Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Praduga
Arman dan Pras sudah duduk berhadapan di meja makan. Ada beberapa piring menu lauk berbeda yang tersaji di meja makan, dan kesemuanya terlihat sangat menggiurkan. Namun, ada satu menu yang berhasil menarik perhatian Arman. "Ini menu masakan baru ya, Bi? Aku baru pertama kali lihat Bibi masak yang beginian."
"Ya, Tuan, itu menu baru, tumis ayam buncis lada hitam. Tapi bukan Bibi yang masak, melainkan Non Firda," jawab Bi Wati.
"Apa?! Dek Firda yang masak!" Mata Pras seketika berbinar, tak sabar ingin segera mencobanya. Saat garpunya terangkat ingin mencicipi potongan daging ayam berbentuk dadu tersebut, bukannya mendarat di piring dan mengenai sepotong daging, ujung garpunya justru malah mendarat di meja makan, sebab Arman sudah lebih dulu menarik piring lauk itu mendekat ke arahnya.
Senyuman Pras mendadak hilang. Wajahnya langsung datar kala menatap Arman yang kini sudah lebih dulu mencicipi masakan Dek Firda tercinta. "Hmm... enak juga. Pintar juga dia masak," kata Arman dengan ekspresi puas.
Pras mengangkat piringnya ke arah Arman. "Bos, bagi sedik—" Pras tidak jadi meneruskan ucapannya karena Arman sudah keburu menuangkan semua makanan itu ke piring sendiri, menyisakan hanya potongan bawang bombay dan cabai merah, itu pun masing-masing hanya sepotong.
Melihat itu, Pras langsung kehilangan selera makan. "Ya sudah, saya tidak jadi makan. Masakan Dek Firda, Bos semua yang kuasai, tidak mau berbagi," ucapnya, seraya bangkit dari duduknya.
Arman tersenyum jahil. "Hmm ... kalau begitu, berarti kamu tidak perlu makan lagi."
Pras menggulung mata, kesal. "Bos ... yang paksa saya masuk ke sini siapa tadi? Bos amnesia ya?"
Arman tak lagi mempedulikan Pras, dia makan masakan Firda dengan lahap bersama nasi porang.
"Loh, Den Pras, kenapa berdiri? Makan dulu." Bi Wati menghampiri Pras yang merajuk.
"Saya sudah kenyang, Bi. Tidak kebagian masakannya Dek Firda. Mentang-mentang dia yang punya rumah, huh." Pras mengambek dan membuang muka seperti anak kecil.
Sementara Arman tetap menikmati makanan di piringnya dengan lahap. Terserah Pras mau bilang apa, yang jelas sengaja membuat Pras tidak kebagian masakan Firda.
"Loh, siapa bilang sudah habis? Di wajan masih banyak. Sini piring kosongnya, biar Bibi ambilkan." Mendengar itu Pras langsung tertawa keras. "Yes! Yes!"
Pras langsung memberikan piring kosongnya ke Bi Wati. "Bi, tolong ambilkan yang banyak, ya!"
Arman langsung berhenti mengunyah. Ternyata usahanya untuk mencegah Pras mencicipi masakan Firda tidak berhasil.
"Emm ... enak sekali. Dek Firda memang calon istri idaman. Sudah cantik, keibuan, pintar masak lagi." Pras kemudian makan dengan lahap, sementara Arman mengulang ucapan Pras dengan gerakan bibir mengejek tanpa suara. "Dek Firda memang calon istri idaman. Nye nye nye. Pret."
...****************...
Gedung kantor pusat Valmara Holding siang itu terlihat megah dan elegan seperti biasa, dengan arsitektur modern yang memancarkan kesan profesionalisme. Di lantai 20, tepatnya ruang meeting, sedang berlangsung pertemuan penting dengan tim manajemen.
"Baiklah, mari kita bahas laporan keuangan kuartal ini," kata Arman, suaranya tegas dan berwibawa.
Tim manajemen mulai mempresentasikan data dan angka-angka, sementara Arman mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan dan memberikan instruksi.
"Bagaimana dengan proyek ekspansi ke pasar Asia Tenggara?" tanya Arman, matanya menatap tajam ke arah salah satu manajer.
"Proyek sedang berjalan sesuai jadwal, Pak. Kami telah menandatangani kontrak dengan beberapa mitra lokal," jawab manajer itu dengan percaya diri.
