di tengah rasa takutnya. "Siapa wanita itu, apa arti simbol itu, apa rahasia sekolah ini, dan di mana Dinda sekarang. Aku nggak bisa cuma diam dan menunggu hal buruk lain terjadi. Kalau memang aku dianggap satu-satunya yang bisa mengubah semua ini... kalau memang cuma aku yang bisa melihat dan merasakan hal-hal ini... berarti memang ada alasan kenapa semua ini terjadi sama aku."

Elara mengangkat wajahnya kembali, menatap kegelapan kamar dengan mata yang kini mulai berubah menjadi penuh tekad. Meski hatinya masih berdebar sisa ketakutan mimpi itu, ia tahu ia tidak punya pilihan lain selain terus maju mengungkap kebenaran, meski bahaya mengintai di setiap sudut Sekolah Warisan ini.

"Besok... besok aku akan mulai cari jawabannya lagi," janji Elara dalam hatinya. "Aku harus tahu siapa sebenarnya wanita itu, dan apa rahasia besar yang disembunyikan tempat ini."

***

(keesokan Harinya)

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela tinggi di sepanjang lorong gedung sekolah Hantage School Academy, namun cahayanya terasa tak sanggup menghapus suasana kelabu yang menyelimuti seluruh kawasan Sekolah Warisan pagi itu. Udara pagi yang biasanya segar, kini terasa berat dan penuh tanya. Kabar tentang kebakaran hebat di perpustakaan belum sepenuhnya reda, kini bertambah dengan kabar baru yang jauh lebih mengerikan: hilangnya Dinda Kusuma secara misterius.

Elara dan Keisha melangkah masuk ke dalam ruang kelas XII-Magister Scienty. Suasana di dalam kelas sudah cukup ramai, hampir semua murid sudah hadir dan duduk di tempat masing-masing. Namun, tidak ada suara tawa riang atau obrolan santai seperti hari-hari biasanya. Suasana hening dan tegang, hanya terdengar bisik-bisik samar yang terdengar di setiap penjuru ruangan. Begitu kedua gadis itu masuk, sepasang mata serentak menoleh ke arah mereka, menatap dengan pandangan penuh rasa ingin tahu, rasa kasihan, namun juga rasa takut. Semua orang tahu, Elara adalah orang terakhir yang berhubungan langsung dengan Dinda sebelum gadis itu lenyap ditelan bumi.

Elara dan Keisha berjalan menuju bangku mereka dengan langkah gontai. Wajah mereka masih tampak pucat dan lelah, kantung mata di bawah mata Elara terlihat jelas akibat semalam hampir tak tidur karena mimpi buruk dan kekhawatiran, sedangkan mata Keisha kembali membengkak dan merah. Mereka duduk di tempat masing-masing, diam, tenggelam dalam kesedihan dan kekalutan sendiri.

Di deretan bangku depan, Rina, gadis berambut pendek berwarna pirang yang duduknya tidak jauh dari mereka, berbisik pelan kepada Salsa dan Zoey di sebelahnya, namun suaranya cukup terdengar jelas oleh orang-orang di sekitarnya.

"Eh, dengar gak kalian? Katanya Dinda Kusuma itu beneran hilang, lho," ucap Rina sambil melirik ke arah bangku kosong di sudut ruangan, tempat biasa Dinda duduk sendirian. "Katanya dari kemarin sore sampai sekarang nggak ada kabar sama sekali, nggak balik ke asrama, nggak ada di mana-mana."

Salsa mengangguk cepat, wajahnya tampak serius. "Gue udah denger kok. Pas pagi tadi di gerbang, gue denger Pak Satpam lagi ngomong sama guru piket soal ini. Katanya pihak sekolah udah lapor ke polisi dan nyariin ke mana-mana, tapi belum ketemu jejaknya sama sekali."

