NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:851
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15.Kembali dengan Segala Kesempurnaan

      ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

10 Bulan Kemudian...

Waktu berlalu bagaikan air yang terus mengalir, begitu cepat namun terasa begitu panjang bagi mereka yang sedang menanti. Sepuluh bulan terasa seperti satu tahun yang penuh kesabaran bagi Aisyah. Rutinitas hariannya tetap berjalan seperti biasa: bangun pagi, sholat, mengantar Shuka ke sekolah, kuliah, mengerjakan tugas, dan menjemput Shuka lagi.

Hari-harinya terasa datar dan tenang, namun ada ruang kosong di sudut hatinya yang selalu ia isi dengan doa dan rindu. Rindu pada sosok yang kini berada ribuan kilometer jauhnya, di seberang benua, di negeri Piramida. Rasa rindu itu semakin menumpuk seiring berjalannya waktu, namun Aisyah belajar untuk menenangkan diri, bersabar, dan tetap tegar menjalani hidupnya.

Siang itu, matahari bersinar sangat terik, suhu udara terasa panas menyengat kulit. Aisyah memilih untuk tidak langsung pulang atau masuk kelas. Ia berjalan menuju taman kampus, mencari tempat yang paling nyaman. Akhirnya, ia duduk di bawah pohon besar yang rindang di sudut taman, tempat yang paling teduh dan sejuk.

Ia membuka buku tebal dan catatannya, mencoba memaksakan diri untuk fokus membaca dan menghafal materi. Namun, entah kenapa hari ini matanya sulit sekali diajak kompromi. Pikirannya sering kali melayang entah ke mana, terbang jauh melintasi samudra dan gurun pasir, membayangkan seseorang yang sangat ia rindukan.

"pak Aqlan... Pasti sekarang sudah sibuk banget ya persiapan wisudanya. Semoga dimudahkan segala urusannya di sana," batinnya tersenyum sendu, jari-jarinya mengelus halaman buku tanpa sadar.

Tiba-tiba, bayangan seseorang terlihat berjalan mendekat dari arah kejauhan. Langkah kaki itu terdengar mantap, berat, dan berirama, lalu berhenti tepat di bawah naungan pohon tempat Aisyah berteduh, memotong sinar matahari yang menyinari buku bacaan Aisyah.

Awalnya Aisyah tidak terlalu peduli, mengira itu hanya mahasiswa lain yang kepanasan dan ingin berteduh sebentar. Namun, aroma wangi parfum khas—aroma yang sangat ia kenal dan selalu membuat hatinya damai—tercium samar oleh hidungnya. Wangi itu sangat spesial, wangi yang tidak pernah ia lupakan meski sudah sepuluh bulan berlalu.

Perlahan dan ragu-ragu, Aisyah mendongakkan kepalanya...

GEDUBAR!

Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Matanya terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Buku tebal di tangannya hampir terlepas dan jatuh ke tanah.

Di sana, berdiri tegap gagah di bawah rindangnya pohon, adalah sosok yang selama ini hanya bisa ia lihat di foto dan bayangkan dalam doa.

Itu pak Aqlan!

Pria itu tampak berbeda. Terlihat lebih matang, lebih berwibawa, dan semakin tampan dengan aura kesarjanaan yang kuat. Kulitnya sedikit lebih gelap dan legam, terbakar oleh teriknya matahari Kairo, namun justru membuatnya terlihat semakin tangguh dan maskulin. Sorban dan pakaiannya tetap rapi dan putih bersih, namun ada kesan yang berbeda, seolah ia membawa pulang ilmu dan kebijaksanaan yang melimpah dari negerinya menuntut ilmu.

Gus Aqlan tidak berkata apa-apa di awal. Ia hanya menatap wajah Aisyah lekat-lekat, menatapnya dalam-dalam seakan ingin menghilangkan semua kerinduan yang tertahan selama berbulan-bulan hanya lewat tatapan mata. Lalu, seulas senyum lebar, hangat, dan sangat menenangkan terukir indah di bibirnya. Senyum yang sama persis seperti dulu, namun kali ini terasa lebih dalam dan penuh makna.

"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..." sapanya pelan, suaranya terdengar lebih berat, dalam, dan sangat matang.

Aisyah sontak berdiri tegak dari duduknya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jantungnya berdegup kencang bukan main, seakan ingin melompat keluar dari rongga dada. Perasaan kaget, senang, bingung, dan rindu yang meledak-ledak bercampur menjadi satu ledakan emosi yang luar biasa.

Ia tidak menyangka pemuda itu akan kembali secepat ini, dan muncul begitu saja secara tiba-tiba di hadapannya, tepat di tempat yang sering mereka lewati.

Dengan wajah yang memerah padam karena malu dan bahagia, serta hati yang berdebar kencang, Aisyah mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia ingin menyambutnya dengan cara yang istimewa, sesuai dengan tempat ia belajar dan sesuai dengan tempat Gus Aqlan menuntut ilmu.

Dengan suara sedikit gemetar namun tegas dan fasih, Aisyah mengucapkan selamat dengan bahasa Arab yang indah:

"مَبْرُوْكَ التَّخَرُّجِ يَا غُسْ أَقْلَانُ... تَمَامَ التَّوْفِيْقِ وَالنَّجَاحِ"

(Mabruuk at-takharruj ya pak Aqlan... Tamaamat at-taufiq wan-najaah)

Artinya: Selamat atas kelulusannya ya pak Aqlan... Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran, dan kesuksesan yang besar bagimu.

Mendengar ucapan itu meluncur begitu fasih dan manis dari bibir wanita yang ia rindukan, senyum di wajah Gus Aqlan semakin melebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi. Matanya berbinar-binar penuh suka cita dan kekaguman.

Ia tidak hanya senang karena akhirnya bisa kembali ke tanah air, tidak hanya senang karena telah menyelesaikan studinya dengan baik, tapi lebih dari itu... Mendengar kalimat selamat yang begitu indah dan menyentuh hati dari wanita yang selalu ia ingat, membuat rasa lelah, kantuk, dan rindu selama belajar di luar negeri terbayar lunas seketika. Semua penatnya hilang berganti menjadi kebahagiaan yang luar biasa.

 BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!