NovelToon NovelToon
Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Bahagia Setelah Berpisah Denganmu

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:380.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: RaRa69

Rani Yuliana, harus merasakan kepedihan berumah tangga saat sang mertua ikut tinggal bersama mereka. Apalagi saat itu kondisi Ilham Hadiwijaya sedang tidak bekerja karena di PHK. Setiap hari Bu Rumiati memperlakukan Rina menantunya seperti seorang pembantu. Ilham sendiri diluar sana dia juga berselingkuh dari Rani

Apakah Rani bisa bertahan dengan kondisi rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaRa69, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Aku menunggu mereka sambil duduk fi ruang tamu, lampu sengaja kumatikan agar mereka mengira aku sudah tidur. Jaket yang tadi kukenakan sudah kukembalikan ke kamar dan motor pun sudah kumasukkan ke dalam.

Oh, ya, sudah kusiapkan kejutan yang manis untuk mereka saat kembali nanti. Benar saja, sebuah mobil berhenti di depan rumah, kali ini dengan model dan warna berbeda dari yang tadi. Kulihat ibu keluar dari pintu depan, disusul Mas Ilham dari pintu belakang. Dan dia terlihat menggandeng tangan wanita itu membantunya turun dari mobil.

Bisa kulihat kalau wanita itu bersikap manja, dan suamiku menepuk mesra kepala wanita itu. Namun, sebelum memasuki rumah, posisi Mas Ilham digantikan oleh ibu setelah wanita itu megatakan sesuatu. Mungkin saja ibu berkata agar dia bersikap biasa saja sebelum masuk. Dari gestur mereka bisa kutangkap seperti itu.

"Hati-hati, Yul." Itu ucapan Ibu, dan dia menuntun wanita itu dengan hati-hati.

Mereka membuka pintu dan Mas Ilham menyalakan lampu. Aku bisa melihat raut terkejut di wajah mereka, apalagi saat melihat koper-koper yang berjejeran di ruang tamu.

"Apa ini, Ran?" Tanya Mas Ilham dengan ekspresi terkejut di wajahnya, juga di wajah kedua wanita itu.

"Koper." Aku menjawab singkat.

"Iya, aku tahu ini koper, tapi milik siapa?"

"Milik kalian." Ucapku tenang sambil tetap duduk di sofa.

"Apa maksud kamu, Ran?"

Aku berdiri dan mendekati mereka, kuperhatikan wajah mereka satu-satu, ekspresi mereka sama. Tegang dan terkejut dan aku suka melihatnya.

"Kalian bisa meninggalkan rumah ini sekarang juga."

Mas Ilham membelalakkan matanya, Ibu mertua hampir saja terhuyung mendengar ucapanku. Dan si wanita itu, tentu saja dia tak kalah terkejutnya, bisa kulihat dari raut wajahnya yang tegang juga tangan yang tiba-tiba memegangi perutnya. Ah, apakah dia mau menunjukkan kalau dirinya hamil.

"Jangan gila kamu, Ran, kamu mengusir kami?"

"Seperti yang kamu lihat, Mas, silahkan bawa keluargamu pergi dari rumahku!"

Mas Ilham melangkah maju dan masih dengan tatapan tajamnya dia mendekatiku.

"Kenapa, Ran? Kenapa kamu mengusirku?" Tanyanya dengan nada tidak terima.

"Karena kamu telah msngkhianati aku, Mas." Aku berusaha keras agar suaraku tidak bergetar.

"Ka-kau…"

"Iya, aku tahu kalau dia istrimu juga, kan, sama sepertiku. Dan aku tahu kalau sekarang dia hamil."

Mereka bertiga kompak membelalakkan mata, kurasa mereka terkejut aku mengetahui kebenaran ini.

"Tapi, Ran, aku…"

"Sudahlah, Mas, aku tidak mau dengar apapun lagi. Sekarang bawa keluargamu keluar dari rumahku."

Aku mendesak Mas Ilham agar membawa mereka pergi dari rumahku, aku sudah muak melihat wajah mereka. Dan kulihat Ibu menegakkan tubuhnya sebelum membuka suara.

"Ilham tidak bisa keluar begitu saja dari rumah ini, Rani, kamu harus memberinya sebagian dari hartamu."

"Apa? Ibu tidak salah bicara? Apa Ibu lupa kalau Mas Ilham masuk ke rumah ini tidak membawa harta sepeserpun?"

Mungkin ibu sudah lupa kalau saat menikah denganku Mas Ilham masih belum menjadi apa-apa. Bahkan saat dia mendapat pekerjaan pun dia hanya memberiku sebagian gajinya saja.

"Iya, Ilham suami kamu jadi dia juga berhak atas harta yang kamu punya." Ibu masih bersikeras, memang susah ngomong dengan orang yang ada di pikirannya cuma harta dan harta.

"Tidak bisa! Harta di rumah ini semuanya milikku, peninggalan dari kedua orang tuaku. Tidak ada sepeserpun hak Mas Ilham disini."

"Pokoknya tidak bisa, kalau kamu tidak membagi hartamu kami nggak akan keluar dari rumah ini." Ibu masih keukeuh mengamcamku.

"Baik, kalau itu mau kalian." Aku segera menghubungi seseorang melalui ponsel, meminta mereka untuk mengusir ketiga benalu tak tahu diri ini.

Beberapa saat kemudian tiga orang petugas keamanan datang dan mengusir mereka. Mereka bertiga kompak meronta, apalagi ibu berteriak sangat kencang menolak pergi. Wanita itu bahkan mengeluarkan sumpah serapahnya untukku.

"Ran, apa ini semua tidak bisa dibicarakan baik-baik?" Mas Ilham masih berusaha memohon, tangan kanannya diseret petugas agar segera meninggalkan tempat ini.

"Nggak bisa, Mas, sejak awal kamu sudah tidak pernah menganggapku ada. Jadi, sudah terlambat untuk kita berbicara."

"Tapi, Ran?"

Aku segera membalikkan tubuhku dan masuk ke rumah. Membiarkan mereka dibawa pergi petugas keamanan. Bodoh amat dengan teriakan mereka, bodo amat dengan tatapan ingin tahu warga. Yang jelas aku sudah lega bisa mengusir mereka dari rumahku.

***

Pagi ini aku bangun dengan perasaan penuh kedamaian. Iya, damai dari orang-orang yang yang hidup sebagai parasit di rumahku. Setelah mandi dan memakai pakaian kerja, aku menuju dapur untuk membuat secangkir coklat panas.

Dan setelah menyesap minuman itu hingga tandas, aku berniat untuk berangkat kerja. Namun, siapa sangka di depan pintu sudah menunggu seseorang yang semalam kusuruh pergi dari rumah ini. Dia duduk di kursi teras dengan tak tahu malu.

"Ran, bagi Mas duit, dong, buat makan. Mas udah nggak pegang uang sama sekali." Ucapnya mengiba, tatapannya terlihat menyedihkan.

"Memang kamu nggak kerja?" Tanyaku menyelidik, kulihat dia tergagap.

"A-aku kerja, kok, cuma, cuma belum digaji aja."

"Nggak ada, aku nggak punya uang." Ucapku sambil mengeluarkan motor dan memanasinya, setelah itu kukunci pintu rumah sebelum berangkat.

"Ran, tolonglah, apa kamu tega sama Mas."

"Mas, sebelum bertanya seperti itu apa kamu sudah ngaca sama diri kamu sendiri?" Aku memberinya tatapan tajam, berharap dia sadar.

"Iya, oke, aku salah, tapi apa nggak bisa kamu memberiku kesempatan?"

"Kesempatan katamu? Bukannya aku sudah memberimu banyak kesempatan, lalu apa yang kamu lakukan? Kamu tetap menikahi dia, kan?"

Mas Ilham sepertinya mati kutu, dia menundukkan kepalanya dan tak mau melihatku.

"Aku melakukan itu karena ada alasannya, Ran." Ucapnya terdengar lirih.

"Apa?"

"Karena…karena Ibu ingin segera punya cucu."

Aku menelan ludah mendengar ucapan suamiku, lagi-lagi demi menuruti permintaan ibunya.

"Aku, kan, sudah mengajakmu tes kesuburan waktu itu, tapi kamu menolaknya, kan."

"Ya, sebab dari keturunan ibu tidak ada yang mandul, kok."

Aku menghela napas kasar, mendengar jawabannya.

"Dan kamu menuduhku mandul? Sudahlah, lebih baik kamu pergi saja. Karena aku sudah muak dengan sikapmu."

"Tapi, Ran, bagi duitnya dulu setelah itu Mas pergi dari sini."

Lelaki ini sepertinya sudah hilang urat malunya, sudah diusir sedemikian rupa masih berani datang kesini lagi. Malah meminta uang dariku, sungguh tipe suami yang tidak bisa diandalkan.

"Minta sama istri baru kamu!"

***

"Muka kamu kusut banget, kenapa?"

Mira memperhatikanku yang tengah menaruh tas di meja kerja, sedari tadi moodku memburuk. Apalagi setelah kedatangan Mas Ilham ke rumah.

"Nggak apa-apa, kemarin aku baru mengusir Mas Ilham dan keluarganya dari rumahku."

Mira terlihat terkejut, dia bahkan sampai menghampiriku dengan setengah berlari.

"Kamu serius?"

"Iya, setelah aku membuntuti mereka dari klinik kandungan kemarin."

Akhirnya kuceeitakan semua pada Mira, berkali-kali dia terlihat menggelengkan kepala saat mendengar ceritaku.

"Jadi wanita itu sudah hamil?" Tanyanya sambil menutup mulutnya tak percaya.

"Kamu yakin dia anak suami kamu?" Tiba-tiba saja Mira mengatakan sesuatu yang sebelumnya sempat terlintas di kepalaku.

🏵️🏵️🏵️🏵️

terimakasih sudah mengikuti cerita Rara sejauh ini. sambil menunggu update ban selanjutnya Rara kan merekomendasikan novel keren.

judul: Ambil Saja Dia Untukmu

karya: Aveei

Salma seorang wanita karir di bidang entertainment, harus rela meninggalkan dunia karirnya untuk mejadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya.

Menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak kembar sangat tidak mudah bagi ia yang belum terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Salma juga harus menghadapi tuntutan suami yang menginginkan figur istri sempurna seperti sang Ibunda.

Di saat ia masih berjuang menopang ekonomi keluarga karena suami sempat mengalami PHK, ia harus menerima kenyataan jika suaminya ingin menikahi sahabatnya.

1
Ria Gazali Dapson
udh tua bukan nya sadar, malahan mnjdi²,jahat bnget bu , ngadu domba ank mantu
Andini Hana Fakhirah
Luar biasa
Budi Suprihatin
semoga cerita ini hanya ada di dunia halu
Suprihatin
mantap ,ran sindiran yg menusuk
Suprihatin
seru ceritany
Syaza
💪💖
Aira
sptnya Yuli pengasuh anaknya Alvin...
Suami dapat pembantu, Istri dapat boss ya🤣🤣
RaRa69: makasih kak sudah berkenan mampir...baca juga novel baruku ya, Kala Mantan Menggoda
total 1 replies
Retno Dwi
suka Kla cerita yg gak lama n berbelit2..semangat terus Thor 😘😘😘
RaRa69: Terima kasih Kak, jangan lupa mampir di cerita baru saya yang judulnya Kala Mantan Menggoda
total 1 replies
Diyah Nur Agung
bagus
Yunerty Blessa
walaupun singkat tapi mantap dan teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya
moga kak thor sukses selalu 😘😘
Yunerty Blessa
cerita nya mantap biar pun singkat
terbaiklah kak thor 👍👍
Yunerty Blessa: Sama kasih,,,,akan kak cuba..😘😘
total 3 replies
Yunerty Blessa
sabar Arman.. masih banyak cewek² diluar sana..Rani bukan jodoh mu..
Yunerty Blessa
ciee pak Alvin nya jatuh cinta
Yunerty Blessa
makin mantap ni..
Yunerty Blessa
ya,,,,menghindar dari keduanya
Yunerty Blessa
Rani berada dilema
Yunerty Blessa
suami mencuri dirumah sendiri.... memang benar gila😠
Yunerty Blessa
suami tak tau malu..wang terus dihatinya..kerjalah
Yunerty Blessa
cepat singkirkan sampah seperti ilham
Yunerty Blessa
suami gila nya Rani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!