NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Cinta Tulus

Menyamar Demi Cinta Tulus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.

Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.

Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memberantas Bullying

"Brengsek!" teriak Abelia penuh amarah.

Ia buru-buru merogoh saku rok untuk mengambil ponselnya, tetapi wajahnya langsung berubah kesal.

"Sial... HP gue ketinggalan di kelas."

Abelia menatap pakaiannya yang basah kuyup.

"Gue basah begini, masa masuk kelas? Malu, dong," gerutunya.

Dengan langkah pelan, ia berjalan menyusuri koridor kampus. Dalam hati, ia berharap bertemu seseorang yang bisa dimintai tolong memanggil teman-temannya.

Tak lama kemudian, seorang mahasiswa melintas di depannya.

"Eh... eh, kamu!" panggil Abelia.

Mahasiswa itu berhenti lalu menoleh. "Kenapa?"

"Tolong panggilin Melani sama Cindy di kelas, ya."

"Iya."

Mahasiswa itu mengangguk, tetapi begitu sampai di depan kelas kakak tingkat, nyalinya ciut. Ia memilih pergi tanpa menyampaikan pesan Abelia.

Sementara itu, Abelia masih menunggu dengan gelisah.

"Mana, sih? Lama banget," gerutunya kesal.

Di dalam kelas, Melani mulai merasa heran.

"Cin, Abelia kok lama banget, ya? Belum balik-balik juga," ucapnya.

"Udah, biarin aja. Toh dia lagi sama Zayn," jawab Cindy santai.

"Iya juga, sih."

Namun beberapa menit kemudian Melani kembali gelisah.

"Mereka ke mana, sih? Lama banget."

Di luar kelas, Abelia akhirnya memberanikan diri berjalan hingga ke depan pintu. Melani yang kebetulan menoleh langsung membelalakkan mata.

"Cin, itu Abelia! Dia basah kuyup!"

Cindy spontan menoleh.

"Ya ampun! Kok bisa seorang Abelia basah kuyup begitu?"

Abelia memberi isyarat agar mereka segera menghampirinya.

Melani dan Cindy langsung beranjak dari kursi.

"Lo mandi, Bel?" tanya Cindy spontan.

Abelia mendengus kesal.

"Gue diguyur seember air sama Zayn."

"What?! Serius?" seru Melani tak percaya.

Abelia mengangguk dengan wajah penuh amarah.

"Lo punya masalah apa sama Zayn?"

"Semua gara-gara cewek cupu itu. Dia ngadu ke Zayn kalau kemarin gue nyiram dia. Makanya sekarang Zayn ngebelain dia."

Melani langsung menggeleng.

"Wah, keterlaluan juga tuh cewek kampung. Berani banget ngadu."

"Harus dikasih pelajaran," sahut Cindy.

"Gue, Abelia, nggak bakal tinggal diam. Apalagi sama cewek norak kayak dia," ucap Abelia dengan tatapan tajam.

Air dari pakaian Abelia terus menetes hingga membasahi lantai.

"Bel, baju lo basah banget. Buruan ganti," ujar Melani.

"Gue nggak bawa baju ganti. Tolong beliin gue baju di butik depan kampus. Gue tunggu di kamar mandi."

"Oke. Mana uangnya?" tanya Cindy.

Abelia mengeluarkan lima lembar uang pecahan seratus ribu lalu menyerahkannya kepada Cindy.

"Nih. Lebihnya buat kalian."

Melani dan Cindy segera berlari menuju butik di depan kampus untuk membelikan pakaian ganti. Sementara itu, Abelia kembali berjalan menuju kamar mandi sambil menahan rasa malu dan amarah yang terus membuncah.

"Tok... tok..."

Cilla mengetuk pintu ruang rapat terlebih dahulu sebelum membukanya perlahan. Dengan langkah anggun, ia memasuki ruangan.

Seketika, seluruh pasang mata tertuju kepadanya.

