NovelToon NovelToon
KAMAR KOSONG

KAMAR KOSONG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Murni dan Samsuri beserta ketiga anaknya tinggal di rumah selama bertahun-tahun lamanya tidak pernah tahu kalau ada kamar kosong di rumahnya .

Salah satu anak dari mereka melihat kamar kosong berada di ruang bawah tanah ketika tidak sengaja membuka lemari pakaian di kamarnya saat sedang merapikan pakaiannya .

Kejadian demi kejadian mereka alami setiap malam dan mereka sangat terganggu sehingga setiap malam terjaga .

Apakah yang akan dilakukan satu keluarga tersebut ketika mengetahui adanya kamar kosong di dalam rumahnya ?

Ikuti kisahnya sampai selesai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Ia Kembali lagi

Beberapa hari kemudian Keluarga Samsuri tidak mendapat teror tapi ada beberapa warga melihat ada orang selain orang di dalam rumah Samsuri tapi tidak berani mengatakan pada Samsuri maupun istri dan anaknya karena takut di anggap fitnah .

"Bapak berangkat bekerja dulu ya ," Samsuri pamit kepada istri dan anak-anaknya .

"Pak , ini kan hari minggu kok berangkat ?" tanya Murni sedang menjemur pakaian . "Di suruh berangkat sama majikan ya berangkat masa tidak mau nanti tidak di bayar gimana ?" jelas Samsuri menyalakan motornya dan meninggalkan rumah .

Ketiga anaknya melihat perginya bapak mereka dengan perasaan tidak tega . "Kalau bapak tidak bekerja kasihan ibu bekerja sendirian sedangkan kita butuh uang banyak ," kata Manaf sedih .

Alif dan Abdul saling pandang lalu melihat Manaf dan merangkul bersamaan ." Bapak tidak bisa diam saja di rumah , beliau sangat memikirkan nasib kita sekeluarga , hanya saja pekerjaan bapak kadang-kadang saja ada kadang tidak begitu saja kita ," sahut Abdul dengan perasaan bersalah .

“Iya benar , makanya kita sebagai anak harus paham dengan keadaan kita sekarang dan kita harus jadi orang sukses untuk membahagiakan bapak sama ibu ," kata Alif membalas keduanya .

"Kalian ada tugas sekolah apa tidak ?" tanya Abdul memecah keheningan mereka .

"Tidak ada ," jawab keduanya sambil menggelengkan kepala . "Bagaimana kalau mancing siapa tahu dapat ikan banyak ," kata Abdul memberi ide .

Manaf melihat ke arah Alif meminta pendapat , " Kalau aku mau saja , tapi Manaf kan tidak bisa mancing ," kata Alif .

"Aku ikut tapi tidak mancing , ya lihatin kalian mancing saja ," balas Manaf tersenyum . "Baiklah kalau begitu ayo kita berangkat ," Abdul dengan antusias mengambil alat pancing tidak lupa dengan umpan begitu juga Alif .

Kini ke tiga kakak beradik itu berada di sungai yang deras namun jernih . Abdul dan Alif diam dan fokus dengan pancingnya yang sudah ia lempar ke dalam air .

Manaf tersenyum senang melihat kedua kakaknya mancing dengan serius ia duduk di batu diantara kedua kakaknya posisi mereka saling membelakangi dan di tengah ada Manaf sedang membaca buku dengan tenang .

Satu ikan di kail milik Alif , langsung ia tarik ke atas dan memasukkan ke dalam tempat yang sudah di sediakan . Manaf terkejut melihat ada ikan sedang bergerak-gerak .

Satu lagi milik Abdul lalu di tarik ke atas dan dimasukkan ke dalam tempat . "Wah kalian hebat bisa mancing ikan dengan mudah dan cepat , lihat ini sudah banyak sekali ," kata Manaf dengan antusias .

Setelah mendapat ikan banyak mereka pulang dengan wajah senang . Dari jauh mereka melihat seorang perempuan dengan wajah seram duduk di bebatuan arah menuju kampung .

"Kalian lihat di sana , dia kan perempuan yang kamu maksud kan Naf ,“ kata Abdul dengan berbisik .

“Iya benar , tapi siapa dia sih kenapa mengikuti kita terus , seram tahu ," kata Manaf tubuhnya bergetar karena takut , ia memegang tangan kedua kakaknya dengan erat .

"Tenanglah kalian jangan berlari atau berhenti , ingat kata bapak jadilah pria pemberani dalam segala hal ," kata Abdul mengingatkan kedua saudaranya .

