Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Menepati Janji
Beberapa jam kemudian di ruang rawat inap Alina.
Ceklek...
Pintu itu terbuka. Vincent mendorong kursi roda Alina masuk ke dalam ruangan itu.
"Ku bantu naik," ucap Vincent.
"Aku masih ingin duduk di sini," ucap gadis itu.
Vincent mengangkat satu sudut bibirnya.
"Baiklah kalau begitu," ucapnya. Laki laki itu mengunci roda kursi itu. "Mau apel?" tanyanya.
Alina mendongak ke arah pria tersebut. "Aku bisa ambil sendiri nanti. Kalau kamu ada urusan pergi saja," ucapnya.
Vincent tak menjawab. Ia berjalan menuju nakas. Mengambil buah apel, pisau, serta sebuah salep kecil yang berada di atas nakas. Ia lantas mendekati Alina. Duduk di sofa panjang yang berada di samping kursi roda itu.
Dibukanya salep pemberian dokter tersebut. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Alina, berniat mengoleskan benda tersebut ke kulit Alina yang memar. Alina yang canggung reflek memundurkan kepalanya.
Vincent mengangkat satu sudut bibirnya. "Aku hanya ingin mengobati lukamu."
"Aku bisa melakukannya sendiri," jawab Alina sambil mencoba mengambil alih salep di tangan Vincent, namun laki-laki itu menjauhkannya.
"Kau terlalu banyak memberiku penolakan. Diamlah dan menurut! Aku tidak sedang mabuk!" ucap laki-laki itu terdengar pelan namun tegas di telinga Alina.
Alina tak menjawab lagi. Ia diam mematung. Sangat kaku, saat jari jari bersih milik pria itu menyentuh ujung bibirnya. Bergerak-gerak seolah sedang bermain di sana. Alina makin membeku lantaran jarak diantara mereka sangat dekat. Jantungnya berdebar cepat. Ia merasa kurang nyaman. Aroma tubuh yang cukup melekat dalam ingatannya itupun menusuk indera penciuman Alina.
"Parah sekali lukamu sampai seperti ini. Ini bekas pukulan orang tuamu?" tanyanya dengan tatapan mata terarah pada gadis itu di ujung kalimatnya.
"I-iya. Bapak yang melakukannya," ucap gadis itu gugup.
Vincent tersenyum kecil. "Sepertinya ayahmu memukulmu pakai tenaga dalam." Laki-laki itu berseloroh seolah ingin mengajak bercanda.
Alina hanya mengangkat satu sudut bibirnya. Vincent menjauhkan tubuhnya. Ia lantas mengambil apel, sedikit mengangkatnya sembari memberi kode seolah bertanya "mau?"
Alina menggelengkan kepalanya.
"Buah baik untuk ibu hamil," ucap Vincent.
Alina tak menjawab. Ia melirik Vincent dengan raut wajah dinginnya.
Vincent mengangkat rendah buah merah itu seolah menawarkannya lagi. Alina menghela nafas, lalu mengangguk. Vincent mengupas buah itu. Diam-diam Alina memperhatikan pria di hadapannya. Sebenarnya pria ini tidak sejahat itu. Sebenarnya pria ini adalah pria yang cukup layak dikatakan nyaris sempurna. Kaya raya, jujur, cukup lembut, menepati janjinya, cukup perhatian, dan yang pasti bertanggung jawab. Kesalahannya hanya satu. Mabuk, dan menodai wanita yang sudah merancang masa depannya dengan sangat matang.
Alina tak tahu harus mengeluh atau bersyukur sekarang. Ada rasa benci dalam dirinya terhadap laki-laki di hadapannya ini. Karena ia lah hidupnya hancur. Karena ia lah masa depannya berantakan. Karena ia lah orang oang yang ia sayangi menjauh darinya. Namun, di sisi lain niat hati Vincent untuk bertanggung jawab dan menebus kesalahannya terhadap Alina cukup membuat wanita itu tersentuh. Ia hargai niat baik itu, meskipun niatan itu tak akan bisa mengembalikan apa yang sudah terlanjur terjadi.
Niat memberinya tempat tinggal sementara dan bersedia nya ia merawat calon anak mereka nantinya cukup membuat Alina tenang saat ini. Setidaknya untuk saat ini ia tak akan khawatir kehujanan dan kepanasan. Dan setidaknya kelak anaknya tak akan kehilangan figur seorang ayah.
Namun, jika kelak anak ini lahir, bersediakah Alina menyerahkan anak ini pada Vincent, dan membiarkan ia tumbuh bersama ayahnya. Lalu bagaimana dengannya? Ia tak mungkin, kan, menikah dengan Vincent? Itu mustahil. Pilihannya mungkin hanya dua. Anak itu hidup sejahtera bersama Vincent, atau miskin dan tak punya ayah bersama Alina.
Untuk saat ini Alina sama sekali tak memikirkan itu. Lantaran ia memang tak menginginkan kehadiran anak itu. Tapi, bukankah ibu dan anak itu adalah satu. Bukankah ikatan batin diantara mereka sangatlah kuat. Kelak ia akan mengandung anak itu selama sembilan. Yakinkah ia masih akan memiliki perasaan yang sama seperti sekarang? Entahlah...
"Besuk kau sudah boleh pulang. Seperti janjiku, aku akan membawamu ke apartemenku. Kamu tenang saja, kita tidak akan tinggal bersama. Aku akan tinggal di rumah. Sedangkan kamu akan ditemani seorang pembantu di apartemen nanti."
"Jika ada apa-apa kau bisa menghubungiku. Ingat, jaga baik-baik kandunganmu seperti yang dokter katakan tadi. Usia calon anakku masih sangat muda di dalam perutmu. Dia sangat lemah. Jadi aku melarang mu untuk melakukan apapun yang bisa membahayakan janin itu. Atau, perjanjian kita batal. Kau mengerti?" tanya Vincent.
Alina yang menurut dokter kandungan tengah hamil tujuh minggu itu mengangguk.
"Bagus. Sekarang habiskan apelmu. Buah itu baik untukmu!" tambahnya. Laki-laki itu lantas merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, lalu masuk ke aplikasi Instagram. Menuju sebuah akun milik seorang wanita yang baru saja memposting sebuah IG story. Ya, itu akun Alicia. Wanita itu baru saja mengunggah sebuah foto dirinya dan seorang pria. Foto yang diambil dari belakang dengan background hamparan salju yang luas. Tak nampak wajah pria itu. Namun hal itu sukses membuat dada Vincent panas bergemuruh.
"B*ngsaat!" umpatnya dengan sangat jelas. Membuat Alina reflek menoleh ke arahnya.
Vincent... Vincent... bisa stop nggak kepoin mantannya? Nggak lihat itu di depanmu ada bidadari bunting??😒
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/