Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Tangan Sang Pahat dan Kaca Pembesar Bekas
Pukul 07.15 WIB.
Pemandangan langka terjadi di lobi RS Citra Harapan. Dr. Adrian Bratadikara, mantan putra mahkota Wijaya Medika Group, berjalan kaki memasuki lobi bersama Dr. Kevin.
Kemejanya sedikit basah di punggung karena keringat (jarak kosan Pak Mamat ke RS ternyata lumayan jauh jika ditempuh dengan jalan kaki di trotoar Jakarta yang tidak ramah pejalan kaki). Dia membawa tas kresek minimarket berisi bekal makan siangnya: Roti tawar dan selai kacang.
"Pagi, Dok," sapa Satpam dengan hormat, meski matanya melirik bingung ke arah sepatu kets Adrian (sepatu lari, karena pantofelnya lecet dipakai jalan jauh kemarin).
"Pagi, Pak," jawab Adrian mantap. Dia merasa aneh. Dulu, orang menghormatinya karena dia turun dari mobil mewah. Sekarang, rasanya sapaan itu lebih tulus. Atau mungkin dia saja yang terlalu sensitif.
Baru saja Adrian hendak menuju lift, suara sirene ambulans meraung-raung mendekat. Bukan satu, tapi dua ambulans sekaligus.
Pintu UGD terbuka lebar. Rania sudah berdiri di sana, memberi komando.
"Siapkan brankar! Triage merah masuk Resusitasi!" teriak Rania.
Adrian melempar tas kreseknya ke Kevin. "Bawa ke ruangan saya. Jangan dimakan."
Dia berlari menyusul Rania ke UGD. Insting dokter tidak mengenal status sosial.
Pasien diturunkan. Seorang pria muda, seragam pabriknya penuh oli dan darah. Tangan kanannya terbungkus handuk yang sudah merah pekat.
"Lapor situasi!" Adrian langsung bergabung di sisi brankar.
"Laki-laki, 25 tahun. Kecelakaan kerja. Tangan masuk mesin penggiling padi," lapor paramedis. "Crush injury (cedera remuk) pada tangan kanan. Jari telunjuk sampai kelingking nyaris putus. Tulang terekspos. Perdarahan masif."
Rania membuka balutan handuk itu. Pemandangannya mengerikan. Jaringan otot hancur, tulang-tulang metakarpal (telapak tangan) remuk.
"Ini parah," gumam Rania. Dia menekan arteri di pergelangan tangan untuk menghentikan darah. "Vaskularisasi (aliran darah) buruk. Jari-jarinya pucat dan dingin. Kalau nggak segera disambung pembuluh darahnya, jaringannya mati dalam 2 jam."
Rania menatap Adrian.
"Ad, ini ranah lo. Rekonstruksi mikro. Bisa selamat nggak tangannya?"
Adrian mengamati luka itu dengan teliti. Otaknya berputar cepat. "Tendon putus, saraf putus, arteri putus. Ini butuh operasi mikro selama minimal 6 jam. Kita butuh mikroskop bedah Zeiss dan benang ukuran 10-0."
Rania menelan ludah. "Ad... mikroskop Zeiss itu adanya di klinik bokap lo di lantai 4. Dan lo udah diusir dari sana. Di OK (Kamar Operasi) bawah, kita cuma punya loupe (kacamata pembesar) standar 2.5x. Itu pun kacanya agak baret."
Adrian terdiam. Tanpa mikroskop canggih, menyambung pembuluh darah yang diameternya kurang dari 1 milimeter adalah misi bunuh diri. Resiko gagalnya tinggi.
"Kalau nggak bisa rekonstruksi, opsi kedua apa?" tanya Adrian kaku.
"Amputasi setinggi pergelangan tangan," jawab Rania dingin. "Kita jahit puntungnya, pasien selamat, pulang besok. Cepat dan murah."
Pasien itu, buruh pabrik bernama Mas Yanto, masih sadar meski kesakitan. Dia mendengar kata 'amputasi'.
"Jangan, Dok! Jangan potong tangan saya!" Mas Yanto menangis, mencengkeram jas Rania dengan tangan kirinya. "Saya tulang punggung keluarga. Anak saya baru lahir. Kalau tangan saya buntung, saya dipecat. Tolong, Dok... sambungin..."
Mata Rania berkaca-kaca. Dia tahu betapa kejamnya dunia bagi penyandang disabilitas fisik, apalagi buruh kasar.
Rania menatap Adrian lagi. Tatapan menantang.
