NovelToon NovelToon
Respect

Respect

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Hamil di luar nikah
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.

Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.

Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14. Respect

Sinar matahari pagi menyapa kehangatan kota, memantul di antara dedaunan hijau taman kota yang dipenuhi oleh warga yang sedang berolahraga.

Acha, Tasya, dan seorang teman satu sekolahnya Tasya yang bernama, Mila, tampak kompak mengenakan pakaian olahraga kasual, berlari kecil menyusuri jalur setapak taman.

Setelah hampir satu jam memutari area taman dan membakar kalori, ketiganya memutuskan untuk beristirahat di sebuah bangku panjang di bawah rindangnya pohon angsana. Perut yang tadinya kosong kini meronta-ronta minta diisi.

"Duh, capek banget! Tapi seger ya habis keringatan gini," ucap Mila sambil menyeka peluh di keningnya menggunakan handuk kecil.

"Banget! Untung kita nggak males tadi pagi," balas Acha, merenggangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku.

Tak jauh dari tempat mereka duduk, deretan gerobak jajanan tradisional berjejer rapi menggugah selera.

Target pertama mereka adalah sarapan legendaris yang ada disana yaitu nasi lengko hangat dengan bumbu kacang yang gurih, taburan tauge segar, potongan tahu, dan kuah kecap yang menggoyangkan lidah.

Selesai melahap sebungkus nasi lengko, di sinilah petakanya "gagal diet" Tasya dimulai.

Mata Tasya mendadak berbinar-binar melihat gerobak jajanan di sekitar taman. Tanpa ragu, gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan memborong berbagai macam camilan dalam waktu singkat.

Dalam sekejap, tangan Tasya sudah penuh dengan plastik berisi cilok bumbu kacang, cilung gurih yang ditaburi bubuk serundeng, batagor renyah lengkap dengan bumbu kacangnya, hingga satu gelas besar es pisang ijo yang manis bersantan.

Mila dan Acha yang melihat aksi kalap sahabatnya itu hanya bisa melongo tak percaya, sebelum akhirnya tawa mereka meledak bersamaan.

"Eh, sebentar... Ini kita niatnya tadi pagi mau jogging bakar kalori atau mau maraton kuliner, sih?" celetuk Mila menatap meja kecil yang penuh dengan tumpukan jajanan Tasya.

Acha menggelengkan kepala sambil tertawa terbahak-bahak. "Parah banget sih kamu, Tasya! Percuma tadi kita memutari taman tiga kali kalau pulangnya malah kalap makan semua jajanan pasar. Misi diet kamu resmi gagal total hari ini!"

Tasya yang sedang asyik mencolok cilok hanya bisa nyengir lebar tanpa merasa berdosa.

"Duh, kapan lagi weekend pagi ada abang jajanan selengkap ini? Udah, tenang aja, kalori hari ini bisa dibakar minggu depan!" kelit Tasya membela diri, membuat Acha dan Mila kembali terpingkal di pagi yang cerah itu.

Tawa Acha dan Mila masih bersisa di udara, melebur dengan ramainya suasana taman kota Minggu pagi itu.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat Tasya yang masih sibuk menikmati es pisang ijo-nya seolah tidak punya beban hidup, Acha melirik jam di layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.

"Wah, kalau kelamaan nongkrong di sini sambil nemenin kamu maraton jajanan, aku bisa telat siap-siap buat nanti siang," kata Acha sambil bangkit dari bangku taman, membersihkan sedikit debu di celana training-nya.

Mila menoleh, menatap Acha penuh selidik. "Emang ada acara apa siang ini, Teh? Tumben banget rapi amat mau ke mana?"

Pipi Acha seketika terasa hangat. Dia buru-buru menyamarkan salah tingkahnya dengan merapikan rambutnya yang di kuncir kuda.

"Ah, nggak ke mana-mana kok. Cuma mau... nemenin Adik aku aksesoris aja," jawab Acha merasa senang menceritakan janji-Nya bersama dengan Fitri.