"Kasihan banget ya, dia..." sahut Zoey sambil menghela napas panjang, menatap bangku kosong Dinda dengan pandangan sedih. "Selama di sini hidupnya berat banget. Udah sering dibully dan dipermalukan sama Valerie sama gengnya, terus sekarang malah hilang secara misterius kayak gini. Jangan-jangan ada hal buruk yang beneran terjadi sama dia..."

Mendengar percakapan itu, Bimo yang dikenal sebagai murid paling penakut dan mudah panik, yang duduk di bangku belakang ikut menimpali dengan suara bergetar dan mata terbelalak, seolah-olah ia sudah membayangkan hal-hal mengerikan.

"Jangan-jangan... jangan-jangan dia dimakan sama hantu sekolah ini? Atau diculik sama makhluk halus yang ada di gedung tua itu? Kan denger-denger sekolah ini banyak banget sejarah kelamnya, apalagi perpustakaan itu katanya tempat paling angker!" seru Bimo heboh, suaranya meninggi sedikit karena ketakutannya sendiri.

Rina langsung memutar badannya ke belakang, menatap tajam ke arah Bimo sambil mendengus kesal. "Hust! Jangan sembarangan ngomong yang enggak-enggak, deh! Nanti malah bikin suasananya makin serem dan bikin takut semua orang. Kita kan nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jangan langsung tuduh makhluk halus segala. Nanti kalau yang denger guru, bisa kena masalah kita."

"Tapi kan bener..." gumam Bimo tertunduk, meski mulutnya sudah ditutup rapat.

Di sudut ruangan itu, Elara dan Keisha mendengar semua percakapan itu dengan jelas. Hati Keisha makin terasa sesak mendengarnya. Ia menundukkan wajahnya, memainkan ujung bajunya dengan gelisah. Meski selama ini ia dan Dinda tidak terlalu dekat, tidak pernah mengobrol panjang lebar atau menjadi sahabat karib, namun mengetahui nasib buruk yang menimpa gadis pendiam itu membuat hatinya ikut sedih dan perih.

"Sumpah ya, El... Padahal aku sama Dinda nggak terlalu dekat, kita jarang ngobrol dan jarang bareng-bareng. Tapi denger semua orang ngomongin nasib dia gini, aku rasanya sedih banget, kayak ada yang hilang gitu di hati," ucap Keisha lirih, suaranya bergetar menahan tangis. "Dia anak yang baik, pendiam, rajin, nggak pernah nyusahin orang lain. Kenapa sih hal buruk selalu kejadian ke orang baik kayak dia?"

Elara menoleh, menatap Keisha dengan tatapan penuh pengertian dan kesedihan. Ia meremas tangan sahabatnya itu pelan. "Aku ngerti, Kei. Aku juga ngerasain hal yang sama. Dinda itu orang yang lemah lembut, nggak punya musuh. Makanya makin nggak masuk akal kalau dia bisa hilang gini aja. Ada yang salah, Kei... ada yang nggak beres di sini, dan kita harus cari tahu sampai ketemu."

Belum sempat pembicaraan mereka berlanjut, langkah kaki berat terdengar mendekat ke arah meja mereka. Semua murid seketika diam dan duduk tegak. Bu Melda, wali kelas mereka yang bijaksana namun tegas, berdiri tepat di samping bangku Elara. Wajah Bu Melda tampak sangat serius, terlihat jelas bahwa ia juga sedang memikirkan dan mencemaskan nasib Dinda.

Bu Melda menatap Elara lekat-lekat, lalu berbicara dengan nada suara rendah namun jelas. "Elara..."

Elara seketika menegakkan tubuhnya, menatap wajah wali kelasnya itu dengan hati berdebar. "Ada apa, Bu?"

"Kamu dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah sekarang juga," ucap Bu Melda tegas. "Pak Herman minta kamu datang untuk dimintai keterangan lebih lanjut soal kejadian kemarin dan keberadaan Dinda sebelum hilang. Beliau sedang menunggu."

Mata Keisha seketika membelalak khawatir. Ia langsung menarik lengan baju Elara pelan, lalu menatap Bu Melda. "Bu... boleh nggak kalau aku ikut juga? Aku juga teman dekat Dinda, aku juga tahu banyak hal. Aku mau nemenin Elara sekalian."

