“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak mau jadi bodoh lagi
“Hamil?!” Anita setengah memekik.
Ia menoleh tajam ke arah ibunya. “Ma, Mama serius? Mana mungkin Anita hamil anak Mas Raka? Nggak mau, Ma. Anita nggak mau punya anak.”
Ia menggeleng keras, wajahnya menunjukkan penolakan jelas.
“Dari dulu Mama juga tahu, kan, Anita nggak pernah mau punya anak. Ribet. Hidup Anita sudah cukup repot tanpa harus ngurus bayi.”
Salma mendengus pelan, menatap putrinya dengan kesal.
“Kamu ini terlalu keras kepala.” Ia menyilangkan tangan di dada. “Mama ngomong begini juga demi kamu. Demi masa depan kamu. Demi keluarga kita.”
Anita memutar bola matanya.
“Ma, Anita sudah punya rencana sendiri. Setelah semua ini berakhir, Anita mau nikah sama Sandy. Dia juga setuju kalau kami nggak punya anak.”
Salma langsung menoleh tajam.
“Sandy lagi, Sandy lagi.” Nada suaranya penuh ketidaksabaran. “Apa, sih, yang kamu lihat dari laki-laki itu? Tukang judi, miskin, udah bangkrut”
Anita memberengut
“Ya karena Anita sayang sama dia, Ma. Lagian Mas Raka juga cuma ATM berjalan, Ma. Dia sumber keuangan Anita.”
Salma menghela napas panjang, lalu menepuk tangan Anita dengan gemas.
“Justru karena itu ... Dasar anak bodoh.” Ia menggeleng pelan. “Harusnya Sandy itu yang harus kamu tinggalkan. Laki-laki mokondo!”
Anita langsung menoleh tajam. “Ma!”
“Kamu terlalu dibutakan sama perasaan Anita,” lanjut Salma dingin. “Cinta itu nggak bisa menjamin hidup kamu nyaman.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit mendekati Anita.
“Kalau kamu harus dekat dengan seseorang, bahkan kalau dia bukan orang baik sekalipun … pastikan satu hal.”
Salma menatap anaknya lurus-lurus.
“Dia harus kaya.”
Anita terdiam.
Salma menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi, suaranya kini lebih tenang, tapi penuh perhitungan.
“Raka itu punya semuanya, Anita. Harta, bisnis, koneksi. Kalau kamu berhasil mengikat dia … hidup kamu sudah aman.”
Anita menggigit bibirnya pelan, jelas masih ragu. Salma menambahkan pelan, seolah menanamkan ide itu lebih dalam.
“Dan kalau kamu sampai punya anak darinya … Mama yakin dia tidak akan bisa lepas dari kamu.”
Mobil kembali sunyi beberapa detik. Anita menatap keluar jendela, pikirannya mulai berputar.
“Pikirkan ucapan Mama baik-baik. Kalau dari awal kamu mendekati Raka hanya untuk mengeruk kekayaannya, maka jangan tanggung-tanggung. Jadi bagian dari hidupnya, dan mama yakin hidup kamu akan terjamin.”
***
Langit menaikkan alisnya ketika Raka mengungkapkan keinginan Sekar untuk kuliah lagi.
“Menurut kamu ini aneh nggak?” tanya Raka. “Tiba-tiba saja dia bilang mau kuliah lagi. Bahkan dia menyuruhku membujuk kamu supaya mau membantunya masuk kampus.”
Langit terdiam sebentar, lalu mengangkat bahu santai.
“Menurutku itu justru bagus,” katanya ringan. “Setidaknya istrimu tahu nilai dirinya. Ia tahu kalau hidupnya nggak cuma berhenti setelah menikah sama kamu. Menikah bukan berarti harus kehilangan jati diri, kan?”
Raka menghela napas pelan.
“Jadi kamu mau bantu Sekar?” tanyanya lagi. “Aku cuma khawatir dia kecapekan. Apalagi sekarang dia lagi hamil. Aku lebih percaya kamu daripada orang lain untuk mengawasinya di kampus.”
Langit mengangguk singkat.
“Tidak masalah,” jawabnya datar. “Suruh dia temui aku besok di kampus. Kita lihat apa yang bisa aku bantu.”
Pria itu berdiri dan meninggalkan ruangan itu tanpa banyak bicara. Wajahnya tetap datar. Namun di dalam kepalanya, satu pertanyaan terus berputar. Apa sebenarnya rencana Sekar?
***
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, Sekar menemui Langit di kampusnya. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia melangkah masuk ke area kampus yang dulu menjadi tempatnya menuntut ilmu selama empat tahun. Matanya menyapu gedung-gedung itu dengan rasa rindu yang samar.
Untuk sesaat ia merasa seperti kembali ke masa lalu—saat ia masih menjadi mahasiswi yang aktif dan penuh semangat. Masa-masa ketika ia menikmati menjadi dirinya sendiri, tanpa harus memikirkan siapa yang akan melukainya.
Kalau aku tahu menikah rasanya semenyakitkan ini, aku nggak akan menikah secepat itu. Ternyata memang aku yang bodoh, gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama Langit muncul di layar.
“Ya, Mas ...”
“Kalau mau nostalgia, nanti saja. Masuk ke ruanganku. Aku masih punya banyak urusan selain bantuin kamu.”
“Iyaaa, astaga bawel,” gerutu Sekar sebelum memutus panggilan sepihak.
“Yang ngidam siapa, yang tantrum siapa,” lanjutnya pelan.
Ia berjalan cepat menyusuri koridor menuju ruangan Langit yang berada di ujung. Sekar mengetuk pintu pelan sebelum masuk.