Arman mengangguk. "Baik. Pastikan kita tetap fokus pada target dan jangan lupa untuk memantau risiko-risiko yang mungkin timbul."
Tim manajemen mengangguk serempak, mencatat instruksi Arman.
Setelah pertemuan selesai, Arman berdiri dari kursinya. "Baiklah, saya pikir itu semua untuk hari ini. Terima kasih atas kerja keras kalian."
Tim manajemen mulai meninggalkan ruang meeting, sementara Arman berjalan ke jendela, menatap pemandangan kota yang terbentang di bawahnya.
"Pras, kamu tetap di sini," kata Arman.
Pras, yang sedang sibuk mengumpulkan dokumen, menoleh ke arah Arman. "Ada apa, Bos?"
Arman berbalik menatap Pras, lalu merogoh ponsel di saku jasnya. Setelah dia terlihat menggeser dan menggulir layar ponselnya, dia kemudian memasukkannya kembali benda itu ke tempat semula. "Buka pesan yang baru saja aku kirimkan."
Di waktu bersamaan, sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Pras. Pria yang sudah tidak lagi berkacamata itu mengerutkan kening saat memperbesar foto yang dia terima dari Arman di layar ponselnya. "Apa maksudnya ini? Siapa yang memasukkan berita seperti ini di televisi dan menyebarkannya di sosial media?"
Arman menghela napas panjang. "Di situ ada tulisan tertera nama nyonya Risma. Seingatku, itu nama ibu mertua Firda."
"Ah, iya, Bos. Sekarang aku ingat." Pras mendekat ke arah Arman. "Bukannya dia yang membuang Firda karena merasa tidak berguna lagi? Lalu untuk apa dia memasukkannya ke daftar orang hilang? Aneh."
"Itulah yang harus kita selidiki, Pras." Arman menatap Pras dengan ekspresi serius. "Hubungi orang yang waktu itu kamu tugaskan untuk menelusuri latar belakang Firda, siapa tahu dia juga bisa menggali informasi tentang alasan mengapa tiba-tiba ibu mertuanya baru mencari Firda setelah berbulan-bulan membuangnya."
Pras mengangguk. "Baik, Bos."
Demi dek Firda, apa pun akan Mas Pras lakukan.
...****************...
Hanya berselang 3 hari kemudian, informasi yang ingin mereka ketahui akhirnya didapatkan.
"Bos, rupanya ayah mertua Firda meninggal 1 setengah bulan yang lalu," lapor Pras.
Kedua bola mata Arman sontak membulat. "Benarkah?"
Pras mengangguk membenarkan. Sebenarnya, mereka berdua cukup kenal dengan sosok Tuan Kusnandar. Perusahaan Arman pernah terlibat proyek kerja sama 8 tahun silam sebelum beliau menderita penyakit yang membuatnya mengalami kelumpuhan selama bertahun-tahun. Setelah itu, posisinya sebagai pimpinan perusahaan digantikan oleh putra semata wayangnya, yaitu Aris Kusnandar—mendiang suami Firda.
"Lalu, apa tujuannya nyonya Risma baru mencari Firda sekarang?"
Pras menghela napas kasar. Dia sebenarnya sedang menahan emosi karena kelakuan ibu mertua Firda. "Menurut informasi yang didapatkan, seminggu sebelum tuan Kusnandar meninggal, dia membuat surat wasiat yang menyatakan bahwa jika suatu saat beliau meninggal, seluruh harta kekayaannya tanpa terkecuali semuanya akan jatuh ke tangan Firda, bukan ke nyonya Risma yang merupakan istri keduanya."
"Istri kedua?" Sebelah alis Arman terangkat. "Maksudmu ...."
"Nyonya Risma bukan ibu kandung Aris, Bos, melainkan ibu tiri. Tujuannya menikahi tuan Kusnandar yang jauh di atas usianya juga karena alasan klasik. Dia ingin mengusai seluruh harta kekayaan tuan Kusnandar."
Arman langsung termenung. Di kepalanya mulai bermunculan beberapa praduga.
"Bos, aku curiga, kematian Aris bukan murni karena kecelakaan."
"Ya, pikiranku juga sedang mengarah ke sana, Pras."
"Dan masih ada satu hal lagi yang aku pikirkan, Bos."
"Apa itu?"
"Jangan-jangan ... bayinya Firda sebenarnya tidak meninggal, tapi ...." Pras menggantung ucapannya. Dia dan Arman sontak saling adu tatap.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..