NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Guru Kedua

Fajar menyingsing di puncak Sekte Langit Biru. Embun menggantung di ujung dedaunan, memantulkan cahaya matahari pagi yang lembut. Suasana sekte begitu tenang, seolah tak ada yang terjadi kemarin. Namun bagi Lin Feng, tubuhnya masih terasa nyeri. Setiap otot, setiap tulang, seakan berteriak mengingatkan dirinya akan pukulan demi pukulan yang ia terima dari Zhao Liang.

Ia duduk bersila di kamar kecilnya, mencoba mengatur napas. Api kecil di dantiannya bergetar, lebih kuat dari sebelumnya. Luka fisiknya belum sembuh, tapi hatinya membara lebih terang. Pukulan yang mematahkan egonya semalam telah menanamkan sesuatu yang baru: kerendahan hati untuk belajar, dan tekad yang tak tergoyahkan untuk terus maju.

Namun tekad saja tidak cukup. Ia sadar, jika terus berjalan seperti ini, ia akan selalu kalah. Ia butuh pengetahuan. Ia butuh bimbingan. Ia butuh seorang guru sejati.

***

Hari itu, setelah kelas pagi selesai, Lin Feng berjalan tertatih ke pelataran latihan yang lebih sepi. Sinar matahari menembus sela-sela pepohonan pinus, menciptakan bayangan panjang di tanah berpasir. Di sana, seorang pria paruh baya sedang berlatih dengan pedang kayu. Gerakannya tenang, sederhana, tanpa kilatan energi yang mencolok. Namun justru karena kesederhanaan itu, setiap ayunan terasa begitu dalam, seakan menyatu dengan bumi dan langit.

Lin Feng berhenti, menatap dengan mata berbinar. Ia mengenal pria itu—Tetua Yunhai, orang yang dulu membela dirinya di pertemuan awal murid baru. Tetua ini bukan yang paling berkuasa di sekte, namun dikenal karena kebijaksanaannya. Ia jarang menerima murid pribadi.

Tetua Yunhai menyadari kehadiran Lin Feng. Ia menurunkan pedang kayu dan menoleh, senyum samar muncul di wajahnya. “Kau bangun pagi sekali, Lin Feng. Tubuhmu belum pulih, bukan?”

Lin Feng menunduk hormat. “Tetua Yunhai, saya… tidak ingin hanya beristirahat. Saya ingin belajar.”

Tatapan Yunhai menjadi lebih dalam. Ia berjalan mendekat, mengamati tubuh Lin Feng yang penuh memar. “Kau kalah telak kemarin. Tapi aku melihat sesuatu dalam matamu—api yang tidak padam meski dipukul berkali-kali. Itu api yang langka, tapi bisa berbahaya jika tidak diarahkan.”

Lin Feng mengepalkan tangannya. “Saya tahu saya lemah. Tapi saya tidak ingin tetap lemah. Tolong… ajari saya, Tetua!”

Suasana hening sesaat. Angin bertiup membawa dedaunan gugur. Yunhai memejamkan mata, lalu tertawa kecil. “Kau tahu apa artinya meminta seorang guru? Itu bukan hanya soal belajar jurus atau teknik. Itu berarti kau menyerahkan hatimu untuk dibentuk, bahkan jika itu berarti aku harus mematahkanmu berkali-kali. Apa kau siap?”

Tanpa ragu, Lin Feng berlutut. “Saya siap.”

Yunhai menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Baiklah. Mulai hari ini, kau murid pribadiku. Tapi ingat, aku tidak akan memberimu jalan mudah. Justru sebaliknya, aku akan membuatmu mengerti apa artinya menjadi seorang kultivator sejati.”

Mata Lin Feng berbinar. Untuk kedua kalinya, ia memiliki seorang guru.

***

Latihan pertama tidak seperti yang ia bayangkan. Ia berharap Yunhai akan mengajarinya teknik jurus, cara menyalurkan qi, atau mungkin seni pedang. Namun yang diberikan justru berbeda.

“Bawa dua ember air dari dasar gunung ke puncak. Jangan gunakan qi. Hanya kekuatan tubuhmu.”

Lin Feng menatap bingung. “Tetua… dasar gunung?”

Yunhai tersenyum tipis. “Ya. Kalau kau tidak bisa menguasai tubuhmu sendiri, bagaimana kau bisa menguasai qi?”

Lin Feng menggertakkan giginya. Ia mengambil dua ember besar dari gudang, lalu mulai berjalan menuruni tangga panjang menuju dasar gunung. Jalan itu terjal, licin oleh lumut, dan jaraknya sangat jauh. Butuh hampir satu jam hanya untuk turun. Ketika sampai di sungai kecil, ia mengisi ember dengan air penuh, lalu memikulnya naik.

Setiap langkah seperti siksaan. Bahunya perih, tangannya gemetar, kakinya bergetar. Tubuhnya yang masih penuh memar semakin kesakitan. Berkali-kali ia hampir jatuh. Namun bayangan Zhao Liang yang menghajarnya terus terngiang di kepala. Ia menggigit bibir, menolak berhenti.

Saat matahari berada di atas kepala, ia akhirnya sampai di pelataran lagi. Tubuhnya basah oleh keringat, napasnya tersengal, namun ia berhasil. Air di ember memang tinggal setengah, tapi itu bukan masalah.

Tetua Yunhai menatapnya dengan tenang. “Bagus. Sekarang ulangi.”