Langit hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
“Duduklah. Tunggu sebentar. Aku harus menyelesaikan ini dulu,” ucapnya tanpa menoleh.
Sekar mengangguk dan duduk di kursi di depan meja. Sesekali ia melirik ke arah pria itu. Wajahnya memang mirip dengan Raka, tetapi rahangnya lebih tegas dan sorot matanya lebih dingin.
Terlalu lama memperhatikan, Sekar sampai tidak sadar Langit sudah selesai bekerja. Pria itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Sekar.
“Jangan kebanyakan melamun di ruangan ini. Ini ruangan paling ujung, banyak setannya.”
Sekar refleks beringsut. “Jangan nakutin, dong, Mas. Lagian mana ada setan keluar siang-siang … kecuali Mas Raka,” gerutunya pelan.
Langit menaikkan alis, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Berani sekali kamu mengatai suami sendiri setan.”
“Kelakuannya bahkan lebih buruk dari setan,” balas Sekar cepat membuat senyum Langit semakin melebar.
Langit akhirnya tersenyum kecil sebelum menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Jadi benar kamu mau kuliah lagi?”
Sekar mengangguk mantap.
“Mas Langit bisa bantu aku, kan?”
Pria di hadapannya mengangkat bahu santai, tetapi matanya menatap Sekar lebih lama dari biasanya, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik sikap tenangnya.
“Satu hal yang aku nggak mengerti,” katanya akhirnya. “Kenapa tiba-tiba kepikiran kuliah lagi? Kamu sedang hamil. Kuliah itu melelahkan. Kamu yakin kuat?”
“Justru karena itu aku minta bantuan Mas,” jawab Sekar. “Lagian di kampus ini ada program S2 daring, kan? Jadi harusnya nggak masalah.”
Langit mengangkat bahu santai, tapi tatapannya tertahan pada wajah Sekar lebih lama dari biasanya.
“Aku cuma heran,” katanya akhirnya. “Biasanya perempuan yang diselingkuhi akan menangis, marah, atau menuntut macam-macam sebagai ganti rugi. Tapi kamu justru ingin kuliah.”
Sekar tersenyum tipis.
“Karena aku sudah cukup lama menjadi orang bodoh, Mas. And I’m done with that.”
Langit menaikkan alisnya.
Sekar menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya.
“Aku terlalu percaya pada suamiku. Orang yang aku kira paling mencintaiku … ternyata dia yang paling melukaiku.”
Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi.
Langit tidak menyela. Ia hanya memperhatikan perempuan di depannya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
“Tapi aku nggak mau terus seperti itu,” lanjut Sekar pelan. “Aku ingin menjadi versi yang lebih baik dari diriku sendiri.”
Ia berhenti sejenak.
“Jadi kalau suatu hari nanti aku memutuskan meninggalkan Raka… aku nggak akan kehilangan apa pun. Kalau perempuan itu saja berani memeras suamiku, kenapa aku enggak?”
Sudut bibirnya terangkat tipis. “Tentu saja dengan cara yang lebih elegan.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Langit mengembuskan napas pelan, lalu tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena merasa tertarik dengan pemikiran Sekar.
“Well, menarik,” gumamnya.
Sekar mengerutkan kening. “Apa?”
Langit mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Biasanya orang yang datang ke ruangan ini untuk konsultasi tentang akademik,” katanya santai. “Kamu justru datang membawa rencana untuk menghancurkan suamimu sendiri.”
Sekar mengangkat bahu ringan.
“Mas juga punya rencana yang sama, kan? Jadi bukankah ini justru langkah bagus untuk memudahkan jalan itu? Lagian, sebentar lagi aku menjadi istri kamu, kan? Jadi aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan akademis. Iya, kan, Pak Calon Suami?”
Tatapan mereka bertemu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Entah kenapa hati Langit tergelitik mendengar julukan itu. Ia akhirnya menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi.
“Baiklah,” katanya. “Ikuti saja prosedur pendaftarannya. Aku memang nggak terlibat di bagian penerimaan mahasiswa baru, tapi aku punya teman yang bisa membantu.”
Sekar menghela napas lega. Tatapannya kembali tertuju pada Langit.
“Sekarang jelaskan sesuatu sama aku,” katanya serius. “Siapa sebenarnya Anita Wibisono? Wanita seperti apa dia? Mas sudah tahu hubungan mereka sejak awal, kan? Kenapa Mas nggak pernah bilang apa-apa?”
Langit mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.
“Woah, pelan-pelan,” katanya sambil tertawa kecil. “Bisa satu-satu, kan, tanyanya?”
Ia baru saja akan membuka mulut ketika ponselnya tiba-tiba bergetar keras di atas meja. Layarnya menyala berkali-kali menandakan panggilan masuk.
Langit mengerutkan kening sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar panik.
“Pak, maaf mengganggu. Mas Zayn berkelahi di sekolah. Dia memukul temannya sampai berdarah, Pak.”
Langit langsung berdiri dari kursinya.
“Apa?” alisnya menegang. “Saya ke sana sekarang.”
Ia memutus panggilan itu dengan cepat. Langit menatap Sekar sebentar, wajahnya kini jauh lebih serius.
“Maaf. Aku harus pergi. Kita bicara lagi nanti sore. Ada yang harus kita bicarakan."
Sekar mengernyit namun Langit kembali bicara.
“Nanti aku hubungi kamu untuk menentukan tempatnya. Sekarang pulanglah dulu. Hati-hati di jalan.”
Pria itu meraih kunci mobilnya dan bergegas keluar ruangan, meninggalkan Sekar yang masih dipenuhi pertanyaan.
"Telepon dari siapa tadi? Kenapa wajahnya panik begitu?" gumam Sekar lirih.
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