Dibayangi rasa penyesalan pada kejadian masa lalu membuat setiap malam Kane Serana Sylvester, sang Prince Mafia dan Ceo yang sempurna di bayangi mimpi buruk.
Hingga suatu hari, Elyshia Cassandra atau sosok gadis yang menjadi tokoh dalam mimpi buruknya kembali hadir dalam kehidupan sebagai Flora Levannia, wanita yang mendaftar sebagai calon salah satu karyawannya. Namun, bukan tawaran kerja yang Kane berikan melainkan tawaran untuk menjadi kekasih kontraknya.
Dan di saat bersamaan Kane di hadapkan dengan pernikahan bisnis dengan mantan kekasihnya yaitu Stella Edith Salvatore yang membuat dirinya hidup dalam mimpi buruk sebuah penyesal selama ini.
Apakah Flora akan menerima tawaran menjadi kekasih kontrak dari atasannya itu atau malah menolaknya? Dan Akankah sosok Flora Levannia memang benar Elyshia Cassandra?
Lalu bagaimana dengan pernikahan bisnis yang datang pada Kane dari mantan kekasihnya, Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-Tiba Jatuh Sakit
“Ugh, …”
Tiba-tiba saja Kane merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit. Awalnya Flora mengira bahwa Kane hanya berpura-pura saja untuk mengerjainya, tapi melihat wajahnya yang semakin pucat membuat Flora sadar bahwa Kane benar-benar merasakan sakit di kepalanya.
“Hay, kau kenapa?” tanya Flora yang langsung mendekati Kane untuk memastikan keadaannya.
“Kepalaku entah kenapa terasa begitu sakit dan pusing,” rintih Kane masih memegangi kepalanya yang semakin terasa berdenyut.
“Tunggu sebentar! Aku akan memberitahu Kevin dan yang lainnya dulu.”
Dengan perasaan khawatir, Flora langsung berlari ke ruangan sebelah dimana Kevin dan yang lainnya tengah menikmati makanan sambil menggosipkan tentang Kane dan Flora.
Tiba-tiba saja pintu ruangan mereka terbuka dengan keras dan memperlihatkan sosok Flora yang terlihat begitu panik.
“Tolong, … Kane, dia ....”
Belum sempat Flora menyelesaikan ucapannya, Kevin, Jaxon dan Hunter langsung saja berlari dengan panik untuk melihat keadaan Kane dengan mata kepala mereka sendiri.
Kepanikan mereka bertambah ketika melihat Kane yang wajahnya terlihat sangat pucat dan terus memegangi kepalanya.
Ketiganya sangat terkejut mengingat Kane yang jarang sekali sakit selama ini. Namun, baru saja sehari bertemu dengan Flora, sosok yang mirip dengan Shia kondisi Kane menjadi seperti ini.
Tiba-tiba jatuh sakit tanpa mengetahui sebabnya. Sedangkan Flora hanya bisa memperhatikan Kane dari kejauhan dengan perasaan khawatir.
“Ayo, cepat kita harus membawanya ke rumah sakit!” seru Kevin memberi arahan.
“Jangan rumah sakit antar saja aku pulang,” lirih Kane yang masih saja bersikeras tidak mau mendapat perawatan di rumah sakit, meski tubuhnya sudah sangat lemah.
“Kondisimu harus di periksa secara langsung oleh Dokter, apalagi kau tiba-tiba jatuh sakit seperti ini,” protes Kevin yang terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Kane.
“Kalian bawa pulang saja! Aku akan menjemput Dr. Oliver untuk memeriksanya di Mansion saja,” ujar Jaxon menyarankan keputusan yang terbaik.
“Benar, seperti itu saja! Aku tidak mau di rawat di rumah sakit.” Kane pun setuju dengan apa yang di sarankan Jaxon.
“Baiklah, ayo cepat kita ke mobil!” ujar Kevin yang akhirnya mengalah.
Jaxon dan Kevin langsung memapah tubuh lemas Kane sampai di depan mobil mereka. Sedangkan Hunter menyiapkan mobil untuk mempermudah memasukkan tubuh Kane ke dalam mobil mereka, Flora tampak bingung apa yang harus dia lakukan.
“Cepat, ikutlah bersama kami dulu! Nanti aku akan mengantarmu pulang!” seru Kevin yang menyuruh Flora untuk masuk ke dalam mobil juga.
Flora tanpa pikir panjang lagi langsung saja masuk ke dalam mobil tersebut. Alhasil, kini Kane duduk di antara Kevin dan Flora yang berada di kursi belakang dengan Hunter sebagai sopir mereka. Sedangkan Jaxon mengemudikan mobil milik Dr. Oliver untuk menjemput pemiliknya.
Sepanjang perjalanan, suhu tubuh Kane terus naik bahkan keringat dingin sudah membasahi pakaian yang dia kenakan. Kesadaran Kane pun sudah berada di ambang batasnya, dia terus memanggil nama Shia tanpa sadar.
