Maira adalah gadis yang menjadi simpanan seorang pria tampan yang kaya raya, sebenarnya Maira juga adalah masa lalu dari pria itu. Mereka berpisah karena sebuah perjodohan yang memaksa pria itu harus meninggalkan Maira, tapi pada dasarnya mereka tetap tak bisa saling melepaskan, mereka bahkan masih sering bertemu tanpa sepengetahuan istri dan keluarga pria tersebut.
Akan seperti apakah perjalan hidup mereka? akankah pria itu mengejar dan memperjuangkan kembali cintanya dengan Maira, atau malah jatuh cinta pada wanita yang saat ini telah menjadi istri sahnya secara hukum?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Sekolah Naura
Hari sudah kembali siang, sinar matahari sudah menyinari bumi. Maira dan Naura saat ini sudah berada di sekolah Naura, mereka sedang berjalan menuju ruang guru, semalam wali kelas Naura menelpon Maira sebagai wali Naura yang harus memenuhi panggilan sekolah.
"Hay, " sapa Nilam yang berjalan menghampiri Naura dan Maira.
"Ini Nilam temen kamu itu yah? " tanya Maira sambil menatap Nilam.
"Iyah kak aku pernah main juga kan ke rumahnya Naura, " balas Nil sambil tersenyum.
"Satu lagi mana? " tanya Maira.
"Kayaknya si Balqis masih di jalan deh, " balas Nilam.
"Ya udah kalian masuk kelas aja, biar kakak ke ruang kepala sekolahnya sendiri aja, " titah Maira.
"Aku mau anterin kakak aja, sambil jelasin apa yang sebenarnya terjadi. Kamu duluan aja sana, " Balas Naura sambil menyuruh Nilam untuk pergi ke kelasnya.
"Baiklah aku pergi ke kelas dulu yah, " pamit Nilam sambil melambaikan tangan ke arah Naura dan Maira.
Naura dan Maira membalas lambaian tangan Nilam sebelum akhirnya pergi ke ruang kepala sekolah, tapi saat mereka berdua sudah berdiri di hadapan pintu masuk tiba-tiba ponselnya Maira berdering.
"Bentar yah kakak angkat telpon dulu, " pamit Maira sambil berjalan menjauh dari Naura.
"Iyah kak, " balas Naura sambil berdiam di samping pintu untuk menunggu Maira.
Maira mengangkat telpon itu diam-diam, "Apaan sih? " tanya Maira.
"Kamu kemana? Kok pagi ini gak ada? " tanya pria di sebrang telpon itu.
"Aku lagi ada urusan, nanti pulang dari sini aku akan langsung ke rumah mu kok. Lagipula aku udah bilang sama yang lain kalau aku gak bisa datang pagi hari ini, " balas Maira.
"Terus kenapa kau tidak bilang padaku? " tanya pria itu kembali.
"Arga aku lupa, ya udah ah nanti aku terusin lagi. Aku lagi ngurusin Naura nih, " balas Maira.
"Aku juga hari ini di minta ke sekolah untuk ngurus anak beasiswa yang katanya kemarin bikin ribut, di sekolah papah aku. Temennya papah aku minta anak itu di keluarin tapi aku sekarang mau liat dulu anaknya, " ucap Arga.
"Ya udah lah terserah kamu, udah dulu yah aku matiin telponnya nih, " balas Maira yang langsung mematikan telponnya.
Maira menyimpan ponselnya di tas lalu berjalan ke arah Naura, setelah sampai di samping Naura Maira langsung merangkul Naura dan tersenyum ke arah Naura.
Maira tau kalau saat ini Naura sedang gelisah dan ketakutan, Maira juga tau kalau sebenarnya Naura tak mau meninggalkan sekolah ini, "Udah yuk masuk, " ajak Maira.
Mereka berdua pun masuk ke ruangan itu, di ruangan itu sudah terdapat Alika, ibunya Alika dan juga kepala sekolah.
"Silahkan duduk, " kepala sekolahnya mempersilahkan mereka untuk duduk.
Maira dan Naura pun duduk di sofa samping kelapa sekolah dan di depan sofa Alika dan ibunya, sedari tadi tatapan Alika dan ibunya menatap benci pada Maira dan Naura.
"Sebenarnya ini tuh ada apa? Saya kemarin benar-benar tidak mengetahui keributan yang kau adukan, " tanya kelapa sekolah sambil menatap Alika.
Alika menarik nafasnya dalam-dalam lalu mulai bersandiwara seakan-akan dirinya di sini hanyalah korban. Alika bercerita tentang kejadian kemarin dengan di tambah-tambahkan.
"Jadi begitu Pak ceritanya, " ucap Alika yang baru saja selesai bercerita.
"Apakah itu benar Naura? " kepala sekolah itu langsung bertanya pada Naura.