Tasya yang mendengar itu langsung menyipitkan mata di balik gelas es pisang ijo. "Adik atau Adik nih? Awas ya, jangan-jangan mas-mas yang kemarin lagi ngedeketin teh Acha lagi!" ledek Tasya dengan mulut penuh, membuat Mila langsung ikut heboh menggoda Acha.

Sebelum Acha sempat membalas lemparan godaan kedua sahabatnya itu, tiba-tiba ponsel di dalam saku celana olahraganya berdering nyaring.

Acha segera merogoh benda pipih tersebut. Begitu melihat nama yang tertera di layar—Mamah (Ranti)—matanya langsung melebar.

"Wah, pas banget! Semalem nggak jadi ditelepon, eh pagi ini Mamah malah nelpon duluan", batin Acha.

"Sebentar ya, guys, Mamah nelpon nih," pamit Acha pada Tasya dan Mila, lalu menjauh sedikit dari bangku taman untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Assalamu'alaikum, Mah..." sapa Acha begitu tombol hijau digeser, bersiap mendengar cerita soal kepulauan sang abang, Alfian, yang sempat tertunda semalam.

"Wa'alaikumussalam, Cha. Kamu ini ya, ditelepon dari kemarin susah banget, lagi sibuk apa sih emangnya?" suara Ranti, sang ibu, langsung menyambut di ujung sambungan telepon dengan nada setengah mengomel khas seorang ibu.

Acha tersenyum geli sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe, maaf, Mah. Kemarin seharian jaga kasir, terus malamnya jalan sebentar sama temen. Handphone-nya sempat ditaruh di tas."

"Iya, iya. Yang penting sekarang udah diangkat," balas Ranti melunak.

"Ini loh, Mamah dengar kabar dari Fitri. Katanya Alfian pulang ke garut dari lusa dari Jakarta. Tapi tumbuh yah gak mampir dulu ke rumah, kamu udah ketemu belum sama aa kamu di sana."

Mendengar nama Alfian disebut, Acha langsung mengangguk-angguk sendiri. "Iya, Mah. Acha juga tadinya mau bilang itu sama mamah. Kemarin teh Sonia sempat bilang kalau si Aa pulang. Katanya mau ada acara munggahan bersama keluarganya mertuanya?"

"Oh gitu, kamu di ajak gak Cha, kamu kan adiknya apalagi masih satu komplek kan.," pesan Ranti tegas sebelum akhirnya menutup telepon.

"Gak mah" Ucap Acha.

"Kok gitu sih, aa kamu kenapa yah masa sama keluarganya sendiri gak peduli sih" ucap Ranti bertanya-tanya.

"Udah mamah tentang aja gak usah banyak pikiran, mungkin Aa masih sibuk kali nanti juga pasti ke rumah mamah kalau urusannya udah beres" Ucap Acha menghibur Ranti agar tidak kepikiran soal Alfian.

"Ya udah deh, nanti kalau udah ada kabarnya kasih tahu mamah yah" Ucap Ranti.

Acha menghela napas kasar. Urusan keluarganya dengan sang Abang masih belum beres juga. Acha harus bisa berpikir jernih untuk menemui Alfian tanpa membuatnya tersinggung.

Namun, begitu sambungan terputus, dahi Acha langsung berkerut tipis. Matanya melirik jam di ponsel yang menunjukkan pukul sembilan lewat.

Acha berdiri mematung di pinggir jalur lari taman kota, menatap layar ponselnya yang kini sudah kembali gelap.

Tasya dan Mila yang baru saja selesai menghabiskan sisa cilok dan batagor langsung menghampirinya dengan langkah santai.

"Kenapa muka kamu ditekuk gitu, teh? Abis ditelepon siapa? Mamah angkat atau mas-mas ganteng nih?" tanya Tasya penasaran sambil menyeka bibirnya dengan tisu.

"Bukan dua-duanya, tapi Mamah aku," keluh Acha pelan, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

"Kata Mamah, A Alfian pulang ke garut tapi belum mampir ke rumah mamah, padahal mamah udah nungguin dari kemarin. Sedangkan A Alfian malah menghabiskan waktunya dengan keluarga istrinya teh Suci dan mertuanya Umi Nani katanya baru saja makan-makan." Jelas Acha

Mila mengangguk-angguk paham. "Oh, belum sempat kali teh! Siapa tahu kan nanti habis makan-makan sama mertuanya Aa nya teh Acha langsung mampir ke rumahnya teh Acha."