Wijaya pun berdiri dari kursinya, lalu tersenyum bangga kepada putri semata wayangnya.

"Baik, Bapak dan Ibu sekalian. Sebelum rapat kita lanjutkan, saya ingin memperkenalkan seseorang yang berdiri di samping saya. Ini adalah putri semata wayang saya, Cilla Anaya Salsabila, yang sangat saya sayangi."

"Halo, Bapak dan Ibu semuanya," sapa Cilla ramah sambil tersenyum hangat.

"Masyaallah, cantik sekali putri Pak Rektor. Matanya indah sekali," puji Bu Deva, Dekan Fakultas Seni.

"Iya, saya yakin dia juga cerdas seperti ayahnya," timpal salah seorang dosen.

Cilla kembali tersenyum sopan.

"Perkenalkan, nama saya Cilla Anaya Salsabila. Saat ini saya mahasiswa semester empat Jurusan Tata Boga di Universitas Indonesia. Senang bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu dosen. Apakah ada yang ingin ditanyakan kepada saya?"

Seisi ruangan saling berpandangan, tetapi tidak ada yang mengangkat tangan.

"Sudah cukup," ujar Wijaya sambil tersenyum.

"Baik, terima kasih."

Cilla kemudian berjalan menuju kursi kosong dan duduk tepat di hadapan Dosen Raka.

Raka menatap Cilla tanpa berkedip. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Cantik banget... gue nggak bakal nyesel nerima perjodohan ini," batinnya.

Rapat pun dimulai. Setelah seluruh agenda selesai dibahas, tepat sebelum rapat ditutup, Cilla perlahan berdiri dari kursinya.

"Baik, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada ayah saya selaku Ketua Yayasan Universitas Jakarta yang telah mengizinkan saya ikut serta dalam rapat ini. Saya juga mengucapkan rasa hormat kepada Wakil Rektor I beserta seluruh Bapak dan Ibu dosen yang hadir."

Suasana ruang rapat mendadak hening. Seluruh perhatian kini tertuju kepada Cilla.

"Di sini saya tidak akan menyampaikan pendapat terlalu panjang. Namun, ada satu hal yang menurut saya sangat penting, yaitu mengenai keamanan, kenyamanan, keadilan, dan kesejahteraan seluruh mahasiswa Universitas Jakarta."

Cilla menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.

"Saya masih melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa praktik bullying masih sering terjadi di lingkungan kampus ini. Artinya, masih ada mahasiswa yang tidak mendapatkan rasa aman dan nyaman selama menempuh pendidikan."

Tatapan Cilla menyapu seluruh peserta rapat.

"Padahal mereka datang ke kampus bukan untuk dijadikan bahan ejekan, diintimidasi, atau dibully. Mereka datang untuk menuntut ilmu dan menggapai masa depan yang lebih baik."

Nada bicaranya tetap tenang, tetapi penuh ketegasan.

"Bagaimana jika suatu saat korban merasa lelah, mentalnya hancur, bahkan nekat mengakhiri hidup? Atau memilih melapor kepada pihak berwajib? Yang dipertaruhkan bukan hanya nasib mahasiswa itu, tetapi juga nama baik Universitas Jakarta."

Beberapa dosen mulai mengangguk pelan.

"Saya juga merupakan mahasiswa di Universitas Indonesia. Di sana saya melihat lingkungan yang saling menghargai. Mahasiswa tidak membedakan satu sama lain, justru saling membantu dan mendukung."

Cilla menatap seluruh peserta rapat dengan penuh keyakinan.

"Karena itu, saya mengajak kita semua untuk kembali memperketat kedisiplinan terhadap segala bentuk bullying. Jangan pernah menganggap masalah ini sebagai hal yang sepele. Kampus seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap mahasiswa."

Ucapan Cilla terdengar tegas, berwibawa, dan penuh kesopanan, begitu mirip dengan cara ayahnya berbicara.

