Che Tian, seorang Saint terkuat di alam dewa, kecewa ketika kekasihnya, Yuechan, direbut oleh Taiqing, penguasa alam dewa yang dipilih oleh Leluhur Dao. Merasa dihina, Che Tian menantang Taiqing dan dihukum, diturunkan ke bumi untuk mencari kekuatan yang lebih besar. Dengan senjata sakti, Mandala Yin Yang dan Kipas Yin Yang, Che Tian membangun kekuatan baru dan mengumpulkan murid-murid yang setia. Dalam perjalanannya, ia menghadapi pengkhianatan dan rahasia alam semesta, sambil memilih apakah akan membalas dendam atau membawa keseimbangan yang lebih besar bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tian Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pagi yang Tenang Setelah Malam yang Kacau
Malam yang penuh kekacauan akhirnya berlalu, dan sinar matahari pagi perlahan menyinari lautan yang luas. Namun, ketenangan pagi itu terasa kontras dengan suasana hati para penumpang kapal. Sebagian besar masih terlihat shock akibat kejadian semalam—serangan pembunuh dan munculnya makhluk buas yang mengguncang kapal.
Bagi Che Tian, kejadian itu hanyalah gangguan kecil yang tidak patut dirisaukan. Ia duduk santai di kursinya di dek kapal, menyeruput tehnya sembari menikmati pemandangan laut yang luas dan udara pagi yang segar.
Tiba-tiba, pintu kamar Ye Qingxian terbuka. Gadis itu melangkah keluar dengan wajah segar, meskipun ada sedikit kebingungan di matanya. Begitu melihat Che Tian masih di luar, ia terkejut.
"Kenapa Guru tidak masuk kamar semalam?" pikir Ye Qingxian dalam hati. Bukankah ia sudah mendapatkan restu dari ayahnya untuk menemani gurunya?
Ia menghampiri Che Tian dan bertanya, “Guru, kenapa semalaman tidak tidur? Dan… apa yang terjadi? Kenapa para penumpang lain terlihat cemas?”
Che Tian menoleh sekilas dan menjawab santai, “Aku hanya ingin menikmati pemandangan malam. Lagipula, kalau aku masuk ke dalam, takutnya sesuatu terjadi nanti.”
Ye Qingxian menatap gurunya dengan heran. "Sesuatu terjadi?"
Che Tian kemudian menambahkan dengan nada ringan, “Para penumpang hanya mengalami sedikit masalah semalam, tidak perlu dikhawatirkan.”
Ye Qingxian mengerutkan kening, “Masalah apa?”
“Lima ekor makhluk buas naik ke dek, lalu ada serangan dari para pembunuh,” jawab Che Tian santai.
Mendengar itu, Ye Qingxian terkejut. "Kenapa aku tidak mendengar apa-apa?"
Che Tian tersenyum kecil, lalu berkata dengan nada bercanda, “Itu karena kau pemalas.”
Mendengar gurunya berkata begitu, wajah Ye Qingxian memerah karena malu. Ia sedikit merajuk, merasa diejek oleh gurunya.
Kedatangan Para Bangsawan
Tiba-tiba, langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat. Ye Qingxian dan Che Tian menoleh dan melihat sekelompok bangsawan dari semalam datang. Di antara mereka ada dua jenderal kerajaan, dua pengawal (satu laki-laki dan satu perempuan), serta seorang pangeran yang tampaknya menjadi target serangan—Xuan Huo.
Mereka langsung menuju ke arah Che Tian.
“Tuan, terima kasih atas bantuan Anda semalam,” kata Pangeran Xuan Huo dengan nada hormat.
Dua jenderal juga menunduk sedikit, menunjukkan rasa hormat mereka. “Kami berterima kasih karena telah menyelamatkan Pangeran. Sementara kami sibuk mengurus makhluk buas di bawah, Anda telah menolongnya.”
Namun, Che Tian hanya melambaikan tangannya dengan santai. “Aku hanya sedikit bergerak agar tubuhku tidak kaku.”
Mendengar jawaban itu, semua orang yang hadir terdiam sejenak. Mereka tidak tahu harus berkata apa.
Setelah beberapa saat, Pangeran Xuan Huo berbicara lagi, “Tuan, bagaimana jika aku memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih?”
Che Tian mengangkat alisnya dengan penasaran. “Oh? Apa yang kau maksud?”
Pangeran Xuan Huo tersenyum, lalu menunjuk seseorang di sampingnya—pengawal perempuan yang tampak anggun namun kuat. “Aku menyerahkan seseorang kepadamu.”
Mendengar itu, Che Tian semakin penasaran. "Siapa?"
Pangeran Xuan Huo menunjuk pengawal perempuan itu tanpa ragu. "Bibiku."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Pangeran Xuan Huo.
“Keterlaluan! Berani-beraninya kau menjual bibimu sendiri!” seru pengawal perempuan itu dengan penuh amarah.
Che Tian terkejut. "Bibi?"
Ia menatap perempuan itu lebih seksama. Meskipun dipanggil ‘bibi’, wajahnya masih muda dan cantik. Kecantikannya tampak tetap terjaga, dan yang lebih menarik bagi Che Tian adalah aura tubuhnya yang berbeda dari orang biasa.
“Menarik…” pikir Che Tian.
Lalu, dengan senyum menggoda, ia berkata, “Tidak perlu, kau tidak perlu menjual bibimu kepadaku. Meskipun tubuh angin yang ia miliki bisa menjadi wadah kultivasi yang luar biasa, tubuh itu sangat rapuh. Aku takut jika aku menggunakannya sebagai wadah kultivasi, bibimu tidak akan sanggup.”
Pengawal perempuan itu langsung marah. “Beraninya kau berkata begitu?!”
Matanya bersinar tajam, dan angin di sekelilingnya bergetar, menunjukkan sedikit kekuatan tubuh sucinya.
Che Tian tersenyum tipis dan menatapnya dengan penuh tantangan. “Jika kau ingin membuktikan bahwa kau tidak selemah itu, aku akan menerimanya.”
Mata perempuan itu menyipit. “Aku tidak akan membuktikan apapun padamu, pria mesum!”
Che Tian mengangkat bahu dengan ekspresi santai. “Aku hanya berbicara fakta. Tubuh angin memang kuat, tapi sangat sensitif. Apalagi kalau disalurkan dengan energi pria yang lebih tinggi, bisa-bisa kau pingsan sebelum mencapai tahap berikutnya.”
Perempuan itu mengepalkan tinjunya. “Kau! Beraninya kau meremehkan tubuh anginku! Aku sudah berlatih bertahun-tahun, tidak Ada satu pria pun yang bisa mengalahkanku dalam pertempuran, apalagi dalam... hal semacam itu!”
Che Tian tertawa kecil. “Oh? Jadi kau bilang bisa menghadapiku?”
“Tentu saja! Aku tidak selemah yang kau kira, pria sombong!”
Che Tian mengangguk pelan, matanya berbinar penuh minat. “Bagus, aku suka wanita yang percaya diri. Mungkin kita bisa mengujinya nanti, dalam pertarungan atau… sesuatu yang lebih menarik.”
Wajah pengawal itu langsung memerah, tapi bukan karena malu—lebih kepada amarah yang memuncak.
“Aku akan mengalahkanmu dalam duel kapan saja!” tantangnya.
Che Tian tersenyum puas. “Menarik, tapi aku tidak akan melawannya sekarang. Mungkin di lain waktu, saat kau benar-benar siap.”
Sebelum ketegangan semakin meningkat, terdengar suara lantang dari atas kapal.
"Kita telah sampai!"
Itu adalah suara kapten kapal. Mereka telah tiba di tujuan mereka.
Che Tian kembali duduk santai di kursinya, menyeruput teh dengan tenang, sementara para bangsawan, jenderal, dan pengawal berdiri diam dengan berbagai pikiran di benak mereka.
Perjalanan baru saja dimulai.
Gambar Bibi Pangeran Xuan Huo