NOVEL PERTAMA, MAAF JIKA BANYAK TYPO.
Autor hanya ingin menulis bercermin dari kehidupan sehari-hari, jauh dari CEO atau lehidupan yang kaya raya. selamat membaca.
Queen! begitulah teman-teman dia sering memanggil, seorang gadis sederhana berusia 18 tahun yang baru lulus SMA. Tidak banyak impian gadis ini, hanya ingin segera mendapatkan pekerjaan, dan membantu ekonomi keluarganya.
queen memiliki kekasih sejak 1 tahun terakhir, tepat nya saat queen duduk di bangku kelas 3 SMA.
Bagaimana perjalanan cinta seorang queen, apakah dia bisa mewujudkan keinginannya membantu ekonomi keluarga??
Selamat membaca, saran dan kritik saya nantikan, jangan menghujad yang bisa meruntuhkan mental autor ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN KU TIDAK BERUBAH
Queen dan abdi saat ini sudah berada di hotel, queen merasa lebih tenang dan lebih privasi. Abdi memesan makanan untuk mereka, setelah pesanan mereka dapat, mereka segera makan. Aktifitas semalam membuat mereka merasa sangat lapar.
" kita harus segera menikah dek, mau tidak mau kita harus menikah" kata abdi.
"tidak mas. Aku tetap pada kupusanku!" tegas queen.
"Dek!!! Apa sebenarnya yang kamu inginkan??, kamu tidak mikir bagaimana jika kamu hamil, aku tadi malam tidak menggunakan pengaman" tekan abdi.
Queen terdiam, dia meraba perutnya yang masih rata. "Tidak, aku tidak hamil" jawab queen dingin.
" dari mana kamu tahu kamu tidak hamil?? , lagi pula aku sudah mengambil nya dari mu, tetap aku harus bertanggung jawab" abdi tidak mau kalah. Ini bukan lagi tentang cinta tetapi tentang tanggung jawab.
" tidak mas, sekali tidak tetap tidak. Aku tetap ingin bebas hingga umur ku sesuai keinginanku untuk menikah". Queen tetap mempertahankan ego nya.
" astagfirullah dek..... Mas harus dengan apa agar membuatmu mau menikah dengan mas. masih bertanggung jawab terhadapmu. Kamu mau menikah dengan siapa??? Sedangkan yang mengambil mahkota mu adalah aku" abdi mulai frustasi.
"ooh mas sekarang baru sadar ya kalau mas yang mengambil kepe××××××× ku???, bukankah waktu itu wira mengatakan aku wanita mur××××. Dan mas diam seolah membenarkan. Lalu untuk apa sekarang mas meyakinkan aku tentang pernikahan?? Apa karena mas sudah mengambilnya dari ku??" jawab queen.
Abdi bingung tak tahu lagi harus bagaimana meyakinkan queen. "kalau soal itu aku minta maaf dek, aku bukan membenarkan, tetapi aku sakit hati melihatmu dengan laki-laki lain".
"sudahlah mas, kita tetap putus. kita bebaskan hubungan yang penuh sesak ini. Soal tadi malam, biar menjadi urusanku, karena aku yang kehilangan. Kita sama-sama suka, aku juga menikmati tadi malam. Tidak perlu merasa bersalah." jawab queen.
Abdi terdiam, menatap queen yang berdiri di dekat jendela besar melihat gedung dan jalanan yang mulai di penuhi kendaraan. Matahari sedikit menampakkan wajahnya,.
Abdi mendekat lalu memeluk queen dari belakang. Queen ingin berontak tetapi abdi langsung berbisik
"diamlah dek, biarlah seperti ini sebentar saja. biarkan aku memelukmu sebentar, aku sangat mencintaimu dek. Sangat!!!!"
Queen diam, merasakan bahunya basah oleh air mata. Ya... Abdi kembali menangis, menangisi hubungannya yang rumit bersama queen. Laki-laki berwajah tegas tetapi berhati lembut itu masih sangat mengharapkan queen membali, apa lagi setelah penyatuan tadi malam yang bahkan mereka lakukan berkali-kali. Tapi pada nyatanya... Penyatuan itu tidak membuat queen kembali....
"baiklah dek... Aku turuti permintaan mu, kita jalan masing-masing, tapi.... Jika nanti kamu hamil, terserah kamu mau apa tidak, kamu tetap harus menikah denganku!!! Harus!!!" ucap abdi penuh dengan ketegasan.
Abdi membalikkan badan queen, mengecup keningnya sangat lama. Queen diam menunduk tanpa menjawab. Abdi memegang dagu queen, lalu mengecup bibir queen, mengakses semua rongga semakin dalam... tanpa menuntut, tanpa nafsu, tanpa ego. Tetapi sebagai.... Salam perpisahan...
"aku tidak merubah no telp ku, tempatku masih sama, rumah orang tua ku di kota M kamu juga tahu" abdi meraba perut queen, " jika buah cinta ku tumbuh di sini, segera hubungi aku, aku akan datang untuk mu dan anak kita, untuk kalian".
"aku pergi bukan karena aku puas, bukan karena aku pengecut atau pecundang, tetapi aku pergi karena aku ingin kamu bahagia, aku pergi karena aku mencintaimu.... Sangat mencintaimu..." lanjut abdi
" sayang... Lihat mas"
queen melihat abdi yang sudah tudak menangis.
" mas masih sangat mencintaimu, datanglah pada mas kapanpun kamu mau, jika bukan sebagai suami, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai teman, kameramu aku cari dulu, jika sudah ketemu aku kabari" lanjut abdi.
Queen masih terdiam tanpa menjawab ucapan abdi. Abdi tersenyum melihat queen yang diam, abdi tahu queen membutuhkan waktu, dan abdi akan memberikan itu.
"mas pulang dulu ya, jika kamu mau pulang atau masih mau di sini, kabari mas. Jangan merasa kotor atau rendah diri, kamu wanita hebat yang mas kenal, kamu wanita baik yang mas lihat. Mas akan selalu dan selalu mencintai kamu".
Abdi kembali mengecup kening queen, lalu mengambil jaket dan pergi tanpa menoleh lagi. Sedang queen diam menatap kepergian abdi.
" maaf... Maafin aku mas... Tapi perpisahan ini harus terjadi" ucap queen setelah pintu kamar tertutup rapat.
Dia menangis sendirian di dalam kamar hotel yang sepi....