Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
"Will, i'm really miss you."
Gadis itu mendekat, tangannya mulai meraba tubuh William, sesekali kecupan dilayangan. William tak menolak, ia masih duduk di kursinya.
"Bagaimana kamu bisa menggodaku dengan seragam kebanggaanmu ini?" tanya William tajam. Tangannya perlahan mulai meraba, masuk melalui bagian bawah, menjelajah setiap inci kulit lembut gadis itu.
Dalam sekejap, gadis itu kini berada di pangkuan William. Matanya menutup seolah menikmati setiap belaian dan kecupan yang William berikan. Hingga...
"Ahhh..."
"Sttttt.... Jangan bersuara, kau tidak ingin bukan wibawamu sebagai guru BK yang tegas harus kandas karena melihat apa yang kulakukan padamu?"
"Semua perempuan pasti berteriak jika bagian paling berharganya dicubit, William," ucap gadis itu bercampur antara amarah dan gairah.
Kilatan penuh gairah itu beradu, mencoba masuk ke kedalaman masing-masing. William menarik salah sudut bibirnya, menghentikan pikiran gadis itu. "Kau tak perlu mencobanya, kau hanya boleh menikmati momen yang kuberikan."
William menatap leher jenjang gadis itu, kulit putih yang mengundang lelaki manapun untuk mencumbunya. Ia menciumnya dengan brutal, menikmati rasa yang entah bagaimana menjadi candunya beberapa tahun terakhir, manis yang menolak untuk dihentikan.
"T-ta-tapi, Wil, aku aku ingin sekali merasakan lidahmu beradu dengan lidahku. Merasakan salivaku bertukar dengan milikmu. Please...."
William berhenti dari aktivitasnya, menatap mata gadis itu. "Apakah kau tidak suka jika aku lebih menyukai lehermu?" tangannya membelai penuh kelembutan pada leher jenjang gadis itu. Matanya menatap tajam dan membisikkan sesuatu, "Tidak baik jika aku juga menyukai lidahmu. Aku tak mau kamu kewalahan menghadapiku."
Samar, William mendengar suara pintu yang dibuka, netranya menatap tajam pada sosok berseragam yang berdiri mematung. Namun, bukannya menghentikan aktivitasnya, William malah semakin liar mencumbu. Bahkan tak hanya bibirnya saja yang bekerja, tangannya yang bebas mulai meraba bagian bawah gadisnya.
"Ahhhh.... Will. I can't handle it anymore, please." William bungkam, hanya netranya yang terus menatap sosok itu. Perlahan sosok itu menutup mulutnya, menahan agar tak mengeluarkan suara apapun. Namun, anehnya kakinya seolah tak bisa digerakkan. Ia tidak tahu harus bagaimana. William menarik sudut bibirnya, mencipta senyum penuh misteri.