Bu Melda terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Boleh, Keisha. Kalian berdua sama-sama yang terakhir bertemu dan berbicara sama Dinda, jadi kehadiran kalian berdua memang diperlukan. Ayo, kalian berangkat sekarang. Jangan membuat Pak Herman menunggu lebih lama lagi."

Elara mengangguk patuh. Ia bangkit berdiri dari duduknya, merapikan sedikit seragamnya yang kusut, lalu menatap Keisha dengan tatapan yang berusaha terlihat kuat meski sebenarnya ia sangat gugup. Keisha pun segera berdiri, menggenggam tangan Elara erat seolah memberi isyarat bahwa mereka akan menghadapi ini bersama-sama.

"Yuk, El. Aku temenin, nggak akan aku tinggalin sendirian di depan Pak Herman," bisik Keisha tegas.

"Iya, makasih ya, Kei," jawab Elara pelan.

Diiringi pandangan seluruh murid di kelas yang penuh rasa ingin tahu dan simpati, Elara dan Keisha pun beranjak dari tempat duduk mereka. Mereka berjalan beriringan keluar dari ruang kelas, meninggalkan suasana yang makin mencekam itu.

Langkah Elara dan Keisha terasa berat saat mereka melintasi lorong menuju ruang Kepala Sekolah. Di luar dugaan, di depan ruangan itu sudah terparkir dua mobil dinas kepolisian. Jantung Elara berdegup makin kencang; ternyata penanganan kasus ini sudah masuk ke tahap resmi. Begitu masuk ke dalam ruangan yang luas itu, suasana terasa jauh lebih kaku dan serius dari biasanya. Di sana, selain Pak Herman yang duduk di balik meja kerjanya, sudah ada dua orang petugas berseragam polisi yang duduk di kursi tamu, bersiap mencatat dan mendengarkan keterangan.

Pak Herman melihat kedatangan mereka berdua, lalu segera memberi isyarat dengan tangan. Wajahnya tampak lelah namun penuh keseriusan.

"Mari masuk, Elara, Keisha. Silakan duduk di sini," ucap Pak Herman lembut sambil menunjuk kursi yang tersedia tepat di hadapan kedua petugas polisi itu.

Elara dan Keisha saling pandang sekilas, lalu berjalan mendekat dan duduk pelan-pelan. Keisha meremas tangan Elara di bawah meja, seolah ingin memberi kekuatan satu sama lain.

Salah satu petugas polisi, seorang laki-laki paruh baya yang tampak ramah namun berwibawa, tersenyum tipis saat melihat kegugupan yang terlihat jelas dari raut wajah Elara. Ia sedikit membungkukkan badannya ke depan, berusaha menciptakan suasana yang lebih nyaman.

"Elara, Keisha... tenang saja ya, jangan takut," ucap petugas itu pelan dan lembut. Suaranya terdengar menenangkan. "Kami di sini cuma mau minta keterangan sejujur-jujurnya. Anggap saja kita sedang mengobrol biasa. Jawab saja apa yang kamu tahu, apa yang kamu lihat, dan apa yang kamu dengar. Itu saja. Kami butuh bantuan kalian buat menemukan teman kalian, Dinda. Mengerti?"

Elara mengangguk perlahan, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat. "Mengerti, Pak. Saya akan jawab jujur semuanya, seingat saya."

"Bagus. Sekarang, coba ceritakan dari awal ya," kata polisi itu sambil membuka buku catatan kecil dan memegang pulpen. "Kapan terakhir kali kalian bertemu atau berbicara sama Dinda? Dan apa yang Dinda sampaikan saat itu?"