"Iya aku tahu sih,... Cuma bukan itu masalah nya" Acha mendesah pasrah, lalu menatap Tasya dan Mila bergantian.

"Terus apa masalahnya teh" Ucap Tasya menunggu kelanjutan ceritanya.

"Mamah ngerasa ada yang beda dari sikapnya si Aa, mamah bilang Si Aa udah kaya gak peduli lagi sama keluarganya. Awalnya aku cuma pikiran perasaan mamah aja yang terlalu cemburu kalau Aa terlalu dekat sama keluarganya istrinya, cuma makin kesini aku ngerasa si Aa tuh sikapnya emang beda."

Tasya langsung mengerikan alisnya, tak paham dengan arah pembicaraannya Acha. "Beda gimana teh?"

"Ya entah cuma perasaan aku aja atau emang bener! Tapi aku tuh ngerasa kalau Aa aku udah gak se peduli dulu lagi, malah kesannya tuh dia kaya udah gak peduli gitu loh!" Ucap Acha mengutarakan perasaannya, berharap kedua sahabatnya ini yang masih muda bisa mengerti ucapannya Acha.

"Soalnya nih yah Aa aku tuh orang nya peduli banget sama keluarganya apa lagi sama mamah, Aa pasti selalu menyempatkan udah mampir ke rumah sebelum dia pergi jalan-jalan sama keluarga istrinya."

Mila terkekeh melihat kepanikan kecil di wajah sahabatnya. "Ya udah, kenapa gak teh Acha aja yang tanyain langsung sama Aa teteh. Jadi masalahnya kan beres, jadi ketahuan kenapa Aa teteh bisa sampai berubah kaya gitu.?"

Mendengar saran Mila, Acha terdiam sejenak. Otaknya langsung berputar cepat merumuskan strategi. Ada benarnya juga apa kata Mila.

Dari pada menebak-nebak yang belum tentu masalahnya apa? Lebih baik Acha tanyakan langsung saja kepada Alfian dengan datang kerumahnya agar Alfian tidak bisa mengelak lagi.

Dengan hati-hati, Acha kembali membuka aplikasi perpesanan di ponselnya. Sambil berjalan kembali bersama Tasya dan Mila meninggalkan area taman kota.

Jari jemari Acha mulai mengetik pesan untuk Alfian, Dia tidak menolak untuk bertemu langsung dengan Acha.

Selepas urusan pagi di taman kota bersama Tasya dan Mila, Acha langsung bergegas menuju minimarket tempatnya bekerja sebelum jam shift siang dimulai.

Dia berharap sisa hari Minggu itu bisa berjalan lancar, terutama setelah dia mengirim pesan kepada Alfian untuk mengatur jadwal pertemuan bersama dengan Acha.

Namun, semesta sepertinya punya rencana lain untuk menguji tingkat kesabaran Acha hari itu.

Begitu Acha melangkah masuk ke area minimarket dan menaruh tas di ruang istirahat, sosok yang paling ingin dia hindari hari ini sudah berdiri di dekat meja kasir.

Denis—rekan kerja satu shift yang terkenal usil, banyak tingkah, dan hobi menebar gombalan garing kepada semua para cewek—langsung menyambutnya dengan cengir lebar.

"Wah, baru dateng nih ratu kasir kesayangan kita. Tumben telat semenit, abis malam mingguan ke mana nih?" sapa Denis langsung membuka suara begitu Acha berjalan menuju area depan.

Acha hanya melirik sekilas dengan ekspresi datar, memilih mengabaikannya dan langsung bersiap mengambil alih komputer kasir.

"Bukan urusan kamu. Udah sana ah, aku mau login sistem dulu nih takut salah masukin Pasword nya."

Bukannya menjauh, Denis justru semakin mendekat dan bersandar di meja kasir. Sepanjang jam kerja berikutnya, aksi Denis benar-benar berubah menjadi teror yang menyebalkan. Entah kenapa, hari itu Denis mendadak menjadi sangat mengekorinya.