Lin Feng terbelalak. “Ulangi…?”

“Ya. Turun lagi. Bawa air lagi. Sampai kau bisa melakukannya tanpa menumpahkan setetes pun.”

Hari itu, Lin Feng naik turun gunung lebih dari lima kali. Tangannya melepuh, kakinya hampir tidak bisa digerakkan. Namun setiap kali ia terjatuh, Yunhai hanya menatapnya dari jauh tanpa berkata apa-apa. Seakan menunggu apakah ia akan menyerah. Dan Lin Feng tidak pernah menyerah.

***

Malam harinya, Lin Feng terbaring lemas di kamarnya. Tubuhnya seperti hancur, tapi ada perasaan berbeda dalam dirinya. Ketika ia menutup mata, ia merasakan aliran qi di tubuhnya lebih jelas, lebih stabil. Seolah-olah tubuhnya yang ditempa keras itu kini bisa menahan energi lebih baik.

“Ternyata… ini alasannya,” gumamnya lirih. “Tubuhku sedang dibentuk untuk menahan qi.”

Ia menggenggam giok kecil miliknya. Api kecil di tubuhnya bergetar pelan, lebih stabil daripada sebelumnya.

Hari-hari berikutnya penuh dengan penderitaan.

Terkadang Yunhai menyuruhnya membawa batu besar naik gunung, terkadang hanya menyuruhnya berdiri dengan satu kaki di atas tiang bambu selama berjam-jam. Tidak ada jurus indah, tidak ada teknik spektakuler. Hanya latihan dasar yang melelahkan dan membosankan.

Namun semakin lama, Lin Feng mulai memahami. Tangannya menjadi lebih kuat. Nafasnya lebih panjang. Gerakannya lebih seimbang. Ia mulai bisa merasakan perubahan kecil dalam tubuhnya setiap hari.

Dan yang lebih penting, tekadnya semakin keras.

***

Suatu sore, ketika Lin Feng sedang berlatih menyeimbangkan tubuh di atas tiang bambu, seorang murid lain lewat. Ternyata Zhao Liang, bersama beberapa temannya. Mereka tertawa kecil melihat Lin Feng.

“Lihat, anak itu disuruh berdiri seperti burung flamingo. Apa itu latihan kultivasi? Hahaha!”

Lin Feng mendengar ejekan itu, namun kali ini ia tidak bereaksi. Ia tetap berdiri dengan mata terpejam, fokus pada pernapasannya.

Yunhai yang mengawasi dari jauh tersenyum tipis. “Bagus. Kau belajar untuk tidak lagi terpancing.”

Zhao Liang mendengus dan pergi, merasa bosan karena tidak mendapatkan reaksi.

Malam itu, setelah latihan berakhir, Yunhai duduk bersama Lin Feng di beranda kecil. Cahaya bulan menerangi wajah sang tetua.

“Lin Feng, apa kau tahu kenapa aku melatihmu dengan cara ini?” tanyanya.

Lin Feng menggeleng.

“Karena fondasi lebih penting dari segalanya. Banyak murid ingin cepat-cepat belajar jurus, teknik, seni pedang. Tapi tanpa fondasi, itu semua rapuh. Satu pukulan akan menghancurkan mereka. Kau sudah merasakannya kemarin, bukan? Tubuhmu rapuh, hatimu rapuh. Itulah sebabnya kau kalah.”

Lin Feng menunduk, teringat kembali pada kekalahan memalukan di hadapan semua murid.

“Tapi mulai hari ini, kau tidak akan rapuh lagi,” lanjut Yunhai. “Aku tidak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan. Asal kau bertahan, suatu hari nanti, fondasimu akan lebih kuat daripada siapapun.”

Lin Feng mengepalkan tangannya. “Saya mengerti, Guru.”

Yunhai tersenyum. “Bagus. Mulai hari ini, panggil aku Guru".

Mata Lin Feng melebar. Ada kehangatan yang menyelinap ke dalam hatinya. Ia menunduk hormat, menahan emosi yang membuncah.

“Guru.”

***

Hari-hari pun berlalu.

Lin Feng terus berlatih dengan bimbingan Yunhai. Setiap latihan terasa seperti siksaan, tapi di balik itu ia merasakan kemajuan nyata. Tubuhnya semakin kuat, pernafasannya semakin panjang, dan api kecil di dantiannya semakin stabil.

Namun perjalanan ini baru saja dimulai.

Di langit malam yang bertabur bintang, Lin Feng berlutut di hadapan Yunhai setelah latihan hari itu. Tubuhnya penuh keringat, tapi matanya bersinar terang.

“Guru,” katanya lirih. “Saya berjanji, suatu hari saya akan membuat Guru bangga.”

Yunhai menatap muridnya dengan senyum samar. “Aku tidak butuh kebanggaan, Lin Feng. Yang kubutuhkan hanyalah kau bertahan. Karena hanya mereka yang bertahan, yang bisa menapaki jalan panjang ini sampai akhir.”

Lin Feng mengangguk. Tekadnya semakin kuat.

Malam itu, di bawah cahaya bulan, seorang murid baru lahir kembali. Ia bukan lagi Lin Feng yang hanya mengandalkan tekad buta. Ia kini memiliki seorang guru, seorang penuntun, dan sebuah jalan yang perlahan mulai terbuka di hadapannya.

Dan dengan itu, perjalanan sejatinya sebagai seorang kultivator pun dimulai.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!