Alif dan Manaf hanya mengangguk membuat Abdul menoleh ke arah mereka berdua . " Kenapa lihat-lihat aku dan kak Alif memangnya ada yang aneh ?" Manaf dengan berani seolah menantang mengajak perang .

"Anak kecil ya tetap anak kecil kamu belum dewasa jika ingin melindungi kami sekeluarga ," kata Manaf sambil menatap tajam Abdul .

"Iya tahu kalau kamu anak yang cantik dan pintar ," kata Abdul . "Sudahlah jangan di bahas lagi lebih baik kita berjalan santai kalau di tegur ya jawab apa adanya , kalau dia diam saja berarti ia hanya sedang ingin jalan-jalan saja ," kata Alif memberi peringatan .

"Siap komandan , laksanakan ," kata Alif . Mereka hendak melewati perempuan itu namun cekalan di tangan Alif membuat semua terdiam lalu menoleh ke arah samping Alif .

Sosok perempuan itu menatap Alif dengan intens membuat Alif bergidik takut ingin segera pergi tapi tangannya di tahan .

Perempuan itu menyuruh mereka bertiga duduk . Ketiganya tetap kekeh tidak mau duduk lebih memilih berdiri sambil melihat wajah perempuan tersebut .

“Aku mengenal kamu ," kata perempuan itu menunjuk Alif . Abdul dan Manaf menoleh ke arah Alif meminta penjelasan .

"Tapi aku tidak mengenalmu ," sahut Alif dengan cuek . Perempuan itu mencebik dengan kasar mendengar kata Alif .

“Kamu dan temanmu hampir menabrak ku waktu itu ," katanya sambil menunduk . Alif mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu . "Iya memang benar , lalu kenapa kamu mengikutiku bahkan beraninya datang ke rumahku tanpa permisi ," sahut Manaf dnegan suara agak tinggi .

" Aku tidak meminta pertanggung jawaban dari kamu atau temanmu , aku ke sini hanya ingin menginap saja tidak lebih lagi pula aku tidak punya apapun uangku habis buat perawatan wajah yang rusak ini dan mobil yang terserempet sekarang masih di bengkel , “ katanya tanpa ekspresi .

"Kenapa tidak menginap di rumah temanmu atau saudara ?" tanya Alif menatap dengan serius .

“Namaku larasati aku tinggal di daerah terpencil jauh dari keramaian kota ," katanya lagi menunduk . Seperti ada masalah yang berat ia pikul .

Ketiga bersaudara itu saling menatap tidak mengerti dengan keadaan perempuan bernama Larasati itu .

"Maaf kami tidak bisa memberimu tempat karena rumah kami tidak ada kamar kosong ," kata Abdul dengan wajah tidak suka melihat Larasati .

"Boleh aku tahu kenapa wajahmu bisa rusah begitu dan itu darah kenapa bisa mengalir terus ?" tanya Alif merasa ingin muntah karena bau amis tercium hidungnya .

Larasati menghembuskan napas kasar . " Beberapa bulan lalu .... ," Larasati menceritakan kejadian yang dia alami . Ketiga saudara itu terkejut seakan tidak percaya .

"Ini seperti sebuah dongeng rakyat , hampir mirip sih , umur kamu berapa waktu itu ?" kata Manaf . Ia sudah paham dengan cerita semacam itu karena ia hobi membaca buku tentang kisah sesorang , mulai cerita komedi sampai horor ia pernah baca .

"Kamu pikir aku berbohong dengan kisah yang aku alami , terlalu ," kata Larasati kesal karena dianggap dongeng yang tidak punya makna .

"Jangan marah nanti cepat tua , begini saja kita pergi ke rumah Pak Hasan disana kamu ceritakan masalahmu semoga saja Pak Hasan bisa membantumu mencarikan tempat untuk berlindung ," Alif memberi ide kepada Larasati .

"Kalau aku mainnya di rumah kalian gimana , kalau di rumah orang lain takutnya mereka tidak mau menerimaku apalagi dengan kondisiku saat ini ,“ kata Larasati sedih .

"Belum di coba saja sudah nyerah , payah kamu ,“ celetuk Manaf sambil menepuk bahu Larasati .

"Dasar bocil , sudah dijelaskan pun tidak bakalan paham ,“ sahut Larasati masih merasa kesal .

"Ayo ke rumah Pak Hasan sekarang sebelum waktu shalat , sabar dulu ,“ ajak Alif .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!