Saat Acha merapikan rak display minuman di dekat pintu masuk, Denis berdiri tepat di sebelah sambil mengomentari harga barang satu per satu.

Ketika Acha berjalan ke gudang belakang untuk mengambil kardus stok tisu, Denis ikut mengekor di belakang dengan alasan mau ambil galon air—padahal galon di pantry masih penuh.

Ke manapun Acha melangkah, bayangan cowok itu selalu mengekor seperti jelangkung.

"Denis, bisa nggak sih kamu nggak usah mondar-mandir terus kayak cacing kelaparan di sekitar aku? Risih tahu liatnya!" ketus Acha akhirnya.

Acha tak lagi bisa menahan rasa kesal saat Denis kembali berdiri di samping meja kasir sambil mengetuk-ngetuk meja.

Denis malah cengengesan tanpa rasa bersalah. "Yaelah, Cha, sans aja kali. Biar kerjaan kamu nggak sepi, ditemenin sama cowok ganteng begini juga, masih sok sokan jual mahal gitu ah."

Acha mendengus kesal, memutar bola matanya malas. Bukan cuma membuat pekerjaannya terganggu, kelakuan Denis yang terus-menerus menempelnya itu sukses membuat kepala Acha pusing tujuh keliling di tengah jadwalnya yang sudah padat hari ini.

Kepala Acha benar-benar sudah berdenyut hebat. Baru saja dia dibuat pusing oleh urusan keluarganya yang rumit, sekarang dia harus menghadapi Denis yang menempel bagaikan prangko rusak tanpa kenal lelah.

"Den, sumpah ya, kalau kamu masih mengekori aku semenit lagi, aku aduin sama Ibu Ema, biar kamu disuruh ngepel gudang seharian!" ancam Acha dengan mata melotot tajam, benar-benar sudah di ujung tanduk kesabarannya.

Sebelum Denis sempat melontarkan jawaban usilnya untuk membalas, tiba-tiba lonceng pintu otomatis minimarket berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk.

Acha spontan mengalihkan pandangannya ke arah pintu, berharap itu adalah pelanggan biasa yang bisa mengalihkan perhatian Denis.

Namun, napas Acha seketika tertahan di tenggorokan begitu melihat sosok yang melangkah masuk ke dalam minimarket Adalah.

Seorang cowok berbadan tegap dengan jaket denim dan senyum tipis yang khas berjalan santai mendekati meja kasir. Nathan.

Denis yang melihat ada pelanggan datang langsung bergeser sedikit, meski matanya masih melirik sinis kepada cowok asing yang baru masuk itu.

"Mau cari apa, Mas? Silakan dipilih dulu," kata Denis dengan nada sok akrab.

Nathan sama sekali tidak menggubris ucapan Denis. Tatapannya lurus tertuju kepada Acha, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat.

"Halo, Cha apa kabar. Aku ganggu kamu gak?" ucap Nathan santai, suaranya terdengar jelas di tengah lengang minimarket.

Mendengar ucapan Nathan, mata Denis langsung membelalak lebar, menatap bergantian antara Acha dan Nathan dengan raut wajah syok sekaligus salah tingkah.

Sementara itu, Acha merasa mendapat malaikat penyelamat di waktu yang paling tepat. Rasa kesalnya kepada Denis seketika menguap, berganti dengan senyuman lega yang tak bisa dia sembunyikan lagi.

Kehadiran Nathan di ambang pintu minimarket tadi sempat membuat Acha merasa seperti diselamatkan oleh pahlawan kesiangan dari gangguan menyebalkan Denis.

Sayangnya, skenario "datangnya cowok romantis" itu harus menghadapi kenyataan pahit operasional toko.

Belum sempat Acha merespons sapaan Nathan dan membalas tatapan syok Denis, pintu ruang belakang terbuka dan keluarlah Ibu Ema, sang kepala toko yang berwajah tegas namun keibuan.

"Acha! Pas banget kamu di depan," panggil Ibu Ema sambil membawa sebungkus paket kantong plastik cukup besar berisi produk pesanan khusus.