"Gimana, Pangeran? Lo butuh mikroskop seharga 5 miliar buat kerja? Atau tangan lo cukup ajaib buat kerja pake alat rongsokan kita?"
Adrian menatap Mas Yanto yang memohon. Dia teringat kata-kata ayahnya kemarin: "Tanpa fasilitas Papa, kamu bukan apa-apa."
Darah Adrian berdesir. Ini bukan soal ayahnya lagi. Ini soal pasien di depannya.
"Siapkan OK 1," perintah Adrian tegas. "Saya tidak akan melakukan amputasi. Kita lakukan replantasi dan rekonstruksi. Rania, kamu asisten saya. Kita kerjakan bareng."
"Tapi alatnya..."
"Saya tidak peduli alatnya baret atau karatan. Siapkan saja. Time is tissue. Kita bergerak sekarang!"
Ruang Operasi 1. Pukul 09.00 WIB.
AC ruangan berdengung kasar. Lampu operasi agak kuning redup, tidak seterah lampu LED di klinik lantai 4.
Adrian mengenakan jubah operasi hijau tua RS yang bahannya kasar. Dia memakai surgical loupe (kacamata pembesar) tua milik inventaris RS yang harus diikat karet gelang di belakang kepala supaya tidak melorot.
"Oke. Musik," pinta Adrian kebiasaan.
"Radio FM rusak, Dok," jawab perawat sirkuler. "Adanya HP Kevin."
"Pasang apa saja. Asal jangan dangdut koplo," desis Adrian.
Operasi dimulai.
Rania bekerja lebih dulu. Sebagai ahli bedah umum, tugasnya adalah debridement (membersihkan jaringan mati) dan memfiksasi tulang yang remuk.
"Bor," pinta Rania. Dia memasang K-wire (kawat besi) untuk menyatukan tulang-tulang jari yang patah. Kerjanya cepat, kasar, tapi kokoh. Pondasi tangan itu terbentuk kembali.
"Tulang stabil," lapor Rania setelah 1 jam. "Sekarang giliran lo. Sambungin kabel-kabel halusnya."
Adrian mengambil alih. Dia duduk di kursi operasi yang rodanya macet satu. Dia menunduk, memfokuskan pandangannya lewat kacamata pembesar tua itu ke arah pembuluh darah arteri yang putus. Ujungnya sangat kecil, seperti benang jahit.
"Pinset mikro. Benang 8-0," pinta Adrian. (RS tidak punya 10-0, jadi dia harus pakai yang sedikit lebih besar).
Tangan Adrian mulai menari.
Rania, yang menjadi asisten, menahan napas. Dia melihat tangan Adrian bekerja. Tidak ada getaran sedikit pun. Stabil seperti batu karang.
Tanpa mikroskop canggih yang bisa memperbesar 20 kali lipat, Adrian mengandalkan insting dan feeling taktilnya. Dia menjahit dinding pembuluh darah dengan teknik end-to-end anastomosis.
Satu jahitan. Dua jahitan. Enam jahitan melingkar di pipa sekecil itu.
"Lepas klem," perintah Adrian pelan setelah 2 jam berkutat di satu pembuluh darah.
Rania melepas penjepit arteri.
Darah mengalir.
Semua mata tertuju pada ujung jari pasien yang tadinya pucat pasi.
Satu detik. Dua detik.
Warna merah muda perlahan mengisi ujung jari itu. Capillary refill kembali kurang dari 2 detik.
"Hidup!" seru Kevin girang dari pojokan.
"Jangan senang dulu," potong Adrian, keringat menetes dari dahinya. Suster Yanti dengan sigap mengelapnya. "Masih ada 3 arteri lagi, 2 vena, dan 5 saraf. Perjalanan masih panjang."
Jam demi jam berlalu.
Adrian bekerja seperti mesin. Punggungnya pegal luar biasa karena kursi yang tidak ergonomis. Matanya perih karena harus memicingkan mata lewat loupe yang buram.
Rania di sebelahnya terus menyemangati. Dia memotong benang, menyemprotkan cairan saline agar jaringan tetap basah, dan sesekali memijat bahu Adrian saat Adrian meregangkan leher.
"Lo bisa, Ad. Dikit lagi," bisik Rania. "Lo seniman gila."
Pukul 16.00 WIB. Tujuh jam operasi non-stop.
"Jahitan kulit terakhir selesai," suara Adrian parau.
Dia meletakkan alat bedahnya. Dia mundur dari meja operasi, melepas kacamata pembesar yang membuat hidungnya berbekas merah.