Elara pun mulai bercerita. Ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan sangat rinci dan jujur. Ia menceritakan percakapan mereka di kamar asrama, saat Dinda berpamitan ingin pergi ke perpustakaan untuk belajar persiapan lomba sains. Ia juga menjelaskan bahwa Dinda bilang sudah izin dan mendapat waktu satu jam dari penjaga perpustakaan. Elara juga menyampaikan apa yang dikatakan Celio, bahwa ia melihat perpustakaan sudah kosong dan terkunci sebelum kebakaran terjadi, serta ketidakmungkinan Dinda terjebak di dalam sana. Tak satu pun yang ia sembunyikan, termasuk rasa curiganya bahwa ada hal janggal di balik semua kejadian ini.

Polisi itu mencatat semua penuturan Elara dengan teliti, sesekali mengangguk tanda mengerti. Pak Herman di sampingnya juga menyimak dengan saksama, wajahnya makin berkerut serius mendengar rincian demi rincian yang disampaikan Elara.

Setelah Elara selesai bercerita, suasana ruangan hening sejenak. Polisi itu menatap Pak Herman, lalu berbicara pelan.

"Pak Herman, berdasarkan keterangan ini, kami perlu mendengar langsung keterangan dari penjaga perpustakaan. Bapak yang bernama Pak Budi, betul?"

"Betul, Pak. Beliau ada di sekolah, saya sudah minta beliau bersiap di ruang sebelah. Sebentar saya panggilkan," jawab Pak Herman. Ia lalu memberi isyarat kepada staf yang menunggu di luar untuk memanggil Pak Budi masuk.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Pintu ruangan terbuka, dan masuklah Pak Budi, penjaga perpustakaan yang dikenal ramah dan rajin itu. Wajahnya tampak pucat dan cemas, ia menundukkan pandangan saat berjalan masuk, seolah merasa bersalah atas kebakaran yang menimpa bangunan yang ia jaga selama bertahun-tahun itu.

"Silakan masuk, Pak Budi. Duduk sebentar, kami ada yang ingin ditanyakan," ucap polisi itu ramah namun tegas.

Pak Budi duduk di ujung kursi, tangannya gemetar sedikit memegang topi yang ia genggam. "Ada... ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"

Polisi itu langsung bertanya pada inti masalah, suaranya tegas namun tidak menakutkan. "Begini, Pak Budi. Kami mau tanya soal kejadian kemarin sore, sebelum kebakaran terjadi. Benarkah ada murid bernama Dinda Kusuma yang izin mau masuk ke perpustakaan untuk belajar? Dan apakah Bapak melihat atau tahu keberadaan gadis itu saat itu? Apakah benar dia ada di dalam ruangan saat itu?"

Ruangan itu menjadi hening, semua mata tertuju pada Pak Budi. Elara dan Keisha menahan napas, berharap mendengar kebenaran yang bisa menjelaskan segalanya.

Pak Budi mengusap keringat dingin di dahinya, lalu mengangguk pelan. "Iya... benar, Pak. Memang benar Dinda itu datang menghampiri saya, dia minta izin mau belajar di dalam sebentar. Katanya mau cari buku referensi. Saya izinkan, saya kasih waktu satu jam sampai pukul empat sore, karena saya mau menutup ruangan dan berkeliling cek keamanan."

Hati Elara sedikit lega mendengar pengakuan itu, ternyata Dinda tidak bohong padanya. Namun pertanyaan polisi selanjutnya membuat napasnya kembali tercekat.

"Terus, apakah Bapak melihat Dinda masuk? Apakah Bapak lihat dia ada di dalam sana sebelum Bapak kunci pintunya?" tanya polisi itu lagi.

Pak Budi menggelengkan kepalanya dengan yakin, lalu menjawab dengan suara jelas. "Tidak, Pak. Itu yang ingin saya sampaikan. Setelah saya izinkan, saya duduk lagi di meja pos saya. Saya menunggu... saya kira dia masuk lewat pintu samping atau sedang mengambil air minum sebentar. Tapi sampai jam yang saya beri itu habis, saya tunggu-tunggu, Dinda tidak datang-datang masuk ke dalam sama sekali."