"Ini tolongin Ibu antar barang pesanan konsumen VIP kita ya. Barangnya agak mendesak mau dipakai sore ini, jadi harus diantar langsung ke rumah Perumahan Graha Indah milik Ibu Haji Nia."

Acha langsung menelan ludah, melirik sekilas ke arah Nathan yang berdiri di depan meja kasir, lalu menatap Ibu Ema dengan senyum terpaksa.

"Eh... sekarang banget, Bu?"

"Iya, sekarang, Cha. Motor operasional toko lagi dipakai kurir belanja online, jadi kamu bisa pakai motor matic di halaman belakang atau naik ojek online, nanti ongkirnya diganti toko," jelas Ibu Ema tanpa kompromi sebelum kembali masuk ke ruangannya.

Denis yang sedari tadi terdiam langsung memanfaatkan momen untuk mencibir pelan. "Waduh, kasian banget tuh maskot baru yang dateng jauh-jauh. Niatnya mau ketemu sama doi, eh malah ditinggal tugas ke luar sama bos!" ledek Denis dengan nada menyebalkan, berusaha mencari muka kembali di depan Acha.

Acha mendengus kesal ke arah Denis, lalu buru-buru menghampiri Nathan yang tampak sedikit terkejut dengan situasi mendadak tersebut.

"Aduh A, maaf banget ya... Ternyata tiba-tiba ada tugas dadakan dari atasan buat antar pesanan ke perumahan Bu Haji Nia. Aku tinggal dulu ya A, gak papa kan!" ucap Acha dengan nada bersalah, memainkan ujung seragamnya.

Nathan tersenyum tipis, sorot matanya menenangkan kekhawatiran Acha. Dia memasukkan kedua tangan ke saku jaket denimnya.

"Santai aja, Cha. Pekerjaan nggak bisa ditinggal, kan? Mau aku temenin atau anterin pakai motor aku biar cepat?" tawar Nathan tulus, membuat rona merah seketika menghiasi pipi Acha di tengah hari yang semakin terik.

Mendengar tawaran tulus Nathan, rona di pipi Acha semakin merambat hingga ke seluruh tubuhnya Acha.

"Gak usah A nanti malah ngerepotin lagi? Lagian tempatnya dekat kok A..." cicit Acha, merasa tidak enak hati merepotkan cowok itu.

Nathan menggeleng pelan sambil tersenyum ramah. "Nggak repot sama sekali kok. Kebetulan aku juga lagi gak ada kerjaan. Dari pada kamu harus pusing mikirin ojek online atau motor operasional yang nggak ada, mending dibonceng aku aja. Biar cepat beres, kan?"

Di sudut ruangan kasir, Denis yang mendengar percakapan itu hanya bisa mendengus pelan, melipat tangan di dada sambil membuang muka karena kalah saing telak dari Nathan.

Acha yang tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi akhirnya mengangguk setuju. Dia buru-buru mengambil paket kantong plastik pesanan Ibu Haji Nia.

Tak lupa Acha berpamitan sejenak kepada Ibu Ema lewat pesan singkat, lalu melangkah keluar minimarket bersama Nathan menuju tempat parkir motor.

Tak butuh waktu lama bagi Nathan untuk membelah jalanan siang itu dengan motornya.

Acha duduk di jok belakang, mencengkeram ujung jaket denim Nathan dengan hati-hati saat motor melaju menyusuri jalanan kota yang cukup ramai.

Di bawah teriknya matahari siang, aroma parfum maskulin yang samar berpadu dengan angin jalanan membuat debaran di dada Acha semakin tidak beraturan.

Kurang dari lima belas menit perjalanan, mereka sudah tiba di gerbang Perumahan Graha Indah, sebuah kawasan perumahan elit yang asri dengan deretan rumah bergaya modern minimalis.

Nathan membawa motornya masuk perlahan mengikuti petunjuk alamat yang dipegang Acha, hingga akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah megah berpagar hitam tinggi milik Ibu Haji Nia.

"Udah sampai, Cha. Ini rumahnya?" tanya Nathan sambil menurunkan standar samping motor begitu mesin dimatikan.

Acha mengangguk antusias sambil merapikan sedikit rambutnya yang terkena angin.