Seketika ruang rapat dipenuhi tepuk tangan. Banyak dosen mengapresiasi keberanian dan penyampaian Cilla yang jelas serta mudah dipahami.

Namun, tidak semua orang terlihat senang.

Bu Antari, salah satu staf dosen, mengangkat tangan.

"Apakah ada buktinya?" tanyanya dengan nada datar.

"Saya punya buktinya, Bu," jawab Cilla tenang.

Mendengar jawaban itu, jantung Bu Antari berdegup lebih cepat.

"Jangan-jangan yang terekam itu Abelia..." batinnya cemas.

Ia sangat mengenal sifat putrinya. Bu Antari tahu Abelia kerap merundung dan mengancam mahasiswa lain yang tidak menuruti keinginannya.

Tanpa banyak bicara, Cilla membuka ponselnya. Ia kemudian memperlihatkan sebuah rekaman video yang memperlihatkan Reno sedang mengancam Lili, mahasiswi yang sebelumnya sempat ia tolong.

"Syukurlah... bukan Abelia. Bisa bahaya kalau sampai putri saya yang ketahuan," batin Bu Antari, mengembuskan napas lega.

Cilla kembali menyimpan ponselnya, lalu menatap seluruh peserta rapat.

"Jadi, saya berharap pihak kampus memberikan peringatan yang tegas kepada seluruh mahasiswa. Bahkan, jika diperlukan, pelaku bullying dapat dikenai sanksi berupa pemberhentian atau drop out (DO) dari kampus," ujar Cilla dengan sopan, tetapi penuh ketegasan.

Suasana ruangan kembali hening.

Tiba-tiba Raka mengangkat tangan.

"Saya setuju," ucapnya mantap. "Apa yang disampaikan Cilla sangat masuk akal. Bullying bukanlah masalah sepele, sehingga hukumannya juga tidak bisa hanya berupa teguran ringan. Ini menyangkut nama baik kampus sekaligus keselamatan dan masa depan para korban."

"Terima kasih, Pak Raka. Apakah ada lagi yang sependapat?" tanya Cilla dengan sopan.

Bu Antari mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Anak Pak Rektor ini kritis sekali. Abelia harus tahu soal ini," batinnya kesal.

Setelah mempertimbangkan usulan Cilla dan pendapat Raka, Wakil Rektor I perlahan mengangkat tangan sebagai tanda setuju.

"Saya mendukung usulan tersebut."

Satu per satu dosen lainnya ikut mengangkat tangan.

Kini hanya Bu Antari yang belum menyatakan persetujuannya.

"Kalau saya tidak ikut setuju, mereka bisa curiga," batinnya.

Dengan terpaksa, Bu Antari akhirnya mengangkat tangan.

"Tidak masalah. Selama belum ada surat keputusan resmi, aturan ini belum bisa dijalankan sepenuhnya," pikirnya.

Melihat seluruh peserta rapat menyetujui usulannya, Cilla tersenyum tipis.

"Akhirnya berhasil," batinnya lega.

"Kalau begitu, mulai hari ini saya berharap peraturan lama mengenai kedisiplinan dapat ditegakkan kembali. Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan aspirasi sebagai perwakilan mahasiswa."

Cilla berhenti sejenak, lalu mengambil sebuah map bening dari dalam tasnya.

"Dan agar usulan ini memiliki dasar hukum yang sah serta dapat segera diterapkan, saya sudah menyiapkan draft surat keputusan mengenai penegakan sanksi terhadap pelaku bullying, termasuk sanksi drop out bagi pelanggaran berat."

Ia mengangkat dokumen tersebut agar dapat dilihat semua orang.

"Surat ini nantinya akan ditandatangani di atas materai oleh Ketua Yayasan, Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, serta dua orang dosen sebagai saksi."

Seketika seluruh peserta rapat saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Cilla telah menyiapkan semuanya dengan begitu matang.

1
falea sezi
lanjut donk
Tara Yulina: terimakasih,aku bakal lanjutin dengan penuh semangat ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!