NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13

Fajar baru saja menyingsing di pinggiran kota, namun Arumi sudah selesai mencuci tumpukan piring terakhir.

Tangannya yang dulu halus kini mulai mengeras, memerah karena deterjen murah, namun sorot matanya justru semakin tajam. Di sudut warung yang remang-remang, ia mendekati mesin jahit tua milik Ibu Ratna yang kemarin ia bersihkan.

Dengan botol minyak goreng bekas dan kain lap, Arumi melumasi bagian-bagian mesin yang berkarat. Ia mengayuh pedal kayu itu perlahan.

Kriet... kriet... kriet ! Suara mesin itu awalnya berat, namun setelah beberapa kali tarikan, iramanya mulai stabil.

"Masih mau mengurusi rongsokan itu?" suara Ibu Ratna terdengar dari balik dandang nasi yang mengepul.

"Mesin ini bukan rongsokan, Bu. Dia hanya butuh perhatian," jawab Arumi tanpa menoleh.

Pukul sepuluh pagi, warung mulai ramai oleh para buruh pasar dan pengemudi ojek. Di tengah keriuhan itu, seorang tukang panggul bernama Pak Jaka masuk dengan wajah gusar. Celana kerja berbahan katun tebal miliknya robek besar di bagian paha karena tersangkut paku palet.

"Sial! Ini satu-satunya celana kerjaku yang layak. Kalau robek begini, besok aku pakai apa?" keluh Pak Jaka sambil memesan kopi hitam.

Ibu Ratna hanya mendengus. "Beli baru sana, Jaka. Jangan mengeluh di depanku."

"Uang dari mana, Bu? Istriku baru saja melahirkan," gumam Pak Jaka lesu.

Arumi, yang sedang mengelap meja di dekat sana, berhenti sejenak. Ia melihat robekan itu. Bukan robekan biasa, melainkan serat kain yang tercabut. Ia mendekat dengan kain lap di bahunya.

"Boleh saya lihat celananya, Pak?" tanya Arumi tenang.

Pak Jaka menoleh bingung. "Memangnya kamu bisa apa, Neng? Ini robeknya parah."

"Beri saya waktu sepuluh menit. Bapak makan saja dulu," ucap Arumi.

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Arumi mengambil kotak jahit kecil yang ia temukan di gudang. Karena tidak ada benang yang warnanya benar-benar senada, Arumi mengambil dua helai benang berbeda warna abu-abu tua dan biru dongker lalu mempilinnya menjadi satu.

Di sudut warung, di bawah tatapan penasaran beberapa pelanggan, Arumi mulai bekerja. Jarum tangannya bergerak secepat kilat.

Ia tidak hanya menambal, ia melakukan teknik invisible mending yang ia pelajari saat masih di butik kelas atas. Ia mengikuti alur serat kain asli celana Pak Jaka, menyatukannya kembali seolah-olah kain itu sedang menyembuhkan dirinya sendiri.

Sepuluh menit kemudian, Arumi mengembalikan celana itu. Pak Jaka memakainya kembali dengan ragu, namun matanya membelalak saat melihat bagian yang tadinya robek.

"Lho? Mana robeknya?" Pak Jaka meraba-raba pahanya. Ia mendekatkan matanya ke kain itu. "Gila! Ini tidak kelihatan sama sekali! Neng, kamu pakai ilmu sihir apa?"

Beberapa pelanggan lain ikut berkerumun. Mereka takjub melihat hasil kerja Arumi. Robekan sepanjang sepuluh senti itu menghilang, hanya menyisakan tekstur halus yang nyaris tak terlihat kecuali jika dipandang dari jarak satu senti.

"Berapa saya harus bayar, Neng?" Pak Jaka merogoh kantongnya.

"Cukup bayar nasinya di Ibu Ratna saja, Pak," jawab Arumi sambil kembali menyeka meja.

Kabar itu menyebar lebih cepat dari aroma rendang Ibu Ratna. Di pasar lokal yang hanya berjarak beberapa ratus meter, cerita tentang 'Si Tukang Cuci Piring Berdarah Dingin yang Punya Tangan Emas' mulai menjadi buah bibir.

~~

Sore harinya, seorang wanita pedagang sayur bernama Bu Tejo datang membawa sebuah kebaya brokat yang lengannya tersangkut gerobak. Kebaya itu adalah pakaian terbaiknya untuk kondangan besok.

"Tolong, Neng Arumi. Kata Pak Jaka, kamu bisa menyatukan kembali kain yang sudah mati," ucap Bu Tejo penuh harap.

Arumi menatap kebaya itu. Ia tidak lagi menggunakan jarum tangan. Ia duduk di depan mesin jahit tua. Irama mesin itu kini terdengar seperti musik di telinganya.

Jrek-jrek-jrek! Dengan sisa-sisa kain perca yang ia simpan di tasnya, Arumi membuat aksen bordir kecil berbentuk kelopak bunga di bagian yang robek, menutupi cacat kain dengan sebuah karya seni.

Bu Tejo hampir menangis saat melihat hasilnya. "Ini lebih cantik dari aslinya, Neng! Kamu tidak pantas berada di balik tempat cuci piring!"

Namun, perhatian yang datang tidak selalu manis. Di pojok warung, duduk seorang pria dengan jaket kulit kusam dan mata yang liar.