"Iya, betul banget ini tempatnya, A. Makasih banyak ya udah dianterin!" ucap Acha tulus.

Acha melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumahnya untuk menyelesaikan tugas Minimarketnya sebelum kembali melanjutkan waktu bersama dengan Nathan.

Langkah Acha terhenti sejenak di depan pintu pagar hitam yang menjulang tinggi milik rumah Ibu Haji Nia.

Setelah menekan bel dan menyerahkan paket pesanan kepada sang asisten rumah tangga dengan lancar, tugas kantornya hari itu resmi selesai.

Dia berbalik badan untuk menghampiri Nathan yang sedang menunggu di samping motornya.

Namun, sebelum kakinya melangkah lebih jauh, sebuah pikiran tiba-tiba melintas begitu saja di kepalanya, membuat Acha tertegun di tempat.

Semburat awan jingga mulai menghiasi langit sore ketika motor matic yang dikendarai Acha memasuki area parkir minimarket tempatnya bekerja.

Setelah merampungkan urusan tanda terima di rumah Ibu Haji Nia, pikiran Acha mendadak tidak karuan.

Sepanjang perjalanan pulang tadi, bayangan wajah Nathan terus saja berputar di kepalanya. Padahal, jika dipikir-pikir secara logika, Acha sama sekali tidak mengenali cowok itu secara mendalam.

Namanya saja dia hanya tahu dari panggilan sekilas orang-orang, belum ada perkenalan resmi atau status yang jelas di antara mereka.

Namun, entah kenapa, visual wajah Nathan yang sabar dan senyum tipisnya justru betah singgah di benak Acha, menciptakan rasa penasaran yang menggelitik sekaligus debaran halus di dadanya.

"Duh, kenapa aku jadi mikirin dia terus, sih?" batin Acha merutuki diri sendiri sambil mematikan mesin motor.

Yang lebih membuat Acha merasa tidak enak hati, tadi dia sempat meninggalkan Nathan begitu saja di minimarket.

Tapi takdir justru berkata lain—Acha malah disibukkan dengan tugas mendadak dari Ibu Ema untuk mengantar barang pesanan VIP.

Dengan langkah tergesa-gesa sekaligus menyimpan rasa bersalah, Acha melepas helmnya dan segera mendorong pintu kaca minimarket.

Dia melangkah masuk, berharap Nathan masih ada di sana menunggu, atau setidaknya tidak keburu pergi karena mengira dirinya diabaikan.

Sore itu menjelang magrib, shift kerja Acha akhirnya resmi berakhir. Setelah membereskan meja kasir dan menyerahkan laporan harian kepada rekan kerjanya, Acha langsung bergegas mengambil tas miliknya di ruang istirahat.

Kepalanya masih dipenuhi berbagai pikiran yang tumpang tindih. Mulai dari omelan sang ibu di telepon tadi pagi yang mengingatkan soal masalah keluarga.

Rasa lelah akibat mondar-mandir mengantar barang ke perumahan elit, hingga bayangan wajah Nathan yang terus berkelebat di benaknya tanpa diundang.

"Sudahlah, Cha. Fokus aja dulu sama masalah keluarga di rumah. Lagian kan kalian cuma kenal sekilas", batin Acha mencoba menepis segala rasa penasaran yang mengganjal di dadanya.

Dia melangkah keluar minimarket, menyalakan motor maticnya, dan langsung memacu kendaraannya membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Setibanya di rumah, suasana sudah tampak lebih ramai dari biasanya.

Aroma masakan khas sang ibu mengepul dari arah dapur, menyambut kedatangan Acha yang langsung bergegas masuk lewat pintu samping untuk bersiap menyambut abangnya, Alfian, serta memulai malam kumpul keluarga.

Acha baru saja melipat mukena putihnya usai menunaikan salat Magrib di kamarnya.

Baru saja dia hendak merapikan sajadahnya, ponsel yang tergeletak di atas meja riasnya berdering nyaring. Dia melirik layar ponsel dan melihat nama Teh Suci—kakak iparnya—tertera di sana.

Dengan gerakan cepat, Acha mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Teh? Ada apa yah tumben telepon?" tanya Acha ramah.

