NovelToon NovelToon
Cinta Arini (Love Story Is Complicated)

Cinta Arini (Love Story Is Complicated)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikahkontrak / Cintamanis / Tamat
Popularitas:151.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Laylatul Jannah

Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.

Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.

Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecerobohan Arini

Udara pagi terasa dingin hingga menembus tulang. Aku merapatkan sisi jaket ke tubuh. Pagi ini cuacanya benar-benar dingin. Mungkin perkiraanku benar, jika sebentar lagi akan turun hujan.

Aku menatap layar gawai, sebuah panggilan dari Riski muncul. "Assalamualaikum, ada apa?" ucapku setelah menggeserkan icon hijau ke atas.

"Waalaikumsalam. Kamu lagi dimana?" tanya Riski dengan suara datar dari seberang sana.

"Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Oma?" aku mulai cemas.

"Oma baik-baik saja. Kamu di mana?"

"Syukurlah kalau begitu, ini lagi di kantin. Ada yang mau dititip?" aku menghembus nafas lega.

Bukannya menjawab pertanyaan, lelaki itu malah memutuskan panggilan begitu saja. Aku berdecak kesal. Dia memang paling ahli dalam membuat suasana hatiku berubah menjadi keruh, bahkan di waktu sepagi ini.

*****

Rinai hujan mulai turun membasahi bumi. Rintikannya seolah menjadi melodi yang syahdu di pagi buta ini. Tetumbuhan yang tumbuh di halaman rumah sakit seakan bersorak gembira. Daun dan bunga yang mulai mengering kini terlihat ranum. Begitu juga hawa dingin semakin menyusup. Terlihat beberapa pengunjung rumah sakit berlarian menghindari tiap tetesan yang turun dari langit.

Aku melangkah melewati koridor rumah sakit sambil memeluk badan. Jaket yang ku kenakan tak cukup kuat untuk menepis kedinginan.

Di dalam ruangan, Oma Dwi sedang di periksa. Aku mengamati apa yang sedang Dokter Bayu lakukan. Sesekali ia menoleh kearahku dan aku membalasnya dengan menyuguhkan senyuman.

"Gimana, Nak Bayu. Kapan saya bisa pulang. Rasanya lama-lama di sini membuat Oma semakin sakit." keluh Oma Dwi dengan suara memelas.

Dokter Bayu tersenyum, "Kondisi Oma belum memungkinkan untuk bisa pulang. Tekanan darah masih belum stabil, juga perlu waktu beberapa hari untuk mengobati benturan di bagian otak." ucap Dokter Bayu sambil memberi suntikan obat kedalam selang infusnya.

Pukul 9, suasana ruang inap Oma kembali lenggang. Hanya ada aku dan Oma saja, sedangkan Riski ia telah berangkat ke kantor setelah sebelumnya singgah terlebih dahulu ke rumah untuk mengganti baju.

Aku duduk di samping Oma sambil menyuapi bubur ayam kepadanya. Tak banyak yang ia makan, sepertinya tidak lebih dari 5 atau 6 sendok saja.

"Rini!" panggil Oma lirih.

"Ia, Oma ...."

"Apakah kamu benar-benar menyayangi Oma, atau ...."

Aku terenyuh mendengar ucapan Oma, "Tentu saja aku menyayangi Oma. Bahkan lebih dari yang Oma duga." ucapku sambil menggenggam tangan kanannya dengan erat.

Wanita tua itu tersenyum simpul, tangan lemahnya berusaha untuk membalas genggamanku.

"Oma sangat berharap bisa melihat kalian menikah sebelum Oma dipanggil yang kuasa."

Aku bergeming menatap raut wajahnya yang gersang. Ada kekhawatiran yang sedang menyelinap di balik wajah piasnya. Begitu juga dengan diriku. Bagaimana aku mengabulkan keinginan Oma. Tunangan pura-pura saja sudah membuat ku bersalah kepadanya apalagi jika harus menikah pura-pura. Membayangkan saja sudah membuat asam lambung naik.

Wanita setengah abat itu terlihat sedang menunggu tanggapan dari ku. Sesekali ia memejamkan mata seperti sedang menahan sesuatu.

"Jangan pikir macam-macam dulu. Sekarang yang paling penting Oma harus kembali sehat. Aku rindu diajarkan merajut oleh Oma."

"Oma hanya takut, jika waktu yang Oma miliki tidak banyak lagi. Jadi, kalian segeralah menikah."

"Oma jangan ngomong yang enggak-enggak. Jodoh, riski, pertemuan dan maut itu hanya Allah yang mengetahuinya." ucapku lirih, "Jadi berhentilah Oma ngomong seperti itu. Rini mohon!"

****

Hari ini Oma sudah dibolehkan pulang. Aku dan Riski sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang sementara Oma sedang diperiksa oleh Dokter Bayu untuk kali terakhir ia di rumah sakit.

Raut wajah Oma terpancar kecerian. Sepertinya ia sangat bahagia karena telah di bolehkan pulang meski bersyarat. Dokter memberi syarat agar Oma mau berpantang dan rutin untuk rawat jalan minimal seminggu sekali.

Aku memasukkan barang-barang ke bagasi mobil dibantu oleh Riski dan Dokter Bayu. Aku baru saja mengetahui jika Oma dan Dokter Bayu sudah akrap semenjak Riski dan Bayu sama-sama di bangku SMA. Oma sendiri yang menceritakannya sewaktu kami makan siang kemarin.

"Terimakasih, Dok! Sudah membantu kami." ucapku sambil menutup bagasi.

"Panggil saya —Bayu, itu lebih enak didengar dari pada Dok atau Dokter."

