Janet Gabriella Virginia seorang wanita muda yang berusia 27 tahun yang harus mengalamin kehilangan kedua orang tuanya. ia memiliki kekayaan dan kekuasaanya di Keluarga Virginia. Namun saat hidupnya merasa baik-baik saja Janet harus mengalami hal buruk di mana seorang misterius mencoba untuk menghabisi nyawanya tentu saja dirinya merasa tidak aman. Janet mencoba mencari seorang pria berani untuk bisa melindungi dan jaganya agar tetap aman_____
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KITA LIHAT
"nih... bawa makanan buat kita-kita". Ucap pria berjas hitam meletakkan bungkus nasi di tengah meja depan mereka bertiga
saat ini mereka bertiga duduk diam di depan meja. mereka semua pun mengmbil bagian nya, pria yang memberikan makanan pada mereka, dirinya duduk di kursi bersama mereka semua. mereka membuka bungkusan nasi.
"Hai gimana dengan wanita itu?? ". tanya teman depan nya.
"bukan urusan ku, biarin aja". Jawabnya.
Plak
" aduh sakit!!! ". Ucap kesakitan setelah di pukul kepalanya sama teman samping nya.
" kau ini, kasih makan lah! ". Ujar nya
" biarin saja, dia kelaparan ". Jawabnya dengan nada kesel
" kasih makan enggak!! ". Perintah nya tegas
" ok, ok, ok". jawabnya bergegas berdiri melangkah jalan ke ruang menahan Alicia
di dalam ruang seperti sebuah kamar hanya beralas amparan karpet yang ia duduk ki, kini Alicia di kurung sendirian dengan penuh debu dan banyak jaring Laba-laba di setiap sudut.
pria yang menculik Alicia datang membawakan sebuah bungkus nasi untuk nya
"nih... nasi buat mu, makan". ucap nya menyodorkan sebungkus nasi pada Alicia
Alicia mengmbil sebungkus nasi dari pria yang berdiri di hadapan nya itu.
" kapan aku bisa lepas!!?? aku tidak mau berada di sini, aku ingin pulang!! ". Minta Alicia dengan mata berkaca-kaca
" mana saya tau, kami disini tergantung bos kami!! makan tuh nasi ". Ucap nya tegas berbalik badan melangkah jalan pergi meninggalkan Alicia sendirian.
Di tempat lain Ana berjalan di lorong lobby di kantor nya dengan sepatu helis di kedua kaki yang berwarna hitam bermerek YSL melangkah jalan seperti model dengan pakaian baju kerjaan nya, rambut terurai panjang se punggung badan nya.
Dor...
..."hah!!?? ". seketika ana kaget tiba-tiba saja aska memeberikan kejutan padanya...
Di tangan aska membawa sebuah bunga mawar ia melangkah mendekat dengan senyuman manis pada ana
ana yang melihat wajah aska rasanya muak dengan perlakuan nya, seperti biasa aska akan bersikap manis dan romantis seakan-akan tidak ada salah atau melakukan salah seperti tidak pernah terjadi apa-apa setelah menghayati melukai hati ana.
"kejutan sayang... ini bunga untuk mu, sayang!! ". ucap aska senyum manis pada ana sambil memberikan bunga mawar pada ana
ana mengmbil bunga yang di berikan aska, ana harus bersikap baik dan manis juga pada aska, ia akan ikut permainan aska akan sejauh mana aska melangkah.
" terimakasih sayang!! ". jawab ana senyum terpaksa pada aska, ana harus pura-pura tidak tahu agar mendapatkan bukti bisa mengalahkan aska.
ana tidak mau menjadikan dirinya dalam permainan nya, ia juga punya perasaan dan hati yang harus di jaga.
"sayang, ada waktu tidak, nanti malam kita diner, gimana, mau?? ". Ucap aska senyum
" hemmm!! boleh, tapi sekarang aku harus ke kantor dulu, ada meeting ". Ucap ana buru-buru pergi dari aska, ia berjalan ke dalam kantor, ana berhenti di samping tong sampah dan membuang bunga dari aska, dengan cara kesel dan marah.
ana memasuki ruang meeting nya terlihat di dalam ruang meeting sudah ada beberapa orang duduk dengan disiplin, ana melangkah jalan mendekat ke tempat duduk nya.
ana duduk di kursi depan meja meeting dengan tatapan serius
"ok, apa yang kita bahas!!?? ". tanya ana pada mereka semua yang memperhatikan dirinya.
tidak lama meeting mereka semua pun sudah selesai, semua karyawan keluar dari ruang meeting, Ana masih sibuk dengan leptop nya.
