NovelToon NovelToon
Elvan 2

Elvan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:95.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fira Anjelita

"Lo jahat!"

Elvan menatap Aleta bingung. Gadis yang tiga tahun ini dia rindukan itu sangat berbeda. Kini rambut Aleta menjadi sebahu dengan wajah lebih dewasa dan semakin cantik. Dia menangis.

"Why? Gue balik karena pengen jadi yang terbaik buat lo."

"Lo tinggalin gue saat gue butuh!" teriak Aleta kemudian meninggalkan Elvan begitu saja.

"Dan sekarang gue kembali buat perjuangin lo," teriak Elvan menatap punggung Aleta yang semakin menjauh.

"Semoga saja belum terlambat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elvan 2- 015

015

Sulit

Tanpa disuruh pun yang mencintai akan selalu menjaga.

.....

"Kalau gue lepasin Aleta buat lo, apa lo bakalan bahagiain dia?"

Elvan menatap Aksa lama. Dia tidak habis pikir dengan pertanyaan yang Aksa berikan. Apakah itu artinya Aksa menyerah? Ataukah itu artinya Aksa akan membantunya dekat dengan Aleta? Namun, tanpa ditanya atau pun disuruh Elvan akan selalu menjaga Aleta. Akan membuat Aleta bahagia.

"Lo tahu apa jawabannya," jawab Elvan tenang.

"Gue cuma mau pastiin," ucap Aksa. Pemuda itu tersenyum tipis. "Dia masih sayang elo."

"Gue tahu." Elvan tersenyum bangga.

"Usaha terus. Jangan bikin dia kecewa."

"Pa-"

Drt ... drt ... Elvan tak meneruskan ucapannya. Dia melirik pada ponselnya yang bergetar dan berdering nyaring. Dahinya mengernyit saat tahu siapa penelepon itu. Walaupun begitu, Elvan meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau bergambar telepon tanpa kabel.

"Why?" katanya saat ponsel telah sempurna menempel pada daun telinganya.

"..."

Elvan melirik Aksa yang menatapnya penuh tanya. Dia pun tersenyum lalu menjauhkan ponselnya sedikit. "Gue angkat ini dulu," katanya tenang. Kemudian Elvan menjauh dari sana.

"Pa, Elvan baik di sini. Udah ketemu sama temen-temen juga."

"Mama nanyain kamu."

"Elvan berusaha ngabarin terus kok ke kalian."

Terdengar helaan napas dari seberang sana. Elvan hanya mampu terdiam karena tahu Papanya sedang memikirkan sesuatu.

"Kapan pulang?"

Bibir Elvan menipis saat mendengarnya. Dia di sini belum ada satu bulan, tapi Papanya sudah bertanya kapan dirinya pulang?

"Aku belum mendapatkannya."

"Sepenting itu dia?"

"Iya. Papa gak bisa larang Elvan buat pertahanin dia."

"Clarisa rindu."

Elvan membuang napas lelah, tangannya mengusap wajah dengan kasar. Clarisa, kenapa Papanya selalu saja membahas tentang Clarisa? Sebenarnya Elvan tidak suka dengan keberadaan gadis itu. Andai dia bisa mengusir Clarisa, saat itu juga dia pasti akan mengusirnya.

"Bukan urusan Elvan, Pa."

"Kamu sudah berjanji Elvan!" kata Papanya geram. Antonio tidak habis pikir dengan putranya yang cuek dan tidak peduli dengan Clarisa.

"Elvan gak bisa nerima dia, Pa."

"Elvan-"

"Udah ya, Elvan harus segera pulang. Kantin mau tutup. Nanti lagi."

Tut. Panggilan sengaja Elvan matikan sepihak. Dia benar-benar tidak sanggup jika membahas tentang Clarisa ataupun tentang London. Biarkan saja, tujuannya sekarang adalah mendapatkan kembali cinta Aleta. Bukan yang lain.

Elvan pun membalikan badan kembali mendekat kepada Aksa yang masih setia duduk di sana. Es teh yang tadinya masih setengah kini telah berganti menjadi full kembali. Ah, jadi dia cukup lama juga mengangkat teleponnya.