“Shia, … Shia, …” Kane terus bergumam dalam tidurnya.
“Jangan khawatirkan apapun, karena aku akan selalu ada di sampingmu,” bisik Flora.
Dan tanpa sadar Flora malah menggenggam tangan Kane erat. Hal itu membuat Kane merasa nyaman dan menyandarkan kepalanya pada bahu Flora.
Kevin merasa terkejut sekaligus terkesima melihat Kane yang berhenti menggumamkan nama Shia dan mulai tertidur dengan tenang.
Setibanya di Mansion keluarga Sylvestre, Kevin di bantu oleh Hunter kembali memapah Kane menuju ke kamarnya. Sedangkan Flora hanya mengikuti ketiganya, karena dia tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini.
Mereka sempat berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang berpakaian sangat rapi. Ketika pria itu ingin mengatakan sesuatu, Kevin dengan cepat berkata, “Aku akan menjelaskan semuanya nanti! Jadi, biarkan kami membawa Tuan muda ke kamarnya lebih dulu!”
Saking khawatirnya dengan keadaan Kane, Flora sampai tidak peduli dengan mewahnya Mansion itu. Pandangan matanya hanya tertuju pada Kane yang terlihat begitu lemah, tidak seperti pertama kali mereka bertemu.
Kevin dan Hunter dengan perlahan membaringkan tubuh Kane di atas ranjang king sizenya. Tak lama kemudian, Jaxon datang bersama dengan Dr. Oliver yang membawa semua peralatan medis yang nantinya akan di butuhkan dalam pemeriksaan.
“Dr. Oliver sudah berada di sini!” seru Jaxon agar Dr. Oliver mendapatkan ruang untuk melakukan pemeriksaan kepada Kane.
Dr. Oliver pun mulai melakukan pemeriksaannya pada tubuh Kane dengan seksama. Perlahan terdengar Kane kembali mengigaukan nama Shia dan tidurnya kembali terlihat tidak nyaman. Flora tanpa sadar kembali mendekat dan menggenggam tangan Kane untuk menenangkan.
“Jangan takut aku masih di sampingmu,” ucap Flora dengan penuh kelembutan dan perlahan Kane kembali tenang dalam tidurnya.
Melihat hal itu, Dr. Oliver pun tampak kebingungan dengan apa yang terjadi. Dia seketika menatap ke arah Kevin seolah menuntut penjelasan darinya.
Namun sayangnya, Kevin malah mengangkat bahunya sebagai jawaban bahwa dirinya juga tidak mengerti apa yang terjadi.
Hingga suara Flora menyadarkannya dengan pertanyaan, “Dokter, bagaimana keadaannya? Apakah perlu membawanya ke rumah sakit?”
“Aah, … Ouh, … Tidak perlu! Untuk saat ini sepertinya sudah cukup untuk di rawat di rumah saja! Sudah lama Kane tidak mendapatkan istirahat yang cukup, jadi inilah hasilnya. Namun, aku akan tetap memeriksa sampel darahnya untuk berjaga-jaga,” jelas Dr. Oliver sesuai dengan hasil pemeriksaan yang baru saja dia lakukan. Kemudian, bersiap untuk mengambil sampel darah dari tubuh Kane.
“Aku akan meresepkan obat dan beberapa vitamin agar tubuhnya cepat kembali pulih! Namun, tetap saja istirahat yang cukup akan lebih berguna untuk tubuhnya mengingat beberapa tahun ini dia selalu kesulitan untuk tidur,” sambungnya sembari menuliskan sesuatu di secarik kertas.
“Vin, kau bisa menebus obatnya di toko obat terdekat!” Dr. Oliver lalu menyerahkan resep obat itu kepada Kevin.
Namun, tiba-tiba Jaxon berkata, “Biar aku saja yang menebus obat itu!”
“Ouh, … Silahkan saja!” sahut Dr. Oliver lalu menyerahkan resep obat itu pada Jaxon.
Setelah mendapatkan resep obat itu, Jaxon segera pergi untuk menebusnya. Tampak Kevin, pria paruh baya yang mengikuti mereka dan Dr. Oliver saling melempar pandangan satu sama lain.
Akan tetapi, Flora yang memang tatapan matanya hanya tertuju pada Kane tidak menyadari hal itu. Hingga akhirnya Kevin memutuskan untuk membicarakannya semuanya di luar kamar Kane saja.
“Flo, ada hal yang perlu aku jelaskan pada Pak Tua ini! bisakah kau menemani Kane di sini sebentar,” pinta Kevin meminta bantuan pada Flora.
“Mulut bocah ini,” gumam Pria paruh baya itu yang harus menahan rasa kesalnya di katai sebagai Pak Tua oleh Kevin.
“Tentu saja,” sahut Flora yang tidak keberatan sama sekali.
Bersambung, .....