Tangan Mas Yanto yang tadinya hancur, kini menyatu kembali. Memang penuh jahitan dan kawat, tapi bentuknya utuh. Dan yang terpenting: hangat dan merah muda.
"Sirkulasi lancar. Denyut nadi perifer kuat," lapor Rania setelah memeriksa dengan doppler.
Rania menatap Adrian. Mata pria itu merah karena lelah, rambutnya lepek tertutup topi bedah, dan wajahnya kusam. Tapi di mata Rania, Adrian belum pernah terlihat se-ganteng ini.
"Lo berhasil," kata Rania, senyum lebar merekah di balik maskernya. "Tanpa mikroskop Zeiss. Tanpa alat 5 miliar."
Adrian tersenyum lemah. Dia melihat tangannya sendiri yang gemetar sedikit karena kelelahan otot.
"Ternyata Papa salah," bisik Adrian. "Alatnya ada di sini." Dia menunjuk kepalanya. "Dan di sini." Dia menunjuk dadanya.
Tiba-tiba, tepuk tangan terdengar.
Bukan dari penonton seminar. Tapi dari Suster Yanti, Kevin, dokter anestesi, dan perawat sirkuler. Tepuk tangan tulus dari tim yang baru saja menyaksikan keajaiban di ruang operasi sederhana itu.
"Keren banget, Dok! Sumpah!" seru Kevin.
Adrian, yang biasanya haus pujian, kali ini hanya mengangguk rendah hati. "Terima kasih tim. Kerja bagus. Rania, terima kasih fiksasi tulangnya. Tanpa pondasi kamu, jahitan saya tidak ada gunanya."
Satu jam kemudian, di Kantin RS.
Adrian dan Rania duduk berhadapan. Di meja ada dua gelas es teh manis dan sepiring gorengan (yang akhirnya Adrian makan karena kelaparan ekstrem).
"Gue denger gosip," kata Rania sambil mengunyah bakwan. "Bokap lo narik semua alat-alat canggih dari klinik lantai 4 tadi siang. Truknya baru berangkat."
Adrian mengaduk es tehnya. "Biarkan saja. Klinik itu cuma cangkang kosong sekarang."
"Terus lo gimana? Karir lo?"
"Saya tetap di sini. Jadi dokter bedah plastik RS Citra Harapan," jawab Adrian santai. "Mungkin bayarannya nggak sefantastis dulu. Tapi melihat Mas Yanto tadi bisa punya harapan kerja lagi... rasanya lebih memuaskan daripada nyuntik filler ke hidung sosialita yang rewel."
Rania menatap Adrian dengan pandangan baru. Rasa hormat itu kini bercampur dengan rasa sayang yang makin sulit dibendung.
"Lo tau nggak, Ad?"
"Apa?"
"Sekarang lo miskin. Lo nggak punya mobil. Lo tinggal di kosan sempit. Lo makan gorengan."
"Terima kasih sudah diingatkan. Poinnya apa?"
Rania tersenyum jahil. Dia mengambil tisu, lalu membersihkan remah gorengan di sudut bibir Adrian—gerakan yang intim dan natural.
"Poinnya adalah... sekarang lo udah nggak 'terlalu tinggi' buat digapai."
Adrian terdiam. Sentuhan Rania di bibirnya membuat otaknya korslet sejenak.
Dia menangkap tangan Rania, menahannya di pipinya sebentar.
"Rania," suara Adrian merendah. "Siapa bilang saya terlalu tinggi? Dari dulu, kamu yang nggak pernah mau ndongak buat liat saya."
Jantung Rania berdegup kencang. Skakmat.
"Ehem!"
Kevin tiba-tiba muncul, membawa nampan soto ayam, duduk di antara mereka tanpa dosa. "Wih, tegang amat kayak lagi ujian lisan. Boleh gabung kan? Di kosan sepi."
Adrian dan Rania melepaskan tangan dengan cepat, salah tingkah.
"Kevin," geram Adrian. "Mulai besok, kamu lari keliling lapangan 10 putaran sebelum masuk RS."
"Lho?! Kenapa, Dok?!"
"Karena kamu selalu muncul di timing yang salah!"
Rania tertawa lepas, menertawakan Kevin yang bingung dan wajah Adrian yang kesal. Di tengah kantin yang bising itu, Rania merasa bahagia.
Mungkin, hanya mungkin, jatuh miskin adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada Adrian Bratadikara.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget