Victoria yang baru saja lulus dari kuliah S1 nya harus menerima kenyataan pahit ketika tau orang tuanya telah dibunuh oleh seorang Mafia yang bahkan tak pernah ia jumpai sama sekali.
Dan hal lain yang lebih mengejutkan pun terjadi, sang ketua mafia yang membunuh kedua orang tua Victoria ternyata ingin menjadikan dia sebagai istrinya.
Lalu bagaimana dengan kehidupan Victoria selanjutnya? siapa sebenarnya si Mafia yang telah membunuh kedua orang tua Victoria? Akankah Victoria bisa membalaskan dendam atas kematian orangtuanya? atau justru dia akan jatuh ke dalam lubang cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiyah Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15. Kekhawatiran yang besar
Waktu yang sudah menunjukkan jam 10 malam, terus menarik Victoria untuk segera datang ke kasur dan tidur. Namun saat ini Victoria masih saja sibuk menulis sesuatu, padahal mulutnya sudah sangat sering menguap.
Dia menulis sesuatu di atas buku kecil miliknya, tulisan itu pun kelihatannya cukup panjang.
Victoria yang sudah menulis sejak pukul 9.50 malam itu, akhirnya siap saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam.
Dirinya yang sudah sangat lelah dan menahan rasa ngantuk dari tadi pun langsung memutus- kan untuk naik ke atas kasurnya.
Tak perlu waktu lama, hanya beberapa menit setelah Victoria terbaring, kini dia sudah tertidur begitu lelap.
......................
Pagi yang cerah menyambut kebangunan Victoria, beberapa hari ini dia memang sudah sangat terbiasa untuk tidur larut malam, namun bangun saat matahari bahkan masih malu-malu untuk bersinar.
Victoria langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, menggosok gigi, lalu kemudian mengganti piyamanya menjadi baju harian yang biasa dia pakai.
Dan karena ini masih sangat pagi, sementara makanan yang disiapkan para pelayan rumah itu untuk sarapan akan datang pukul 8, maka Victoria yang sudah sangat lapar karena tak ikut makan malam semalam, memutuskan untuk membuat roti terlebih dahulu.
Dia keluar dari kamarnya meninggalkan Kai yang masih tertidur, Victoria pun berjalan ke dapur lalu membuat roti tawar isi selai coklat yang sering dia makan setiap saat ketika bangun terlalu awal seperti saat ini.
hanya butuh sekitar 5 menit untuk Victoria membuat roti tawar tersebut, setelah membuat nya dia memutuskan memakan roti tawar itu di kamar. Victoria juga membuat satu lagi untuk Kai jika dia tiba-tiba bangun dan ingin makan. Karena sama seperti Victoria, Kai pun melewatkan makan malamnya.
"ahh roti tawar ini sangat enak, Bagaimana bisa dengan roti dan selai yang sama tapi rasanya begitu berbeda setiap hari? Apa ini tergantung mood ku atau waktunya? hmm" ucap Victoria saat telah menelan gigitan pertamanya.
Karena roti yang begitu enak itu, membuat Victoria dengan cepat menghabiskan potongan roti pertamanya, lalu karena malas untuk turun ke bawah lagi dan membuat roti yang baru, maka dia memakan roti yang sebenarnya akan dia berikan pada Kai.
"Kai juga belum bangun kan, biar aku buatkan yang baru saja saat dia sudah bangun dan memintanya" gumam Victoria.
Saat ditengah-tengah makannya, Victoria mendengar suara Kai yang sepertinya sudah bangun. "ahh Kai, kau sudah bangun? ingin ku buatkan roti tawar untuk mu?" seru Victoria tanpa menoleh saat mendengar suara Kai tadi.
Namun setelah Victoria bertanya, tak ada sahutan apapun dari Kai. Dan beberapa saat kemudian, bukannya menjawab pertanyaan Victoria tadi, Kai malah terdengar seperti seseorang yang sedang menggigil.
Victoria menyadari akan hal itu, dan secara refleks langsung meletakkan roti di tangannya dan kemudian menghampiri Kai.
"Kai ada apa? kau baik-baik saja?" tanya Victoria dengan sangat panik, ketika melihat Kai yang sudah sangat pucat dengan tangan yang memeluknya dirinya sendiri, seolah-olah untuk memberikan kehangatan pada dirinya.
"Ya ampun tubuh mu sangat panas" seru Victoria yang semakin panik saat tangannya menyentuh kening Kai, "Tunggu sebentar!" lanjut Victoria yang kemudian berlari cukup kencang menuju kamar mandi.
Victoria berpikir bahwa dia harus mengompres Kai yang sakit itu, jadi dia mengambil air hangat juga handuk kecil di dalam kamar mandi.
"Kai kenapa kamu bisa seperti ini, tahan sebentar ya" gumam Victoria masih sangat panik, sembari meletakkan kain kompres di atas kening Kai.
Setelah handuk kecil itu hilang rasa hangatnya, Victoria kembali mencelupkan nya ke dalam baskom kecil berisi air hangat yang dia ambil tadi. Hal ini Victoria lakukan secara berulang-ulang, dan dia akan melakukannya terus sampai Kai mulai membaik.
......................
Saat ini Kai sedang berada di RS, walaupun tadi sudah berkali-kali Victoria mengompres Kai, namun hasilnya sama saja, Kai masih menggigil dan kesakitan. Itu sebabnya Victoria memutus- kan untuk segera membawa Kai ke RS sebelum hal buruk lainnya terjadi.
"Nyonya, ayolah duduk. Anda akan kelelahan jika bolak-balik terus seperti ini" seru Aluna sedikit khawatir melihat Victoria yang terus saja mondar- mandir ke kanan dan ke kiri di depan pintu UGD tersebut.
"Tapi Kai sedang ada di dalam, kalian tidak lihat kondisinya tadi? dia begitu kesakitan, aku khawatir dengannya...Aisshh kenapa kita tidak boleh masuk dan melihat?!" balas Victoria bahkan tanpa berhenti sama sekali.
"Tenanglah nona, tuan Kai bukanlah orang yang lemah, mungkin saat ini kondisinya memang drop karena cuaca yang ekstrem juga beberapa faktor lain, tapi faktanya ini adalah yang pertamakali nya tuan Kai sakit dalam setahun ini. Jadi anda tak perlu khawatir, tuan Kai bukan tipe orang yang akan sakit berlama-lama" sahut Alan berusaha untuk menenangkan Victoria.
"Huft.." Victoria menghela napasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Sudah lebih baik nyonya?" tanya Aluna saat Victoria sudah mau duduk dan meminum segelas air, Victoria pun hanya merespon dengan anggukan kecil.
beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Kai akhirnya keluar. Dengan sangat cepat Victoria berdiri dari duduknya lalu menghampiri dokter tersebut, dan menanyakan bagaimana kondisi Kai saat ini.
"Tuan Kai hanya terkena demam nyonya, meski suhunya tadi memang benar-benar sangat tinggi, namun setelah saya memberi suntikan pereda demam, tuan Kai pun sudah menjadi lebih mendingan sekarang" jawab dokter tersebut. Dokter itu pun pamit, dan mempersilahkan Victoria dan yang lainnya untuk masuk.
"Nona duluan saja, kami akan menunggu diluar, takut akan mengganggu tuan Kai yang sedang beristirahat" ucap Alan saat Victoria mengajak nya juga Aluna agar ikut masuk ke dalam.
"baiklah" balas Victoria singkat, yang kemudian langsung masuk untuk melihat Kai.
"Kai..." lirih Victoria saat melihat prianya itu sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit, dengan infus juga wajah yang masih pucat.
Victoria berjalan perlahan untuk mendekat, benar-benar sangat perlahan agar suara lantai tak akan menggangu Kai.
"Sudah ku tawarkan padamu untuk pergi ke rumah sakit kemarin, namun kau malah tak mau dan mengatakan akan sembuh setelah bangun. Tapi apa sekarang ini?!" ucap Victoria pelan namun dengan nada kesal.
"Ingat ya aku benar-benar sudah muak dengan sikap sok kuat mu itu. Aku yakin kalau kau sakit bukan karena cuaca yang sedang ekstrem saat ini, melainkan kau yang sudah kehilangan banyak darah, terluka begitu parah, namun tak mau untuk pergi ke rumah sakit. Jangankan untuk ke rumah sakit, pagi itu saja kau bahkan sudah melakukan hal yang berbahaya, padahal malamnya kau baru saja mendapatkan semua luka-luka itu" lanjut Victoria mengoceh panjang lebar. Meski dia kesal namun dia tetap berbicara sangat pelan agar tak menganggu Kai.