Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Bulan bersinar terang menerangi gelapnya malam.
jam yang tergantung di dinding tengah menunjukan pukul sebelas malam.
ziel ang telah menulusuri kasus reza Agraha ini sedang berbaring di tempat tidur ingin mengistirahatkan diri, ketika ia ingin memejamkan mata sebuh getaran dari ponsel terdengar di laci samping tempat tidurnya.
ziel membuka laci tersebut menampilkan sebuah ponsel kedua milik dirinya ponsel yang ia sembunyikan dari siapa pun.
zil membuka ponsel tersebut menampilkan sebuah pesan notifikasi dari seseorang, jari jemari ziel segera membuka pesam tersebut yang berisi
+8***********
hai apa kau ingat aku
{foto}
ziel terdiam mengamati isi foto yang di kirim oleh orang tersebut,itu adalah foto sam laki-laki yang ia sewa kemarin malam.
+8***********
hai apa kau ingat aku
{foto}
^^^ada apa^^^
wow kau orang yang dingin
^^^tak usa basa basi^^^
baiklah, kau harus membayar ku lebih
^^^!?^^^
target yang kau katakan memiliki tunangan yang sangat menjaganya. dan malam ini aku baru saja menghabisinya.
drrr!!!
ziel menoleh ke ponselnya satu lagi yang bergetar, di sana tertulis nama aska yang sedang menghubunginya. melihat hal itu ziel segera mengirim pesan pada sam yang bertulis [ baiklah besok malam di tempat biasa]
dia segera meletakan ponsel tersebut di laci kembali lalu menjawab panggilan dari aska.
"halo as" jawab ziel
"ziel ada kecelakan, bisa kau datang kesini" ucap aska di telepon.
mata ziel membulat ketika mendengar ini, ia merasakan firasat yang aneh dari berita yang aska katakan.
"baiklah, tolong kirim alamatnya" jawab ziel segera mematikan panggilan dan berganti pakaian untuk pergi ke sana.
***
jalanan kini ramai dengan sirene dan tali polisi.
mobil hitam ziel segera berhenti di dekat kejadian. dia segera keluar dari mobil dan mendekat untuk melihat situasi.
di sana ada aska yang sedang mencatat dengan buku kecil di tangannya.
perhatian ziel segera tertuju pada seorang wanita yang ia kenal sedang menangisi dan memeluk sebuh jasad yang ada di tandu.
ziel terdiam ingatannya segera tertuju pada pesan yang di kirim sam tadi bahwa ia telah membunuh tunangan sang target.
aska yang melihat kedatangan ziel segera menghampirinya.
"bagaimana keadaannya" tanya ziel pada aska.
"Korban telah meninggal karena menabrak badan truk dengan kencang" jawab aska pada ziel.
Mendengar hal itu ziel menaikan satu alisnya "Lalu apa ada masalah"
Aska menoleh sedikit ke samping memastikan sesuatu sebelum akhirnya berbicara "Aku merasa ada yang aneh dari kejadian ini, bisa kau otopsi korbannya"
Ziel mengangguk "Tentu, lakukan malam ini, besok aku ada urusan, bawa itu ke ruang otopsi!"
Mendengar hal itu aska segera melangkah memberi tau polisi lain untuk membawanya ke ruang otopsi.
Sedangkan ziel kembali ke mobilnya untuk pergi ke kantor polisi.
Sebelum dia pergi, matanya menatap sebentar lewat jenderal kaca mobil seorang wanita yang masih menangis tersedu-sedu tadi.
Melihat itu sudut bibir ziel sedikit terangkat ke atas, dia merasakan sedikit bahagia melihat tangisan wanita tersebut.
Setelah merasa puas ziel segera menginjak pedal gas pergi ke tempat tujuannya.
***
Di ruangan yang agak gelap bau obat-obatan tercium sangat menyengat. Di sana juga terdapat jam dinding yang menunjukkan angka 4 dini hari.
Di ruangan tersebut terdapat mayat laki-laki yang tengah terbaring dengan bekas sayatan rapi dari tubuhnya. Wajahnya yang sudah menghitam dengan bekas luka bakar di seluruh tubuhnya.
Di meja lain terdapat sebuh alat-alat medis yang sering di gunakan dalam dunia forensik.
Ziel berdiri di dekat mayat tangan kanannya memegang identitas mayat tersebut, matanya terus mengamati kertas itu.