"Ada masalah?" tanya Aksa penuh perhatian. Elvan menggeleng.

"Gue kira ada, soalnya lo keliatan marah-marah."

"Masa sih?" Elvan bertanya dengan nada bercanda.

"Lo mah gitu!" kesal Aksa.

Elvan pun tertawa renyah. Setelah beberapa saat dia terdiam dan kembali menatap Aksa serius.

"Kalau gue boleh minta sama lo, gue pengen lo balik buat The Charmer lagi."

Aksa mematung, matanya berbinar namun juga meragu.

"Gue gak pantes-"

"Lo pantes. Anak-anak pasti seneng lo kembali."

"Tapi ... gue ngerasa udah berkhianat ke elo."

Elvan tersenyum tipis. Menepuk pundak Aksa dua kali seolah menenangkan. "Katanya lo mau lepas Aleta. Lo bakalan lebih sering bareng dia kalau kembali sama The Charmer."

"Van, gue belum yakin sepenuhnya lepas Aleta. Lagian -"

"Kita bersaing kalau lo belum ikhlas. Gue cuma kangen aja kita bareng sama anak-anak."

Aksa menunduk seolah berpikir. Dia sebenarnya juga rindu dengan The Charmer. Bahkan kemarin saat mengantarkan Marco, rasanya dia ingin kembali duduk dan bergabung dengan mereka. Namun, kemarin amarah lebih menguasainya.

"Oke."

Akhirnya Aksa menjawab. Elvan pun tersenyum senang mengetahuinya. Semoga dengan adanya Aksa di The Charmer, mereka akan menjadi lebih hebat dari sebelumnya.

"Info pertama, tiga hari lagi bakalan ada turnamen sama anak Bintang.".

.....

Berulang kali Aleta menggigit jarinya cemas. Matanya terus melirik ke ponsel yang tergeletak di atas kasurnya. Dia sedang menunggu, menunggu balasan dari Aksa ataupun Marco.

Aleta tahu bahwa mereka marah cukup parah padanya. Terlebih dirinya tak bertemu Aksa sama sekali. Tadi saat bertemu Marco pun dia dicuekin banget. Setelah selesai kelas, Marco juga memilih meninggalkan dirinya.

"Bales dong bales!" gumamnya berkali-kali. Kemudian matanya menatap ke arah balkon. Aleta tertegun cukup lama.

"Bintang," gumamnya dengan senyum. Aleta pun keluar menatap bintang di langit sana dengan takjub.

"Bintang emang selalu indah. Tapi ada yang lebih indah dari kerlip bintang di sana."

Aleta segera berbalik saat mendengar suara berat itu. "Ayah!"

Herman tersenyum. Pria itu mendekat dan duduk diikuti oleh Aleta. Mereka memandang langit dengan senyum lebar.

"Salah satu bintang di langit adalah ibu kamu."

Aleta menatap Herman. Dia menjadi rindu ibunya. "Benarkah?"

Herman mengangguk. Tangannya menunjuk pada salah satu bintang di langit. "Itu, bintang yang bersinar paling terang itu ibu kamu."

"Cantik," gumam Aleta dengan senyum.

"Iya, makanya putri ayah juga cantik," ucap Herman sambil menarik Aleta dalam dekapannya.

"Ayah ..." lirih Aleta malu-malu karena pujian dari sang ayah. Sedangkan Herman tertawa rendah karenanya.

"Bahagia ya anak ayah. Ayah harap kamu gak pernah salah memilih lagi."

.....

"Wow, ini beneran Aksa?"

Elvan mengangguk untuk sekian kalinya.

Gavin kembali berdecak diikuti Alam. Mereka langsung berjalan mengelilingi Aksa dengan penuh teliti.

"Lo beneran ajak Aksa gabung?" tanya Gavin.

Elvan tertawa lalu mengangguk. Aksa pun melengkungkan bibirnya ke atas. Dia cukup senang jika Gavin masih sama gilanya dengan dulu.