Namanya Sakti, mantan kekasih masa lalu Arumi yang baru saja keluar dari penjara karena kasus premanisme.

Sakti menghisap rokoknya dalam-dalam, menatap punggung Arumi yang sedang menjahit dengan tatapan lapar. Ia melihat potensi uang di tangan Arumi.

"Wah, wah... Arumi. Ternyata kamu di sini, ya?" Sakti berdiri dan berjalan mendekati mesin jahit.

Arumi membeku. Suara itu adalah memori yang ingin ia kubur dalam-dalam selain keluarga Danu. Ia menghentikan kayuhan pedalnya, namun tidak menoleh.

"Mau apa kamu di sini, Sakti?" suara Arumi sedingin es.

"Jangan galak-galak, Cantik. Aku dengar kamu sedang jadi primadona baru di pasar ini. Banyak yang bawa baju ke sini, kan?" Sakti meletakkan tangannya di atas meja mesin jahit, menutupi kain yang sedang dikerjakan Arumi. "Gini saja, kita buka kios beneran. Aku yang jaga keamanan, kamu yang jahit. Hasilnya kita bagi dua. Gimana?"

Arumi mendongak, menatap Sakti tepat di matanya. Tidak ada lagi rasa takut yang dulu biasa Sakti lihat. Mata Arumi kini kosong, seolah ia sudah pernah melihat neraka yang lebih buruk daripada pria di depannya ini.

"Keluar dari sini, Sakti. Sebelum aku menggunakan gunting ini untuk hal lain selain memotong kain," ancam Arumi pelan namun tajam.

Sakti tertawa, namun tawa itu terhenti saat ia melihat Arumi memegang gunting jahit besarnya dengan posisi yang sangat siap untuk menyerang.

"Heh, berani kamu ya sekarang? Ingat Arumi, janda sepertimu tidak akan punya perlindungan kalau bukan aku yang menjagamu!"

"Saya tidak butuh perlindungan dari serigala sepertimu," balas Arumi.

Ibu Ratna keluar dari dapur membawa parang yang biasa ia gunakan untuk membelah tulang sapi. "Sakti! Pergi dari warungku sebelum parang ini mampir di lehermu! Arumi itu pegawaiku!"

Sakti mendengus, ia meludah ke lantai sebelum akhirnya pergi sambil menunjuk-nunjuk Arumi. "Urusan kita belum selesai, Rum!"

Setelah Sakti hilang dari pandangan, Ibu Ratna mendekati Arumi. Ia melihat tangan Arumi yang masih menggenggam gunting dengan kuat hingga bergetar.

"Kamu punya musuh di mana-mana, ya?" tanya Ibu Ratna.

Arumi menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Dunia tidak pernah mengizinkan saya tenang, Bu."

Ibu Ratna terdiam sejenak, melihat tumpukan pakaian warga yang mulai menggunung di samping meja Arumi.

"Begini saja. Aku tidak mau warungku jadi tempat berkelahi, tapi aku juga tidak mau bakatmu terbuang. Mulai besok, pindahkan mesin jahit ini ke bagian depan warung. Kita buat sekat kecil. Kamu cuci piring di pagi hari, dan jadi penjahit di siang sampai sore. Kita bagi hasil 70-30. 70 untukmu, 30 untuk biaya sewa tempat dan listrik."

Arumi menatap Ibu Ratna tidak percaya. "Kenapa Ibu membantu saya sejauh ini?"

Ibu Ratna menepuk bahu Arumi. "Karena aku benci melihat orang berbakat dihancurkan oleh pria-pria sampah. Dan satu lagi... simpan uangmu baik-baik. Jangan biarkan siapa pun tahu berapa banyak yang kamu punya."

~~

Malam itu, Arumi duduk di samping Kirana yang sudah tertidur lelap. Di bawah cahaya lampu lima watt, Arumi menghitung uang receh hasil jahitannya hari ini.

Belum banyak, tapi ini adalah uang pertama yang ia dapatkan murni dari keringat dan keahliannya tanpa campur tangan nama keluarga besar atau belas kasihan palsu dari seseorang.

Ia mengambil sebuah buku catatan kecil yang sudah kusam. Ia mencoret nama Dinda dengan garis tipis. "Dinda... kamu suka kemewahan dan pengakuan sosial. Aku akan mulai dari sana."

Arumi menyadari sesuatu. Melalui pelanggan pasar, ia mulai mendapatkan informasi. Salah satu pelanggan tadi menyebutkan bahwa Dinda sering memesan baju di sebuah butik kelas atas yang kainnya berasal dari suplier di pasar ini.

Arumi tersenyum dingin. Sebuah rencana mulai terajut di kepalanya seiring dengan benang yang ia pasang di jarumnya. Ia tidak akan menyerang dengan kekerasan. Ia akan menyerang dari hal yang paling dicintai musuhnya - Gengsi.

"Tidurlah yang nyenyak, Kirana," bisik Arumi sambil mengusap rambut anaknya. "Ibu sedang menjahitkan jaring laba-laba untuk mereka. Dan saat mereka sadar, mereka sudah terjepit di dalamnya."

Suara mesin jahit yang kembali berbunyi di tengah sunyinya malam. Arumi tidak lagi menjahit untuk bertahan hidup, ia mulai menjahit untuk membalas dendam.

...----------------...

To Be Continue .....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!