" Bos ana". Sahut teman kerja nya di samping ana
"hem!!! ". jawab ana sambil mengetik di leptop fokus ke layar leptop nya
" boleh kan saya ambil cuti!! ". Minta nya senyum manis
" cuti mau kemana?? ". tanya ana hanya fokus di leptop
" iya pulang bos, boleh iya" . minta nya memohon agar di izinin bisa cuti
"iya, tapi satu hari tidak lebih". Ucap ana
" ok". jawabnya senang, walaupun hanya dapat satu hari saja tidak masalah untuk nya
****
****
****
Janet terdiam duduk sendiri di kursi sofa depan meja dengan posisi duduk dan kedua kaki berlipat sambil berfikir, ia mengingat Bros berbentuk elang dari komandan polisi kemarin malam.
"apa mungkin, mereka!?? ".dalam hati janet.
janet masih bingung dan tidak percaya apa yang ia tau, namun menolak kebenaran
janet bangkit berdiri sambil berfikir, ia melangkah berjalan Bonar-mandir seperti istirkaan. janet terus kepikiran dengan benda bros itu, dirinya gelisah dan penasaran ingin rasanya mencari tahu, tapi harus di awal dari mana dulu.
Leon tiba turun dari anak tangga melihat nona Janet dengan heran melihat nona janet mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu, leon melangkah menghampiri janet yang lagi gelisah.
"nona janet". Pangil leon dengan nada berat namun tenang
" hem!!? ". jawab janet melihat leon ia pun berhenti melangkah
" apa yang nona pikirkan?? ". tanya nya
" bros itu!! benda itu!! Argghhh!! ". Ucap kesel janet merasa tidak nyaman dengan benda bros tersebut.
" benda apa?? saya tidak mengerti! ". Ucap leon dengan nada polos nya
"kemarin, komandan polisi menemukan benda bros berbentuk burung elang, itu bros pernah aku lihat, yang sering di pakai keluarga Hasmurandra yaitu seorang pria yang bernama Aska, pernah aku berkenalan dengan dia, melihat dia aja merasa tidak nyaman, ada sesuatu diri dia". Ujar janet bingung namun gelisah dan khawatir
"nona tenang dulu, saat ini para polisi lagi berusaha menemukan pelaku dan penculikan adik nona, untuk sekarang jangan di pikirkan dulu". Saran leon agar janet tidak memikirkan apa pun dirinya juga khawatir dengan keadaan janet.
"Gimana aku bisa tenang, adik aku belum di temukan, di tambah bros yang bikin aku overthinking". Ucap janet semakin gelisah, ia hanya melihat wajah leon di hadapan nya dengan tatapan tajam namun raut wajahnya penuh ketakutan
" Nona janet harus rilex, jangan kebawa pikiran, kalau boleh saya tahu, apa kah dia pernah marah, atau dendam ke keluarga nona!?? ". Tanya leon dengan nada lantang namun polos
" tidak! yang saya tahu, ayah ku lah cukup dekat dengan Aska, kalau salah ingat pernah ayah ku cukup marah dan kesel pada Aska di ruang kantor ayah ku, entah apa yang terjadi. aku kurang tahu". ujar janet
"ok, ada kemungkinan dua hal, pertama dendam pada ayah mu atau tertarik padamu". ucap leon
" Hah!?? itu tidak mungkin ". Ucap Janet kaget yang rasa tidak percaya kalau aska tertarik padanya
" tiada yang tahu manusia itu seperti apa, tidak bisa di tebak nona". Ujar leon dengan nada lantang namun penuh kepedulian
"iya juga, terus aku harus apa?? ". tanya janet
"....... "
Leon pun terdiam, dirinya juga bingung harus apa.
"untuk sementara jangan di pikir kan dulu nona janet". minta Leon dengan nada lembut
Janet hanya terdiam menatap mata leon dengan tajam