Pak Budi menelan ludah, lalu melanjutkan. "Karena sudah habis waktunya dan saya harus menutup rapat-rapat, saya kunci pintu utama dan pintu samping dari luar. Saya pastikan lagi, tidak ada satu orang pun di dalam sana saat itu. Ruangan kosong, gelap, dan sudah saya amankan kuncinya. Jadi saya bingung sekali pas ada yang bilang dia hilang dan dikira ada di dalam sana. Padahal dia sama sekali nggak pernah masuk ke dalam, Pak."

"Apa?!" seru Elara dan Keisha bersamaan, keduanya berdiri sedikit dari kursinya karena keterkejutan yang luar biasa. Mata mereka terbelalak tak percaya menatap Pak Budi.

"Gimana bisa...?" gumam Keisha lirih, wajahnya berubah menjadi sangat pucat. "Dia bilang mau ke sana... dia bilang mau belajar... kalau dia nggak masuk, dia ke mana? Dia ke mana, Pak?!"

Elara pun terdiam terpaku. Potongan teka-teki itu kini makin rumit. Dinda berpamitan mau ke perpustakaan, izin ke Pak Budi, tapi tidak pernah masuk ke dalam, lalu menghilang begitu saja di tengah jalan menuju ke sana, dan bertepatan persis dengan munculnya api yang melahap bangunan itu. Artinya, Dinda hilang di antara jalan asrama dan gedung sekolah. Di tempat yang terbuka, di tempat yang seharusnya ramai orang.

Polisi itu mencatat poin penting itu dengan garis bawah tebal di bukunya. Ia menghela napas panjang, lalu menatap rekan kerjanya dan Pak Herman dengan pandangan serius.

"Jadi jelas sudah, Pak Herman. Dinda tidak ada di dalam perpustakaan saat terbakar. Dia hilang di jalan menuju ke sana. Ini bukan kecelakaan terjebak api, tapi ini benar-benar kasus hilang secara misterius, dengan kemungkinan penculikan atau tindakan tidak wajar lainnya," ucap polisi itu tegas.

Ia kemudian menoleh kembali ke arah Elara, Keisha, dan Pak Budi. "Terima kasih atas keterangannya semua. Ini sangat membantu kami menentukan arah penyelidikan selanjutnya. Kalian tenang saja, kami berjanji akan bergerak cepat. Kami akan periksa semua titik jalan, cek rekaman kamera pengawas, tanya semua warga sekolah, dan cari jejak keberadaan Dinda sampai ketemu. Kami tidak akan diam saja sampai gadis itu ditemukan selamat."

Pak Herman mengangguk penuh keseriusan. "Terima kasih, Pak. Pihak sekolah akan mendukung penuh, membuka semua akses dan data yang diperlukan. Kami juga khawatir sekali akan keselamatan murid kami."

Setelah sesi tanya jawab selesai dan Pak Budi dipersilakan keluar, polisi itu sekali lagi menatap Elara dan Keisha dengan tatapan yang penuh makna peringatan sekaligus dukungan.

"Kalian juga hati-hati ya. Jangan berjalan sendirian, dan kalau ada hal mencurigakan atau merasa diawasi, segera lapor. Ingat, apa pun yang kalian ingat atau rasa, sekecil apa pun, itu bisa jadi petunjuk besar buat kami. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas. Kami akan mulai bekerja sekarang juga."

Elara dan Keisha mengangguk patuh, lalu beranjak dari duduk mereka. Saat melangkah keluar dari ruangan itu, kepala Elara terasa penuh dengan pertanyaan baru. Dinda tidak masuk ke perpustakaan. Dia hilang di jalan. Siapa yang mengambilnya? Ke mana dia dibawa? Dan apa hubungannya dengan kebakaran itu?

Satu hal yang Elara yakini sekarang: bahaya itu ada di antara mereka, berjalan bebas di lingkungan sekolah ini, dan sedang mengawasi setiap langkah mereka. Dan tekad Elara makin bulat, ia tidak akan berhenti mencari jawaban sampai misteri ini terkuak habis.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!