Di sana tertulis sebuah nama zadit artagri dengan biodata lainya, di kertas itu ada juga foto sang korban yang wajahnya masih bersih dan muda di kenali sebelum kecelakaan.
Jari-jari tangan kanan ziel mengerat menggenggam kertas tersebut dengan perasaan campur aduk.
Rasa kesal, jengkel, tapi bahagia tercampur dalam satu di dalam dadanya di ketika mengetahui siapa korban sebenarnya.
Ini adalah salah satu pelaku perundungan dirinya di masa lalu dan tentu saja masuk daftar balas dendam ziel.
Ziel kesal dan jengkel karena sam membunuhnya orang ini sebelum ia memberikan pelajaran dan rasa sakit yang sama seperti yang di berikan oleh orang ini.
Namun di sisi lain dia juga bahagia karena laki-laki ini memang pantas mati.
Tetapi rasa kesalnya lebih besar karena metode saat sam membunuhnya, ya sam membunuh laki-laki ini dengan mencampurkan tiga bahan yang awalnya tak berbahaya pada tubuh manusia namun ketika tiga bahan kimia itu bercampur itu akan menjadi racun yang mematikan bagi sang korban.
Sam menggunakan cara ini dengan sangat rapi membuat korban mati cepat saat mengendarai mobil. Ini adalah cara membunuh tanpa kesadisan, tampa jejak, walaupun ada, sangat sulit untuk di lacak pelakunya.
Dan ini membuat ziel sangat jengkel dan kesal, sam menghabisi laki-laki ini seolah tanpa rasa sakit. Rasa sakitnya begitu singkat membuat ziel sedikit merasakan ketidakadilan dalam dadanya.
Namun dia segera menyingkirkan rasa itu, toh laki-laki ini sudah mati, dengan itu dia benar-benar bahagia karena laki-laki ini memang pantas mendapatkan nya.
Karena pekerjaan otopsi nya sudah selesai dia membereskan semua peralatan, memasuki mayat ke freezer mayat.
Setelah semuanya selesai ziel melangkah pergi dari ruang otopsi menuju meja kerja aska.
Ziel berdiri di hadapan meja aska dengan aska yang duduk di mejanya, dia segera meletakkan berkas penelitian mayat di meja aska sambil berkata "ini kecelakaan!" Ucap ziel.
Aska yang melihat berkas itu segera mengambilnya dan melihat isinya.
"Apa kau yakin" ucap aska sambil mengamati berkas yang ziel berikan.
"Ya, korban kadang-kadang mengkonsumsi obat tidur, dan tafi malam pukul 9 malam dia mengkonsumsi nya"
Kening aska berkerut ketika mendengar ucapan ziel, dia kemudian bertanya "jika demikian kenapa korban masih keluar rumah" tanyanya dengan penasaran.
"Ini karena ketika korban meminum obatnya itu tak bereaksi hingga dia pergi ke luar rumah, namun dia tak perna mengetahui bahwa obat itu bereaksi terlambat.
Ini bisa di sebut keterlambatan onset (delayed onset) hal ini biasanya terjadi karena sering menggunakan obat tidur atau faktor lainya, karena hal ini korban yang merasa obatnya tak berkerja dia keluar rumah untuk mencari ketenangan, namun saat mengendarai mobil obat tersebut tiba-tiba bereaksi hingga korban sangat mengantuk di jalanan dan Tertidur.
Ini mengakibatkan kaki korban yang menginjak pedal gas malah menekannya lebih dalam hingga mobil korban melaju kencang menabrak tubuh mobil truk" ziel menjelaskan semuanya dengan panjang lebat.
Sebenarnya dia agak berbohong soal obat tidur, namun korban benar-benar tercatat mengkonsumsi obat tidur walaupun bukan malam ini, namun ini membuat ziel mampu memberikan skenario palsu agar tindakan nya tak di curigai.
Aska mengangguk mengerti "baiklah kalau begitu nanti aku akan ke rumah korban untuk mendapatkan bukti obat tidur tersebut, apa kau ikut ziel!"
Ziel mengeleng " tidak aku ada urusan, kalau begitu aku pamit perlu mandi dan bersiap, bay" ziel memberi lambaian tangan pada aska sebelum pergi.
Aska membalas lambaian tersebut sambil tersenyum, senyuman bahagia dengan sorotan mata yang berbinar aneh.