"Baiklah Bayu." ucapku sambil terkekeh.

Suara klakson mobil memekik telinga. Aku segera membuka pintu lalu masuk dan duduk di samping Oma.

Dari kaca spion, terlihat Riski menoleh ke arahku. Aku memalingkan wajah ke samping menghindari pandangannya.

Orang tua Riski telah menunggu di teras. Riski memopong tubuh Oma, sementara aku membawakan barang-barang di bantu oleh Bi Nur, kedalam rumah.

Melihat banyak orang yang akan menemani Oma, Aku berniat untuk pulang ke rumah. Sekedar istirahat. Sudah dua malam menginap di rumah sakit. Seluruh badan terasa sakit semua.

"Biar aku antar." seru Riski, setelah aku berpamitan pada Oma.

Aku menoleh sesaat ke arahnya. "tidak perlu, saya bawa mobil sendiri." ucapku sambil berlalu meninggalkannya.

Aku mematung di teras. Netraku menyisir seluruh sudut halaman namun mobil hitam yang ku maksud tidak juga kelihatan. Riski maju menghampiriku hingga hampir tidak ada jarak di antara kami.

"Mobilmu tidak hilang. Tadi kamu lupa membawanya pulang." bisik Riski tepat di telinga kananku. Lelaki itu terkekeh geli.

Deg!

Mulutku membulat sempurna sementara tangan kanan mengatup mulut. Aku memalingkan wajah ke arah Riski. Lelaki itu masih terkekeh, lalu menjauh dan masuk ke dalam.

Aku masih membisu menatap halaman rumah Oma yang banyak berjejer pot bunga dengan berbagai macam jenis tetumbuhan penghasil bunga.

Di tengah kebingungan, aku merogoh tas, mengambil ponsel lalu membuka aplikasi kendaraan online berwarna hijau.

Samar-samar derap langkah seseorang terdengar. Aku menoleh kebelakang, mendapati Riski berjalan ke arahku. Merasa malu dengan kecerobohanku, aku melangkah cepat menuju pintu gerbang pagar.

"Tunggu! biar aku mengantarmu,"

Aku mengentikan langkah, berbalik badan menghadap ke arahnya. Tampak ia membuka pintu mobil depan sebelah kiri. Lalu menatap kearahku sambil menunggu. Tatapan tanpa ekpresi.

Aku melangkah mendekat dengan langkah ragu-ragu. Bagaimana jika sepanjang jalan ia akan meledek kecorobohanku. Ah! Aku harus bagaimana. Haruskah aku menolak saja?

Sepanjang jalan, aku memilih diam begitu juga dengan Riski. Sesekali kami saling beradu pandangan lalu kembali fokus ke depan.

Ia menuju arah rumah sakit, setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di halaman rumah sakit. Riski memarkir mobil di tempat parkiran yang telah disediakan.

"Terima kasih," ucapku sambil membuka pintu mobil.

Lelaki itu mengangguk, tanpa sengaja aku menatap matanya. Manik mata dengan iris kocoklatan tersebut terlihat cukup indah dengan paduan bulu mata yang panjang dan lentik. Dan alisnya, alisnya tebal dan hitam. Hampir saja bersambung antara sisi kanan dan kiri.

Baru kali ini aku menyadarinya jika pemuda itu memiliki mata yang indah.

"Kau tidak akan turun?" ucap lelaki itu sambil melambaikan tangan ke arah wajahku.

Aku tersadar dari lamunan lalu mengangguk sekali. Dengan sedikit canggung, aku keluar dari mobilnya dan menutup pintu, menuju tempat parkiran si hitam.

1
Remince Silalahi
iiiiihhh itu arini bodo ato buta tuli dll sdh dihianiti di fitnah kdrt masih aj berbunga2 hati cuma ramuan sedikit g kls
Remince Silalahi
usirlah semua yg menjadi bokicot itu rini
Remince Silalahi: 💪😍👍🤣😍😍😍😍😍😍👍👍👍
total 1 replies
Hap£!π
endingnya krg greget thor
gmn kbr keluargga galuh
Hap£!π
kok ak deg2an ya thor bacanya
Hap£!π
baru nemu thor
😘
jejak dlu
halutiaphari
semangat💪
TK
lanjut 👍
Hannah
Makasi sudah mampir..hehe
♋Ichageul💞
Hai kemana aja baru up lagi? semangat terus ya
Vanni Maulida
arini terlalu bodoh
halutiaphari
Apa cuma aku ya yang merasa kesal sama sikapnya Riski , dia terlalu plin-plan. Seharusnya jika mencintai Arini tidak perlu main kasar terlebih lagi main tangan.

Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏
TK
lanjut
NinLugas
kk aq hdr jgn lp mmpir balik ka
Hannah: makasi ya.
ia..🤗
total 1 replies
Jungkook wife
"Istri yang Terabaikan" Datang lagi memberikan like nya. Maaf telat berkunjung, Tapi saya selalu mendukung karya Kakak. Mari saling mendukung, ditunggu Feedback nya selalu. Terimakasih.
Elisabeth Ratna Susanti
suka😍
Rini Rahma
kak, jangn konflik terus nah. kasih arini dan riski bahagia gitu
Hannah: ia, Dek.
makasi y tuk masukannya.
ini rencana mau kk endingkan jdi kk buat konflik dulu sebelum berakhir
total 1 replies
♋Ichageul💞
Ayo tetap semangat dong. Banyak kok yang nunggu kelanjutan kisah Arini dan Risky💪
Hannah: Makasi, Kak
total 1 replies
Kohaku
First
TK
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!