"Kalau lo gak suka gue bisa batalin niat buat-"

"Jangan!" pekik Alam histeris. Dia langsung menabok Gavin keras dan melotot tajam. "Lo jangan bikin Aksa pergi!"

"Apaan sih? Gue cuma mastiin Aksa beneran gabung. Takutnya mereka ke sini cuma mau adu jotos lagi."

"Lo nyebelin!" kata Alam. Laki-laki itu kemudian menatap Aksa dengan senyuman. "Yuk sama gue di pojok sana main kartu!"

Aksa pun mengangguk setuju mengikuti Alam.

......

"Kenapa, Van?" tanya Marco yang kini telah duduk berhadapan dengan Elvan.

Saat ini mereka hanya berdua saja. Duduk di ruang baca yang sengaja Gavin desain untuk permbicaraan penting.

Elvan mengembuskan napasnya bersamaan dengan asap yang keluar dari mulutnya. Dia menatap Marco dengan sinis.

"Lo berani tembak Aleta," katanya santai.

Marco yang tahu Elvan ingin menginterogasi pun tersenyum. "Ya. Kenapa?"

"Harusnya lo gak gitu."

Marco mengernyit. "Apa hak lo ngelarang gue tembak Aleta? Jangan mentang-mentang ketua terus lo berhak ngatur siapa yang pantes nembak Aleta?"

"Bukan itu, beg*!" maki Elvan cepat. "Ini soal lo, Aksa, dan Aleta."

"Apa urusan lo? Lo gak berhak ikut campur!"

Elvan tersenyum tenang. "Jelas urusan gue. Lo udah bikin Aleta cemas dan sampai salah kirim pesan kaya gini," kata Elvan penuh penekanan sambil menunjukan pesan dari Aleta.

Aleta Queen🐼

Aksa marah banget sama gue, Co. Lo jangan marah juga ya? Gue beneran kesepian ini, apalagi lo sama Aksa gak mau temenin gue hari ini. Kalian gak papa 'kan?

18.40

"Gimana mungkin dia bisa salah kirim?" tanya Marco heran. Lagi pula namanya dengan Elvan cukup jauh dan sangat berbeda.

"Itu karena saking paniknya."

"Minta maaf sama dia dan jangan bikin dia cemas. Lo maupun Aksa bukan lagi anak SMA yang pantes marahan lama-lama."

......

1
Nurmalasari
gk ada kemajuan

aajahajaha
Nurmalasari
kook aku berassa muter2 terus yah ceritanya
m4510man
hallo Thor👋🏻
masih ada nggak kelanjutannya Thor
pembacamu masih menunggu nih 😊🤗
_Nabilaaa Permata
yok bisa Aksa-leta
Eka Maulidia
waduuuh Iki komentar tahun lalu e !!!! wes g ada lanjuttanne Iki 😭😭😭💔💔💔
Yanti Nur Anggraini
lama bgt ya thor
Miawww
lnjut
Agus Purnama
lanjuut jgn kelamaaan para kabur ni
Miawww
lnjt kk.... aq kwal sampai tamat critamu
kolorijo
kok aku ngerasa dalang dari semua ini aksa ya🤨 atau mungkin cuma perasaanku aja
Agus Purnama
up upup up up up up up
Anis Haura Dzakki
othorQ trsayaaaaaang..kmna dikau?! knp mpe brbulan2 g update..pnsaranny dah diubun2 nech pliiiiiiiiisss jgn gantung kamiiiiiiiii



up lg thor..up lg
Nafisyah
Next dongg thorr suka banget sama alur ceritanya, kalo nggk dilanjutin sayang banget nanggung ceritanya thorr😭🥺
Deli Momoidea Pelangiran
gavin, dekat, atau Aksa ya pelakunya
Deli Momoidea Pelangiran
seperti nya Hendra
Elfina
lanjut lagi Thor🙏
Dessy Komalasari
lg seru ni thor,cepetan dong up ny
Sintyawidianti 30
lanjut dong kak, cerita nya bagus banget 😍
Alvi Sri Yulianti
bka lgi gk ini greget nih
Ririn Savetalyana
mantullll deka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!