Seorang pria buta terpaksa dipaksa menikahi pengasuhnya sendiri atas paksaan kedua orang tuanya.
Sejak kecelakaan yang mengakibatkan kebutaan membuatnya sama sekali menjadi pria yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tunangannya pun membatalkan pernikahan mereka yang akan terlaksana tiga bulan lagi.
Hal tersebut tidak hanya mengecewakannya tetapi juga kedua orang tuanya. Hingga pada suatu saat, papa dan mamanya sepakat menikahkannya dengan seorang gadis yang selama ini mengurusnya hampir setahun sejak ia buta. Ada sedikit paksaan, gadis itu terpaksa menerima tawaran tersebut.
Suatu ketika perusahaan mengalami goncangan dan hal itu mengakibatkan kerugian sehingga perushaan hampir bangkrut. Melihat hal itu, secara diam-diam, istrinya merencanakan hal lain untuk suaminya dengan mengorbankan kedua matanya agar suaminya bisa melihat kembali dan bisa mengatasi masalah perusahaan.
Bagaimana kelanjutannya? ikuti terus Novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permata Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekerja di perusahaan Keluarga Matthew
Join kembali ke rumah suaminya sebelum daddynya pulang. Ia harus pulang sebelum suaminya tiba dirumah karena harus mengurus sang suami untuk melakukan banyak hal.
"Selamat sore ma" ucap Joi saat masuk rumah dan mendapati sang mertua sedang bersantai di ruang keluarga.
"Selamat sore sayang. sudah pulang?" ucap sang mertua.
"Iya ma, apa Harvey sudah tiba?" tanya Joi.
"Belum sayang. Papa aja yang sudah pulang." jawab mertuanya.
"Baiklah ma, Joi ke kamar dulu bersih-bersih sebelum Harvey pulang" ucap gadis itu lalu pergi.
Setibanya kamar, ia duduk bersandar sejenak di sofa untuk mengurangi rasa lelahnya dan setelah itu ia pun masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Dengan santai ia melakukan ritual mandinya hingga selesai dan keluar untuk mengenakan pakaian.
Bagaimana nasib rumah tangga kami ke depannya. Aku ingin berjuang mempertahankan tapi ia malah ingin mengakhirinya. Aku bisa apa? lebih baik aku mengikuti alurnya tanpa memainkan perasaan.
Gadis itu memikirkan banyak hal, sejak pertemuan Harvey dan mantannya pagi ini bahkan banyak pembicaraan yang ia tangkap dari mereka, menandakan bahwa dia tidak sebanding dengan mantannya itu.
"Huh, inilah kenapa daddy melarangku pacaran, nggak semua pria itu baik" keluhannya dan kembali mempersiapkan semua keperluan sang suami yang mungkin akan segera tiba.
Dan benar saja, setelah m3nyiapkan pakaian ganti dan juga air mandi, pintul kamar terbuka dan masuklah Harvey bersama Liem.
"Selamat malam Joi" ucap Liem santai.
"Selamat malam om Liem" ucap Joi dengan senyum mengembang membuat sang emounya nama emosi. Joi yang sudah diminta agar jangan memanggilnya om namun gadis keras kepala itu terus melakukannya.
"Baiklah, aku hanya mengantarkan suamimu dan aku akan pulang sekarang" ucapnya sambil melepas pegangannya dari pria buta itu.
"Baiklah, dan hati-hati di jalan" ucap Joi tulus.
Harvey yang memang tidak peduli dengan obrolan mereka memilih untuk duduk di ranjang lalu berjongkok dan mulai melepaskan sepatu serta kaos kakinya.
"Tuan, saatnya mandi" ucap Joi yang sudah menyiapkan segalanya. Setelah menuntun pria itu masuk ke kamar mandi, Joi memilih turun ke dapur untuk melakukan kesibukan di sana seperti biasanya.
Di dalam kamar. Setelah menyelesaikan aktifitas mandi dan mengenakan pakaian, Pria buta itu malah kembali sibuk dengan ponselnya yang sudah diatur nomor mantannya sebagai panggilan darurat.
Dengan santainya mereka mengobrol melalui telepon saat istrinya tengah sibuk di dapur.
📞Halo sayang, apakah kamu tidak baik-baik saja? (Tanya Valen dari seberang sana karena kenapa malah pria itu yang menghubunginya lebih dahulu)
📞Tidak sayang, aku hanya merindukanmu
📞Apakah kamu menginginkan aku datang ke sana? (Aksi nekad gadis itu)
📞Jangan sayang. Tunggulah sampai aku meyakinkan papa sama mama.
📞Baiklah sayang asal jangan lama-lama ya?
📞Tentu. Apa kamu sudah makan?
📞Aku akan segera makan malam sebentar lagi.
📞Baiklah, jangan lupa makan. Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita. Bersabarlah sebentar ya?
📞iya sayang, aku sudah biasa menunggu. Satu tahun kemarin tanpa beritamu saja aku sanggup.