"Untuk masalah saya memukuli Alika itu memang benar, tapi saya memukulnya bukan tanpa alasan, dia yang pertama memukul dan memaki saya, " balas Naura.
"Enak saja, anak saya tidak mungkin melakukan hal itu, " ucap ibunya Alika yang tidak Terima anaknya di hina.
"Anda tidak tau apa yang anak anda lakukan karena anda tidak melihat anak anda ketika bersekolah di sini, " ujar Naura kembali.
"Berani-beraninya yah kau bicara seperti itu pada orang tua, dasar tidak sopan, " kesal ibunya Alika sambil berdiri dan menunjuk Naura.
"Mah udah jangan emosi, " Alika mencoba menenangkan ibunya.
Ibunya Alika kembali duduk namun masih dengan amarah, "Pokoknya saya akan minta pemilik sekolah ini mengeluarkan dia, saya kemarin malam sudah menelponnya dan katanya dia mau datang sekarang, " ancam ibunya Alika sinis.
Naura mengepalkan tangannya, sambil menatap tajam ibunya Alika dan juga Alika nya. Sementara Alika tersenyum miring pada Naura, ia puas dengan apa yang ia dan ibunya lakukan pada Naura.
Maira memegang tangan Naura yang mengepal, "Sudah yah sayang, mungkin memang ini sudah waktunya, " ucap Maira.
Naura pun menatap balik kakaknya, amarah yang saat ini sedang naik pun tiba-tiba meredam.
"Baiklah sekarang kita tunggu anak pimpinan saja dulu, karena saya juga tidak bisa langsung memutuskan. Terlebih lagi Naura adalah anak yang sangat pintar di sekolah, " ucap kepala sekolahnya.
"Walaupun pintar tapi tetap saja dia itu suka kekerasan, " balas ibunya Alika.
"Tapi ini hanya kasus pertamanya selama dia bersekolah di sini, jadi menurut saya dia tidak perlu langsung di keluarkan, " kepala sekolah nya pun sebenarnya tak mau kehilangan Naura.
"Hey saya adalah teman dari pemilik sekolah ini, saya juga donatur di sini. Saya berhak menentukan itu, " balas ibunya Alika yang tetap kekeh ingin Naura keluar dari sekolah ini.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya datanglah seseorang pria yang membuat Naura dan Maira terkejut, tanpa ada yang tau Maira langsung membisikkan sesuatu pada Naura.
"Jangan bicara apapun tentang pria itu untuk saat ini, anggap saja kita tidak mengenalnya, " ucap Maira.
Tanpa bicara Naura menjawabnya hanya dengan menganggukkan kepalanya, ia ingin tau kenapa kakaknya tidak mau semua orang tau siapa pria yang barusan datang ini.
"Silahkan duduk tuan, " kepala sekolahnya pun langsung mempersilahkan pria itu duduk.
Pria itu memilih duduk di samping Maira, ia pun kaget kenapa ia bisa bertemu dengan Maira di sini.
"Arga, jadi dia yang udah buat anak tante kemarin nangis, " ibunya Alika mengadu pada Arga.
Yah pria itu adalah Arga, sekolah ini memang bukan miliknya tapi milik ayahnya lah. Tapi hari ini ayahnya Arga tidak bisa datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan teman ayahnya ini, jadi sebagai gantinya Arga lah yang menggantikan ayahnya.
Arga sedikit kebingungan ia tak tau harus bicara apa untuk saat ini.
"Jadi dia anak pemilik sekolah ini? " tanya Maira sambil menatap Arga dengan tatapan selidik.
"Iyah saya, memangnya kenapa? " tanya balik Arga sambil membalas tatapan Maira.
"Kau tidak sopan sekali menatap Arga dengan tatapan seperti itu, " ucap ibunya Alika yang merasa Maira terlalu berani menatap Arga dengan tatapan seperti itu.
"Baik maafkan saya, " balas Maira sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi bagaimana Arga? Apakah kita harus mengeluarkan dia? " tanya kepala sekolah itu.
"Tidak perlu, " balas Arga datar.
Ibunya Alika dan Alika sangat terkejut mendengar jawaban yang Arga berikan, "Gak bisa gitu dong, " bantah ibunya Alika.
"Ini sekolah milik ayah saya, jadi terserah saya dong sebagai anaknya mau ngambil keputusan apapun. Lagian dia anak pintar kan? " balas Arga yang langsung menatap ke arah kepala sekolahnya.
"Benar, Naura memang anak pintar, " ucap kepala sekolah itu.
Ibunya Alika dan Alika langsung keluar dari ruangan kepala sekolah itu dengan kesal, ibunya akan menelpon ayahnya Arga dan membicarakan apa yang saat ini Arga lakukan.