"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"
Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.
"Menikahlah denganku, Ash!"
Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.
Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Dalam ruang tunggu yang sepi hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang berotasi. Entah ini adalah putaran yang ke berapa Asha tidak menghitungnya. Sudah cukup lama sejak ia selesai di rias, dan sejak itulah Asha duduk termenung di atas sofa yang di balut kain putih itu sendirian.
Jika biasanya seorang pengantin wanita akan di temani pihak keluarga mau pun teman-temannya di ruang tunggu, tapi bagi Asha dirinya adalah pengecualian. Tidak ada seorang pun di sisinya.
Asha merapikan posisi duduknya. Di pangkuannya ada buket bunga peony yang aroma manis dan lembutnya menyeruak, menyapa indera penciuman wanita itu.
Nenek melihatku dari atas sana bukan? Lihatlah hari ini aku menikah dengan pria dari keluarga Andara seperti yang kau minta terakhir kali. Aku cucu yang penurut, bukan? Aku memakai gaun cantik pilihanku, dekorasi impianku. Meskipun aku sendirian, aku harap nenek tidak terlalu sedih. Sahabatku hanya sedang memiliki kepentingan lain.
Asha bermonolog, menghibur diri sendiri lebih tepatnya, ia lalu tersenyum getir. Teringat dua hari lalu saat dirinya melakukan jangan temu dengan Ace.
"Kita bahkan bukan orang asing. Tapi mengapa kamu selalu mengambil keputusan besar sendirian, Ash?"
Asha hanya bisa menunduk, perkataan Ace ada benarnya. Terlebih sebelumnya Asha sempat berjanji untuk selalu membicarakan apa pun pada sahabatnya itu. Namun situasinya benar-benar kacau sehari sebelumnya, ajakan Abiyan menikah yang ia terima awalnya Asha pikir tidak secepat itu. Dan semuanya benar-benar kacau ketika Rhea tahu lebih dulu dan mengadu pada Ace.
Pria blasteran yang menjadi sahabatnya sejak sekolah menengah itu benar-benar kecewa pada Asha. Namun satu hal yang masih belum bisa Asha pahami hingga kini adalah kalimat terakhir sebelum Ace pergi dari kafe tempat mereka bertemu.
"Jika kamu harus menikah, mengapa harus dengan pria dari keluarga Andara? Kamu bisa ... ."
Asha hanya bisa berpikir jika Ace hanya sedang mengkhawatirkannya. Meski kalimat yang tidak rampung itu tentu saja masih membuatnya kepikiran.
Asha menghela napas pelan, tangannya meremas sisi samping gaun pengantin yang membalut tubuhnya. Dan untuk yang ke dua kalinya, Asha menghirup napasnya dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Bukan itu intinya nek. Nenek lihat, kan? Aku memegang buket bunga peony— favoritmu. Dan ... soal suamiku, kami memang memutuskan menikah secara mendadak. Tapi, dia selalu baik padaku. Jadi, jangan khawatir dan berkati kami dari atas sana, nek!
Asha memaksa senyuman lebar di wajahnya. Deretan giginya yang putih bisa menyapa siapa pun saat yang melihatnya.
"Jika aku tahu kamu akan tersenyum selebar itu, aku tidak akan marah kemarin." Suara berat itu mengejutkan Asha, membuatnya menoleh ke arah pintu yang menampilkan sosok Ace dengan langkahnya yang memasuki ruang tunggu itu.
"Maaf aku kemarin sangat kekanak-kanakan. Aku hanya sangat peduli padamu."
"Aku tahu," sahut Asha wanita itu berdiri, menyambut Ace yang sempat menghentikan langkahnya.
"Hari ini ... kamu sangat cantik, Ash. Gaunmu indah, dan dekorasi di ballroom tadi sangat mengagumkan."
"Kamu melihatnya?" Ace mengangguk sebagai jawaban.
Asha kembali mengukir senyum, bukan senyum paksaan seperti sebelumnya namun senyum kegembiraan yang nyata. Asha pikir Ace tidak akan datang hari ini. Sosoknya yang berbicara ini itu menunjukkan jika pria itu nyata bukan hanya bayangan yang ia ciptakan dalam kesendirian. Syukurlah Ace tidak berlarut dalam kemarahan.