Di seberang sana, suara Suci terdengar begitu ramah dan antusias. "Acha, lagi sibuk nggak? Ini loh, keluarga besar teteh lagi ngadain acara makan-makan malam ini. Sengaja teteh telepon, mau ngajak kamu gabung ke sini sekalian seru-seruan bareng keluarga besar teteh."

Acha sempat tertegun sejenak mendengarnya. Namun, mengingat hari ini dia memang baru saja pulang dari shift kerjanya yang melelahkan di minimarket, Acha langsung menggunakan alasan itu untuk menolaknya dengan sopan.

"Duh, makasih banyak undangannya, teh. Tapi kayaknya aku nggak bisa ikut, deh. Soalnya aku baru saja pulang kerja dan badan rasanya capek banget, mau langsung istirahat," balas Acha jujur.

Setelah basa-basi sebentar dan memastikan penolakannya diterima, sambungan telepon itu akhirnya ditutup.

Tanpa Acha sadari, Tasya—yang kebetulan sedang bertamu ke kosannya untuk mengobrol sambil menghabiskan waktunya semalaman—mendengar seluruh percakapan tersebut.

Matanya Tasya langsung menyipit tajam begitu Acha meletakkan ponselnya ke atas meja.

"Eh, sebentar, teh. Teteh tadi abis ngomong sama siapa? Jangan-jangan teteh iparnya teh Acha yah?" tanya Tasya dengan nada penuh selidik.

Acha mengangguk polos. "Iya, Teh Suci ngajak aku datang ke acara makan-makan keluarganya malam ini. Tapi udah aku tolak karena aku bilang masih bekerja dan capek."

Mendengar itu, wajah Tasya langsung berubah pias. Dia bergeser mendekati Acha lalu mencengkeram lengan sahabatnya itu dengan ekspresi khawatir bercampur curiga.

"Wah, gila ya! Untung banget teteh tolak! Sumpah, aku tuh punya firasat nggak enak banget sama tuh kakak ipar."

Acha mengernyit bingung, mengerjap-ngerjapkan matanya. "Hah? Maksud kamu apa, Sya? Kok ngomongnya gitu banget?"

"Ya iyalah aneh! Tiba-tiba banget dia ngajak teteh ke acara keluarganya padahal biasanya dia paling males atau ogah-ogahan kalau ketemu teteh, kan? Jangan-jangan dia punya niat jahat atau mau ngerjain teteh di belakang!" tuduh Tasya berapi-api, matanya melotot serius.

"Pokoknya ya teh, demi apapun, teteh jangan pernah mau kalau diajak-ajak lagi. Bisa bahaya kalau teteh nurut sama dia!"

Acha menghela napas panjang, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Tasya di lengannya. Dia menggelengkan kepala pelan, merasa tuduhan sahabatnya itu terlalu berlebihan.

"Kamu tuh ya, Sya, kalau ngomong suka kejauhan ke mana-mana," protes Acha sambil merapikan ponselnya di atas meja.

"Mungkin Teh Suci cuma niatnya baik doang mau ngajak ngumpul bareng. Lagian kan aku udah nolak juga, jadi nggak usah dibikin rumit deh."

Tasya mendengus kesal, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang masih menyiratkan ketidakpercayaan.

"Ih, teteh! Teteh mah orangnya terlalu gampang husnuzon sama orang lain. Ingat ya, orang kayak dia mana mungkin berbaik hati tanpa ada maksud tersembunyi. Pokoknya aku nggak tenang kalau teteh deket-deket sama keluarga mereka malam ini!"

Sebelum Acha sempat membalas omelan Tasya yang terlampau protektif itu, suara ketukan pintu kamar terdengar disusul dengan kemunculan Vika yang membawa dua gelas teh manis hangat.

"Nih, ngobrolnya serius amat mukanya pada ditekuk gitu. Ngomongin apaan sih?" tanya Vika santai sambil meletakkan gelas di atas meja.

Acha langsung menatap Vika, berharap sahabatnya yang satu itu bisa mendinginkan suasana dan menghentikan prasangka buruk Tasya yang mulai membuatnya pusing.

Be to Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!