📞Maaf sayang.
Obrolan terus berlanjut, dan Valen terus mengompori Harvey sehingga emosinya bukan kepada kedua orang tua melainkan sang istri.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang yang berdiri di dekat pintu yang tidak tertutup secara penuh.
Joi memilih untuk pura-pura tidak tahu, sehingga saat sambungan telepon terputus baru ia masuk untuk mengajak suaminya turun makan.
******
Waktu terus berlalu dan kini pernikahan mereka pun hampir genap setahun. Beberapa kali papa Matthew dan sang istri ke luar negeri menggantikan Harvey untuk menghadiri beberapa pertemuan bisnis di sana, dan kesempatan itu selalu dipakai Harvey untuk membawa Valen ke kantor.
Gadis itu bahkan merengek minta dimasukkan untuk bekerja di kantor itu dengan dalih bisa membantu Harvey dalam menangani pekerjaan.
"Sayang, aku jadi sedih melihatmu bekerja seperti ini. Kamu harus selalu bergantung pada Liem dalam mengerjakan segala sesuatu. Jika berkenan, biarkan aku bekerja juga di sini agar bisa membantumu" ucapnya dengan jurus merayunya.
"Kenapa kamu cape-cape mau bekerja sayang? Sebaiknya kamu tenang saja di rumah, agar setiap aku membutuhkanmu kamu bisa selalu ada." ucap pria itu.
"Justru kalau aku sudah bekerja di sini kita akan selalu bersama-sama bahkan papamu tidak ada alasan untuk melarangku bertemu denganmu. Aku tidak rela tubuh kekasihku disentuh-sentuh oleh pembantumu itu. Kenapa sih orangtua mu tidak mencari pembantu laki-laki saja?" gerutunya membuat Harvey gemas.
"Jangan marah sayang, walaupun dia adalah pembantu yang mengurusku tapi ia tidak diperkenankan untuk sembarang menyentuhku. Ia hanya diberi tugas mempersiapkan segala yang aku butuhkan" jelasnya membujuk gadis itu.
Valen malah terus berbicara sekitaran Joi pembantu kekasihnya saat Joi bahkan ada dalam ruangan itu. Apalagi Harvey yang tidak menyadarinya terus meremehkan istrinya tanpa rasa peduli.
Setelah beberapa bulan merayu Harvey, Valen akhirnya berhasil masuk dan bekerja di kantor sang kekasih dan diposisikan sebagai salah satu anggota di devisi keuangan.
Ia ingin langsung pada MA negeri keuangan namun Harvey mengingatkannya agar ia jangan gegabah dan sampai papa Matthew tahu soal itu. Tanpa mereka ketahui, papa Matthew sudah mengetahuinya dari sang asisten yang menjadi mata-matanya.
Hampir setiap hari, gadis itu tidak berada di ruang kerja bersama teman-teman satu devisinya, ia malah keluyuran di ruangan sang atasan jika sang papa dari Harvey tidak masuk kantor.
Sejak ia mulai bekerja, ia bahkan melarang Harvey membawa Joi ke kantor lagi. Segala urusan dan kebutuhan Harvey ia limpahkan kepada sekretaris Harvey sehingga membuat wanita itu sangat membencinya.
"Sayang, apakah aku harus menyetujui kerja sama dengan perusahaan PT. Maju Jaya?" tanya Harvey yang sudah mempercayakan semuanya kepada Valen.
"PT. Maju Jaya?" gumamnya pura-pura berpikir padahal ia sudah tahu pemilik perusahaan tersebut.
"Iya sayang" jawabnya.
"Aku cari tahu terlebih dahulu ya sayang, takutnya kamu salah menjalin kerjasama dengan perusahaan yang tidak benar" ucapnya membuat Harvey semakin mengagumi sosok Valen.
"Baiklah sayang. Kamu sangat luar biasa dan selalu membantu segala kesulitanku. Aku akan berjuang agar cepat melihat dan kita bisa merencanakan kembali pernikahan kita" ucapnya membuat Valen tersenyum licik.
"Sudah jadi tugasku sayang." jawabnya bangga.
Harvey semakin yakin dengan keputusannya untuk sembuh dan menceraikan istrinya demi Valen yang sudah dia kenal sejak jaman kuliah. Hal itu membuatnya semangat dan mulai bergantung pada sang kekasih gelapnya baik dalam urusan pribadi maupun urusan kantor.
"Terimakasih sayang. Apakah papa mamamu sudah tahu soal hubungan kita yang sudah kembali?" tanya Harvey.
"Belum sayang. Seperti orang tuamu, aku harus meyakinkan mereka kembali" ucapnya penuh drama padahal orang tuanya sudah tahu dan sudah mempersiapkan banyak rencana.
"Maaf sayang, aku berjanji akan bertemu secara langsung dengan mereka untuk minta maaf"
keduanya mengobrol hingga jam pulang.
Bersambung
Joi cinta boleh, bodoh jangan. Kalau mmg dia ga cinta lepaskan saja