Obrolan keduanya terpaksa terhenti ketika seorang bridesmaid mendatangi mereka. Seorang wanita— sepupu yang berasal dari pihak keluarga Andara dipilih untuk menemani Asha. Sebelumnya wanita itu meninggalkan Asha karena perutnya sedang tidak bersahabat sehingga harus berdiam dalam toilet cukup lama, demi menghemat waktu dan tenaga.
"Kau sudah siap?" tanya wanita itu, kalimatnya menarik Asha fokus padanya.
Suara alunan musik yang diputar samar-samar menyapa gendang telinga Asha.
Ah, hari ini hari pernikahanku.
Asha menatap Ace sebentar setelah berpamitan pada sahabatnya itu, seulas tipis yang terkesan dipaksakan terlukis di wajah Ace. Sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan antusias. Asha ingin menanyakan hal itu namun ia tidak punya banyak waktu. Saat ini Asha benar-benar harus pergi, Abiyan menunggu di altar pernikahan mereka.
Begitu pintu ballroom dibuka, aroma wangi bunga segar menyambut Asha yang mematung di bawah cahaya lampu yang menyorot padanya. Ia meremas kedua sisi gaunnya dengan tangan yang terbalut sarung tangan renda.
Tidak ada keluarga, tidak ada ayah yang menggandeng tangannya. Asha benar-benar sendiri, Asha menatap gugup pada banyaknya pasang mata di kanan kiri lorong yang terhubung dengan altar di depan sana. Asha tiba-tiba merasa ciut hingga akhirnya pandangannya jatuh pada sosok Abiyan yang menghampirinya, mengulurkan tangan padanya.
Abiyan terlihat seperti orang yang berbeda. Rambutnya disisir rapi dan balutan tuxedo ditubuhnya tampak begitu pas, seolah tuxedo itu dari awal dijahit khusus untuknya. Semua orang benar-benar tertipu, awalnya tuxedo itu dipilih untuk Zaky dan seharusnya masih harus memperbaiki ukurannya sedikit namun, ketika Abiyan mencobanya tidak perlu memperbaiki apa pun. Tuxedo itu benar-benar menemukan pemiliknya.
Asha sempat terpaku dengan perubahan itu, sebelumnya Abiyan selalu memakai hoodie dan kaos kebesaran sehingga Asha sama sekali tidak pernah melihat lekuk tubuh pria itu. Tapi kali ini ia dapat dengan jelas melihatnya. Asha lalu buru-buru menyambut uluran tangan dari pria yang sebentar lagi akan menyandang status suami untuknya begitu pria itu mendehem pelan. Tangan kecilnya ia kaitkan di lengan Abiyan, mereka berjalan menuju altar dengan perlahan. Musik mengiringi setiap langkah keduanya menuju altar.
Sebelum keduanya benar-benar sampai di altar, sebuah gapura bunga melengkung yang dipenuhi bunga mawar putih, bunga peony dan daun hijau yang segar. Gerbang itu lah yang menjadi penghubung dengan masa depan— babak baru dalam kehidupan keduanya.
Abiyan dengan langkahnya yang tegap tanpa ragu membimbing Asha menuju altar pernikahan. Keduanya melewati lorong yang diapit deretan kursi tamu undangan yang hanya sebagian kecil saja yang Asha kenali, selebihnya ... mereka adalah tamu dari keluarga Andara.
Altar yang dihias dengan bunga-bunga segar dan dibuat seperti panggung dengan tinggi satu setengah meter itu menjadi tempat terakhir keduanya melangkah. Tempat sakral bagi keduanya untuk mengucap janji suci sebagai bentuk komitmen di hadapan Tuhan.
Alunan musik pengiring mengalun beberapa saat meskipun keduanya sudah berdiri di atas altar. Hingga suara MC lagi-lagi mencuri fokus dua insan yang saling pandang dengan jalan pikiran masing-masing.
Pembawa acara membacakan susunan acara hingga acara utama dibacakan dari balik pengeras suara.
"Apakah saudari Asha Laila Candace bersedia menerima saudara Abiyan Liam Andara sebagai suamimu, dan bersedia hidup bersama, saling mengasihi dan menghargai dalam suka maupun duka hingg maut memisahkan?"